
Makanan pun sudah terhidang di atas meja makan, terlihat Bima juga sudah keluar dari kamar mandi. Dan kini Bima masuk kedalam kamar nya untuk berganti baju.
Beberapa menit, saat Ambar masih menata makanan di atas meja makan. Terlihat Bima terburu-buru keluar dari kamar nya. Dengan pakaian yang rapi, serta bau parfum yang sudah menjadi ciri khas nya.
"Mau kemana, Bim?," tanya Ambar.
"Aku mau keluar dulu, mbak." jawab Bima dengan terburu-buru.
"Lebih baik kamu makan dulu, Bim!," Ambar menyuruh Bima untuk makan terlebih dulu.
"Nanti saja, mbak. Bima terburu-buru." jawab Bima.
"Tapi, Bim?, Mbak sudah memasak buat kamu." Ambar masih memaksa Bima, karena dalam hati Ambar ada sedikit kekhawatiran pada Bima adiknya.
"Kalau menurut, mbak. Lebih baik kamu menunggu ibu datang dulu, baru kamu pergi Bim. Kamu istirahat saja dulu, sambil menunggu kedatangan ibu." ucap Ambar mencoba membujuk Bima.
"Tidak, mbak. Hal ini sangat penting, jadi aku harus keluar sekarang juga." Bima langsung berjalan keluar meninggalkan dan tak memperdulikan larangan Ambar.
"Bim.. Bima....," Ambar mencoba menghalangi Bima agar ia tak jadi pergi. Namun Bima tak menggubris nya sama sekali.
Sampai di luar, ternyata mobilnya tak ada di garasi. Mau tak mau, Bima kembali masuk kedalam untuk menemui Ambar.
"Mbak, mobilku di mana?," tanya Bima yang kembali masuk kedalam menemui Ambar yang masih ada di meja makan.
"Mobil mu di pinjam Areta, Bim." jawab Ambar.
Lalu Bima segera mengambil handphone nya di dalam saku, untuk memesan taksi online.
__ADS_1
Selang beberapa menit taksi yang sudah di pesan Bima pun datang. Dan kini Bima menuju toko kelontong miliknya.
Kini taksi itu berhenti di depan toko, namun berada di sebrang jalan.
Dari dalam taksi melihat toko nya sepi tak ada pengunjung sama sekali. Barang yang di jual pun nyaris tak ada.
"Miris sekali." gumam Bima dari dalam hati.
Bima masih terus mengawasi toko nya di tempat ia turun dari taksi online yang ia tumpangi. Beberapa menit Bima berdiam diri di tempat yang sama, namun toko itu tak ada orang sama sekali yang masuk untuk berbelanja disana.
Lalu ada seorang perempuan membawa satu kantong kresek besar berisi bahan sembako, yang berjalan didepan Bima, yang masih berdiri memantau tokonya itu.
"Bu, darimana?," sapa Bima kepada perempuan yang ternyata adalah pelanggan tetap ya selama ini.
"Mas Bima?," ucap ibu itu terkejut saat melihat keberadaan Bima yang sudah ia kenal baik selama ini. Karena memang sudah berlangganan sejak dulu di toko milik Bima.
Dan perempuan itu pun menceritakan semua yang terjadi di toko milik Bima. Saat Bima tiba-tiba menghilang menurut perempuan itu.
Dari stok barang yang tak ada, sampai betapa bengisnya Laras sat menjaga toko itu.
Sering sekali Laras ibu nya Bima itu beradu mulut dengan para customer yang memprotes selisih harga yang begitu banyak dari toko yang lain.
Memang Laras sengaja menaikan harga dari biasa nya, tujuan tindakan yang dilakukan Laras tak lain adalah untuk mendapatkan laba lebih banyak.
Namun bukan laba yang Laras dapat, melainkan kerugian. Karena banyak customer yang lari ke toko-toko kelontong lainnya.
