
"Iya, mas...!," jawabku pada panggilan mas Bima.
Rasanya risih saat mendengar mas Bima sepagi ini berteriak-teriak.
"Nanti kita ngobrol lagi ya sayang?!," ucapku pada Kean sebelum aku meninggalkan nya untuk menemui mas Bima.
"Baik amma." jawab Kean sambil mengangguk kan kepalanya.
"Anak pintar!!," gumam ku sambil mengelus rambutnya yang sudah tersisir rapi.
Aku bergegas kearah sumber suara kas Bima yang memanggilku.
Ternyata, ia sudah berada di meja kursi makan, tengah duduk dengan satu kaki diangkat.
"Kamu sudah mandi, mas?," tanyaku dengan sangat berhati-hati.
"Belum, saat ini aku sangat lapar!!, jadi biarkan lah aku tidak mandi dulu, tapi aku makan dulu."jawab mas Bima yang tangah menyendok nasi dan ia taruh di atas piringan nya.
"Baiklah terserah kamu, mas." Gumamku lirih,
"Apa yang kamu bilang, Sar?!," tanya mas Bima, aku kira mas Bima tidak mendengarnya, tapi nyatanya ia mendengar apa yang aku katakan.
"Tidak ada apa-apa, mas." jawabku bohong, karena malas kalau nanti akan ada keributan.
"Oh ya,,,, sebentar lagi aku akan pergi ke toko. Jadi aku harap kamu jangan macam-macam. Kamu harus tetap berada di rumah ini. Tidak boleh keluar rumah tanpa ku!!," ucap mas Bima dengan tatapan tajam kepada ku.
"Tapi aku kan harus bekerja, mas??!," ucapku pada mas Bima.
"Aku sudah tak mengijinkan mu untuk bekerja, Sarah!!!, kamu hanya diam saja di rumah. Biarkan aku yang akan mencukupi semua kebutuhan mu." jawab mas Bima.
"Tapi Kean juga butuh untuk bersekolah, mas!," ucap ku lagi.
"Biarkanlah Kean tak bersekolah, karena itu akan menghabiskan banyak uang ku untuk biaya sekolah nya. Apalagi sekolah Kean ada sekolah elit." Jawab mas Bima.
Mas Bima melarang ku kemana-mana walau hanya mengantarkan Kean kesekolah.
"Kenapa kamu seperti ini mas?," tanya ku.
"Sudah menjadi hak Kean untuk mendapatkan pendidikan yang bagus. Toh kamu juga tak ikut membiayai nya, tapi kenapa kamu melarang nya?!," Lanjut ku.
kali ini aku tersulut emosi dengan ucapan mas Bima.
"Kalau memang kamu tak ingin terbebani oleh aku dan Kean. Lebih baik talak aku sekarang, mas!!. Mungkin dengan kamu bercerai dengan ku, kamu akan sebebasnya melakukan apapun sesuai keinginan mu!!," ucapku sambil berdiri dan segera berlalu pergi meninggalkan mas Bima yang tengah duduk di kursi meja makan.
"Kamu mau kemana, Sarah?!!," teriak mas Bima dengan menarik tangan kanan ku sehingga tubuh ku terjatuh di pangkuan mas Bima.
"Lepaskan mas, sakit!," rintih ku.
Mas Bima mencekram tangan ku dengan sangat kencang. Dan membuat ku kesakitan.
"Kamu kenapa tidak nurut saja sih, Sar?!, kenapa kamu menjadi istri yang membangkang!!!," ucap mas Bima dengan matanya yang melotot dan tangan nya masih terus mencekram tangan ku.
"Aku capek dengan apa yang kamu lakukan padaku, mas?!, Aku rasa semakin hari kamu ini semakin aneh!!," ucapku.
"Mungkin aku akan menerima dengan perlakuan buruk dari kamu dan keluarga mu. Tapi aku tak terima Kalau anak ku yang diperlukan buruk oleh mu dan keluarga mu. Apalagi sampai anak ku tak mendapatkan hak untuk menuntut ilmu di sekolah!!!," kali ini aku memberanikan diri, walau jujur rasa takut ku cukup besar.
