DERITA SEATAP DENGAN MERTUA

DERITA SEATAP DENGAN MERTUA
Usaha Bima Yang Semakin Surut POV Author


__ADS_3

"Aku mau bagian ku di mobil itu dan rumah yang kita tempati dulu dan rumah yang saat ini kamu tempati dengan orang tua mu!." ucap Bima dengan sangat jelas pada Sarah.


"Terus kamu punya hak apa, mas?," tanya Sarah.


"Aku sangat punya hak disitu, Sarah. Karena kamu membeli nya saat kamu masih menjadi istri ku. Kalaupun aku tak mendapatkan bagian dirumah yang kita tempati dulu, tapi aku masih punya hak di rumah yang saat ini kamu dan kedua orang tua mu tempati serta mobil itu." tunjuk Bima ke mobil Sarah yang terparkir di depan toko.


"Asal kamu tau, mas. Rumah dan mobil itu sudah ku beli sebelum aku menikah dengan mu." tegas Sarah pada Bima.


"Aku tidak mau tau, yang penting aku harus mendapatkan hak ku di sana." ucap Bima memaksa pada Sarah.


"Dasar kamu ini aneh ya, mas. Aku sangat pastikan kalau kamu tak akan mendapatkan sepeserpun dari harta punya ku, mas!!!." Sarah pun tak mau kalah.


"Lebih baik kamu pergi dari sini, sebelum aku teriakin kamu maling, mas!," ancam Sarah.


Terlihat Sarah sangat kesal dengan kelakuan Bima yang tak pernah tau diri itu. Sarah pun meninggalkan Bima yang masih berdiri tegak ditempat yang sama.


Kini Sarah sudah masuk kedalam tokonya, dan sudah tak terlihat dari padangan Bima. Bima pun langsung meninggalkan tempat itu, ia berjalan menuju mobilnya yang saat ini terparkir di seberang jalan.


Mobil Bima pun melaju dengan kecepatan tinggi, saat ini tujuannya adalah toko kelontong nya. Yang sudah beberapa hari ini tidak ia datangi.


Sampai di tempat usahanya itu, ia langsung memarkir mobilnya di tempat yang sudah di sediakan oleh Bima sendiri.


"Bagaimana toko hari ini?," tanya Bima pada salah satu karyawan nya.


"Toko beberapa hari ini sepi pengunjung, pak." ucap perempuan muda itu.


"Kenapa bisa sepi?," tanya Bima dengan kedua alisnya bertaut, seperti tak terima dengan pengakuan dari karyawan nya itu.


"Karena banyak beberapa orang yang datang kesini tidak jadi belanja, pak." jawab karyawan nya yang bernama Ina itu, dengan menundukkan kepalanya.


"Kenapa mereka tidak jadi belanja?, jelaskan yang sejelas jelasnya, jangan bertele-tele seperti ini!!!." bentak Bima pada Ina.


"Karena stok barang-barang disini kurang lengkap, pak. Sudah banyak yang habis." Ina menjawab dengan menundukkan kepalanya. Ia takut Bima memarahi nya.


"Kalau memang banyak yang habis, kenapa kamu tidak order lagi?!, bukankah biasanya tanpa aku suruh pun, kamu langsung order ke agen? Kenapa kamu jadi bod*h seperti ini, sih?!," Bima begitu emosi kepada karyawan nya itu.


"Kalau begini bisa-bisa toko ku ini bangkrut, Ina!!!." bentak Bima pada Ina perempuan yang sudah bekerja lama pada Bima.


"Bagaimana aku bisa order lagi ke agen, pak? Kalau uang yang untuk order tidak ada." jawab Ina. Ia memberanikan diri untuk membela dirinya sendiri, karena Ina merasa ini bukan kesalahan nya.


"Kenapa tidak ada?, kemana uang hasil penjualan setiap hari nya?." tanya Bima dengan menatap Ina dengan tatapan yang menakutkan.


"Bukan kah uang itu bapak yang bawa?, aku lihat bapak berkali-kali mentransfer uang dari rekening toko." jawab Ina.


"Dan yang terakhir, bapak mentransfer dengan jumlah uang lima juta rupiah kan?, Karena laporan nya masuk ke handphone toko, pak." jelas Ina dengan sangat detail. Karena ia tak mau di salah-salahkan lagi.


