DERITA SEATAP DENGAN MERTUA

DERITA SEATAP DENGAN MERTUA
Si Keras Kepala


__ADS_3

 Kini mereka semua sudah sampai dirumah sakit.Bima pun di bawah ke IGD untuk mendapatkan tindakan.


"Pak, kenapa bapak tidak masu kedalam. biar luka-luka bapak juga diobati." usul Sarah pada Bara, yang wajah nya juga penuh lebam dan berdarah di sudut bibirnya.


"Tidak perlu, Bu Sarah. Ini hanya luka kecil aja." jawab Bara sambil mengusap darah yang mengalir di sudut bibirnya.


"Maafkan saya ya, pak. Semu ini karena saya." ucap Sarah sambil menundukkan kepalanya. Sarah tak berani menatap mata Bara. Sarah merasa bersalah karena gara-gara dia, Bara beradu jotos dengan Bima.


"Bukan salah Bu Sarah. Itu semua kesalahan Bima. Bima cemburu, dan tak Isa mengontrol emosi nya." Jawab Bara.


Kini mereka duduk bersama di bangku depan IGD. Namun mereka duduk berjauhan. Bara sangat menjaga sekali, karena ia sudah tau Sarah itu tipikal orang yang tak gampangan.


Kebetulan malam ini rumah sakit tak terlalu banyak pengunjung. Mungkin karena ini sudah agak malam.


Sarah sengaja tidak masuk kedalam, Karena Sarah TK ingin Bima semaki berpikir kalau Sarah masih ingin kembali pada nya.


Jadi Sarah memutuskan untuk menunggu nya di luar. Didalam cukup Laras, Ambar dan paman Udin. Untuk Teguh, ia berada di dalam mobil. Teguh tak mau ikut campur dengan urusan mertua nya itu.


Teguh masih sangat sakit hati dengan ucapan yang dikatakan Laras tadi sore. Saat Ambar mau membuatkan minuman untuknya.


Teguh hanya mau mengantarkan saja, tapi dia tak mau di repot kan dengan mengangkat-angkat Bima.


"Menyusahkan saja!!," gerutu Teguh yang kini duduk sendiri di dalam mobil milik Bima itu.


"Mana badan ku sudah sangat capek, ingin beristirahat tidur dirumah. Eh .. Malah ada-ada saja kejadian Bima berkelahi." ucap Teguh berbicara sendiri.


"Bima selalu bikin susah saja!!, Tapi wajar sih kalau Bima cemburu, Karena Sarah wanita cantik dan sangat baik. Tapi Bima Bima juga salah, karena dia sudah tidak punya hak untuk cemburu. Bukan kah mereka sudah sah bercerai?!, Duh sayang sekali kalau menurutku. Seandainya Sarah menjadi istri ku, pasti akan aku jaga segenap jiwa ku. Karena Sarah adalah istri impian ku." Teguh terus berbicara dengan dirinya sendiri. Untuk menghibur dirinya sendiri yang saat ini sedang capek.


Kini di dalam IGD Bima sedang di tangani, dan semua orang yang ikut mengantarkan nya di suruh untuk menunggu di luar.


"Tapi dok, saya ini ibu nya. Saya khawatir dengan keadaan anak saya." ucap Laras yang tak terima saat di suruh untuk menunggu di luar.


"Ini sudah menjadi prosedur rumah sakit, kalau semua orang yang mengantarkan nya harus menunggu di luar. Pasrahkan saja semua kepada dokter yang sudah ahlinya." jawab suster yang saat ini sedang menemani dokter yang sedang bertugas malam ini.


"Kamu bilang seperti itu, karena kamu belum merasakan punya anak. Jadi kamu tak akan pernah tau rasa nya khawatir!!," ucap Laras membentak perawat mudah yang cantik itu.


"Maaf, Bu. Ibu tidak bisa menunggu di dalam. Sebaiknya ibu nunggu diluar saja." dengan sangat sopan perawat itu berbicara pada Laras. Namun Laras masih keras kepala.


Perawat itu pun menyuruh Ambar agar membawa keluar dari ruangan itu. Namun masih tidak mau. Entah apa yang ada di dalam pikiran Laras saat ini. Sepertinya ada rencana di balik sikap nya yang memalukan itu.


Sedangkan paman Udin, sudah keluar dari tadi. Dan kini paman Udin menunggu di depan sambil menemani Teguh yang sedang tidur di jok mobil depan.


Keributan di ruang IGD pun tak dapat di hindarkan. Laras masih tak mau keluar dari dalam.


Kini dokter yang sedang bertugas yang memperingatinya. Namun tetap saja, Laras tak mau keluar. Terbuat dari apakah kepala Laras, sehingga bisa sekeras itu.


"Baiklah, Bu. Kalau ibu tak mau keluar, aku akan keluar dan aku tak akan mengobati anak ibu." ancam dokter itu.


