
"Aku dengar dari Veni, kapan hari Sarah membeli emas seharga ratusan juta, dan hari ini gelang emas nya ganti lagi yang lebih besar. Pokok nya aku mau kamu belikan ibu gelang yang lebih besar dari milik Sarah!!!," Ibu nya mas Bima terdengar sedang merajuk.
"Ibu, bukan nya Bima tak mau membelikan ibu gelang emas. Tapi masih kemarin kan ibu beli gelang itu?, masa sekarang mau beli lagi?." ucap mas Bima.
Memang masih baru kemarin mas Bima membelikan ibu nya gelang emas, karena waktu itu tidak sengaja aku membaca isi pesan WhatsApp nya. Yang membahas tentang gelang emas yang di beli ibu mertuaku.
"Kamu ini gimana sih, Bim? aku ini ibu mu, ibu yang telah mengandung dan membesarkan mu. Sedangkan Sarah itu hanya orang lain yang hanya kamu nikahin. Kamu dan Dia itu tak ada hubungan darah, jadi kmu tak begitu berkewajiban untuk menafkahi nya. Apalagi kalian kan belum punya anak." ucap ibu dengan asumsi yang ia dapat entah darimana.
Lagi dan lagi aku menemui mertua semacam ini, aku rasa ibu nya mas Bima dan mama Linda ibu nya mas Damar mempunyai sifat yang sama.
Ikatan darah dan ibu kandung yang telah membesarkan, menjadi senjata untuk membuat anak-anak nya tak berkutik. Karena takut kalau ia melawan akan di cap sebagai anak durhaka.
Sungguh miris aku mendengarkan alasan klise seperti ini. Bukannya aku tak ingin memberi pada ibu mertua, tapi kalau cara nya seperti ini membuat ku tak ingin berbagi punya ku sama sekali.
"Pokoknya kmu harus memberi uang tambahan buat ibu membeli skincare, agar ibu tak terlihat lebih tua dari umur ibu." ucap ibu sambil merengek.
"Dan satu lagi, Bim. Tolong bantu suami mbak Ambar, berikan modal untuk mas Teguh. Kasian dia, dia habis di tipu oleh rekan kerjanya sampai puluhan juta. Karena kamu adalah saudara lelaki dari mbak mu." ucap ibu mertuaku.
Kadang aku bingung pada keluarga ini, Kenapa semua masalah harus di timpakan pada mas Bima. Padahal disini masih ada mas Awan, yang notabene nya dia saudara yang lebih tua dari mas Bima. Tapi kenapa mas Bima, yang seakan-akan anak laki-laki satu-satunya disini.
"Tapi kan disini bukan hanya aku yang lelaki, Bu. Kan ada mas Awan, coba ibu bicara dengan mas Awan. Mas Awan pasti mau membantu karena ia tak pernah memberi jatah bulanan untuk ibu." ucap mas Bima mewakili isi hati ku. Walau aku tau mas Bima tak mungkin mengetahui isi hati ku yang sebenarnya.
"Kamu jangan punya sifat iri pada mas mu. Mas mu bisa begitu karena kekayaan mertua nya. Sedangkan kamu bisa seperti saat ini, karena aku dan kakak-kakak mu." ucap ibu mendoktrin pikiran mas Bima.
"Kami yang berjuang, Sarah yang orang lain yang menikmati." ucap mbak Ambar terdengar sangat sinis membicarakan aku.
"Iya, Bun. Biar nanti uang untuk ibu, Bima akan mengusahakan. Tapi kalo modal untuk mas Teguh, Bima tak bisa memberi. Karena Bima sudah tak ada uang lagi, Bu." ucap mas Bima.
"Semenjak kamu menikah dengan Sarah, kamu sudah berubah, Bim. Kamu sekarang sudah tak royal lagi seperti dulu. Pasti Sarah sudah mempengaruhi mu, sehingga kamu menjadi saudara lelaki yang pelit pada saudara perempuan mu ini." kali ini seperti nya suara mbak Ambar yang bicara.
"Mas... mas Bima...," aku berpura-pura memanggil mencari keberadaan mas Bima.
"Iya sayang, aku disini." jawab mas Bima dari ruang makan dan keluar menemui ku yang sedang duduk di sofa ruang tamu.
"Yuk mas kita pulang!," ajak ku.
"Aku sudah ngantuk." ucapku. Karena seharian ini begitu sangat melelahkan sekali.
