DERITA SEATAP DENGAN MERTUA

DERITA SEATAP DENGAN MERTUA
Beban Tanggungan Berkurang


__ADS_3

Dan ini menjadi tugas Veni lagi untuk mencari dan membukanya satu persatu.


Veni pun memulai dari map yang berwarna merah, yang kebetulan map itu ada di bagian atas sendiri.


Ia dengan sangat pelan mengambil nya, lalu ia buka dan membacanya. Ternyata di map warna merah ini berisi surat-surat penting seperti kartu keluarga,kartu akta kelahiran dan dokumen penting lainnya dari negara.


Veni mencoba lagi mengambil map kertas yang berwarna hijau. Ia pun segera membuka nya lagi, dan ternyata zonk. Didalam map itu ternya berisi hasil rekam medis milik bapak mertua Veni, yang sudah meninggal.


"Hufftt...." Veni membuang nafas besar. Ia sudah hampir saja menyerah. Namun saat ingat dengan keadaan Bima yang semakin hari semakin mengenaskan, sampai tubuh nya tinggal kulit dan tulang. Veni pun kembali semangat untuk bisa mengeluarkan Bima dari tahanan kantor polisi.


Map terakhir yang terletak di paling bawah, kini Veni ambil. Dan harapan Veni adalah ini map terakhir yang isinya adalah sertifikat rumah ini.


Dengan rasa penasaran yang tinggi, Veni pun segera membuka nya.


Dan betapa terkejutnya Veni saat membaca surat yang ada di dalam map itu.


"Akhirnya aku mendapatkan nya." gumam Veni lirih sambil matanya berkaca-kaca. Tak dapat di hindarkan, air mata itu pun akhirnya jatuh melewati pipi Veni.


"Bim, sebentar lagi kamu akan keluar." gumam nya lagi sambil tersenyum bahagia dengan kedua tangannya mendekap kertas itu.


Sengaja, Veni hanya mengambil kertas yang ia inginkan saja. Untuk map pembungkus nya, Veni menaruh nya lagi ditempat dan posisi yang sama seperti awal ia membuka laci itu.


Itu bertujuan agar Laras tak curiga, kalau laci nya sudah diobrak-abrik.


Kini rencana Veni, adalah keluar dari kamar Laras. Setelah selesai menata dan mengembalikan semua ke tempat awalnya. Veni dengan sangat pelan membuka pintu kamar Laras.


Ia kembali mengeluarkan separuh kepalanya keluar, untuk melihat keadaan di ruang televisi. Masih terlihat Putri tidur terlelap.


"Aman." gumam Veni.


Lalu ia berjalan mengendap-endap keluar dari kamar Laras, dengan selembar kertas ia selipkan di perut nya.

__ADS_1


Dan tak lupa, Veni kembali menutup pintu kamar Laras seperti semula.


Veni segera bergegas keluar rumah, saat ia melihat tak ada orang sama sekali diluar Rumah Laras.


Setelah masuk kedalam mobil, Veni pun segera menghidupkan mesin mobilnya. Lalu Veni kini menuju ke salon Siska. Untuk mengantar sertifikat rumah untuk menjadi jaminan pinjaman.


Mobil pun melaju dengan kecepatan tinggi, karena Veni berharap segera sampai di salon Siska.


Semakin cepat Veni datang, Semakin cepat pula Bima bisa keluar dari tahanan. Itulah yang ada di pikiran Veni saat ini.


Veni pun segera memarkir mobilnya setelah sampai di salon Siska. Ia sengaja langsung datang kesini tanpa menelpon Siska terlebih dahulu. Karena Veni yakin kalau saat ini Siska berada di ruangan kerja nya.


Veni pun segera masuk kedalam untuk menemui satpam terlebih dahulu, dan ia menjelaskan kalau dia ingin bertemu dengan Siska karena ada suatu kepentingan.


Satpam pun mempersilahkan Veni untuk menunggu di tempat yang sudah di sediakan oleh salon ini.


Dan setelah mempersilahkan Veni untuk duduk, satpam itu pun segera masuk keruangan Siska.


