
Satu bulan berlalu dengan begitu cepat, rutinitas setiap hari pun berjalan seperti biasanya.
Namun dalam hati ini seperti ada yang hilang. Sore yang mendung, ku nikmati dengan secangkir teh hangat diteras belakang rumah.
Ku mainkan gawai untuk menghilangkan rasa suntuk dalam hati ku ini, yang tak aku sendiri tak tau apa sebab dari rasa suntuk ini.
Aku iseng membuka pesan-pesan lama yang ada di WA. Maksud hati ingin menghapus pesan-pesan yang sudah lama dan sudah terbaca.
Aku menghapus pesan dari yang paling bawah, karena yang paling bawah itu pesan yang sudah lama.
Namun aku baru ingat, satu pesan yang aku kirim satu bulan lalu untuk Randy. Ternyata sampai saat ini pesan yang aku kirim itu masih belum terbaca oleh nya.
Apa karena ini rasanya hatiku seperti ada sesuatu yang hilang?
Apa kepergian Randy membuat galau hati ku?
Dan kenapa ia tak membaca pesan yang aku kirim? Selama sebulan ini ia tak pernah memberi kabar padaku. Kalau pun ia mengganti nomor handphone nya, setidaknya ia sudah menyimpan nomor ku.
Kini pikiran semakin kalut, takut terjadi apa-apa padanya.
Apa memang Randy sangat sibuk sehingga ia tak bisa menghubungi ku sampai detik ini.
Walau Randy sedang berada di luar negeri, aku masih tetap bekerja sama dengan nya. Aku tetap menyuplai kue-kue di cafe Randy.
Namun sekarang yang menghandle cafe adalah sekertaris nya.
Dan sepertinya sekertaris Randy juga sangat menutup mulut tentang keadaan Randy. Padahal ia tau kalau aku dan Randy sangat berteman dekat. Namun sama sekali sekertaris Randy tak pernah membahas Randy sama sekali.
"Biar besok aku coba menanyakan nya pada Aline sekertaris Randy." gumam ku. Ku taruh gawai ku dan kuambil cangkir yang berisi teh hangat.
Rumah ini juga terasa sepi seperti hati ku saat ini. Semenjak Mayang berangkat ke Singapura suasana rumah semakin sepi.
Mungkin karena ruko ini juga agak besar dan penghuni nya hanya aku dan Kean kalau malam hari jadi terasa sekali kesepian yang melanda dalam hati ini.
Berbeda kalau pagi sampai sore, suasananya begitu menyenangkan. Karena masih banyak karyawan-karyawan ku.
Handphone ku berbunyi, kulihat ternyata panggilan dari Sinta.
__ADS_1
"Halo, assalamualaikum Sin?!," sapa ku pada Sinta yang sedang berada di seberang telepon.
"Waalaikumsalam, Sar. Sedang apa kamu?," tanya Sinta di sambungan telepon.
"Lagi santai sendirian di teras belakang rumah, Sin. Ada apa?. Maaf Sin, kemarin aku nggak bisa datang ke tasyakuran menempati rumah baru mu," ucapku, aku memang tidak datang di acara Sinta. Karena aku waktu itu memang sedang sibuk dan aku juga menghindari hal-hal yang tak di inginkan.
Aku hanya takut dengan kedatangan ku, akan memicu keributan dengan keluarga mas Damar. Dan aku nggak mau merusak hari bahagia sahabat ku.
"Iya, Sar. Biasa aja, aku paham kok." ucap Sinta dengan penuh pengertian.
"Terimakasih atas pengertiannya ya, Sin. Btw, ada apa kamu telepon aku?," tanyaku. Karena akhir-akhir i
Sinta pun sibuk. Selama satu bulan jarang berkomunikasi dengan ku.
"Aku mau pesan dua ratus Snack box, dibuat acara besok dirumah. Bisa Kan?," ucap Sinta.
"Bisa donk, ada acara apa Sint?," tanyaku, karena penasaran kok tumben-tumbennya pesan Snack box dengan jumlah banyak.
"Besok ada acara pengajian Sarah. Acaranya jam tiga sore. Tapi mungkin aku tak bisa mengambilnya. Jadi minta tolong sekalian di antar ya?," jawabnya.
Aku segera berdiri dari duduk ku, untuk melihat Kean yang tadi masih tidur.
