
"Iya, nggak apa-apa kok, Sarah. Santai saja...," ucapnya dengan seulas senyum dan terus konsentrasi menatap jalan yang ada didepan nya.
"Btw, rumah baru kamu di daerah mana, Sin?," tanya ku penasaran. Karena aku berharap banget kalau rumah baru Sinta ini dekat dengan ruko ku. Agar kita bisa bertemu sewaktu-waktu.
Dikota sebesar ini, aku hanya punya Sinta yang sudah seperti keluarga sendiri. Karena dari kecil, kita selalu bersama.
"Pasti kamu akan kaget kalau kamu tahu alamat rumah baru ku." ucapnya sambil terus menatap kedepan.
"Oh ya? Wah kamu makin bikin aku penasaran deh?," ucap ku. Karena memang sangat membuat ku penasaran.
"Tapi kalian harus janji ya, kalian wajib datang dan nginep di rumah baru ku." ucap Sinta tanpa menoleh pada ku sama sekali. Ia terus fokus kedepan karena sudah memasuki jalanan desa. Maklum lah jalannya tak semulus di kota.
"Beres....," ucapku bersamaan dengan Mayang. Dan kami pun tertawa bersama.
Karena sudah malam, jalanan nampak sangat sepi. Dan tiba-tiba di tengah jalan yang di kelilingi samping kanan kiri persawahan, ban mobil Sinta kempes.
Dengan terpaksa kami bertiga harus turun, kecuali Kean dan pengasuhnya. Karena kalau Kean keluar, aku takut nanti masuk angin. Dan lagian diluar sangatlah gelap.
"Ih... padahal tinggal sedikit lagi kita sampai!!," ucap Sinta terlihat kesal dengan posisi jongkok di samping ban mobilnya yang kempes.
"Kamu bisa ganti, Sin?, kalau aku sih jujur nggak bisa sama sekali." ucapku.
"Aku sih bisa, tapi...badan ini terasa capek banget," jawabnya. Mungkin karena ia yang menyetir mobil selama perjalanan. Jadi badannya terasa capek.
"Trus gimana mbak?," tanya Mayang.
"Bentar, aku telepon Bima. Katanya siang tadi Bima datang." jawab Sinta sambil mengeluarkan handphone nya.
Aku hanya diam saja, karena tak tau siapa itu Bima. Mau nanya ke Sinta pun, kurasa ini waktu yang tidak tepat. Karena kita semua sudah capek dan di tambah dengan kempes nya ban mobil Sinta.
Telepon pun sudah terlihat ditutup oleh Sinta. Dan aku tak mendengar obrolan mereka. Karena sengaja Sinta menjauh dari ku saat menelpon seseorang yang nama nya Bima.
Kini Sinta sudah kembali kepadaku dan Mayang yang sedang berdiri disamping mobil.
"Gimana, Sin?," tanya ku.
"Bima sudah jalan kesini, jadi kita nggak perlu panik lagi." jawab nya. Terlihat wajah bahagia dan lega pada Sinta. Dan aku pun merasakan hal itu, termasuk juga Mayang.
Tak menunggu lama, ada seseorang lelaki yang datang membawa motor sport. Ia hanya seorang diri, aku yakin ini pasti orang yang ditelepon oleh Sinta.
"Hay, Bim. Maaf ya aku mengganggu istirahat mu malam-malam gini." ucap Sinta dengan wajah yang bahagia saat menyapa lelaki itu. Aku rasa seperti nya Sinta......
__ADS_1
Ah... biarkan saja, aku lihat lelaki yang bernama Bima ini juga baik, ganteng pula. Sangat cocok dan serasi dengan Sinta.
Semoga saja perasaan ku memang benar, agar sahabat ku ini segera melepas masa lajangnya.
Karena kulihat dari gelagat dan mimik wajah Sinta sangat berbeda. Seperti ada sesuatu yang tersimpan dalam hatinya.
"Bim, kenalkan Ini Sarah dan ini Mayang." Sinta memperkenalkan kami berdua secara bergantian. Setelah Bima selesai menggantikan ban mobil yang bocor.
Aku dan Mayang hanya menangkupkan kedua telapak tangan di depan dada. Jadi kami tidak berjabat tangan secara langsung dengan Bima.
Bima pun langsung menarik tangan nya, dan segera menangkupkan kedua telapak tangan nya juga mengikuti ku.
"Sin, ban mobilnya sudah selesai. Kamu naik saja, biar aku ada dibelakang mobil mu." ucap Bima yang terlihat sekali kalau dia ada perhatian lebih pada Sinta.
Dan Sinta pun menjawab dengan anggukan kecil dan tatapan mesra pada Bima. Dan Bima membalas dengan senyuman.
Ah... jadi ingat masa lalu saat-saat mas Damar sedang mendekati ku. Ada perasaan bahagia saat mengingat itu, serasa aku lah wanita paling beruntung di dunia ini. Karena mendapat lelaki setampan dan sebaik mas Damar.