Lalu Bima terdiam setelah mendengar penjelasan dari Ima. Bima pun menundukkan wajah nya, ada rasa malu dan rasa bersalah pada karyawan nya itu.


"Ya sudah, nanti biar uang itu aku kembalikan lagi. Sekarang lebih baik kamu list semua bahan yang kosong di toko. Lalu kamu order ke agen, agar agen segera mengirimkan semua bahan yang kosong itu!!!," Bima memerintahkan Ina.


"Baik, pak." jawab Ina dengan singkat.


Lalu Bima meninggalkan Ina yang masih berdiri di depan nya. Bima masuk kedalam ruang kerja nya, sedangkan Ina kembali ke pekerjaan nya yang tadi ia tinggalkan.


"Halo, selamat siang pak Bara," sapa Bima dari panggilan telepon nya.


"Assalamualaikum pak Bima, bagaimana kabar pak Bima? Rasa nya bapak sudah lama tak pernah order di kami." jawab pria pemilik agen sembako terbesar di kota ini.


"Waalaikumsalam, pak Bara. Iya pak, beberapa hari ini saya sedang ada masalah. Jadi tidak fokus di toko, dan sekarang mmm......," Bima tak melanjutkan ucapannya.


"Ada apa pak Bima? Kenapa tidak di lanjutkan?, katakan saja." ucap Bara pada Bima di sambungan telepon seluler nya.


"Mmmm...begini pak Bara, saya minta di beri stok beberapa barang yang kosong di toko saya. Nanti bayarnya saat barang-barang itu sudah habis. Maklum pak, uang modal toko saya di bawa lari istri saya pak. Dan kini dia pergi meninggalkan banyak hutang di beberapa bank dan rentenir." ucap Bima pada Bara.


"Saya ikut prihatin dengan masalah yang sudah menimpa pak Bima. Baiklah pak, kami akan memberikan stok di toko bapak. Sekarang pak Bima bisa kirim list bahan yang harus kamu kirim ke toko bapak." jawab Bara.


"Baik, pak. Sebelum nya saya ucapkan banyak-banyak terima kasih atas kepercayaan bapak pada toko kami. Sebentar lagi kami akan mengirim daftar bahan-bahan yang kami butuhkan lewat pesan WhatsApp pak. Dan kalau bisa, dikirim hari ini ya?," ucap Bima.


"Baik pak, segera kirim list nya. Biar sekalian mobil kami mengantarkan bahan-bahan ke toko roti SKcake dan kebetulan searah dengan toko bapak."

__ADS_1


Telepon pun ditutup setelah Bara mengucap salam pada Bima.


Dan Bima menyuruh Ina untuk segera menulis beberapa bahan yang kosong dan segera mengirimkan nya ke nomor pemilik agen sembako itu.


"Baik, pak. Pesanan akan segera kami proses." balasan pesan dari Bara setelah Ina mengirimkan list beberapa bahan yang kosong di toko Bima.


Ina pun kembali ke pekerjaan nya semula, setelah mendapatkan pesan balasan dari pak Bara.


"In, sisa uang di meja kasir sekarang ada berapa?," tanya Bima pada Ina yang sedang sibuk menata gula di rak.


"Sekitar ada lima ratus ribu, pak." jawab Ina.


"Hah?, hasil toko beberapa hari ini hanya lima ratus ribu?!," tanya Bima dengan mata melotot, Bima terlihat terkejut saat mendengar jawaban dari karyawan nya itu.


"Iya, pak. Kan tadi sudah saya katakan alasan kenapa omset penjualan kita hari-hari ini sangat turun drastis." jawab Ina.


"Ya sudah!!, sekarang mana uang itu!," ucap Bima sambil menengadahkan tangan nya meminta uang hasil dari toko yang beberapa hari ini.


Ina pun segera berjalan menuju meja kasir untuk mengambil uang yang ada di laci meja.


"Ini pak," Ina menyodorkan uang pecahan seratus ribuan satu lembar dan lima puluhan tiga lembar serta sisa nya uang pecahan dua puluh ribuan.


"Kenapa receh seperti ini, sih?!," gerutu Bima.


Namun Ina hanya diam saja tak menjawab ucapan Bima, dia hanya menundukkan wajahnya.


