
Malam ini Kean sangat rewel, Sarah yang sendirian sangat kewalahan. Sebenarnya Sarah ingin menghubungi susternya Kean. Namun ini sudah malam, tak enak saja menganggu orang yang sedang beristirahat.
Sarah membawa Kean keluar dari kamar, siapa tahu dengan dibawa keluar Kean akan tenang.
Saat Sarah menggendong Kean dan berdendang untuk Kean Terlihat seseorang sedang memperhatikan nya.
Sarah yang mengetahui itu, segera masuk dan bergidik ngeri. Karena ia tak melihat jelas wajah pria itu. Karena lorong rumah sakit sedikit agak gelap.
Namun saat Sarah akan menutup pintu, pria itu semakin dekat.
"Tunggu!!!," ucap pria itu. Suaranya sangat dekat dan Sarah sangat mengenal suara itu.
"Mas Damar?!!!," Hati Sarah hampir copot karena rasa takutnya.
Sarah bukan takut hantu, melainkan ia takut kalau pria itu orang jahat. Orang yang akan menyakiti nya dan Kean anak nya.
"Kamu mengagetkan ku saja, mas!," ucap Sarah dengan wajah masih ketakutan.
"Kenapa Kean? ini sudah malam, kenapa ia belum juga tidur?," tanya Damar yang terlihat cemas kepada anak lelakinya itu.
"Aku nggak tau, mas. Tiba-tiba aja dia rewel." ucap Sarah sambil terus mengayun Kean di gendongan nya.
"Sini, biar aku gendong," Damar mengulurkan tangannya, ia ingin sekali menggendong anak nya.
Namun Sarah ragu memberikan Kean pada Damar. Dan wajah keragu-raguan Sarah terbaca oleh Damar.
"Kamu tak perlu takut, aku tak akan pernah menyakiti darah daging ku sendiri." Damar memberi penjelasan pada Sarah.
Namun Sarah bersikeras tak memberikan Kean pada Damar. Ada rasa trauma pada diri Sarah, setelah kejadian siang tadi.
"Maafkan aku, karena sikap ku siang tadi membuat mu sakit hati." Damar mengucapkan permohonan maaf pada Sarah. Lalu ia duduk di bangku panjang didepan kamar rawat Kean.
"Bukankah itu sudah biasa kamu lakukan padaku dulu, mas?. Aku sudah kebal dengan sikap mu yang seperti itu." ucap Sarah.
"Aku emosi, karena kamu melarang Bianca menggendong Kean. Padahal Bianca ingin sekali menganggap Kean seperti anak nya sendiri. Dan aku yakin Bianca akan menjadi ibu sambung yang baik untuk Kean." Damar ngomong panjang lebar. Damar tetap menyalahkan Sarah tanpa mencari tau kejadian yang sebenarnya.
"Terserah kamu, mas. Aku sudah tak peduli lagi, terserah kamu mau menyalahkan aku di kejadian tadi siang. Walau misalkan aku berbicara jujur pun, aku tak yakin kamu akan mempercayai aku." Sarah semakin geram melihat Damar yang duduk sambil menghisap rokok.
"Dan matikan rokok mu, mas. Ada Kean, baik untuk kesehatan nya!," ucap Sarah tegas kepada Damar.
Damar yang mendengar ucapan Sarah, langsung mematikan rokoknya dan membuang puntung di tempat sampah.
Damar dibuat bengong dengan sikap Sarah saat ini. Setelah tak bersamanya, banyak perubahan di diri Sarah.
Sekarang didengar dari omongan, Sarah menjadi wanita tangguh. Mungkin karena seringnya sakit hati saat bersama Damar dulu.
Dan Damar melihat Sarah yang sekarang, terlihat lebih mandiri dan pastinya Sarah bertambah cantik setelah tak bersamanya lagi.
"Kenapa menatap ku seperti itu, mas!!, itu tatapan yang haram dilakukan karena kita sudah bukan suami istri lagi!!." Sarah yang masih menggendong Kean tak suka dengan tatapan Damar kepada nya.
"Kamu sekarang berubah, Sarah. Kamu menjadi wanita yang lebih baik setelah tak bersamaku. Mungkin yang aku dan keluarga ku lakukan kepada mu adalah salah besar. Maafkan aku, Sarah." Ucap Damar dengan tatapan mengiba kepada Sarah.