"Aku tak ingin berdebat dengan kamu, Sarah!, jadi aku mohon kamu terima saja apa yang sudah menjadi keputusan ku." ucap mas Bima dengan menghempaskan tangan ku dengan sangat keras nya.
"Pokoknya aku tetap akan menyekolahkan Kean!!!!," ucapku dengan sangat tegas.
Sebenarnya kalau aku mau, aku bisa kok meminta bantuan Sinta untuk keluar dari rumah ini. Tapi aku berpikir kembali, kenapa harus aku yang keluar dari sini? Ini kan rumah ku. Harusnya mas Bima yang keluar dari sini.
"Kalau kamu melarang ku untuk menyekolahkan kan Kean, lebih baik kamu yang angkat kaki dari rumah ini!!!," ucap ku sambil menunjuk pintu keluar Yang ada di depan...
"Jadi kamu mengusir ku, Sarah?!," tanya mas Bima dengan mata melotot.
"Ya.. Aku mengusir mu. Kalau kamu mengatur ku dan Kean dengan aturan mu yang tak masuk akal, lebih baik kamu yang keluar dari rumah ini!!," aku sudah sangat kesal dengan mas Bima.
__ADS_1
"Aku ini suami mu, Sarah!!!, berani sekali kamu mengusir ku. Kamu punya hak apa mengusir ku??!!," ucap mas Bima.
"Aku punya banyak hak untuk mengusir mu, mas!!, karena ini rumah ku, bukan rumah mu!!," aku kuat tak mau kalah dengan mas Bima, karena aku lah pemilik rumah ini.
"Kurang ajar, kamu!!!," mas Bima berhasil menampar pipi kiri ku.
"Amma....," Kean berlari kearah ku.
Betapa kagetnya aku saat memanggil ku dan berlari ke arah ku.
"Kean?!!," panggil ku, lalu kupeluk erat tubuh mungil anak lelaki ku.
"Ayah Bima jahat!!!," teriak Kean. Sepertinya ia tak terima dengan perlakuan mas Bima padaku.
"Kean benci dengan ayah Bima, Kean tak mau punya ayah Bima!!!!, ayah Bima sudah menyakiti amma nya Kean!!,". Kean berteriak sambil menangis, lalu ia memeluk ku dengan sangat erat.
"Sayang, lebih baik sekarang Kean kembali ke dalam kamar ya." bujuk ku pada Kean.
"Kean nggak mau kemana-mana, Kean mau ada di sini menjaga amma. Kean tak tega meninggalkan amma sendiri karena ayah Bima jahat." ucap Kean dengan terus memeluk erat tubuh ku.
Tok!
Tok!
Tok!
Terdengar suara pintu di ketuk.
"Siapa lagi ini?!." ucap mas Bima dengan nada emosi.
Lalu ia berjalan melewati ku menuju pintu depan, dimana sumber suara itu datang.
"Assalamualaikum," terdengar samar-samar ucapan salam dari seorang perempuan di depan sana.
Rasanya ,aku kenal dengan Suara itu. Dan ku coba mengintip nya. Ternyata benar dugaan ku kalau Itu suara ibu nya mas Bima.
"Waalaikumsalam, masuk Bu." mas Bima terlihat sangat bahagia. Alis yang awalnya bertaut, sekarang berubah menjadi wajah yang sangat ramah dan penuh dengan senyum.
"Ayah....," suara Putri terdengar memanggil ayah nya.
Walau ibu datang dan sudah masuk kedalam rumah, aku enggan untuk menemui nya.
"Sarah..!!, Sarah..!!," panggil mas Bima. Sepertinya ia sangat tak suka kalau melihat ku untuk santai sedikit saja. Sehingga ia selalu merepotkan aku saja.
"Iya, mas!, ada apa?," tanya ku sambil berlari keluar karena panggilan dari mas Bima.
"Ini loh, ada ibu datang bersama Putri." ucap mas Bima dengan nada yang sangat ketus pada ku.