"Sebentar lagi barang yang di kirim pak Bara akan datang, jadi setelah ini kamu tata dengan sangat rapi. Biar para mata customer tidak jenuh dan pusing melihat nya dan akhirnya mereka akan belanja dengan sangat banyak." perintah Bima pada Ina.


"Terus uang mana yang di pakai untuk bayar orderan, pak? Sedangkan di meja kasir tak ada lagi sisa uang nya." tanya Ina dengan sangat polos nya.


"Biar itu nanti aku yang atur." jawab Bima dengan jalan keluar rukonya. Setelah mengambil uang dari tangan Ina. Dan Bima melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


"Bim, kamu sudah dimana?," suara Areta dari sambungan telepon seluler nya.


"Aku masih dijalan, tunggu aku sebentar." jawab Bima. Bima pun mematikan telepon nya dan kembali konsentrasi nyetir.


Bima semakin menambah kecepatan nya dengan menginjak pedal gas yang agak dalam. Sehingga hanya dengan waktu beberapa menit, Bima pun sampai di depan kota Areta.


"Kamu sangat cantik dengan pakaian itu, Reta." puji Bima pada Reta, yang saat ini sedang memakai hot pant dan crop top berwarna hitam dengan perut yang terlihat sangat jelas.


"Terimakasih, Bim." jawab Areta setelah mendengar pujian dari Bima.


"Kamu jga terlihat begitu gagah." puji Areta pada Bima dengan tatapan yang penuh hasrat. Bima membalas tatapan itu dengan senyuman yang menggoda.


"Putri kemana?," tanya Bima saat masuk kedalam kost Areta.


"Hari ini dia pulang sore, karena dia harus mengerjakan tugas dirumah teman nya." jawab Areta dengan berjalan di belakang Bima.


"Kamu mau minum apa, Bim?," tanya Areta sambil tangannya meraba lalu memeluk pinggang Bima.


"Terserah kamu, Reta." jawab Bima sambil ingin mencium pipi Areta, namun Areta menggoda nya dengan menghindar dari bibir Bima.


"Kamu tunggu disini ya, biar aku ambilkan." Areta melepas pelukan nya dan meninggalkan Bima menuju lemari es yang ada di samping tempat tidurnya.


Kost'an Areta tidak terlalu luas, jadi ia harus pintar-pintar untuk mengatur barang-barang di ruangan yang hanya beberapa meter saja.


Saat Areta sedang mengambil minuman didalam kulkas, Bima pun segera berjalan menuju Areta yang sedang membungkuk kan badannya untuk mengambil sebotol softdrink.


Lali Bima memeluk tubuh Areta dengan sangat erat dari belakang.


"Bim, sabar." ucap Areta, yang sudah mengerti dengan maksud Bima.


"Aku sudah tidak sabar, Reta. Aku sudah sangat menginginkan nya." Tangan Bima mulai bergerilya.


"Ayo kita lakukan, mumpung Putri belum pulang." ucap Bima dengan nafas yang menggebu-gebu.


Areta tersenyum saat melihat Bima menginginkan melakukan itu dengan nya. Di pikiran Areta saat ini, akhirnya dia bisa merebut Bima kembali dari Sarah. Dan saat ini dia lah pemenang di hati Bima.


"Aku juga menginginkan itu, Bim. Tapi kamu tau sendirikan kita masih belum ada ikatan halal." jawab Areta dengan mencoba melepaskan pelukan Bima dengan perlahan.

__ADS_1


"Terus apa yang kamu mau saat ini?," tanya Bima dengan wajah kecewa, karena hasrat belum tersalurkan.


"Aku ingin kamu Segera menceraikan Sarah dan menikah denganku, Bim." pinta Areta.


"Aku janji akan segera menceraikan Sarah secepatnya dan segera menikahi mu Areta," jawab Bima dengan sungguh-sungguh. Lalu Bima memeluk kembali tubuh Areta yang ada didepan nya itu.


"Aku sangat menginginkan nya saat ini, Reta." bisik Bima di telinga Areta.


Dengan seketika darah ditubuh Areta pun berdesir. Dan membuat Areta juga berhasrat. Namun Areta bisa menahan keinginan nya itu untuk memanfaatkan situasi.