"Syukurlah kalau kamu sadar, mas!," ucap Sarah singkat.
"Aku menyesal mengusir mu malam itu, apa kita bisa memperbaiki semuanya?," pertanyaan Damar kali ini membuat Sarah ingin tertawa lebar dan menjitak kepala Damar.
Karena menurut Sarah, hanya perempuan bodoh yang mau menerima lelaki nya kembali setelah ia melihat suaminya berselingkuh didepan matanya sendiri. Bahkan dikamar tempat ia dan suaminya memadu kasih.
"Maaf, mas. Ini sudah malam, lagian Kean juga sudah tenang. Sekarang kamu lebih baik pergi dari sini, karena aku dan Kean mau beristirahat." Sarah tak menjawab pertanyaan Damar, bukan karena ia masih cinta. Namun seringkali pertanyaan itu sudah terlontar dari mulut Damar. Jadi Sarah rasa, ia tak perlu menjawab nya.
"Kenapa kamu tak menjawab pertanyaan ku, Sarah?, tak ada kah secuil rasa dihati mu untuk ku?," tanya Damar terus mendesak Sarah.
"Kurasa pertanyaan-pertanyaan mu tak memerlukan jawaban dari ku. Karena kamu pasti tau jawaban apa yang akan ku beri!," (jadi kayak lagu hehehe).
"Sekarang lebih baik kamu pergi dari sini, aku takut akan ada ke salah pahaman lagi seperti tadi siang." Sarah pun akhirnya masuk kedalam kamar untuk beristirahat. Tak lupa ia mengunci pintu nya, karena ia takut Damar akan nekat masuk.
Damar yang melihat itu pun langsung berdiri, ia ingin membuka pintu yang ditutup Sarah. Namun apa yang ia lakukan tak berhasil. Karena Sarah lebih cepat menutup dan mengunci nya.
__ADS_1
Damar akhirnya kembali kekamar Lidya, ia melihat dua orang wanita yang sangat disayangi itu sedang tertidur pulas.
Lalu ia merebahkan tubuhnya di tikar yang sengaja ia bawa dari rumah untuk tidur disini. Karena sofa yang biasanya ia buat tidur. Kini sudah ditempati oleh Linda mamanya.
Damar mulai memejamkan matanya, tapi ia teringat dengan Bianca. Lalu ia kembali duduk dan mengambil handphone nya.
Damar mencoba menghubungi Bianca, tapi tak ada jawaban sama sekali dari Bianca.
"Mungkin, dia sudah tidur." ucap Damar pelan sambil melihat arloji yang melingkar di pergelangan tangan nya.
Lalu ia pun langsung merebahkan tubuhnya lagi, dan segera memejamkan mata. Karena sebenarnya Damar sangat capek dengan kejadian seharian ini.
Pagi hari, Linda sudah terbangun terlebih dahulu. Linda membiarkan Damar yang masih terlihat pulas saat tidur.
Linda bermaksud untuk mengambil lap dan ember yang berisi air hangat, yang sudah disediakan oleh pihak rumah sakit. Dan ditaruh di depan pintu kamar.
Saat Linda mengambil nya, pandangan Linda tertuju pada Sarah. Mereka pun saling bertatapan, namun seketika Linda membuang muka saat Sarah tersenyum padanya.
Tak ada basa-basi menanyakan keadaan cucu nya, Linda langsung masuk kedalam kamar.
Dan Sarah pun tak kaget, karena ia sudah terbiasa akan hal itu.
Linda mulai membasuh tubuh Lidya dengan air suam-suam kuku.
Lidya merasakan tubuhnya sat ini lebih rileks, dan ia membuka matanya dengan pelan.
"Kamu sudah bangun, Lid?," Tanya Linda dengan wajah sangat bahagia melihat anak nya sudah pulih.
"Lidya haus, ma." ucap Lidya.
Linda yang belum selesai membersihkan tubuh Lidya pun, akhirnya menaruh lap itu kedalam ember. Dan ia pergi mengambil sebotol air mineral kemasan yang terletak diatas nakas samping tempat tidur Lidya.
Linda pun menyodorkan botol itu pada Lidya, lalu Lidya mengambil dan segera meminumnya.
