DERITA SEATAP DENGAN MERTUA

DERITA SEATAP DENGAN MERTUA
#Bab 307


__ADS_3

 Subuh ini, tubuh Sarah terasa sangat capek, karena malam ini Sarah istirahat hanya sekitar tiga jam.


Rasa malas menggelayut di tubuhnya. Namun kewajiban tak boleh di tinggalkan. Dengan langkah yang sedikit berat, dan mata yang masih terpejam. Sarah pergi mengambil air wudhu.


Seketika rasa kantuk yang menggelantung di kelopak mata Sarah langsung hilang setelah terkena air wudhu.


"Segar..," gumam Sarah setelah selesai wudhu. Ia pun langsung mengerjakan kewajiban nya.


Setelah selesai, Sarah keluar kamar menunju dapur. Walau rasa kantuk masih menggelayut di mata nya. Namun Sarah pantang untuk tidur lagi setelah sholat subuh.


Mungkin dengan pergi kedapur untuk membantu ibu nya memasak, itu bisa sedikit menghilangkan rasa kantuk nya.


"Masak apa, Bu?," tanya Sarah yang berjalan mendekati ibu nya yang sedang memotong sayuran.


"Kemarin Kean minta sayur sop, Sarah. Jadi hari ini ibu masakin sayur sop sama ayang crispy." jawab ibu nya Sarah.


"Kamu semalam pulang jam berapa, Sarah?, kok ibu tidak tau kedatangan mu?," tanya ibu nya Sarah sambil menghentikan aktivitas tangannya yang memotong sayuran itu, lalu matanya memandang Sarah.


"Semalam Sarah pulang terlalu larut malam, Bu. Ada kejadian yang yang tidak di inginkan terjadi." jawab Sarah sambil tangan nya mengambil perkedel kentang yang sudah di goreng dengan Baluran telur kocok.


"Kejadian apa Sarah?," tanya ibu nya dengan wajah khawatir.


"Ibu jangan cemas seperti itu." jawab Sarah yang melihat wajah ibu nya ketakutan.


"Ibu takut terjadi apa-apa sama kamu, Sarah." ucap ibu nya Sarah.


"Ibu tenang saja, Sarah baik-baik aja kok." lalu Sarah meninggalkan ibu nya yang masih belum selesai memasak. Kali ini Sarah ingin melihat anak semata wayangnya yang masih ada di dalam kamar.


"Pasti Kean masih pulas tidurnya." gumam Sarah sambil membuka pintu kamar Kean.


Ternyata benar dugaan Sarah. Kalau Kean masih tidur dengan sangat pulas. Kean tidur sendirian, karena akungnya sudah bangun sedari subuh tadi, dan kini akungnya sedang membersihkan halaman rumah.


"Kean, bangun yuk." dengan suara pelan dengan sentuhan lembut tangan Sarah, Sarah mencoba membangunkan Kean.


Karena sudah waktunya ia mandi, agar tidak kesiangan kalau ke sekolah.


"Amma...," panggil Kean, yang saat pertama ia buka mata ada Sarah di depannya.


"Amma semalam kemana?, Kenapa nggak pulang-pulang?, padahal kean ingin sekali tidur sama mama." tanya Kean dengan wajah cemberut.


"Ih, jagoan amma kalau cemberut jadi jelek ya?," goda Sarah pada Kean yang terlihat tersirat kekecewaan di wajahnya.


Bukan nya tertawa, di goda seperti itu, Kean malah membuang muka nya dari Sarah.


"Kean, maafkan amma ya nak. Semalam amma pulang nya terlalu larut. Karena ada pekerjaan yang harus amma selesaikan. Nanti malam Inshaallah kita tidur bareng ya?," bujuk Sarah, saat ia melihat wajah murung Kean karena ia kecewa pada dirinya.


Kean pun menganggukkan kepalanya, sambil mengusap air matanya.


"Kenapa Kean menangis dan Kenapa pula Kean pingin tidur bareng amma?," tanya Sarah sambil mengusap air mata Kean di pipinya.


"Karena Kean sangat rindu sekali sama amma." jawab Kean sambil memeluk Sarah.


