DERITA SEATAP DENGAN MERTUA

DERITA SEATAP DENGAN MERTUA
Mertuaku Yang Iri


__ADS_3

"Apa memang kamu ingin membuat anak ku bangkrut?!,"


"Seharusnya aku yang berhak tinggal dirumah ini!!, bukan ibu dan bapak mu yang kampungan itu yang tinggal di rumah mewah seperti ini!!!," celetuk ibu nya mas Bima.


Yang membuat ku aneh adalah darimana ibu mertua ku ini tahu tentang alamat rumah ini.


Dan yang tak abis pikir, ia datang kesini dengan marah-marah. Mengaku kalau rumah ini mas Bima yang beli.


"Sarah, coba jelaskan pada ibu dan bapak. Apa yang sebenarnya terjadi?, bukan kah rumah ini sudah kamu beli jauh...,"


Sebelum ibu ku melanjutkan ucapannya yang aku sudah bisa menebak nya itu. Aku memberikan isyarat pada ibu, agar ibu tak melanjutkan apa yang akan ia ucapkan.


"Kalau memang ini memakai uang mas Bima, memangnya kenapa Bu? toh ini juga di tempati ibu ku yang artinya ibu mertua mas Bima." ucapku.


"Tapi Bima itu milik ku!!!," ucap ibu nya mas Bima dengan sangat emosi.


"Ibu, ibu harus ingat. Aku ini istri nya, yang lebih berhak atas segalanya." ucap ku sambil melipat tangan di depan perut.


Dan kebetulan tadi dari rumah aku memakai gelang dan cincin emas dengan model keluaran terbaru.


Dengan sangat sengaja, lengan baju kutarik sedikit keatas. Bertujuan untuk memperlihatkan gelang dan cincin yang baru aku beli beberapa hari lalu, sebelum aku menjemput ibu dan bapak ke kampung.


Memang yang dari awal, ibu nya mas Bima sudah sangat detail melihat ku. Kali ini dengan tanpa sepengetahuan nya, aku menatap wajah nya, yang jelas-jelas matanya melihat gelang dan cincin emas ku. Dan refleks bibir ini tersungging, melihat tingkah laku nya.


Bukan hanya ibu nya mas Bima yang bersikap seperti itu, mbak Veni pun sama.


Aku lihat, dia melihat ku dari atas sampai bawah. Dan akhirnya tatapan nya berlabuh di gelang dan cincin emas ku.


"Aku rasa setelah ini pasti akan ada drama di rumah ibunya mas Bima." gumamku dalam hati dengan menyunggingkan senyuman jahat.


"Ayo, Ven!! kita pulang!!," Ibu mengajak mbak Veni pulang, sambil memegang pergelangan tangan mbak Veni.


"Iya, Bu. Ada disini rasanya seperti ada di neraka saja!!! panassss!!!," ucap mbak Veni dengan mengibaskan telapak tangan nya.


Kini mereka berdua pun akhirnya pulang dengan naik mobil nya mbak Veni.


Setelah mobil itu sudah hilang dari pandangan mata. Aku tertawa-tawa melihat tingkah laku ibu nya mas Bima.

__ADS_1


"Sarah, nggak boleh seperti itu. Itu orang tua loh." ibu menasehati ku.


Sebenarnya aku tahu, yang aku lakukan ini salah. Apalagi dia adalah ibu dari suamiku, tapi memang kadang-kadang kita juga harus menjadi gila. Agar kita tidak di semena-mena kan oleh orang lain.


"Iya, Bu. Maafkan Sarah." ucapku sambil tersenyum pada ibu.


"Kean mana, Bu?," tanya ku. Karena dari tadi aku belum nampak batang hidungnya.


"Dia sedang mandi, di mandiin bapak." jawab ibu, sambil tangan nya membawa nampan yang berisi dua cangkir teh yang isinya kosong itu ke dapur.


"Ibu betah kan tidur disini?," tanyaku.


"Kalau ibu dimana aja betah, asalkan selalu bersama bapak mu. Apalagi sekarang ini, rumah yang ibu tempati sangat berbanding terbalik dengan gubuk ibu yang ada di kampung. Dan satu lagi, ibu disini bisa ketemu dengan cucu ibu setiap saat. Masih mau bilang nggak betah. Ya ibu dan bapak pasti betah lah." ucap ibu.