Lalu dokter itu pun berdiri dan berjalan keluar dari ruang IGD di ikuti oleh dua perawat yang masih muda-muda itu.

__ADS_1


"Bagaimana keadaan pasien tadi, dok?," tanya Sarah, saat melihat dokter dan dia suster itu keluar dari ruang IGD.


"Maaf, Bu. Pasien itu tidak kamu obati." jawab dokter dengan wajah yang masih ditekuk. Terlihat sekali kalau saat ini dokter itu masih sangat jengkel dengan tingkah laku Laras.


"Kenapa bisa seperti itu, dok?," tanya Sarah dengan sedikit heran.


"Sekali lagi, maaf Bu. Itu semua karena ibu pasien tidak mau keluar dari ruangan. Jadi kami tidak bisa memberi tindakan pada pasien. Karena sudah menjadi prosedur rumah sakit, kalau orang yang mengantarkan harus menunggu di luar ruangan." jawab dokter itu menjelaskan.


Seketika secara bersamaan, Sarah dan Bara yang mendengar jawaban dokter yang sedang bertugas itu pun, membuang nafas besar secara kasar.


"Kenapa sekampungan itu sih keluarga Bima?!," umpat Bara yang juga ikut geram pada Laras.


"Tapi, ibu tenang saja. Pasien itu tidak apa-apa kok. Hanya luka-luka lecet saja yang ada di wajah nya. Jadi ibu dan bapak tak usah khawatir." ucap dokter.


"Ini sengaja saya lakukan untuk memberi pelajaran pada orang tua pasien yang sudah seenaknya sendiri itu. Mungkin kalau si pasien sangat parah, apapun itu akan segera di beri pertolongan." jelas dokter itu.


Sarah pun mengangguk mengerti dengan apa yang di ucapkan dokter yang menangani Bima.


Begitu juga Bara, Bara tersenyum konyol saat mendengar penjelasan dokter. Lalu dokter itu pun pamit untuk pergi keruangan nya.


"Dok...Dok...tunggu dokter....," panggil Laras yang berlari keluar dari dalam ruang IGD. Dan di belakang nya di ikuti oleh Ambar.


Dokter itu pun menghentikan langkah kaki nya dan memutar tubuh nya kebelakang kearah sumber suara yang berasal.


"Dok... Kenapa dokter main pergi saja meninggalkan pasien begitu saja!!, aku bisa menuntut dokter karena hal ini loh!!," ancam Laras.


"Silahkan anda laporkan, karena saya juga bisa melaporkan anda dengan apa yang sudah anda lakukan di dalam ruang IGD tadi. Karena itu juga termasuk salah satu kesalahan yang melanggar prosedur rumah sakit!!!," Dokter itu tak mau kalah, ia kembali mengancam Laras.


"Sekarang saya mohon, tolong anak saya dok. Lakukan tindakan pada anak saya. Sekali lagi maafkan tindakan saya tadi, itu semata-mata karena rasa sayang saya pada anak saya yang begitu sangat besar." Laras terus memohon pada dokter.


"Rasa sayang yang berlebihan seperti itu, sama hal nya dengan ibu tak mempercayai saya sebagai dokter untuk mengobati anak ibu!!," kali ini sengaja dokter itu bicara banyak pada Laras. Dia benar-benar jengkel dengan Laras, karena baru ada sekarang, ia temui orang keras kepala seperti Laras.


"Iya dok, sekali lagi maafkan saya dok." ucap Laras sambil menangis.


Sarah dan Bara, sangat jengah dengan drama yang di lakukan oleh Laras mantan mertua Sarah itu.


Akhirnya dokter dan dua perawat itu pun kembali keruang IGD. Karena memang, tadi tiga orang itu sengaja ingin memberi pelajaran pada Laras.


Pintu pun segera di tutup, setelah tiga orang kesehatan itu masuk.


Sarah dan Bara masih dengan setia menunggu kabar selanjutnya tentang Bima.


Namun bukan Ambar kalau tak mencari masalah kepada Sarah.


Sarah sengaja berjalan sedikit menjauh dari Ambar dan Laras. Langkah kaki Sarah itu, di ikuti oleh Bara. Bara sudah mengerti dengan maksud Sarah yang tiba-tiba menjauh itu.


"Waah....Emang muka mes*m ya...?!, dirumah sakit aja masih mencari kesempatan untuk berduaan!!," sindir Ambar dengan suara yang sedikit agak kencang.


"Hufftt, kenapa ini orang tidak ada capek-capek nya sih!!," gumam Sarah dalam hati.

__ADS_1


"Tenang, Sarah. Jangan di gubris orang seperti dia. Karena aku tau orang seperti itu, akan tambah menjadi-jadi kalau kamu menanggapinya." bisik Bara. Beberapa jam bersama Sarah,membuat Bara lupa memanggil Sarah tanpa sebutan ibu. Karena buka merasa sudah dekat dengan Sarah. Jadi tak ada lagi canggung kepada Sarah, sehingga ia memberanikan diri untuk langsung memanggil nama nya.


