DERITA SEATAP DENGAN MERTUA

DERITA SEATAP DENGAN MERTUA
Ketakutan Veni


__ADS_3

Veni pun menunggu dua perempuan yang sebenarnya tak disukai nya itu, sambil duduk di sofa ruang tamu.


Untuk menghilangkan kejenuhan karena menunggu yang dirasakan oleh Veni saat ini. Veni pun memainkan gawai nya, dengan membuka aplikasi Facebook. Saat Veni membuka akun nya, tiba-tiba Veni teringat dengan permintaan Sarah. Agar Veni membuat video klarifikasi tentang postingan yang telah dilakukan Veni. Yang membuat nama baik Sarah tercemar.


"Alah, ngapain juga bikin video klarifikasi. Biarkan saja nama baik Sarah hancur sehancur hancur nya. Karena itu lah tujuan ku." gumam Veni sambil terus menscrol akun Facebook nya.


"Aku yakin ancaman Sarah itu hanya gertakan saja." ucap Veni pada dirinya sendiri sambil tersenyum seperti menyepelekan.


Veni kembali melihat postingannya yang mengunggah foto Sarah. Banyak sekali komentar yang belum sempat Veni baca, dengan santai di mencoba membaca satu persatu komentar dari para netizen.


Veni tertawa sendiri saat membaca komentar-komentar dari para netizen. Ada yang menghujat Sarah, dan banyak pula yang tak terima kalau Sarah di tuduh menjadi pelakor.


"Dasar netizen Indonesia, mudah tertipu dengan penampilan saja." gerutu Veni.


Dan yang membuat Veni terkejut, banyak dari komentar para netizen menyebut kan kalau Sarah itu adalah pemilik toko roti terbesar di kota ini yaitu SKcake.


Dan banyak pula yang bilang kalau Sarah juga seorang penulis novel online. Seketika saat Veni membaca komentar yang menyebut kan bahwa Sarah adalah seorang penulis. Tiba-tiba jantung Veni berdetak lebih kencang.


"Ih, mana mungkin Sarah seorang author. Pasti itu hanya isapan jempol." ucap Veni seperti menghibur dirinya sendiri yang memang takut kalau seandainya Sarah itu benar-benar seorang author.


"Kalau pun dia seorang penulis, pasti dia hanya penulis kaleng-kaleng saja. Hanya penulis receh, dan pasti tulisan nya sangat jelek. Serta penggunaan tata bahasanya pasti amburadul. Secara kan dia lulusan sekolah di kampung." Veni berbicara sendiri, lagi-lagi Veni berbicara seperti itu untuk menenangkan hatinya sendiri. Karena ada rasa ketakutan kalau seandainya Sarah menjadi penulis yang terkenal.


"Pasti tulisan novel Sarah kalah dengan tulisan novel milik author favorit ku." gumam nya lagi dengan ekspresi wajah yang menghina saat menyebut nama Sarah.


Setelah beberapa menit ia berselancar di dunia Maya, tak ada tanda-tanda kemunculan dua wanita yang ditunggu oleh Veni.


"Lama banget sih para Mak lampir ini." gumam Sarah bicara sendiri sambil melihat arloji di tangan nya.


Lalu ia kembali membuka handphone nya, kali ini Veni membuka aplikasi novel online nya.


Ia mencoba mencari nama Sarah di aplikasi novel online itu. Namun nihil, Veni tak menemukan nya.

__ADS_1


Bagaimana Veni bisa menemukan nama Sarah, sedang Sarah tak memakai namanya untuk nama pena nya.


Karena sudah merasa capek mencari nama Sarah, Veni pun membuka dan membaca lanjutan bab novel dari penulis favorit nya. Yang tak lain adalah Sarah.


Veni mencari novel milik Sarah, padahal saat ini ia sedang membacanya.


Veni sudah membaca tiga bab novel yang sudah ditulis oleh Sarah. Dan yang membuat Veni semakin jengkel adalah, selama ia membaca tiga bab novel online itu. Kedua orang perempuan yaitu Laras dan Ambar tak kunjung keluar dari kamar nya.