"Syukur lah Bu, kalau ibu dan bapak betah. Aku sangat bahagia mendengarnya." jawabku.


"Amma....," panggil Kean dari arah kamar mandi dan ia berlari kearah ku. Kean hanya memakai handuk yang di lilit kan di tubuhnya.


"Udah selesai mandi nya, nak?," tanyaku.


"Ini seragam sekolahnya." aku menyerahkan tas yang berisi seragam sekolah hari ini untuk Kean.


"Amma, seharusnya Kean di bawakan baju yang lebih banyak lagi." ucap Kean.


"Loh kenapa harus gitu, nak?," tanyaku.


"Karena Kean nanti malam mau nginap di sini lagi. Kean suka disini, tidur bareng akung sama uti." celetuknya.


"Wah.... amma ditinggal sendiri dong dirumah?," ucap ku menggoda Kean dengan wajah cemberut.


"Amma kan nggak sendirian dirumah, amma kan bersama ayah dan kak Putri." jawab Kean sambil memakai baju seragam sendiri tanpa bantuan dari ku


"Iya deh, iya. Amma sekarang sudah tidak ada dihati Kean. Sekarang isi hati Kean hanya ada akung sama uti." ledekku lagi.


"Amma, kok bilang nya gitu sih. Dihati Kean ada amma, ayah, akung dan uti." ucap Kean dengan menghentikan aktivitas nya, ia memandang ku sangat dalam.


"Iya sayang, amma hanya bercanda kok. Sekarang sini amma bantu pakai seragam nya." aku mencoba meraih seragam yang ada ditangan nya. Namun Kean menolak untuk di bantu.

__ADS_1


"Kean kan Uda besar, jadi Uda bisa sendiri amma." ucap nya sambil menjauh baju ditangan nya dari tangan ku.


"Anak amma memang paling top deh!." puji ku dengan mengacungkan dua jempol tangan ku.


"Kean, ini sarapan nya. Sini biar uti yang suapi." Ibu berjalan dari dapur dengan membawa sepiring nasi lengkap dengan lauk nya.


"Iya, uti." jawab Kean.


"Masak apa, Bu?," tanyaku.


"Semalam Kean minta ayam goreng, ibu lihat di lemari es kok sudah ada stok daging ayam. Ya sudah setelah sholat Subuh tadi ibu masak seperti yang diminta Kean." jawab ibu.


"Kalau kamu mau sarapan, sana sarapan sama bapak mu." lanjut ibu.


"Sarah udah sarapan, Bu. Biar Kean aku yang suapi, ibu temani bapak makan aja." aku mencoba mengambil piring ditangan ibu.


"Ya biarkan saja bapakmu sarapan sendiri, ibu mau suapi cucu ibu dulu." ibu menjauhkan piring itu dari tangan ku.


Aku hanya diam pasrah melihat anak ku dimanjakan oleh ibu. Mungkin benar yang orang katakan, kasih sayang pada cucu akan lebih besar dari pada ke anak sendiri.


Dan sekarang ini yang aku rasakan, betapa Kean sangat di manjakan oleh uti dan akung nya.


"Sarapannya dipercepat ya, nak. Ini sudah siang, takut nanti kamu telat masuk kelasnya." ucapku sambil melihat jam di pergelangan tangan ku.


"Sabar Sarah, ini tinggal sedikit lagi kok." jawab ibu.


Setelah Kean udah selesai sarapan, kini aku mengantarkan nya pergi kesekolah. Kali ini aku sengaja membawa mobilku yang sudah lama tak pernah aku pakai semenjak menikah dengan mas Bima.


"Amma.... jangan ngebut bawa mobilnya, Kean takut." ucap Kean.


"Amma takut Kean telat masuk sekolah nya." jawabku sambil terus fokus melihat jalan didepan yang memang sedang ramai-ramainya.


Sampai di depan sekolah Kean, aku dan Kean turun dari mobil. Dan ternyata di belakang mobil ku yang aku parkir, ada mobil mbak Veni.


Tatapan tajam mbak Veni padaku sangat terlihat jelas. Kali ini mbak Veni bersama Siska temannya. Yang tempo hari diajak ke toko roti ku.


Rupanya anak nya Siska juga sekolah di sekolahan yang sama dengan Kayla dan Kean.

__ADS_1


__ADS_2