Sarah pun menarik nafasnya dan membuangnya melalui mulut. Ia mencoba menenangkan hati dan pikiran nya.


"Lebih baik kita pulang saja, pak." ucap Bara, karena ia terlalu capek menghadapi Ambar dan Laras.


"Lihat, Bu. Perempuan jal*Ng itu semakin tak tau diri. Bukan nya malu, eh... Dia malah enak-enakan tatap berdiri di pojokan berduaan sambil bisik-bisik." ucap Ambar lagi.


"Aku jadi curiga, deh. Ini semua sudah menjadi akal-akalan mereka berdua untuk membuat Bima bangkrut dan celaka seperti ini." lanjut Ambar.


"Aku yakin kalau perempuan itu lah yang pertama selingkuh dari Bima. Untung saja Bima sudah menceraikan nya." ucap Ambar dengan tatap sinis dan ujung bibir nya terangkat.


Sarah sengaja diam seribu bahasa, ia sama sekali tak membalas komentar pedas mantan kakak ipar nya itu. Sesuai dengan saran Bara, yang menyuruhnya untuk diam dan tak menanggapi.


"Hei, perempuan mur*Han!!!, apa kamu tuli dan bisu? Sehingga kamu tak menjawab apa yang telah aku katakan padamu?!!," Ambar sedikit emosi, karena omongan nya yang nyinyir itu, tak ada tanggapan sama sekali dari Sarah.


"Ibu rasa dia memang tuli, Mbar!!, buktinya dia tak mendengar ucapan mu." ucap Laras.


"Dasar kurang aj*r!!, berani nya dia tak menanggapi omonganku!!," geram Ambar pada sikap Sarah.


"Mari kita keluar dari sini, Sarah." ajak Bara. Karena bara sudah melihat ada sesuatu yang tengah direncanakan oleh Ambar.


"Baiklah, pak." jawab Sarah.


Menurut Bara, lebih baik menunggu di depan dengan paman Udin dan Teguh. Karena di sana dirasa lebih aman dan nyaman daripada disini.


Kini mereka berdua berjalan melewati Laras dan Ambar yang tengah berdiri disebelah kanan pintu IGD.


"Mau kemana kamu?!!, jangan sekali-kali kamu berpikir untuk kabur dari sini!!, karena aku akan dengan mudah menyeret mu ke penjara dengan tuduhan melarikan diri dari tanggung jawab." ancam Laras.


"Ibu, santai saja. Aku akan bertanggung jawab kok. Aku hanya ingin Keluar, mencari udara segar di luar. Karena disini udara sudah terkontaminasi dia racun berbahaya!!!," ucap Sarah, yang awalnya hanya ingin menyindir dua perempuan yang pernah menjadi bagian keluarga nya.


Namun sindiran itu membuat dia perempuan ibu dan anak itu ketakutan.


"Racun?," tanya Laras dengan mata melotot saling bertatapan dengan Ambar.


"Maksud kamu racun apa Sarah?!, cepat katakan!!!," kali ini Laras benar-benar ketakutan. Ia berbicara sambil menutup hidung dan mulut dengan telapak tangan nya.


"Yang jelas racun itu sangat berbahaya, sehingga mematikan." jawab Sarah, semakin sengaja menakut-nakuti Laras dan Ambar.


"Dan aku tak ingin mati konyol berada disini." sahut Bara, ia ikut-ikutan menakuti dua perempuan yang sangat angker itu.


"Ayo Sarah, kita segera keluar dari sini. Jangan biarkan kita mati konyol disini. Karena masa depan kita masih panjang. Sedangkan mereka berdua, sudah sangat bisa di tebak kalau masa depannya sudah sangat suram." lanjut Bara.


Lalu mereka berdua berjalan meninggalkan Ambar dan Laras yang masih berdiri di samping pintu ruang IGD itu.


Sengaja mereka berdua keluar dengan berlari-lari kecil, agar aktingnya semakin meyakinkan.


Saat sampai di mobil nya yang terparkir berjajar dengan mobil yang di kendarai Teguh. Mereka berdua langsung melepaskan tawa nya yang sudah tertahan sedari tadi. Mereka melepas nya karena sudah tak bisa lagi menahan nya.

__ADS_1


Mereka berdua tertawa terpingkal-pingkal dengan memegang perut masing-masing.


Teguh dan paman Udin pun di buat bingung dengan kelakuan mereka berdua. Teguh dan paman Udin juga sedikit heran, saat melihat Sarah bisa tertawa lepas seperti itu. Karena biasa nya, ia tak pernah terlihat seperti itu.


__ADS_2