"Eh... Ibu." sapa ku. Lalu aku mencium punggung tangan nya, dan ku lanjutkan dengan cium pipi kanan dan pipi Kiri.
Begitu pun yang dilakukan Putri, ia mencium punggung tangan ku dan mencium pipi kanan dan kiri ku.
"Darimana bu?," tanya ku. Karena aku melihat beberapa paper bag, ya lng berisi sepatu dan baju.
Belum sempat pertanyaan ku di jawab oleh ibu nya mas Bima, aku sudah dibuat terkejut lagi dengan ulah mereka.
Betapa kagetnya nya aku, setelah tau siapa yang datang di belakang ibu.
"Reta,,,?," gumam ku dengan lirih, sambil mat ini melotot.
"Hai mas, apa kabar kamu?," tanya Reta sambil bersalaman dan mencium punggung tangan mas Bima.
Kenapa aku yang melihat nya sangat risih sekali dengan apa yang di lakukan oleh Reta kepada mas Bima.
"Ini loh, Bim. Tadi kami bertiga pulang dari belanja, eh.. Saat lewat di jalan menuju rumah kamu, tiba-tiba Putri minta mampir ke sini." ucap ibu dengan melirik ke arah ku.
"Akhirnya kita mampir deh. Kamu nggak keberatan kan, kalau kami mampir kesini?!," tanya ibu, lagi-lagi dia berbicara dengan melirikku.
__ADS_1
"Ya kali, mas Bima mau melarang ibu dan anak nya yang datang kerumahnya, Bu." sahut Reta dengan senyum sinis kepada ku.
"Ya tak mungkin ayah akan melarang kita datang kesini, nek. Ini kan rumah ayah." ucap Putri.
Ini Kenapa anak sekecil putri sudah pintar berbicara seperti itu. Kalau tak ada yang mengajari, aku yakin dia tak akan berbicara seperti itu.
"Ha ha ha.." Namun ibu nya mas Bima tertawa sangat lebar setelah mendengar apa yang di ucapkan Reta mantan istri mas Bima dan Putri anak dari pernikahan mas Bima dan Reta.
"Kamu benar Put, mana bisa orang lain melarang-larang kita yang lebih berhak untuk datang kerumah ini." ucap ibu nya mas Bima dengan percaya diri yang sangat tinggi.
Dan saat kulihat Reta, dia tersenyum penuh kesombongan nya dengan menatap ku.
"Silahkan kalian tersenyum bahagia dengan puas sekarang, sebelum aku mengusir kalian dari sini dari rumah ku ini." gumamku dalam hati sambil ku tatap sinis kearah Reta mantan istri mas Bima.
Lalu aku berdiri dan berjalan menuju kamar, karena aku sangat malas menjamu tamu yang tak punya akhlak seperti mereka.
"Kamu mau kemana, Sarah?!," tanya mas Bima.
"Sarah capek, mau istirahat mas!," jawabku.
"Kamu ini bagaimana sih, Sarah?!, Disini ada tamu malah kamu tinggal pergi??!!," bentak mas Bima padaku.
"Sepertinya mereka bukan tamu ku, mas. Jadi kenapa aku yang harus menyambut nya?," ucap ku dengan tenang.
"Jadi urus saja tamu-tamu mu, itu." lanjut ku sambil ku pandang satu per satu tiga wajah perempuan yang tak punya urat malu itu.
"Kamu jangan kurang ajar, Sarah!!, itu ibu ku, berarti juga ibu mertua mu. Jadi sudah kewajiban kamu untuk menghormati mereka!!!," lagi-lagi mas Bima membentak ku. Namun tak ada rasa takut dengan bentakan itu, karena hal itu sudah terbiasa ku dengar di akhir-akhir ini.
"Menghormati mereka katamu, mas?!, maksud mu aku juga harus menghormati perempuan ****** ini dan anak mu yang tak punya sopan santun ini?!!," tanyaku dengan ku tunjuk satu persatu perempuan yang urat malunya sudah terputus yang saat ini berada di depan ku.
