
Alhamdulillah akhirnya aku melahirkan anak pertama ku dengan selamat. Walau tak ada suami dan keluarga yang mendampingi.
Entah sekarang suamiku ada dimana, aku tak tahu. Ditelpon pun tak bisa, bukan tak bisa dihubungi tapi teleponku tak diangkat oleh nya.
Aku berjuang bertaruh nyawa sendiri disini, tak berani menghubungi ibu di desa. Karena takut ibu curiga dan bertanya-tanya tentang mas Damar yang tak ada disamping ku saat melahirkan.
Ku lihat saldo rekening di M-banking hanya tiga ratus ribu rupiah. Karena sengaja uang hasil nulis ku belum aku cairkan.
"Duh, harus bayar rumah sakit dengan apa ini?", gerutuku dalam hati. Dengan perasaan takut dan cemas karena tak memegang uang banyak. Hanya memegang uang hasil dari penjualan masakan ku kemarin.
Drrrttttt
Drrrttttt
Suara handphone berbunyi menandakan ada pesan masuk, dan bersamaan dengan dua orang suster masuk yang kelihatan banget masih muda-muda. Dengan membawa seorang bayi. Bisa ditebak kalau itu pasti bayi ku, bayi yang aku lahir kan tadi.
"Bu Sarah, ini bayi nya ibu. Ibu bisa memberikan Asi pertama ibu, pada bayi laki-laki ibu," suster menyodorkan bayi kecil mungil yang tampan ini kepadaku dan satu suster lagi membantu ku membuka kancing baju ku, untuk mengajari ku memberi asi dengan benar.
Ku terima bayi itu dengan perasaan bahagia, haru dan sedih. Iya sedih, karena pertama ia membuka mata tak ada seorang ayah yang mendampingi nya.
Setelah memberikan Asi pertama dan terlihat bayi mungil ini sudah kenyang, kedua suster itu bergegas untuk membawanya ke ruang khusus bayi. Sebelum mereka beranjak pergi, salah satu suster bilang kalau aku harus segera melakukan pelunasan pembayaran rumah sakit. Agar aku bisa segera pulang, karena dirasa aku dan bayi ku sehat-sehat saja.
Aku mulai panik, darimana aku dapat uang itu. Sedangkan di ATM dan di dompet ku tak cukup untuk membayar biaya rumah sakit ini.
Ku coba untuk menelepon mas Damar lagi, siapa tahu mas Damar mengangkat nya. Setelah aku ambil handphone ku, dan kulihat ada notifikasi pesan yang tadi lupa tak aku lihat karena harus menyusui bayi ku.
Terlintas di pikiran ku untuk pinjam uang pada Sinta saat melihat ada notifikasi pesan dari nya. Tapi pikiran itu segera ku tepis jauh-jauh. Karena tak mau merepotkan orang lain di masalah ku ini.
__ADS_1
Segera ku pencet nomer telpon mas Damar, berharap kali ini telepon ku diangkat olehnya. Beberapa kali aku menghubungi nya, tak ada jawaban sama sekali.
Lalu aku coba mengirim pesan pada mas Damar, tapi jangankan di balas dibaca pun tidak.
"Apa kamu sesibuk itu, mas? sampai tak ada waktu untuk mengangkat telepon ku?," gumam ku dalam hati.
Tekadku untuk minta bantuan pada Sinta pun ku bulatkan. Karena tak ada lagi jalan selain itu.
Membuka pesan dan membalasnya meminta bantuan ku lakukan, dengan tak mengedepankan gengsi. Karena ini sangat darurat demi anak yang aku lahir kan.
Sambil menunggu balasan dari Sinta, aku membuka aplikasi novel online untuk menambah tulisan bab-bab baru yang mau aku up hari ini. Ada notifikasi dari pihak novel online. Setelah ku buka ternyata pemberitahuan bahwa aku memenangkan lomba menulis cerpen yang beberapa hari aku tulis dengan tema yang ditentukan dari pihak novel online.
Dan alhamdulilah hadiahnya lumayan besar, lima juta sudah di kirim ke akun novel ku. Akhirnya aku tak bingung lagi seandainya Sinta meminjamkan uang untuk membayar biaya rumah sakit. Karena setelah uang aku cair kan ke rekening ku, aku bisa langsung menggantinya.
Setelah menulis beberapa bab di ruang perawatan rumah sakit ini, akhirnya aku up bab novel ku. Bersamaan dengan itu, ada balasan pesan dari Sinta. Dan dia mau membantuku dengan mentransfer uang nya ke rekening ku.
