
"Tapi kan aku hanya meminjam uang mu, bukan mengambil uang ku yang sudah ku berikan pada mu, Sarah!!," ucap mas Bima masih ngeyel dengan pikiran nya sendiri.
"Ya sudah, kalau gitu sekarang, kembalikan uang ku yang kamu pinjam itu." ucap ku sambil aku menengadahkan tangan ku.
"Kamu ini sungguh wanita yang pelit dan sangat perhitungan ya , Sarah!!," mas Bima berucap dengan emosi.
"Awalnya sih aku tak pernah mempunyai fikiran yang perhitungan seperti ini, mas. Tapi karena kamu yang mengajari ku seperti ini, jadi ya aku mengikuti nya."
"Bukankah kodrat istri itu nurut pada suami, mas?," ucapku.
"Kamu jangan memfitnah aku lagi ya, Sar!!, aku tak pernah mengajarkan kejelekan seperti itu padamu. Aku tak mengajarkan mu untuk pelit dan perhitungan. Jadi kamu jangan pernah menjelek-jelekkan aku seperti itu." mas Bima sangat tidak terima saat aku berkata seperti itu padanya.
"Kamu memang tak pernah mengajarkan pada ku untuk pelit. Tapi sikap mu lah yang secara langsung mengajari aku untuk pelit." ucapku.
"Sudahlah mas, aku capek ingin beristirahat." lanjut
ku.
Aku rebahkan tubuhku di atas ranjang, dan niat sekali aku membelakangi mas Bima. Karena rasa kecewa ini sangat dalam setelah mengetahui apa yang dilakukan mas Bima dibelakang ku.
Lalu saat mata ini hampir terpejam, mas Bima dengan sangat erat memeluk ku dari belakang. Aku pun kaget di buatnya.
"Maafkan, aku ya Sar. Aku sangat menyayangimu." bisik mas Bima di belakang ku. Dengan tangan melingkar di perutku.
Tak terasa air mata ini menetes di pipiku. Saat mengingat kelakuan mas Bima di belakang ku. Dengan mudah nya ia berkata sayang padaku, tapi kenyataannya ia masih sering bersama dengan mantan istrinya.
Segera ku hapus air mata ini, agar aku tak terlihat lemah didepan mas Bima. Walau kenyataan nya, memang aku tak sekuat karang di lautan. Aku hanya perempuan yang mencoba untuk kuat, walau aku tau aku tak mampu.
"Mas, kalau seandainya aku bertemu dengan mas Damar, dan dia mengantarkan aku pulang. Apa kamu marah?," tanya ku dengan suara sedikit bergetar, karena aku sudah tak bisa menahan rasa sedih ini.
"Jelas aku akan marah!!," jawab mas Bima dengan semakin erat ia memeluk tubuhku.
"Kenapa kamu marah, mas?," tanya ku lagi.
"Karena kamu itu istri ku, dan aku tak mau istri berhubungan dengan mantan suaminya. Walaupun itu tentang anak!!," ucap nya.
Aku pun mengangguk kan kepala ku, yang artinya aku mengerti dengan maksud ucapan mas Bima. Dan aku pun berdiam sejenak, tak mengeluarkan suara apapun.
"Aku sangat sayang padamu, Sarah." bisiknya lagi, mas Bima semakin memeluk ku dengan erat. Kali ini mas Bima juga mengecup rambut ku.
"Oh ya, aku juga minta maaf padamu mas. Karena omongan ku, jadi merusak suasana hati mu yang lagi bahagia, setelah bernostalgia bersama mantan istri mu." ucapku dengan posisi tetap, yaitu mas Bima dibelakang ku dan masih memeluk ku.
Rasanya aku tak sanggup untuk menampung rasa kecewa dalam hati ku setelah melihat mas Bima bersama Reta mantan istrinya.
"Apa maksud mu, Sarah?!,"
"Apalagi ini?!!," lanjutnya.
Emosi yang sedikit sudah teredam kini tersulut kembali. Aku bisa merasakan itu, walau aku tak melihat ekspresi wajah mas Bima.