Veni membuang nafas besar dengan sangat kasar. Lalu ia berdiri dan berjalan menuju kamar Ambar.


"Mbak, mbak Ambar.. Buruan biar kita tidak terlalu siang sampai sana." panggil Veni dengan kembali mengetuk pintu kamar Ambar.


"Sabaran dikit kenapa, sih!!!. Aku masih ganti baju nih!!," teriak Ambar dari dalam kamar nya.


"Aaarrrhhggg...," Veni menggenggam kedua tangan nya. Ingin sekali ia mencekik perempuan itu. Karena tingkah laku nya sungguh menyebalkan.


"Lihat saja, setelah ini kamu pasti memohon-mohon padaku untuk mengembalikan rumah mu ini, Ambar!!," ucap Veni dengan sangat geram.


"Ini juga, si tua b*ngka. Ganti baju model apa sih, kok lama banget?!, sudah seperti putri Indonesia saja." gerutu Veni dengan langkah kaki nya menuju kamar mertua nya itu.


Namun sebelum sampai di kamar mertua nya, Veni berpapasan dengan Laras di ruang tengah. Dimana ruangan itu adalah ruang televisi.


"Sudah siap bu?," tanya Veni dengan sangat ramah pada Laras. Padahal dalam hatinya, Veni sangat jengkel pada Laras. Karena Laras adalah mertua yang materialistis.


"Sudah, yuk buruan. Jangan lemot2 kamu itu!," ucap Laras pada Veni.


"Hah?, aku yang lemot?, apa dia nggak salah bicara?!," gerutu Veni sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal itu.


Veni pun berjalan di belakang mengikuti mertuanya, yang saat ini menuju mobil Veni yang terparkir di depan rumah Laras.


"Tunggu, Bu!, mbak Ambar belum keluar." panggil Veni untuk memberitahu Laras dengan jari telunjuk nya menunjuk ke kamar Ambar.

__ADS_1


Veni sengaja melakukan itu, memberi tahu kalau Ambar masih di dalam belum selesai berdandan.


Karena Veni tahu apa yang akan di lakukan Laras pada siapapun yang membuat nya menunggu.


Tak harus menunggu lama, Laras kembali masuk kedalam dan berjalan menuju kamar Ambar.


Dan benar saja dugaan Veni, Laras menggedor dengan sangat keras pintu kamar Ambar sambil berteriak-teriak memanggil Ambar yang masih ada didalam kamarnya.


Dengan terpaksa, Ambar keluar dari kamar nya. Dan pada saat Ambar sudah di luar kamar. Laras memakai dan memarahi nya.


Veni pun tertawa dengan puas saat melihat apa yang terjadi di depan mata nya itu.


"Mampus kamu, mbak!!, itulah balasan dari ku." ucap Veni di dalam hatinya sambil tersenyum penuh kemenangan.


Kini mereka bertiga pun masuk kedalam mobil, dan mobil berjalan dengan kecepatan tinggi. Karena Laras sudah tidak sabar untuk segera sampai mall.


Laras sangat antusias sekali kalau diajak belanja, karena itu sudah menjadi hobinya. Walau kadang dengan cara memaksa anak-anak nya untuk memberinya uang, agar ia bisa berbelanja di mall.


Sampai diparkiran mall, Laras dan Ambar bergegas keluar dari mobil dan berjalan menuju mall. Padahal Veni masih didalam mobil, membetulkan posisi mobilnya yang diparkir itu.


"Dasar kampungan!!," gerutu Veni saat melihat dua orang perempuan itu berlari berebutan untuk saling mendahului.


Kini dua orang perempuan itu sudah masuk kedalam mall, sehingga hilang dari pandangan mata Veni.


Veni berjalan dengan santai setelah keluar dari mobilnya.


Veni tak memperdulikan dua orang perempuan tua yang masih seperti anak kecil itu.


Dan saat Veni berjalan masuk kedalam mall, Veni berpapasan dengan Teguh suami Ambar.


"Mas Teguh!!," panggil Veni dengan refleks.

__ADS_1


Teguh yang mendengar namanya di panggil itu pun menoleh kearah sumber suara yang memanggil nya.


__ADS_2