"Oh...anaknya amma. Maafkan amma ya nak?, akhir-akhir ini amma memang sedang sibuk. Amma janji hati ini satu hari penuh amma bersama Kean." ucap Sarah sambil memeluk tubuh anak lelaki nya itu.


"Nanti amma yang antar dan jemput sekolah Kean." lanjut Sarah.


Kean pun mengangguk dengan wajah yang sangat bahagia.


"Kalau begitu Kean mau mandi dulu," ucap Kean sambil melompat dari atas tempat tidur nya dengan sangat semangat, ia berlari menuju kamar mandi.


"Kalau gitu, amma tunggu di meja makan ya sayang." teriak Sarah pada Kean yang sudah berada di dalam kamar mandi.


****


Dan di rumah Laras, pagi ini Bima sedang sarapan di suapi oleh ibu nya.


Bima duduk di kursi meja makan dengan tatapan kosong.


"Bu, sekarang Bima sudah tak punya tempat usaha lagi." ucap Bima pada Laras sebelum suapan nasi masuk kedalam mulutnya.


"Itu semua karena ulah perempuan s*Alan itu!!," jawab Laras dengan wajah yang berekspresi penuh kebencian pada Sarah.

__ADS_1


"Seandainya kamu dulu tak menikahi nya, pasti hidup mu tak akan sial. Harta mu tak akan habis seperti ini." Geram Laras.


"Sekarang setelah semua nya habis, kamu ditinggal begitu saja!!," Laras terus saja menjelekkan Sarah tanpa jeda.


"Bukan Bu, itu semua bukan karena Sarah. Tapi karena....,"


"Bima?, kamu baik-baik saja, Bim?," tiba-tiba Areta datang memotong pembicaraan Bima, dan langsung masuk tanpa mengucap salam terlebih dulu.Jangan kan salam, mengetuk pintu pintu tidak ia lakukan.


"Areta?," lirih Bima dengan menautkan kedua alisnya. Karena selama ia keluar dari penjara Areta tak ada menemuinya sama sekali. Di dalam penjara pun, Areta sama sekali tak pernah mengunjungi nya.


"Aku sangat khawatir dengan keadaan mu, Bim. Apa kamu baik-baik saja?," tanya Areta dengan mengecek luka lebam di wajah Bima.


"Kamu kemana aja selama ini?," tanya Bima pada Areta.


"Kenapa kamu sama sekali tak mendatangi ku?," tanya Bima.


"Bim, maafkan aku. Aku belum sempat melihat mu selama kamu masuk penjara. Aku sibuk, Bim. Aku harus bekerja demi kebutuhan sehari-hari Putri yang setiap hari semakin besar." Areta beralasan.


"Kamu sungguh ibu yang baik, Areta. Ibu bangga padamu. Demi anak kamu rela banting tulang." ucap Laras memuji mantan menantunya itu.


"Bim, ibu harap kamu bisa kembali rujuk dengan Areta. Karena Areta sekarang tidak seperti dulu. Dia sudah punya pekerjaan yang kelihatan nya lumayan bagus.Lihat saja dia mampu membiayai anaknya sendiri." ucap Laras.


"Bukan hanya karena itu, kalau kamu dan Areta kembali rujuk. Itu akan membuat Putri, anak semata wayang mu bahagia karena mempunyai keluarga yang utuh." lanjut Laras.


Areta pun tersipu malu saat Laras menyuruh Bima kembali bersama dirinya.


"Aku akan menjadi wanita bahagia kalau aku kembali bersama Bima. Karena Bima sudah tidak seperti dulu, waktu awal merintis usahanya. Ia sekarang sudah sukses, aku yakin bersama Bima lagi hidupku akan bahagia, aku tak perlu bekerja keras di club' malam untuk biaya hidupku setiap hari." gumam Areta dalam hatinya.


Bima pun hanya diam tak menanggapi ucapan Laras. Entah kenapa di hati Bima masih ada nama Sarah. Rasanya sangat sulit sekali menghapus Sarah di hatinya. Itu terbukti saat Bima melihat Sarah dekat dengan lelaki lain, emosinya tak terkontrol. Dan akhirnya terjadilah keributan yang mengakibatkan wajahnya babak-belur.