"Mbar, enak juga ya perawatan disini." ucap Laras pada Ambar yang berjalan menuju kasir. Dan sangat kebetulan sekali, kasir berada di belakang Veni yang saat ini sedang duduk untuk menunggu panggilan dari Siska.


Dan betapa kagetnya Veni, saat melihat Ambar dan Laras ada disini. Mata Veni terlihat sangat ketakutan, mungkin dengan apa yang ia lakukan tadi.


"Maafkan aku Bu, karena semua itu aku lakukan untuk anak ibu sendiri." gumam Veni, yang saat ini masih menoleh ke arah Laras yang sedang membayar biaya perawatan tubuhnya.


Namun sengaja Veni tak menampakkan batang hidungnya. Karena pasti banyak pertanyaan yang akan di tanyakan Laras kepada nya.


"Berapa total semuanya, mbak?," tanya Laras pada petugas di kasir.


"Lima juta rupiah, Bu." jawab petugas kasir. Tanpa banyak bicara dan banyak nego, Laras pun segera membayar secara cash.


"Mbar, setelah ini antar ibu ke toko perhiasan langganan Sarah ya?!," ucap Laras pada Ambar.

__ADS_1


"Emang ibu dapat rejeki banyak ya?, kok setelah mengajak aku perawatan disini, sekarang ibu minta aku mengantarkan ibu ke toko perhiasan?," tanya Ambar, karena aneh sekali kalau tiba-tiba Laras punya banyak uang.


"Kamu jangan bingung, Mbar. Ibu baru saja dapat rejeki." jawab Laras.


"Dasar orang tua macam apa itu!!, untuk mengeluarkan anaknya dari tahanan bilangnya tidak mampu. Namun kenyataannya, dia pergi perawatan ke salon terbesar di ini dan sebentar lagi akan pergi ke toko perhiasan." gumam Veni, saat mendengar ucapan yang di ucapkan Laras kepada Ambar.


"Ok, Bu. Asal nanti belikan aku Sebuah cincin," jawab Ambar.


"Kamu ini kalau mau membantu ibu, kok Pasti ada pamrihnya." gerutu Laras sambil melirik kearah Ambar.


Namun Ambar hanya tersenyum melihat ekspresi Laras ibu nya.


Kini mereka berdua keluar dari dalam salon, setelah melakukan pembayaran.


Dan Veni pun sudah di panggil Siska, untuk masuk kedalam ruangan nya. Veni menyodorkan satu map berwarna ijo. Sengaja Map itu ia beli di toko Alat tulis kantor.


"Ibu yakin mau ke toko perhiasan sore ini?, bukankah jam tiga sore toko sudah tutup. Ucap Ambar.


"Bagaimana kalau kita langsung pulang saja. Ambar sudah capek, Bu. Biar besok pagi saja kita pergi ke toko perhiasan." usul Ambar.


Dan ada angin apa yang bisa membuat hati Laras menjadi sangat nurut pada omongan Ambar tadi. Biasanya kalau sudah kemauan nya Laras, sangat sulit di ganggu gugat.


Kini mereka berdua memutuskan untuk pulang kerumah, setelah taksi online yang sudah Ambar pesan datang.


"Pantesan kulit Sarah halus dan kelihatan putih bersih, perawatan nya aja mahal ya, Mbar?," ucap Laras pada Ambar yang duduk di samping nya.


"Iya Bu, trus lagi didukung dengan baju-baju yang pasti harganya tidak murah." jawab Ambar sambil menikmati pemandangan di sepanjang perjalanan pulang.


"Kasian, Bima. Pasti uangnya sudah banyak yang di habiskan oleh Sarah." gerutu Laras.


"sudah beberapa hari, Kenapa ibu tidak menjenguk Bima?," tanya Ambar.

__ADS_1


"Biar saja, Bima disana sudah ada yang urus kok. Sudah dapat makan pula." jawab Laras dengan enteng nya.


Dengan Bima ada di tahanan, Laras merasa beban tanggungan nya berkurang. Dan yang membuat Laras tak begitu bingung untuk mengeluarkan Bima, karena saat ini toko kelontong Bima, Laras lah yang menghandle nya.


__ADS_2