"Sabar, Bima. Aku akan memberi mu kepuasan yang tak akan pernah kamu lupakan." bisik Areta sambil mencium leher bagian belakang telinga nya.


Dan ciuman itu membuat hasrat Bima semakin menggebu-gebu, terlihat sekali dari nafas yang di hempas dari hidung Bima.


"Apa lagi yang kamu mau, Areta?," tanya Bima dengan susah payah menahan hasrat yang sudah minta di salurkan itu.


"Aku butuh uang, Bim. Sebentar lagi rentenir akan datang kesini untuk mengambil uang itu." ucap Areta.


"Uang?!, itu masalah mudah Reta. Yang penting sekarang kamu puaskan aku!," ucap Bima yang langsung menggeret tubuh Areta ke ranjang yang tak jauh dari tempat mereka berdiri.


Bima pun segera melakukan apa yang ia inginkan saat ini, dan Areta pun mengeluarkan semua jurus untuk memberikan kenikmatan pada Bima.


Dan akhirnya pertempuran itu pun berakhir, kedua orang yang belum ada ikatan halal itu pun terkulai lemas diatas ranjang yang tak berukuran terlalu besar itu.


"Terimakasih, Sarah." gumam Bima dengan nafas yang ngos-ngosan.


"Sarah?!, maksud kamu apa Bima!!," Areta segera beranjak dari tidurnya setelah mendengar apa yang diucapkan Bima tadi.


"Oh.. Maksud ku bukan itu sayang, maksud ku Areta." ucap Bima, dengan segera ia bangkit dari tidur nya.


Lalu ia mendekatkan tubuhnya pada Areta yang saat ini duduk di bibir ranjang sedang merajuk karena ucapan Bima.


"Maafkan aku Areta, bukan maksud ku begitu. Aku hanya....," Bima tak meneruskan ucapannya.


"Hanya apa? Hanya apa Bim?!, Hanya Sarah yang kamu ingat saat melakukan itu dengan ku?!," ucap Areta dengan wajah emosi dengan tatapan yang sangat menakutkan.


"Kamu salah, sayang. Aku hanya mencintaimu mu." ucap Bima dengan tatapan meyakinkan pada Areta.


"Benar kamu mencintaiku, Bim?," tanya Areta lagi untuk meyakinkan dirinya.


"Iya, sayang. Aku sangat mencintaimu, kalau tidak karena aku ingin merajut rumah tangga dengan mu lagi. Mana mungkin aku meninggalkan Sarah." jawab Bima dengan tangan kanannya membelai pipi kiri Areta.


Dan Areta pun tersenyum penuh kemenangan, karena pada akhirnya ia lah yang menjadi ratu di hati Bima.


Drrrttttt


Drrrttttt


"Sepertinya ada panggilan masuk di handphone mu." ucap Bima sambil menunjuk handphone Areta yang ada diatas nakas.


"Iya," jawab Areta sambil berdiri dari duduknya menuju nakas yang terletak tak jauh dari ranjangnya.


Setelah handphone itu diambil, Areta tak langsung mengangkat panggilan telepon itu.


"Kenapa tak kamu angkat, Areta?," tanya Bima.


Areta pun terlihat ragu untuk menjawab pertanyaan Bima yang saat ini masih duduk di depan nya.


"Angkat saja!!." seru Bima.


"Ini dari rentenir itu, Bim. Dia pasti akan datang kesini untuk mengambil uang yang aku janjikan hari ini. Aku berjanji untuk melunasinya sekarang, Bim. Tapi....," Areta tak meneruskan ucapannya. Ia memasang wajah ketakutan, sehingga Bima pun terlihat iba padanya.


"Memang berapa uang kamu butuhkan, Areta," tanya Bima.


"Lima juta, Bim." jawab Areta dengan wajah ketakutan nya.


"Itu pun pinjaman pokoknya, belum bunganya." lanjut Areta menjelaskan pada Bima.


"Hah?!, Sebanyak itu?!," wajah Bima terkejut mendengar pengakuan Areta.

__ADS_1


Dan Areta pun menganggukkan kepala nya, membenarkan yang Bima tanyakan.


"Kalau hari ini aku tak bisa membayarnya, dia akan melakukan hal yang sama dengan yang kamu lakukan tadi, Bim." ucap Areta.


__ADS_2