"Bagaimana, Bim? Ibu harap kamu setuju dengan ucapan ku tadi. Karena ini semua untuk masa depan mu." tanya Laras pada Bima yang ternyata saat ini sedang melamun.


"Kalau memang itu yang terbaik untuk ibu dan Bima, aku pasrahkan saja pada ibu." jawab Bima dengan tatapan kosong ke depan.


Areta pun langsung tersenyum bahagia, kini semua keinginan nya akan segera terpenuhi dengan menjadi nyonya Bima lagi.


"Areta sekarang kamu suapi, Bima. Ibu mau kebelakang dulu." pamit Laras sambil menyerahkan piring yang berisi nasi beserta lauk pauknya itu pada Areta.


"Oh Iyo, Bu." jawab Areta dengan wajah kaget, karena ia baru tersadar dari lamunannya.


Laras segera pergi kebelakang, Laras sangat terburu-buru. Karena panggilan alam yang tidak bisa di tunda lagi.


Sambil menyuapi Bima, Areta terus melihat arloji di pergelangan tangan nya.


"Duh, bisa telat aku kalau begini." gumam Areta dalam hati. Ia di bingungkan pada keadaan.


"Kalau seandainya Bima aku tinggal sendiri disini, pasti ibu akan marah besar padaku. Namun kalau aku terus melayani nya seperti ini. Aku yakin aku akan ketinggalan teman-teman ku." gumam nya lagi.


"Duh bagaimana ini?," wajah Areta nampak gusar. Saat ini Ia di hadapkan dengan dua pilihan yang sama-sama penting baginya.


"Kamu kenapa Areta?!," tanya Bima. Ternyata wajah gusar Areta di lihat oleh Bima.


"Mmmm... Itu....," Areta menghentikan ucapannya, karena ada ibu Laras yang sedang lewat di ruang makan menuju kamarnya.


Bima pun tau, kalau Areta menghentikan ucapannya karena ada ibu nya, dan Bima tau itu.


Lalu Areta kembali menyuapkan makanan ke mulut Bima.


"Bim..!," panggil Areta setelah mengedarkan pandangan kearah kamar Laras.


"Hmm,,," sahut Bima.


"Hari ini aku ada janji dengan teman-teman ku. Dan aku kesini mau pinjam mobil mu." ucap Areta dengan suara lirih, karena Areta takut Laras mendengar nya.


"Jadi kedatangan mu kesini untuk meminjam mobil?, bukan untuk menjenguk ku?," tanya Bima dengan suara yang sedikit keras dari suara Areta tadi.


"Sssstttt.....jangan keras-keras ngomongnya!," ucap Areta sambil menaruh jari telunjuk di mulutnya dengan pandangan mata nya menuju kamar Laras.


"Kamu tenang saja, ibu tak akan mendengar nya." jawab Bima, seperti sudah tau dengan apa yang di takuti Areta.


"Giman nih, Bim?, waktunya udah mepet banget," ucap Areta sambil menunjuk jam tangan nya.

__ADS_1


"Ya,,, kamu pakai aja. Apa perlu aku mengantarkan mu?," tanya Bima.


"Oh,, nggak perlu Bim. Biar aku berangkat sendiri. Kamu istirahat aja, agar kondisi mu cepat pulih kembali." tolak Areta dengan tawaran Bima.


"Kalau begitu, kamu aku tinggal dulu ya, Bim." pamit Areta sambil mengambil kunci mobil yang sudah Bima berikan itu.


Sebelum Areta beranjak dari duduknya, dia mencium pipi Bima sebagai tanda terima kasihnya.


"Aku berangkat ya, Bim." pamit Areta yang melangkah keluar rumah.


Suara mobil pun terdengar dari dalam rumah, sehingga Laras yang berada dalam kamar pun langsung keluar. Di depan pintu kamarnya, Laras mengedarkan pandangan nya. Ia mencari keberadaan Bima dan Areta. Namun di meja makan tak ada seorang pun yang duduk di sana, Bima ataupun Areta.