Namun ternyata, setelah menikah semuanya tak sesuai dengan ekspektasi ku. Kukira aku akan semakin bahagia dengan hidup bersama keluarga suami. Kenyataan nya semua yang ku bayangkan adalah semu, hidupku penuh penderitaan.
Sinta segera naik dan duduk dibelakang setir, dan aku naik paling terakhir setelah Mayang masuk kedalam mobil.
Maksud hati mau menyapa Bima yang masih berdiri disamping motornya dengan anggukan kepala.
Kenapa tatapan Bima padaku seperti itu?,
Ah... mungkin itu hanya Perasaanku saja.
Aku pun berlalu masuk kedalam mobil, tidak begitu mempedulikan tentang tatapan Bima yang membuatku bingung dan takut salah mengartikan.
Akhirnya aku dan Sinta sudah berada didalam mobil, dan Sinta menghidupkan mesin nya.
Mobil pun berjalan menuju rumah ku, karena untuk kerumah Sinta harus melewati rumah ku terlebih dahulu.
Aku lihat kebelakang melalui kaca spion, Bima masih terus membuntuti mobil ini.
"Itu pacar kamu ya, Sin?," tanya ku pada Sinta yang saat ini sedang fokus menyetir, karena jalanan di depan lumayan gelap.
"Hi hi hi..," Sinta hanya menjawab dengan nyengir kuda.
Namun aku tau dengan jawaban Sinta itu, bahwa memang ia sedang dekat dengan lelaki itu.
__ADS_1
Tiba-tiba handphone ku berbunyi, aku segera mengambil handphone di dalam tas yang berada dipangkuan ku.
Kulihat ternyata mas Damar yang menelpon ku. Ada apa dia menelponku? Apa ada hubungannya dengan Lidya yang kemarin datang kerumah?
Daripada aku penasaran, segera ku angkat telepon nya.
"Assalamualaikum," sapa ku.
"Waalaikumsalam, Sarah kamu ada dimana? aku kerumah mu. Tapi toko sudah tutup mulai sore tadi." tanya nya melalui sambungan telepon.
"Aku lagi pulang kampung, mas. Kalau kamu ingin menemui aku untuk membicarakan apa yang Lidya bilang kemarin. Lebih baik hari Senin saja kita ketemu." ucapku langsung tanpa basa-basi.
"Maksud kamu, sekarang kamu kerumah ibu dan bapak?," tanya nya.
"Iya," jawabku singkat. Lalu telepon pun aku tutup, karena aku rasa sudah tak ada lagi yang harus dibicarakan dengan mas Damar saat ini.
Lebih baik nanti kalau kita ketemu, aku akan berbicara lebih banyak lagi tentang apa yang dikatakan Lidya kemarin.
Akhirnya kami sudah sampai di depan rumah ibu dan bapak.
"Sin, kamu yakin nggak mampir?, mending kamu nginep disini saja dulu. Baru besok pagi kamu pulang," tawar ku. Karena sedikit ada rasa khawatir kalau Sinta naik mobil sendiri dimalam hari seperti ini.
Apalagi disini pedesaan, yang kalau malam hari jalan sangat sepi.
"Kamu jangan khawatir, Sarah. Percaya padaku, pasti aman deh " jawabnya dengan sangat santai.
"Mbak Sarah tenang saja, pasti aman. Dibelakang kan ada bodyguard." ucap Mayang sambil melirik kebelakang di akhir kalimat yang ia ucapkan.
"Oh ya, mbak Sarah lupa May." jawabku sambil menepuk jidat.
Akhirnya kami berempat pun turun dari mobil, dan Sinta menaiki mobilnya sendirian. Namun hati ini sudah tenang, karena Sinta tak sendirian. Karena dibelakang ada Bima yang menjaganya dari belakang.
"Aku nitip Sinta ya, Bim." ucap ku pada Bima saat ia melewati kami berempat berdiri disamping jalan untuk menunggu mobil Sinta jalan meninggalkan rumah orang tua ku.
Namun tak ada jawaban dari mulut lelaki dingin itu, ia hanya menganggukkan kepala dengan tatap mata yang tak bisa aku jelaskan.
"Temannya mbak Sinta, aneh ya mbak?," tanya Maya. Sambil kita berjalan masuk kedalam halaman rumah ibu dan bapak.
"Aneh gimana?," tanya ku. Aku pura-pura tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Maya.
"Terlihat kalau dia itu dingin banget, kaku tak ada ekspresi." jawab Maya sambil bergidik.
__ADS_1
Aku hanya tersenyum mendengar dan melihat tingkah Mayang.
Pintu rumah pun diketuk agar segera dibuka oleh ibu atau bapak. Karena udara di luar lumayan dingin, kasian Kean yang saat ini sedang terlelap.