
Aku tertawa melihat kekonyolan tingkah Mita, saat menirukan orang misterius yang mencari ku. Kata Mita perempuan itu sangat cantik dan glamour. Siapa ya dia?
Aku nggak begitu penasaran sih, ya biarin aja. Kalau dia punya kepentingan dengan ku, pasti besok-besok ia akan datang lagi kesini.
Malam ini pak Randy mengundang untuk makan malam. Entah ada acara apa, tiba-tiba pak Randy menelpon ku.
Katanya ada sesuatu yang dibicarakan, bisa jadi ini masalah kerja sama.
Ok, malam ini aku datang sendiri tanpa Kean. Karena kalau aku mengajak Kean, pasti agak ribet. Karena saat ini Kean sedang aktif-aktifnya.
Nanti bukan kerja sama yang dibicarakan, malah jadi nungguin Kean bermain kalau dia diajak.
Aku menyuruh pengasuh Kean untuk tidak pulang lebih dulu. Aku memintanya agar pengasuh Kean malam ini bermalam disini bersama Kean.
Saat ini aku sedang bersiap-siap untuk pergi menghadiri undangan dari pak Randy. Kali ini aku tak membawa mobil sendiri. Karena nanti pulangnya sudah dipastikan akan malam, jadi lebih baik aku naik taksi online saja.
Kulihat arloji yang melingkar di pergelangan tanganku sudah menunjukkan setengah tujuh. Dan taksi yang aku pesan pun sudah datang. Toko juga belum tutup, karena biasanya kita tutup jam delapan.
Mungkin sebentar lagi para karyawan ku akan menutup nya, karena stok kue juga sudah menipis.
Sebelum berangkat aku menyuruh Reni untuk membungkus kan beberapa macam kue yang masih tersisa di etalase.
Karena tak enak hati ini, datang bertandang ke undangan partner kerja sama tak membawa apa-apa.
Sedangkan pak Randy sendiri sangat royal pada Kean.
lllllllll/Setelah kotak roti di masukan kedalam tas kresek, aku membawanya masuk kedalam taksi online yang sudah datang.
Dua puluh menit, aku sudah sampai ke tempat yang dimaksud pak Randy. Kali ini aku diajak makan di resto ini. Resto ala Jepang, jujur saja aku tak pernah makan makanan khas Jepang.
Semoga saja cocok dengan lidah ku yang kampungan ini. Aku berjalan sendiri menuju ruang yang sudah dipesan oleh pak Randy.
Dan pak Randy sudah datang terlebih dulu, karena dari tadi ia sibuk mengirim pesan padaku.
Aku berjalan masuk kedalam resto, dan langsung di sambut oleh seorang waiters.
"Selamat datang, ibu. Ada yang bisa saya bantu?," tanya waiters itu dengan sopan. Sepertinya waiters itu tau kalau sedang mencari tempat yang sudah di pesan oleh pak Randy.
Aku edarkan mata ku di setiap sudut resto ini tak terlihat pak Randy.
"Hmmm aku mencari meja reservasi atas nama Pak Randy." jawab ku. Mungkin aku lebih baik bertanya pada waiters ini daripada aku bingung mencari pak Randy sendiri dieja satu persatu.
Karena pengunjung saat ini sangat full, sepertinya tak ada meja kosong.
"Oh....atas nama pak Randy?, mari ibu ikut saya." waiters itupun berjalan dan aku mengikutinya dari belakang.
Sepertinya menuju ruangan khusus, dan pandangan ku trus beredar. Karena jujur baru kali ini aku masuk ke resto mewah seperti ini.
Menurutku cafe pak Randy sudah paling mewah, namun nyatanya masih ada yang Lebih mewah.
"Silahkan, Bu. Pak Randy sudah menunggu didalam." waiters itu menunjuk pintu yang saat ini sedang tertutup.
Dengan percaya dirinya aku mengetuk pintu itu. Setelah waiters yang mengantar ku kembali ke pekerjaan yang semula.
Tok! Tok! Tok!.....
Pintu aku ketuk dengan pelan. Dan benar saja terdengar suara pak Randy menyuruh ku masuk.
Aku menggeser pintu yang terbuat dari kayu yang sangat koko, tapi tak begitu berat. Persis seperti rumah-rumah tradisional di Jepang.
Aku seperti pernah ke Jepang saja, sehingga tau rumah tradisional di Jepang.
Saat aku geser pintunya, sudah terlihat pak Randy duduk di atas bantal yang terletak di lantai. Ruangan didalam itu dihiasi dengan ornamen-ornamen khas Jepang .
"Assalamualaikum, pak." Aku mengucapkan salam pada pak Randy, yang awalnya sibuk bermain hp.
Namun setelah aku masuk dan mengucapkan salam, pak Randy menjawab salam ku sambil terbengong melihat ku.
Ada yang salahkah pada diriku? Atau penampilan ku tak cocok dengan tema nya malam ini?