"Kemana perginya mereka berdua?, kenapa mereka tidak pamit padaku kalau mereka mau keluar?!," gerutu Laras dengan sebal.


Lalu untuk memastikan kepergian Bima dan Areta, Laras pun keluar untuk melihat mobil. Dan ternyata, benar dugaan Laras. Kalau Bima dan Areta keluar dengan membawa mobil, karena mobil Bima tak ada di garasi.


Dengan sangat kesal, Laras pun masuk kedalam rumah. Ia ingin melanjutkan istirahat di dalam kamar. Namun sampai di depan kamar Bima, ia mendengar suara handphone.


"Lah itu didalam kamar siapa?," tanya Laras pada dirinya sendiri.


"Bim...Bima..!!," Laras mengetuk pintu kamar Bima dengan memanggil-manggil nya.


cekleeek, suara handle pintu di tarik sehingga pintu pun terbuka.


"Ada apa, Bu?," tanya Bima dari balik pintu.


"Loh, kamu ada disini?!, lalu?!," Laras tak meneruskan ucapannya, ia sibuk mengedarkan pandangan nya kedalam kamar Bima. Namun di dalam tak ada siapapun selain Bima.


"Ibu mencari siapa?," tanya Bima.


"Lalu yang membawa mobi mu tadi siapa?," tanya Laras.


"Dan Areta kemana?," lanjutnya.


"Mobilnya di bawa Areta, Bu." jawab Bima.


"Kemana?," tanya Laras.


"Bertemu dengan temannya." jawab Bima.


"Bima, mau istirahat dulu Bu." pamit Bima pada Laras, lalu ia menutup pintu kamarnya sebelum Laras pergi.


"Dasar!!!, anak tak punya sopan santun. Ada ibu nya disini main tutup pintu saja!!," gerutu Laras.


Lalu Laras pergi meninggalkan kamar Bima untuk kembali ke kamarnya sendiri.


"Sebaiknya Bima dan Areta segera menikah, agar hidupku tak terancam susah. Karena usaha Bima sekarang sudah bangkrut." gumam Laras sambil berjalan masuk kedalam kamar nya.


"Areta sekarang sudah berubah, dia sudah punya pekerjaan tetap. Jadi pasti dia bisa membiayai hidup kami disini." Laras terus bicara dengan dirinya sendiri.


Sedangkan Areta yang saat ini membawa mobil Bima, ia melajukan dengan kecepatan tinggi. Karena ia sudah telat untuk menjemput temannya.


Hanya butuh beberapa menit, akhirnya Areta sampai di depan kost teman nya.


Lalu ada lelaki muda yang datang mendekati Areta. "Kenapa lama sekali?!," tanya lelaki muda yang terpaut cukup jauh usianya dengan Areta.


"Aku sudah sangat lama menunggu mu disini!!," ucap lelaki muda itu dengan wajah kesal nya.


"Maafkan aku sayang, tadi aku ada urusan mendadak. Jadi aku harus menyelesaikan nya." Areta beralasan.


Areta pun turun, ia mengganti posisi nya. Areta pindah duduk di jok depan sebelah pengemudi. Dan lelaki berondong itu yang mengemudikan mobilnya.


"Kamu jangan marah gitu donk, aku membawa ini loh." ucap Areta merayu lelaki itu dengan menunjuk lembaran uang seratus ribuan di dalam tas nya.


"Aku tak marah, sayang. Aku hanya khawatir terjadi apa-apa sama kamu." jawab lelaki itu setelah melihat berlembar-lembar uang ratusan ribu didalam tas Areta, sambil tangan nya memegang dagu Areta dan tersenyum manis pada nya.


"Kita jadikan ke mall sekarang?," tanya lelaki itu.


"Ya jelas jadi donk sayang. Bukankah aku sudah berjanji pada mu?," jawab Areta.


Kini mereka menuju mall, terlihat sekali wajah berondong itu berseri penuh kebahagiaan.

__ADS_1


Mobil yang Areta pinjam dari Bima, kini memasuki area parkiran mall.


Setelah mobil terparkir, mereka berdua berjalan bergandengan masuk kedalam mall.


__ADS_2