Lalu Linda melanjutkan membersihkan tubuh Lidya. Dengan posisi Lidya duduk, mempermudah Linda untuk menyeka tubuh Lidya.
"Kamu lapar, Lid?," tanya Linda saat kiriman makanan dari rumah sakit datang.
Lidya menganggukkan kepalanya,
Lalu Linda menyuapi Lidya dengan makanan itu.
"Ma, kenapa bayangan nenek Peki selalu mengikuti ku ya?," tanya Lidya sambil mengunyah makanan yang disuap kan oleh Linda.
"Mengikuti bagaimana?," Linda bertanya pura-pura tidak tahu. Padahal ia juga merasakannya.
"Mereka selalu datang dalam mimpiku, ma." Lidya menghentikan kunyahan nya.
"Mereka?? maksud kamu, nenek Peki mempunyai teman?," Linda memperjelas apa yang dikatakan Lidya, karena hal yang sama juga ia rasakan. Linda seperti dikejar-kejar oleh nenek Peki dan segumpal daging berambut yang penuh darah.
Lidya menganggukkan kepalanya dengan mulutnya terus mengunyah.
"Teman nenek Peki Seperti apa, Lid?," Linda sangat ingin tahu, apa yang ia lihat sama dengan yang dilihat oleh Lidya.
"Nenek Peki bersama sesuatu yang bentuknya sangat aneh. Lidya aja yang melihat nya sangat geli. Seperti segumpal daging yang dipenuhi rambut dan berdarah," Lidya menghentikan kunyahan nya dan berbicara sangat serius.
Deg!
Benar dugaan Linda, yang ia lihat sama yang dilihat oleh Lidya.
"Apakah itu?," Linda bertanya-tanya dalam hatinya. "Apa itu janin Lidya?, tapi kenapa janin itu dipenuhi banyak rambut?," Linda terus berpikir keras.
"Ma, mama. Mama kenapa melamun?," Lidya memanggil-manggil Linda yang sedang melamun dengan melambai-lambai kan tangan nya.
Linda yang mendengar suara Lidya memanggilnya pun langsung tersadar dari lamunannya.
"Mama lagi mikirin apa?," tanya Lidya.
__ADS_1
"Mama tak memikirkan apapun kok, Lid," jawab Linda.
"Yuk habiskan, makanan mu ini." Linda menyuapkan nasi ke mulut lidya.
Damar pun terbangun, setelah Lidya selesai sarapan.
"Kamu sudah bangun, mar? Mama tak berani membangunkan mu, kelihatan nya kamu sangat capek sekali." Ucap Linda sambil berlalu melewati Damar yang sedang duduk diatas tikar yang ia gelar.
"Mama sudah sarapan?," tanya Damar beranjak dari tikar yang ia duduki. Dan ia berjalan kekamar mandi untuk membersihkan diri.
"Belum, Mar. Aku menunggu mu bangun." jawab Linda sambil membereskan tikar yang dipakai tidur Damar.
Damar yang keluar dari kamar mandi, langsung mengambil handphone nya. Kali ini ia memesan makanan lewat ojek online.
Karena mau keluar, Damar tak ada kendaraan. Dan tak menunggu lama, makanan itu datang. Karena Damar sengaja memesan di sekitar area rumah sakit, supaya lebih cepat sampai.
Beberapa macam makanan sudah diantar oleh ojek online.
"Kok kamu beli makanan banyak banget, Mar?. Yang makan kan cuma kita berdua." Linda heran melihat makanan yang sangat banyak diantar oleh ojek online.
"Iya, ma. Sebagian mau aku kasih ke Sarah. Kasian dia, mungkin sekarang ia belum sarapan." Damar mengambil beberapa makanan dan ditaruh didalam kantong plastik.
"Hah, Ini mau kamu kasih ke Sarah?!," tanya Linda dengan mata melotot.
"Memang kenapa, ma? Kasian dia, semalam dia bergadang karena Kean rewel. Mungkin pagi ini dia juga belum sarapan karena tak ada yang membelikan. Sarah hanya berdua dengan Kean." ucap Damar berlalu keluar, dan melangkah kearah kamar Kean.
Sampai didepan kamar Kean, betapa kagetnya Damar. Ternyata di sana ada Randy yang datang bersama seorang perempuan.
