DERITA SEATAP DENGAN MERTUA

DERITA SEATAP DENGAN MERTUA
Masih Dengan Kelakuan Anita


__ADS_3

 Rama pun kembali fokus pada meeting yang saat ini sedang berjalan. Handphone yang telah ia ambil dari Anita, dengan segera ia taruh kedalam saku nya. Tanpa ia mengecek kembali handphone itu.


Saat melihat apa yang dilakukan oleh Rama, membuat hati Anita sedikit lega. Karena Anita baru ingat, kalau ia lupa tak menghapus log aktivitas panggilan masuk yang telah dilakukan oleh Sarah.


"Semoga saja Rama tak melihat nya," gumam Anita dari dalam hati dengan sangat was was.


Dan meeting pun telah berakhir, kini Rama berjalan menuju ruang nya dan di ikuti Anita yang berjalan di belakang Rama.


"Ram, apa kamu nggak makan siang dulu?," tanya Anita pada Rama yang terus berjalan tanpa mempedulikan nya.


"Aku tak lapar!!," jawab Rama dingin.


Anita menghembuskan nafas panjang nya, ada sedikit kesal di hati Anita karena sikap Rama yang selalu dingin padanya.


"Tolong, jangan ganggu aku. Karena aku sedang sibuk." ucap Rama saat ia akan masuk kedalam ruangan nya dan di ikuti oleh Anita yang juga ingin ikut masuk kedalam ruangan Rama.


"Tapi, Ram. Aku kan...,"


"Tidak ada tapi-tapian, ini perintah!," jawab Rama memotong ucapan Anita.


Lalu Rama segera meninggalkan Anita masuk kedalam ruangan nya lalu dengan sangat cepat Rama menutup pintu nya, dan Anita masih tetap berdiri mematung di depan pintu ruangan Rama.


"Sialaaaaannn.." gumam Anita dengan sangat geram, saat Rama meninggalkan nya sendiri di depan pintu.


Lalu Anita kembali keruangan nya sendiri dengan hati yang sangat kecewa.


"Aku tak akan mudah menyerah, Rama. Aku yakin kamu akan menjadi milikku. Bagaimana pun caranya, kamu harus menjadi milikku." gumam Anita sambil tangan nya meremas erat kertas putih yang ada di meja kerjanya itu.


"Aku tak akan menyerah, untuk mendapatkan mu, Rama!!!!," tangan Anita terus menggenggam erat kertas putih itu.


Terdengar suara telepon di atas meja Anita, ia tahu kalau yang menghubungi nya itu adalah Rama, atasannya.


"Iya, Ram. Ada apa?" sahut Anita setelah telepon diangkat dan gagang telepon nya ia taruh di telinga.


"Datang keruangan ku sekarang." ucap Rama.

__ADS_1


"Baik." jawab Anita dengan tersenyum bahagia yang tersemat di bibir nya yg seksi itu.


"Akhirnya kamu mencari ku, Ram." gumam Anita dengan perasaan yang sangat bahagia.


Sebelum ia masuk kedalam ruangan Rama, tak lupa Anita melihat wajah nya di cermin, lalu ia sedikit menambahkan lipstik di bibir nya.


Setelah dirasa sudah sempurna, lalu Anita berdiri dari tempat duduknya. Dan satu lagi, dia sengaja membuka kancing kemeja bagian atas. Agar belahan dadanya terlihat oleh Rama.


"Sempurna." gumam Anita setelah menyemprot kan minyak wangi andalan nya ke pergelangan tangan nya, lalu i gosokkan ke lehernya.


Dia berjalan dengan gaya yang menggoda menuju ke ruangan Rama.


Tok


Tok


Sebelum ia masuk kedalam ruangan Rama, wajib sekali untuk mengetuk pintu.


"Masuk," terdengar suara Rama menyuruh Anita untuk masuk.


cekleeek, handle pintu pundi tarik oleh Anita, sehingga daun pintu pun terbuka.


"Duduk!!," perintah Rama.


"Makasih." Anita pun duduk di kursi yang berhadapan dengan Rama. Dengan sengaja ia menundukkan dada nya saat ia akan duduk di kursi itu.


Tidak dapat dihindarkan, Rama pun melihat sebagian belahan dada nya terlihat.