"Sebentar ya, Sar. Aku ke kamar mandi dulu." ucap mas Bima sambil kembali berjalan kebelakang menuju kamar mandi.
Dari luar mbak Veni masuk dan terus berjalan setelah memandang sinis padaku. Tak ada sapaan dari mulut mbak Veni pada ku.
Sepertinya mbak Veni masuk kedalam dan ikut bergabung dengan ibu dan mbak Ambar yang sedang asyik mengobrol.
Aku buka handphone untuk mengisi kejenuhan menunggu mas Bima yang sedang ke kamar mandi.
Aku membuka aplikasi berwarna biru. Sambil menunggu mas Bima, aku berselancar di dunia maya.
Saat baru mescroll layar handphone ke bawah, betapa kagetnya aku melihat akun milik Lidya mengunggah sebuah foto.
Foto itu adalah foto Lidya dengan seorang lelaki. Yang lelaki itu aku sangat mengenalnya.
__ADS_1
Dengan seketika aku menutup mulutku yang terbuka karena keterkejutan saat melihat foto itu.
"Bukankah itu....."
"Sarah?, kok kamu sendirian saja?," belum selesai aku berucap, suara mas Awan berhasil mengagetkan ku dan seketika handphone ku pun ku matikan agar mas Awan tak melihat gambar yang ada di hp ku.
"Eh, mas Awan. Iya mas, mas Bima lagi ke kamar mandi." jawab ku.
Lalu tanpa disuruh, mas Awan duduk di sofa kosong yang ada di depan ku.
"Kamu masih kerja di toko roti itu, Sar?," tanya mas Awan dengan menatap wajah ku.
Dan aku langsung menundukkan wajah ku, karena aku merasa risih dengan tatapan mata mas Awan.
"Masih, mas." jawabku tanpa menatap wajah mas Awan.
"Kamu ini wanita yang hebat ya, Sar. Mau bekerja keras. Aku rasa Bima lelaki beruntung mendapatkan perempuan pekerja keras seperti kamu." puji mas Awan, sesekali aku meliriknya, tatapan nya masih saja menatap wajahku.
"Dan lagi kamu cantik dan sangat lemah lembut." lanjut nya.
Bukannya hati ini senang mendapatkan pujian dari lelaki lain selain suami, apalagi pujian ini terlontar dari seorang kakak ipar, tapi pujian itu semakin membuat ku tidak nyaman.
Aku sengaja tak menjawab pujian yang diucapkan oleh mas Awan.
"Oh.... jadi gini kelakuan kalian berdua. Ditinggal kedalam sebentar sudah berdua-duaan?," tiba-tiba terdengar suara mbak Veni dari dalam. Dan ternyata kini ia berdiri di samping penyekat ruangan.
"Maksud mbak Veni?," tanya ku.
"Kamu sudah ketahuan berdua-duaan masih saja pura-pura b*go!!!," ucapan mbak Veni sangat kasar pada ku.
"Kamu membela perempuan ini, mas?!. Aku yakin kamu sudah terkena dengan guna-guna nya." ucap mbak Veni.
"Kamu harus secepatnya menjauhi perempuan ini, mas!! Karena hanya penampilan nya saja yang alim, tapi kelakuan nya seperti perempuan gatal." maki mbak Veni.
"Astaghfirullah, mbak Veni!!! Kenapa sih kamu jahat banget padaku?, sebenarnya aku punya salah apa sama kamu?? Kenapa kamu sebegitu bencinya padaku?," tanya ku.
"Kamu ingin tahu salah mu apa?!, ini, ini salahmu!!! kamu suka tebar-tebar pesona pada suami orang. Kamu kan tau kalau mas Awan itu kakak nya Bima suami mu, masa kamu mau embat juga?!!!," Mbak Veni berbicara dengan menunjuk-nunjuk ku.
"Ini ada apa? kok ribut-ribut?," tanya mas Bima keluar dari kamar mandi.
"Lihat saja kelakuan istri mu, Bim. Kamu lengah sedikit saja, dia mulai menggoda kakak mu." ucap mbak Veni dengan hebatnya mengarang cerita.
"Mana mungkin Sarah seperti itu, mbak!!!, kamu jangan main tuduh saja tanpa ada bukti." ucap mas Bima dengan nada kesal pada mbak Veni.
"Kamu nggak percaya, Bim?," ucap mbak Veni dengan melipat kan tangan di perutnya.