Mas Bima melepas pelukan nya, dan ia langsung memegang pundak ku dan menariknya. Mau tak mau kini wajah ku dan wajah nya saling berhadapan.
"Katakan, apa maksud dari ucapan mu itu, Sarah?!," ia mengoyak bahu ku. Dengan mata yang melotot padaku.
"Kamu jangan pura-pura bodoh seperti itu, mas. Coba kamu cerna lagi apa yang aku omong barusan." jawabku. Dengan segenap kekuatan aku menahan untuk tak menangis di depan mas Bima. Aku tak ingin terlihat lemah di hadapan lelaki yang saat ini menjadi suami ku.
"Kamu jangan semakin menambah beban pikiran ku, Sarah. Kumohon...." ucapnya sambil menangkupkan kedua telapak tangannya.
"Kalau memang aku adalah beban untuk mu. Maaf, maafkan aku karena sudah merepotkan mu. Kalau memang kamu sudah tak menginginkan ku, kamu bisa meninggalkan ku." ucapku. Lalu aku bangkit dari tidur ku.
"Aku rasa kamu masih sangat cocok dengan mantan istri mu, mas. Bukankah dia adalah ibu dari anak mu?!" lanjutku, aku duduk di bibir ranjang dan membelakangi mas Bima. Dan tak terasa air mata ini jatuh tak terbendung. Segera ku usap air mata ini, agar mas Bima tak melihat nya.
"Kenapa sih, kamu selalu cari gara-gara?," tanya mas Bima. Dan dia bangkit dari tidur nya, dan duduk di belakang ku. Kali ini posisi kita saling membelakangi.
"Aku capek harus bertengkar terus, Sarah!!," ucapnya lagi.
"Aku tak bermaksud untuk mencari gara-gara, mas. Tapi hati ku sakit saat aku melihat kamu satu mobil dengan mantan istri mu. Di tambah lagi dengan kebohongan mu, mas!," jelas ku.
__ADS_1
"Oh.... Jadi kamu cemburu karena mobil ku di pakai oleh Reta?, Memang kamu tau darimana kalau mobil itu di pakai Reta?, Siapa yang menjadi pengadu domba diantara kita?!!, Katakan Sarah!!! Katakan!!!," teriak mas Bima.
Kali ini ia berteriak tepat di depan ku, dengan mengoyak kedua pundak ku. Alhasil tubuh ku pun ikut bergetar, karena koyak kan tangan mas Bima sangat kuat.
"Istri mana yang tak cemburu, saat mengetahui mobil suami nya di pakai oleh mantan istri nya, mas. Dan suami nya menutupi dengan kebohongan." ucap ku lirih tapi mas Bima masih bisa mendengar nya.
"Katakan, siapa yang mengirimkan foto itu padamu, aku akan memberi pelajaran padanya!!!," mas Bima mengepal tangannya dan gigi atas dan bawah nya saling beradu. Sehingga menimbulkan suara yang mengerikan.
"Tak ada yang memberi tahu ku mas, karena aku tahu dengan mata kepala ku sendiri. Dan asal kamu tau kalau foto itu juga aku yang memfotonya sendiri." ucap ku lagi.
"Dan kamu bilang kamu tak akan terima, kalau aku berhubungan lagi dengan mantan suamiku. Apa aku harus melakukan hal yang sama dengan mu, Tak terima saat aku mengetahui kamu bersama mantan istri mu?," ucapku dengan pandangan kosong ke depan, dengan sekuat tenaga menahan air mata yang sudah tak terbendung lagi agar tak menetes di pipiku.
"Aku semakin tidak mengerti dengan semua ucapan mu, Sarah!!, Aku rasa saat ini kamu sedang capek, sehingga kamu berhalusinasi. Omongan mu semuanya ngelantur. Sebaiknya kamu tidur, agar besok lagi badan dan otak mu kembali segar." ucap mas Bima meninggal kan aku.
Mas Bima keluar dari kamar, seakan-akan ia sedang menghindari ku. Mungkin saja ia takut kalau ia ketahuan saat bersama Areta.