Setelah sampai di dalam kamar ternyata Kean masih tertidur dengan pulas. Aku ambil laptop dan kubawa kembali ke teras belakang.
Aku duduk bersantai sambil mengetik bab novel online ku yang sedang on going. Ditemani suara gemericik air hujan yang tak begitu deras. Sungguh suana yang syahdu.
Demi menghilangkan rasa sepi di hati dan pikiran, aku putuskan untuk menulis. Sesekali ku seruput teh manis yang sudah tak hangat lagi.
Setelah beberapa bab novel sudah aku up ke platform, aku lihat jam di handphone masih jam lima sore. Namun Kean masih belum bangun juga.
Aku segera masuk kedalam, karena hujan semakin deras dengan disertai angin. Sambil menunggu waktu Magrib, aku mencoba membuka aplikasi Facebook.
Aku memang jarang sekali membuat status atau hanya mengunggah foto di Facebook. Karena menurut ku, tak perlu kehidupan ku di umbar di sosial media. Kecuali kadang aku selipkan untuk promosi kue-kue ku. Itu pun bisa di hitung dengan jari aku up promosi kue-kue ku di media sosial.
Di beranda Facebook ku yang pertama muncul adalah status Bianca.
"Ternyata kehidupan ku saat ini tak seindah dan sesempurna kehidupan ku yang dulu. Dulu aku sangat diratukan tapi sekarang aku tak lebih seperti seorang babu."
__ADS_1
Kali ini Bianca mengunggah kalimat yang penuh penyesalan. Dia pikir skenario kehidupan ia yang tentukan. Sehingga dengan mudah mempermainkan pernikahan yang menurut ku itu hal yang suci untuk dijaga.
Dengan mudahnya ia mempermainkan hati orang telah mencintainya dengan tulus, dengan mudah ia masuk dan merusak rumah tangga orang lain. Yang tak lain adalah rumah tangga ku.
Memang benar, rumput tetangga lebih hijau. Dia pikir dia akan bahagia hidup dengan mas Damar, tapi kebalikannya nya. Kali ini ia merasakan apa yang pernah aku rasakan dulu saat hidup di sana.
Namun seandainya Bianca memang benar-benar bergelimang harta, mungkin beda lagi cerita nya.
"Dasar keluarga aneh," decak ku.
Aku mencoba membuka komentar yang ada di status Bianca itu.
"Baru sadar ya, Ning? kamu buang berlian demi batu kali seperti Damar." komentar dari akun bernama @kasihaura ini langsung mengetag akun Facebook mas Damar.
"Itu namanya cari mati!!, Uda dapat yang enak walau sudah tua tapi di buang. Dasar otak udang, ha ha ha." Kali ini komentar dari @bungakebahagiaan di ikuti dengan emoticon tertawa lebar
"Nikmati saja pilihan mu, bu Bianca. Karena inilah yang kamu inginkan." Komentar dari @sintasicantik. Aku tau betul kalau itu akun punya Sinta. Karena aku dan dia juga berteman di Facebook.
Dan masih banyak lagi komentar yang menyudutkan Bianca.
Namun mas Damar tak ada muncul untuk memberikan klarifikasi tentang apa yang diunggah oleh istrinya di sosial media. Mungkin saja ia sedang repot, sehingga tak tau kalau akun Facebook nya di tag oleh para netizen.
Adzan magrib sudah berkumandang, handphone yang akan ku tutup ku urungkan. Karena aku melihat ada gelombang mengetik di balasan komentar Sinta.
Aku pun menunggu nya, karena aku sangat penasaran.
"Itu semua karena @Sarah teman mu yang membuat ku seperti ini!!!," balasan dari Bianca berhasil menyebut akun Facebook ku.
"Siapa @sarah itu?," tanya satu akun @Bibirbergoyang.
"Bukankah @Sarah itu adalah mantan istri nya si @Damar yang owner toko kue dan roti itu kan?!," Balasan komentar dari akun @Cintasejati berhasil menyebut nama akun ku dan dan aku mas Damar.
"Cus ah... ke akun mantan istrinya." komentar @Sintiasin mengajak para netizen untuk mampir ke akun Facebook ku.
Benar saja, tanpa menunggu lama banyak akun yang meminta pertemanan di akun Facebook ku.
Namun segera ku tutup handphone dan ku taruh diatas meja. Ku tunaikan kewajiban pada tuhan ku dulu.
__ADS_1