Tak munafik, sebagai lelaki normal Rama yang melihat hal itu pun langsung berhasrat.


Glekkk ... Rama segera menelan Saliva nya, saat melihat sesuatu yang ada di depan nya.


Lalu demi menahan hasrat yang terlarang itu, Rama langsung membuang pandangan nya kearah lain.


Anita tersenyum puas, saat ia melihat gelagat Rama, yang saat ini sedang salah tingkah dengan apa yang Rama lihat di depan nya itu.

__ADS_1


"Nikmati saja apa yang kamu lihat saat ini, Rama." ucap Anita dalam hati sambil tersenyum miring melihat Rama yang salah tingkah itu.


Kini Anita pun duduk dengan sempurna di kursi yang ada didepan Rama.


"Saya harap, kalau di kantor seperti ini kamu berpakaian dengan sopan. Dan kancing kemeja mu harap di betulkan!," ucap Rama dengan mata tak melihat kearah Anita.


"Maaf, Ram." ucap Anita sambil membetulkan pakaian nya. Anita sangat bahagia, melihat Rama yang salah tingkah seperti itu.


"Dan satu lagi, panggil aku dengan sebutan bapak. Karena aku tak ingin membuat kecemburuan sosial dengan karyawan lain di kantor ini!!. Jangan karena kamu teman kuliah ku, jadi kamu seenaknya nya memanggil nama ku ditempat kerja." ucap Rama dengan sangat tegas.


"Iya, Ram. Eh.. Pak. Saya minta maaf." ucap Anita dengan menundukkan kepalanya.


Dalam hati Anita sangat kesal dengan apa yang di katakan oleh Rama. Karena seperti nya, Rama sengaja memanggil nya untuk berbicara soal ini.


Namun, perasaan Anita bisa sedikit tenang. Karena Rama memanggil nya hanya untuk hal ini. Bukan karena telepon dari Sarah.


"Mungkin Rama tak tau kalau Sarah menghubungi nya." gumam Anita dalam hati.


"Apakah saya sudah boleh keluar, pak?," tanya Anita dengan nada suara yang sangat sopan. Anita takut bos nya itu marah-marah lagi kepada nya.


Jadi mau tidak mau, Anita harus menuruti semua perintah nya dengan membetulkan kancing bagia atas bajunya.


Padahal menurut Anita, itu adalah salah satu senjata untuk memikat hati Rama. Namun apa daya, Rama tidak suka dengan hal itu.


"Apa yang kamu bilang?, kamu mau keluar dari ruangan ini??!!. Padahal aku belum memberi mu tugas atau belum membicarakan hal yang penting, tapi kamu sudah ingin keluar dari ruangan ku ini?!!," terlihat Rama begitu emosi dengan sikap Anita.


"Lalu, apa yang akan bapak sampaikan padaku?," tanya Anita sambil menatap wajah Rama.


"Siapa yang telah mengangkat panggilan telepon dari Sarah??!," tanya Rama sambil mengangkat handphone nya dan menunjukkan layar yang ada panggilan masuk dari Sarah kepada Anita.


"Mmmmm.. Maksud mu, kamu menuduh aku yang mengangkat telepon itu, Ram??, eh..pak Rama maksudnya." ucap Anita dengan gelagat ketakutan. Anita takut kalau Rama tau bahwa Anita lah yang sengaja mengangkat telepon dari Sarah.


Karena bisa di pastikan kalau tentang Sarah, Rama akan melakukan apapun. Dan Anita pun tau, pasti ia akan kena marah yang luar biasa dari Rama.


"Aku tak menuduh, aku hanya bertanya saja." jawab Rama dengan sedikit tenang. Karena Rama mencoba mengatur nafas agar tidak emosi lagi.

__ADS_1


"Tapi kenapa tatapan bapak seperti itu? ,dan itu sungguh membuat ku tidak nyaman." protes Anita dengan memanyunkan bibirnya. Kesal dengan apa yang dituduhkan Bima kepadanya.


"Sekarang kamu jangan bertele-tele, cepat jawab!!! Siapa yang mengangkat telepon dari Sarah ini!!!," geram Rama, karena melihat Anita yang Tak memberi jawaban dengan serius, terkesan di buat guyonan ole Anita.


__ADS_2