Dan aku mendengar suara mesin mobil mas Bima di hidup kan. Saat ku lihat jam di dinding sudah pukul 11malam.
"Mau kemana dia?, dasar lelaki mental perempuan. Bisanya lari dari masalah yang ia buat sendiri." ucapku.
Mobil berjalan keluar, dan kini semakin tak terdengar suaranya.
Aku pun memutuskan untuk mengetik novel online ku, karena aku yakin mas Bima tak akan pulang dalam waktu cepat.
Aku menulis bab yang berjudul "Semobil Dengan Mantan" dalam cerita ini aku menceritakan semua yang terjadi padaku saat mengetahui mas Bima bersama mantan istri nya.
Nama pemeran dalam novel, aku ganti dengan nama orang lain. Karena aku yakin mbak Veni dan mbak Ambar akan membacanya.
Setelah aku up bab nya, dan setelah di review akhirnya bab ini pun lolos. Tak harus menunggu lama, ternyata banyak sekali pembaca ku yang berkomentar.
Sungguh luar biasa penggemar karya ku, jam segini masih on dan membaca novel yang baru saja aku up.
Beberapa menit kemudian, banyak like dan komen dari para readers setia ku.
"Ada notifikasi up dari novel mu, auto langsung baca walau mata sudah sangat ngantuk, Thor." komentar dari aku @bungamawarberduri.
Ternyata Tante Natasya masih menjadi pembaca setia ku. Karena dia selalu meninggalkan jejak dengan memberi like dan komentar di setiap episode yang ia baca.
"Bagaimana kabar Randy sekarang?," tiba-tiba air mata ku jatuh di pipi ini. Mengingat sikap Randy padaku dulu.
Mungkin kalau Randy tak pergi ke Inggris untuk menyusul tante Natasya, akan berbeda cerita.
Namun aku tak boleh membenci takdir yang sudah di tulis oleh Allah untuk ku. Aku yakin apa yang aku jalani saat ini sudah menjadi rencana sang Khaliq.
Aku pun melanjutkan membaca komentar-komentar dari para readers yang lain.
"Loh?!, kok cerita nya bisa sama dengan apa yang terjadi dengan adik ku Thor?, tapi disini istrinya tahu. Kalau adik ku, istrinya tidak tahu." komentar ini dari akun @wanitakesepian.
Aku tau itu adalah akun milik mbak Ambar, dengan bangganya ia menceritakan keburukan Adiknya.
"Oh ya, kak?, kok bisa istri adik kakak itu tidak tau?," aku membalas komentar dari akun milik mbak Ambar.
"Istrinya adik ku ini udik, dia sangat mudah di bohongi dan dimanfaatkan Thor. Memang dasarnya perempuan kampung yang datang ke kota besar ini." Jawab akun @wanitakesepian.
"Apa semua keluarga kakak tahu semua tentang perselingkuhan adik lelaki kakak itu?," aku terus membalas komentar dari akun mbak Ambar yang bernama @wanitakesepian itu.
"Ya jelas tau lah!, orang seisi rumah yang mendorong adikku untuk kembali dengan mantan istrinya." jawab mbak Ambar dengan sangat bangga nya.
Komentar mbak Ambar membuat ku shock. Ternyata benar dugaan ku selama ini. Kalau mas Bima di giring untuk kembali bersama mantan istrinya.
Dan yang membuat ku kaget lagi, komentar balasan mbak Ambar, banyak yang memberi komentar pedas. Aku pun membaca satu persatu.
"Waah gila,,, jahat parah nih seisi rumah nya." balasan komentar dari akun @wanitahijrah.
"Kasihan ya istri adik nya itu, punya suami, mertua dan ipar yang jahat." komentar ini dari akun @mawarberduri yang di ikuti emoticon sedih.
"Kok dia sebagai Kakak bangga ya, menceritakan aib keluarga nya yang jahat-jahat itu." komentar dari @cintabiru.
