
Pagi ini, saat jam besuk tahanan sudah di buka. Veni nekat datang sendiri untuk menemui Bima.
Setelah meminta ijin dan melakukan pemeriksaan, Veni di bolehkan untuk masuk menjenguk Bima yang ada d dalam tahanan.
Veni pun duduk di bangku panjang yang terbuat dari papan kayu, di khususkan untuk para pengunjung tahanan.
Setelah beberapa menit menunggu kedatangan Bima yang masih di jemput oleh penjaga tahanan. Akhirnya Veni bisa bertemu dengan Bima.
Veni dengan tenang datang menjenguk Bima, karena semenjak Laras mendapatkan uang di toko Bima. Laras tak pernah lagi berkunjung untuk menjenguk Bima.
"Bim, bagaimana kabar mu?," tanya Veni yang melihat Bima yang semakin kurus. Tubuh Bima keliatan sangat miris sekali.
"Aku sudah tidak tahan lagi berada disini, mbak. Bima ingin segera keluar." ucap Bima pada Veni. Karena saat ini, Veni lah yang menjadi tempat keluh kesah Bima.
"Kamu tenang, Bim. Aku sudah mendapatkan uang itu. Walau aku mendapatkan uang nya dengan bunga yang tinggi." Veni seperti membawa kabar bahagia untuk Bima.
Veni sudah menjadi malaikat penolong untuknya. Bima sangat berhutang Budi pada Veni. Bima berjanji, kalau ia sudah keluar dari sini. Bima akan melakukan semua permintaan Veni.
🍓 flash back🍓
Saat Veni pulang dari kantor polisi, ia langsung menunju salon milik Siska.
Veni tau, kalau selain usaha salon. Siska bisa sesukses itu juga dengan meminjam kan uang.
Siska meminjam uang kepada orang yang membutuhkan dengan bunga yang lumayan tinggi.
"Sis, apa sekarang kamu ada di salon?," tanya Veni melalui sambungan telepon, saat ia masih ada diperjalanan pulang dari kantor polisi.
"Iya, Ven. Aku ada disalon. Memang ada apa?, kalau memang kamu ada perlu dengan ku, kamu datang saja kesini." jawab Siska.
"Baiklah, Sis. Ake kesana sekarang." jawab Veni lalu ia menutup telepon nya.
Kini Veni melaju dengan kecepatan tinggi, agar segera sampai di salon Siska. Padahal saat ini posisi Veni dengan salon Siska sangat lah dekat. Hanya butuh sepuluh menit Veni pun sudah sampai di salon Siska.
Veni berjalan masuk menuju resepsionis, setelah memarkir motor nya.
__ADS_1
Setelah bertanya ke resepsionis, Veni pun langsung diantar masuk kedalam ruangan Siska oleh petugas keamanan di salon Siska.
"Cepat juga ternyata kamu datang, Ven? Tidak sesuai dengan prediksi ku." ucap Siska yang sedikit heran, karena memang baru saja Veni menelpon nya, tak lama kemudian Veni pun sudah sampai di salon nya.
"Karena tadi saat aku menelpon mu sudah berada di dekat salon ini, Sis." jawab Veni.
"Oo... Pantesan, hanya butuh beberapa menit kamu sudah sampai disini." ucap Siska, sambil duduk di kursi kerja nya.
"Lalu ada perlu apa kamu? Kok sepertinya ada hak penting yang ingin kamu katakan padaku, Ven." tanya Siska.
Lalu Veni pun menceritakan semua yang telah terjadi dan yang dialami adik suaminya itu. Dan kedatangan nya saat ini ingin meminta bantuan pada Siska.
Karena hanya Siska lah yang saat ini bisa membantu nya. Siska harapan terakhir Veni untuk bisa membebaskan Bima dari tahanan kantor polisi.
"Aku bisa membantu mu, tapi kamu tahu kan prosedur yang harus di patuhi disini?, apalagi uang yang kamu butuhkan tidak sedikit." ucap Siska setelah ia mendengar semua kejadian yang diceritakan oleh Veni.
"Baiklah, Ven. Aku tahu prosedur nya. Dan aku mau meminjam uang itu padamu." jawab Veni.