"Tutup mulut mu Sarah?!," tangan mas Bima hampir melayang ke pipi kiri ku. Namun dengan cekatan, tangan mas Bima ku pegang dengan segala kekuatan yang aku keluarkan. Karena tak dapat di pungkiri, tenaga mas Bima lebih besar dari tenaga ku. Lalu ku hempas kan tangan mas Bima dengan semua kekuatan yang aku punya.
"Kamu ini perlu dididik sopan santun, Sarah!!, Agar kamu bisa menghargai orang yang lebih tua dari ku." ucap mas Bima dengan mata melotot padaku.
"Kamu jangan hanya bisa mendidik aku saja, tapi kamu juga harus bisa dong mendidik anak juga." ucap ku tak mau kalah.
"Kenapa kamu bawa-bawa anak ku?!," celetuk Reta dengan berkacak pinggang.
"Karena mantan suami mu ini hanya pintar mendidik orang lain saja, tapi tidak becus untuk mendidik sopan santun pada anaknya!!," aku tak punya rasa takut sama sekali pada Areta mantan istri mas Bima ini.
"Lihat mas, perlakuan istri mu padaku dan Putri. Pantas saja Putri tidak betah tinggal dirumah mu ini, mas. Kelakuan istri seperti itu pada Putri." Areta merengek pada mas Bima.
Pintar sekali ia mencari muka pada mas Bima. Namun sama sekali aku tak cemburu, biar saja dia mencari muka, kaki, tangan atau apapun itu. Sungguh aku tak peduli, karena semakin kesini rasa cinta pada mas Bima sudah terkikis oleh sikap dan perlakuan mas Bima dan keluarga nya padaku.
"Putri selalu bercerita padaku, kalau perlakuan istri ku ini tidak pernah baik pada Putri, mas." lanjut Reta semakin berani memfitnah ku di depan ku.
"Apa yang di katakan bunda mu itu benar, put?, kalau mama Sarah tak pernah baik padamu saat kamu disini?!," kali ini mas Bima bertanya pada Putri.
"Hmmm....anu yah... Itu..," jawab Putri gelagapan. Mungkin tadi Putri belum di briefing atau Putri lupa naskah dari skenario Reta.
"Kamu jangan bertanya pada Putri seperti itu, Bima. Pasti Putri bingung dan takut Untuk Menjawab nya. Karena disini masih ada istri mu." ucap ibu membela cucu tersayang nya.
"Apa yang kamu lakukan pada Putri saat dia ada di sini dan tanpa sepengetahuan ku, Sarah?!," kali ini mas Bima melempar pertanyaan nya pada ku.
Pertanyaan sudah seperti bola saja, karena di lempar kesana kemari oleh mas Bima.
"Yang aku lakukan pada Putri adalah apa yang Putri katakan nanti tentang perlakuan ku padanya." jawabku dengan sangat tenang.
"Maksud kamu?," tanya mas Bima. Sepertinya ia sulit mencerna perkataan ku dengan benar.
"Maksud ku, kelakuan ku sesuai apa yang Putri ceritakan nanti padamu, mas. Jadi nanti kalau aku sudah pergi dari sini, kamu wajib bertanya padanya tentang apa yang aku lakukan pada Putri saat tak ada kamu dirumah." jelas ku.
Sengaja aku berkata seperti itu, karena kalau pun aku bercerita tentang yang sebenarnya terjadi. Mas Bima tidak bakal percaya, aku yakin mas Bima akan lebih percaya pada Putri anaknya
Lalu dengan langkah sedikit ku percepat, aku meninggalkan segerombolan orang-orang yang tak tau malu.
"Lihat istri mu, Bim!!, Dia pergi meninggalkan ibu. Ibu merasa tak di hargai di rumah anak ku sendiri, Bim." ucap ibu mencoba menghasut mas Bima. Dan aku sudah tak peduli lagi, biar saja mas Bima terhasut. Dengan begitu aku bisa lebih mudah terlepas dari mas Bima yang seperti Spikopat itu.
__ADS_1
...****************...