__ADS_1
"Awas loh dengan karma. Karena karma tak semanis kurma." komentar dari akun @petualangcinta berhasil membuat ku tersenyum.
Karena apa yang ia katakan itu benar adanya. Kalau karma itu tak semanis kurma.
Tak sanggup rasanya mata ini untuk melanjutkan membaca komentar-komentar dari para readers.
Aku pun memutuskan untuk menutup laptop dang membawanya masuk kedalam kamar untuk dikembalikan pada tempat nya yang semula.
Dan segera ku baringkan tubuhku diatas ranjang, jarum jam sudah berada diangka dua. Tapi mas Bima tak ada kembali. Entah kemana dia sekarang.
Aku pun segera memejamkan mata, untuk beristirahat. Setelah seharian berperang dengan pikiran dan perasaan.
...****************...
Seperti biasa jam tiga pagi, aku sudah terbangun. Mungkin karena sudah terbiasa, tanpa suara alarm pun aku bisa bangun dengan sendirinya.
Aku lihat tak ada mas Bima di samping ku, ternyata semalam ia tak pulang. Mungkin saja ia bermalam di rumah ibu.
Biarkan saja dia menyendiri untuk mengintropeksi diri dengan apa yang ia lakukan padaku.
Dan aku melakukan rutinitas ku setiap hari, seperti sholat malam dilanjutkan dengan sholat subuh. Setelah itu bergegas ke dapur untuk menyiapkan sarapan.
Walau pagi ini hanya ada aku dan Putri, aku tetap memasak untuk sarapan ku dan dia nanti sebelum berangkat kerja dan Putri berangkat sekolah.
Sarapan pun sudah terhidang diatas meja makan, namun Putri belum saja bangun. Jarum jam di dinding sudah berada di angka enam.
Tok!
Tok!!
Tok!!!
"Put, bangun. ini sudah siang. Apa kamu tak sekolah?," ucapku membangun kan Putri dari luar pintu kamar nya.
"Iyaaaa,,,, aku sudah bangun!!!," terdengar Putri menjawab dengan teriak.
Aku pun segera pergi dari depan kamarnya. Sebenarnya Aku malas bertegur sapa dengan nya, setelah tau sifat dan sikap nya pada ku.
Tapi tak mungkin juga aku membiarkan nya telat untuk pergi kesekolah. Jadi mau tak mau, aku harus membangun kan nya, walau jawaban yang aku terima tidak enak di dengar di telinga ku.
Ia keluar dari kamarnya dan langsung menuju kamar mandi. Beberapa menu kemudian, ia keluar sudah berpakaian seragam dengan rapi.
"Aku tunggu di sini, kita sarapan bersama." ucapku pada Putri saat ia kembali kedalam kamarnya.
"Iya!," jawabnya singkat tanpa menoleh padaku yang saat ini duduk di kursi meja makan. Lalu Putri masuk kedalam kamarnya.
Brakkk!!!!
Putri membanting daun pintu depan sangat kuat, sehingga menimbulkan bunyi yang sangat keras.
"Astaghfirullah....," ucapku sambil mengelus dada.
Kini kami berdua sarapan bersama, terlihat sekali dia sangat menikmati makanan yang aku masak. Karena saat aku tak melihat, ia berkali-kali mengambil bakwan sayur yang aku buat.
Aku hanya tersenyum melihat tingkah laku nya, mungkin dia malu mengakui kalau masakan ku enak.
"Kamu ke sekolah biar mama yang antar." ucapku.
"Memang ayah kemana?," tanya Putri.
"Ayah sudah berangkat." jawabku berbohong pada Putri, Karena sangat tidak mungkin aku berbicara jujur pada Putri.
Obrolan kita terkesan sangat dingin, karena hanya berbicara seperlunya saja, itupun dengan sangat singkat.
"Ayah berangkat sepagi itu?!," tanyanya keheranan.
"Iya, katanya ada janji bertemu dengan customer." aku berbohong lagi untuk menutupi kebohongan ku tadi.
__ADS_1
Aku pun berangkat mengantarkan Putri ke sekolah.