Terlihat ia membawakan Sarah makanan. Hati Damar sangat kesal melihat nya. Randy yang melihat kedatangan Damar langsung keluar.
"Damar?!, kamu mau melihat Kean? Masuk aja." ucap Randy dengan santai. Karena ia tak ada pikiran apapun pada Damar.
Menurut Randy, Damar berhak atas anaknya. Jadi Randy mempersilahkan nya untuk masuk.
Sedangkan Sarah yang melihat kedatangan Damar hanya diam saja tak merespon.
Beda dengan Damar, kali ini emosi dihatinya meledak-ledak. Ia sangat kecewa dengan sikap Sarah, yang terlalu welcome pada Randy. Yang tak ada hubungan darah sama sekali dengan Kean anak nya.
"Aku kecewa sama kamu, Sarah!," ucap Damar sambil menunjuk Sarah yang berada didalam kamar yang sedang memberi susu Kean.
"Kecewa dengan ku? karena apa mas?!," tanya Sarah dengan wajah kebingungan.
"Aku sudah membelikan kamu sarapan, tapi kamu lebih menerima makanan dari dia!!!," kali ini Damar menunjuk wajah Randy.
Sarah semakin bingung dengan ucapan Damar. Damar yang datang tiba-tiba, langsung marah pada Sarah.
"Dan satu lagi, kamu adalah perempuan paling munafik yang aku kenal!!!," Damar tak henti-hentinya menghina Sarah.
"Sepertinya baru semalam ia meminta maaf atas kesalahannya dulu yang sering menghina dan memaki-maki aku. Kenapa sekarang dia mengulang lagi?, Dasar orang aneh!!," gumam Sarah dalam hati.
"Jaga mulutmu, Mar!!! Kenapa kamu ngomong seperti itu?!" Randy tak terima dengan hinaan yang dilakukan Damar pada Sarah.
"Kamu jangan pernah ikut campur urusan ku dengan Sarah, karena disini kamu adalah orang luar!!" Damar berbicara seolah-olah ia masih menjadi suami Sarah dan berhak atas Sarah.
Namun kenyataannya dia bukan lagi siapa-siapa untuk Sarah. Karena mereka sudah bercerai sah di mata agama maupun negara. Hanya saja Damar bapak kandungnya Kean. Jadi saat ini Damar hanya berhak atas diri Kean.
Sarah yang mendengar ucapan Damar, menggelengkan kepala. Betapa terlihat bodohnya Damar berbicara seperti itu.
"Mas, kita ini sudah bukan siapa-siapa lagi. Kamu harus ingat, aku dan kamu sudah bercerai secara resmi. Jadi aku mohon jangan pernah bikin keributan yang membuat diri kamu seperti orang bodoh, mas. Kalau kamu memang ingin ketemu dengan Kean. silahkan, mas! Karena kamu tetap ayah kandung Kean." Sarah berbicara dengan sangat pelan namun penuh penekanan.
"Aku nggak nyangka sekarang kamu sudah banyak perubahan, Sarah. Sekarang kamu makin pintar berbicara. Berbeda dengan Sarah yang dulu, pendiam dan penurut. Apa karena kumpulan mu sekarang orang seperti dia?! Ternyata Randy hanya bisa membawamu pada perubahan yang negatif." Damar berbicara sambil menunjuk ke arah Randy. Dengan mimik wajah seperti menghina.
"Mungkin itu lah kebodohan ku yang dulu, mas. Aku menjadi istri pendiam dan penurut dengan mudah aku kamu bodohi. Kamu dan keluarga mu menghina aku, aku hanya bisa diam. Tapi tidak untuk sekarang, aku bukan lagi Sarah yang mudah kamu bodohi seperti dulu!," ucap Sarah dengan tersenyum sinis.
"Dan satu lagi, kamu jangan suka menyalahkan orang lain atas kesalahan mu sendiri. Asal kamu tau, mas! Pak Randy tidak pernah mengajak ku dalam hal negatif, aku seperti ini karena sikap kamu dan keluarga mu yang mengajarkan itu pada ku."
Sarah berhasil membuat Damar tak bisa berkata apa-apa. Damar pun akhirnya membawa kembali makanan yang sudah ia pesan kan untuk Sarah.
__ADS_1