Yang awalnya toko itu ramai dikunjungi oleh pedagang-pedagang kecil yang berbelanja untuk di jual lagi dirumahnya. Kini tak ada satu pun para langganan Bima yang datang untuk belanja disitu, Karena memang harga nya tak bisa untuk di jual lagi dirumahnya.
__ADS_1
Bima pun membuang nafas kasar setelah mendengar cerita dari ibu paruh baya yang seumuran Laras, tentang toko nya saat ia tinggal beberapa minggu itu.
Ibu itu pun meninggalkan Bima setelah selesai menceritakan semua yang menjadi uneg-uneg nya dan uneg-uneg pelanggan yang lain selama ini. Tak lupa Bima pun meminta maaf atas perlakuan Laras kepada ibu itu.
Dan masih ditempat Bima duduk di sebrang jalan dari tokonya. Terlihat Ina berjalan keluar dengan menenteng tas lusuh di pundaknya.Ina yang berjalan keluar itu, di ikuti oleh Laras di belakang nya.
Dilihat dari wajah dan gerak-gerik nya, sepertinya Laras sedang mengomel dan memarahi Ina. Namun sayangnya, Bima tak mendengar apa yang dikatakan oleh Laras. Dan itu membuat Bima sangat penasaran. Tapi Bima tak ingin muncul kepermukaan, sebelum ia benar-benar mendapatkan apa yang ia cari. Yaitu kebenaran yang dikatakan oleh Ina karyawan nya itu.
Kini Ina pun terlihat keluar dari toko nya dan berjalan menuruni tangga toko Bima. Namun Laras kembali masuk kedalam toko, setelah memastikan Ina keluar dari toko itu.
Dan Bima memutuskan untuk menampakkan diri pada karyawan nya itu. Karena Bima tak tega melihat Ina yang diusir oleh Laras.
Bima sedikit hilang respek pada Laras, karena selain ia jarang di kunjungi saat berada di tahanan. Laras juga seperti tak mau berkorban demi nya, yang tak lain adalah anaknya sendiri.
Menurut Bima, Laras lebih mementingkan harta nya sari pada dirinya. Karena Laras kukuh mempertahankan perhiasan-perhiasan nya dari pada Bima.
"Ina!!!," panggil Bima pada karyawan nya itu. Dan ina pun menoleh pada sumber suara yang memanggil nya.
"Pak Bima?!," Ina terkejut saat melihat kehadiran Bima disini. Ina kembali memperjelas pandangan nya, untuk menyakinkan dirinya kalau yang memanggil nya itu adalah bos nya yang selama ini tiba-tiba menghilang. Seperti melepas tanggung jawab tokonya. Sehingga Ina harus menghadapi semua masalah di tokonya itu sendiri.
"Kamu mau kemana, Ina?!," tanya Bima sambil mempercepat langkah kaki nya untuk mendekati Ina yang berada di depan toko miliknya itu. Sedang kan Bima sendiri masih ada di sebrang jalan yang kini berjalan menuju Ina.
"Ina!!, jelaskan padaku. Mau kemana kamu?!," sekali lagi Bima bertanya pada Ina, yang kini Bima sudah berdiri di depan Ina.
"Pak Bima!," ucap Ina, karena keyakinan nya tadi benar dan Ina tak salah melihat kalau yang memanggil nya tadi adalah benar pak Bima. Karena kini mereka sudah berdekatan.
"Ina mau pulang ke kost, pak." jawab Ina sambil menundukkan kepala nya, karena ia tak mampu menatap mata bosnya. Agar Bima tak melihat mata Ina yang kini sedang berkaca-kaca saat masih terngiang-ngiang ucap-ucapan Laras yang kasar pada nya barusan.
__ADS_1
"Kenapa kamu pulang ke kost, sementara jam kerja mu belum selesai, Ina?, kamu tau kalau ini sangat tidak profesional?," Bima pura-pura tidak tau dengan yang terjadi pada Ina barusan. Karena Bima ingin tau apa yang akan Ina katakan pada nya tentang masalah yang ia hadapi saat ini.