"Mas, demi Allah aku tak ada maksud apapun pada mas Awan. Asal kamu tau, yang mendatangi ku tadi adalah mas Awan." aku memberi penjelasan pada mas Bima.
Sebenarnya sih aku malas juga untuk memberi penjelasan, karena aku tak melakukan apapun dengan mas Awan.
Disini aku pasrah, kalau mas Bima percaya padaku mungkin rumah tangga kita bisa di selamatkan. Tapi kalau mas Bima mempercayai perkataan mbak Veni, maka di talak sekarang pun aku sudah siap.
__ADS_1
Karena hidup disini tidak jauh berbeda dengan hidup di rumah mas Damar.
"Apa betul mas dengan apa yang di katakan oleh mbak Veni," tanya mas Bima pada mas Awan.
"Mana ada maling ngaku, Bim!, yang aku tau Sarah lah yang mencoba mendekati mas Awan." lagi-lagi mbak Veni berbohong.
Sepertinya mbak Veni memang sengaja memojokkan aku. Karena tak ada ucapan nya yang menyalahkan mas Awan.
"Ini ada apa sih?, ibu dengar dari tadi kok pada ribut?," ibu dan Mbak Ambar pun muncul dari dalam. Kemana saja mereka berdua dari tadi?
Padahal suara mbak Veni disini lumayan lantang, kenapa baru sekarang mereka berdua muncul.
"Ven, ada apa ini?, coba ceritakan pada ku." kali ini ibu bertanya pada mbak Veni yang tengah berdiri disampingnya.
"Tanya aja sama menantu ibu yang alim itu!! Apa yang ia lakukan pada mas Awan." ucap mbak Veni sambil menunjuk ku.
"Cepat katakan Sarah!, apa yang telah kamu lakukan pada Awan?!," tanya ibu dengan mata melotot.
"Aku tak melakukan apapun." jawab ku.
"Kenapa sih kamu nggak nggak ngaku aja, Sar!!!," ucap mbak Veni dengan air mata berderai.
"Aku sudah berbicara yang sejujurnya, mbak!!. Lalu apalagi yang harus aku akui?!," ucapku.
"Bukankah tadi kamu mencoba menggoda mas Awan suami ku?," ucapnya lagi dengan suara yang terisak-isak.
Sungguh mbak Veni memerankan peran nya secara baik.
"Apakah benar yang dikatakan mbak Veni, Sarah?," kini mas Bima yang angkat suara.
"Sekarang disini bukan hanya ada aku. Kalau memang kalian menuduhku menggoda mas Awan, coba kalian tanya pada orang yang bersangkutan." ucapku sambil menunjuk mas Awan yang sedang duduk di sofa depan ku ini.
"Cepat katakan, mas!!, apa benar yang di katakan mbak Veni?," tanya mas Bima dengan pandangan nya dialihkan pada mas Awan.
"Sebenarnya Sarah tak menggodaku secara langsung, tapi ia hanya terus memandang ku, dan itu sangat membuat ku Dewi risih."
Deg!
Sungguh pengakuan yang mengejutkan dari mas Awan. Kenapa ucapan itu muncul dari mulutnya dengan lancar.
Padahal dari awal mas Awan datang dan duduk di depan ku, aku menundukkan wajah dan pandangan ku.
"Ya Allah..... cobaan apalagi ini?!," gumam ku dalam hati.
"Maksud kamu apa mas memberi pengakuan seperti itu?!," tanya ku pada mas Awan.
Ku tatap lekat matanya, tapi dia menghindari berkontak mata dengan ku. Mas Awan tak berani menatap mata ku.
Sesekali ia menggaruk tengkuknya yang aku yakini itu tak gatal.
"Jadi begini kelakuan mu, Sarah?!, kamu sudah menikah dengan Bima dan sekarang kamu mau menggoda kakak nya Bima?!!," ucap ibu dengan berkacak pinggang di depan ku.
__ADS_1
"Kamu mau jadi primadona disini?!, seakan-akan kamu paling cantik sehingga bisa mendapatkan semua anak lelaki ku?!," lanjutnya.
"Bima itu kurang apa sama kamu?! semua sudah diberikan padamu oleh Bima. Sehingga mengabaikan kewajiban nya pada ku ibu kandung nya ini!!!. Apa masih kurang dengan apa yang dilakukan Bima padamu sehingga kamu mencoba merayu Awan!!!," ibu nya mas Bima bicara seperti orang kesurupan tak ada jeda untuk aku berbicara membela diriku sendiri.