"Apa yang akan kamu jadikan jaminan untuk peminjaman uang yang tak sedikit itu, Ven?, karena aku takut kamu tak menepati janji. Jadi aku minta kamu memberikan ku satu jaminan yang harganya seimbang dengan pinjaman mu itu." ucap Siska pada Veni. Di otak Siska, bisnis itu tak melihat teman atau pun Saudara.
"Memang tak ada untuk pinjaman kurang dari sepuluh juta, Ven. Namun jaminan itu ada kalau pinjaman diatas sepuluh juta." jawab Siska menjelaskan tentang persyaratan peminjaman.
"Baiklah Siska, aku akan memakai sertifikat rumah untuk jaminan nya. Jadi kapan aku mendapatkan uang itu?," tanya Veni sudah tidak sabar untuk menerima uang itu.
"Sabar, Veni. Semua itu juga butuh proses. Apalagi yang yang kamu pinjam itu nominal besar yaitu LIMA PULUH JUTA." jawab Siska menegaskan nominal yang di pinjam oleh Veni.
"Baiklah, kalau begitu proses dari sekarang. Karena aku membutuhkan uang itu secepatnya." ucap Veni dengan tidak sabar.
"Dan aku memerlukan jaminan itu secepatnya. Lebih cepat kamu memberikan nya padaku, lebih cepat pula kamu mendapatkan uang itu." jawab Siska.
Veni pun berpikir keras, akhirnya ia memutuskan untuk pulang. Ia mencoba mencari jalan keluar yang terbaik. Dan bagaimana dia mendapatkan sertifikat untuk jaminan pada Siska. Karena memang sertifikat rumah Veni sendiri sudah bersekolah di bank swasta.
🍓 flashback end 🍓
"Lalu apa yang akan mbak Veni jadikan jaminan?," tanya Bima setelah Veni bercerita tentang persyaratan pinjaman pada Siska.
__ADS_1
"Entahlah, otak ku juga lagi buntu Bim." jawab Veni.
"Waktu nya berkunjung sudah habis, silahkan ibu bisa keluar dari sini." ucap sipir penjaga tahanan.
Lalu dengan berat hati Veni meninggalkan tempat itu, setelah Bima hilang dari pandangan nya, yang di bawa masuk oleh penjaga tahanan untuk masuk lagi kedalam sel.
Veni pun berencana untuk pergi ke rumah Laras. Veni mencoba bicara dengan Laras agar Laras mau memberikan sertifikat rumahnya untuk di jadikan jaminan.
Saat jarak kerumah mertua nya sudah dekat, Veni baru kepikiran untuk menelepon nya.
Namun sudah beberapa kali Veni mencoba menghubungi ibu mertua nya itu. Tak ada jawaban sana sekali.
Karena sudah semakin dekat dengan rumah Laras, Veni pun berinisiatif langsung mampir kerumah nya. Karena tanggung juga kalau ia harus kembali lagi untuk pulang.
Lagian Veni juga sedang kebelet, jadi sekalian ia mau numpang ke kamar mandi di sana.
Namun, saat Veni sudah sampai di depan rumah ibu mertua nya. Veni pun turun dari mobil. Veni melihat pintu rumah mertua nya itu tertutup rapat.
Memang akhir-akhir ini, setelah penangkapan Bima. Laras sedikit menutup diri. Karena dia merasa di kucilkan oleh para tetangga sekitar rumah nya.
Walau mereka ada di dalam, pintu rumah nya pun selaku ditutup. Beda sekali saat sebelum penangkapan Bima.
Pintu rumah terbuka lebar, seperti sengaja memperlihatkan semua isi rumah nya.
Tok
Tok
Tok
Veni mencoba mengetuk pintu, namun tak ada jawaban dari dalam rumah. Saat Veni mencoba memegang handle pintu, pintu pun terbuka. Ternyata pintu tak di kunci.
"Berarti ibu dan mbak Ambar ada dirumah," gumam Veni sambil berjalan masuk.
"Ibu..," panggil Veni, mencari keberadaan Laras. Namun ia tak menemukan nya.
__ADS_1