Tanpa menunggu lama aku melunasi biaya rumah sakit ini, agar aku bisa cepat-cepat pulang kerumah. Dengan prosedur yang sangat mudah, karena pihak rumah sakit tau kalau aku hanya datang seorang diri. Akhirnya aku dan anak ku di izinkan untuk pulang, karena dirasa aku dan bayi ku sudah sehat.
Sampai dirumah kulihat rumah masih sepi, berarti mas damai, mama, dan Lidya belum pulang. Kunci rumah yang ada dibawah vas bunga masih tersimpan baik. ku ambil dan ku buka pintu rumah.
"Bismillahirrahmanirrahim, kita masuk rumah ya, nak", bisikaku pada bayi yang ku gendong. Kasian bayi kecil ini, awal melihat dunia. Bukan suara papa nya yang ia dengar, tapi suara dokter yang mengadzani nya.
Kuletakan bayi ku dikamar, dan ku tata dengan rapi semua baju-baju dan kebutuhan bayi ku. Karena sepulang dari rumah sakit tadi ku sempatkan untuk mampir ke baby shop untuk membeli semua perlengkapan bayi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Seminggu menjalani hari berdua dengan Keandra, sungguh sangat menyenangkan. Bayi laki-laki mungil ini ku beri nama Keandra Sadam Saputra. Dia sangat pintar sekali, dia bisa diajak kerjasama. Dalam seminggu ini aku kembali ke aktivitas ku seperti sebelum aku melahirkan. Berjualan makan online dan menulis novel.
__ADS_1
Beruntung sekali Keandra tak pernah rewel sedikitpun. Dia menangis kalau sedang lapar dan minta ganti popok, jadi tak ada kebingungan dan kerepotan buat ku yang disini sendirian.
Dari jualan makanan online dan hasil nulis, alhamdulilah uang yang aku pinjam dari Sinta sudah aku kembalikan. Seminggu aku hidup tanpa mas Damar dan keluarga nya, tanpa kabar sama sekali dari nya.
Terdengar suara mobil berhenti didepan rumah, segeralah aku berdiri dari dudukku saat aku sedang menulis novel. Sebelum ku melihat siapa yang datang didepan, kulihat dulu Kean yang sedang tidur pulas di tempat tidur nya.
Aku berjalan kedepan untuk melihat siapa yang datang. Saat aku membuka sedikit gorden di jendela, terlihat mas Damar, mama Linda dan Lidya turun dari mobil mewah. Mereka terlihat pamitan pada seseorang yang ada di dalam mobil itu. Entah siapa dia, yang jelas mereka terlihat sangat bahagia dengan tertawa nya yang lebar.
Mama Linda dan Lidya berjalan menuju teras rumah dengan menenteng tas belanjaan nya yang sangat banyak. Sedangkan mas Damar sibuk menyeret dua koper dan satu tas ransel di punggungnya.
"Sepertinya mas Damar, mama Linda dan Lidya pulang dari liburan. Tapi kenapa mas Damar bilang kalau dia ada meeting diluar kota bersama Lidya? Berangkat pun tak terlihat mereka bersama, karena mama Linda waktu itu berpamitan nginap dirumah temannya. Tapi kenapa mereka pulangnya bersama-sama?." Tanyaku dalam hati.
Aku bergegas masuk kedalam kamar, karena terlihat mereka sudah sampai di teras rumah. Aku pura-pura tidak tau dengan kedatangan mereka. Aku masuk kamar dan pura-pura tidur di samping Kean.
cekleeek
Suara gagang pintu ditekan dan pintu pun terbuka.
"Dasar!!!! wanita bodoh. Rumah sepi begini pintu rumah tidak dikunci!!!!!." Suara mama terdengar sampai dalam kamar.
Untung saja tidurnya Kean tak terganggu dengan teriakan nya mama itu. Mungkin si bayi mungil ini sudah terbiasa mendengar teriakkan nenek nya saat masih dalam perut ku.
"Sarah!!! Sarah!!!! dimana kamu?!!!." Teriak mama Linda memanggil ku. Dan lagi Kean tak terganggu sama sekali dengan suara mama Linda.
"Iya, ma," aku menjawab dan bergegas menuju sumber suara mama yang ada diruang tamu.
"Mama, darimana? kenapa mama datang bersama dengan mas Damar dan Lidya?," tanyaku dengan rasa penasaran.
__ADS_1
"Kamu ini kepo aja!!!. Suka-suka aku dong mau kemana aja dan sama siapa aja!!. Lagian Damar dan Lidya itu anak ku, apa urusannya dengan kamu?!!!." Jawab mama Linda dengan ketus nya.
"Tapi ma, Sarah juga berhak tau karena mas Damar kan suaminya Sarah. Emang mas Damar darimana?", tanyaku dengan mengarahkan pandangan ke arah mas Damar yang ada di samping mama Linda dan Lidya.