__ADS_1
Atau.......Ah entah lah, aku tak mau berpikiran macam-macam. Dan aneh nya lagi, kenapa pak Randy memesan tempat yang private seperti ini?
Bukankah kita hanya berdua? Dai pada disini kan lebih baik diluar. Menghindari fitnah, kalau disini laki-laki dan perempuan berdua rasa nya.......
Takut saja orang lain memandang dan salah mengartikan.
Kalau hanya untuk berbicara kerja sama saja, pak Randy tak perlu memesan ruang semewah ini. Tapi ini kok?.....
Bisa saja uang sewa ruangan ini, cukup untuk untuk aku makan tiga hari.
Akhirnya pak Randy tersadar dari lamunannya, ia segera membuang pandangan nya. Ia sepertinya salah tingkah, mungkin takut aku mengetahui lamunannya yang terus memandang ku.
Lebih baik aku pura-pura tidak tahu saja, takut nanti pak Randy semakin malu.
"Silahkan duduk, Sarah." pak Randy mempersilahkan aku untuk duduk.
Aku langsung mengambil tempat tepat dihadapan nya.
"Pak, kenapa bapak memesan ruangan semewah ini?." Aku bertanya sambil mengedarkan pandangan ke langit-langit ruangan ini.
"Jangan bilang mewah, Sarah. Ini ruangan biasa aja." ucap pak Randy dengan membenarkan duduknya.
"Tapi kalau hanya membicarakan kerja sama saja, kenapa harus semewah ini?, di cafe bapak pun sudah cukup bagus kok. Lagian kita hanya berdua, pak. Jadi rasanya nggak enak saja, berada satu ruangan." ucapku lagi, karena aku begitu penasaran dengan sikap pak Randy.
Karena malam ini ia berdandan sangat rapi dan terlihat sangat..... ah, aku malu menyebut nya.
Biasanya pun dandanan nya tak pernah kusut, tapi masih saja ada perbedaan dengan malam ini. Ingin menikmati tapi takut saja berdosa. Akupun kembali menundukkan pandangan.
Sesekali menatapnya saat berbicara, tapi tak berani memandang secara dalam.
Berbeda dengan pak Randy, Sepertinya ia memandang ku dikala aku menundukkan pandangan. Bukan nya aku ke GRan, tapi sudah beberapa kali aku memergoki nya saat sedang menatap ku.
"Malam ini kita tak membahas kerumah sama, Sarah. Jadi kamu santai saja, ini hanya makan malam biasa. Dan kamu jangan takut, aku tak akan berbuat jahat kok padamu. Kita juga tidak berdua, karena sebentar lagi Tante ku datang,"
Deg!
Nggak tau kenapa, tiba-tiba ada rasa gugup, dan tangan ini tiba-tiba keluar keringat dingin.
Ada apa dengan hati ini? kenapa berdebar sangat kencang seperti ini?
Aku sama pak Randy kan tak ada hubungan apa-apa, hanya sekedar rekan kerja saja.
Aku mulai menenangkan hati dan pikiran ku, aku mesugesti diriku sendiri.
"Tenang Sarah tenang..... mungkin pak Randy hanya ingin mengenalkan tantenya. Nggak ada yang lebih dari itu." ucapku dalam hati.
Lalu aku membuang kasar nafas ini, dan itu dilihat oleh pak Randy.
"Kamu kenapa Sarah?, kok kelihatannya gugup gitu?,"
Sepertinya pak Randy tahu apa yang aku rasakan saat ini. Dan pertanyaan itu membuat aku malu. Mungkin saja saat ini kalau aku bercermin, muka ku sudah merah bak kepiting rebus.
"Kamu santai saja, Tante ku nggak gigit kok." ucap pak Randy dengan wajah menggoda ku, ada senyum manis di wajah nya dan membuat aku .......Ah. Entah perasaan apa ini?
Aku tak boleh menyimpan rasa ini dihari, karena aku sadar diri dengan gelarku saat ini.
Aku hanya janda beranak satu, dan masih belum genap setahun menjanda. Setelah ini aku harus membatasi diri untuk bertemu dengan pak Randy.
Mungkin bertemu untuk hal-hal penting saja, seperti hanya membicarakan tentang kerjasama saja.
"Kok Tante ku lama ya?," pak Randy bicara sambil menatap arloji yang melingkar di pergelangan tangan nya.
"Apa dia tersesat? Dasar memang Tante keras kepala, sudah kubilang biar aku yang mengantar. Malah ia berangkat sendiri, takut saja ia tersesat karena sudah lama di Inggris." Sepertinya pak Randy berbicara sendiri, karena tak ada tatapan kepada ku.
Ia berbicara sambil mengeluarkan handphone nya, sepertinya ia memencet kontak telepon. Mungkin saja ia mau menelpon Tante nya itu.
"Halo te, Tante sudah dimana? Tante tidak tersesat kan?," Tanya pak Randy pada tantenya melalui sambungan telepon.
"ya sudah, Randy cuma takut Tante nyasar disini. Tante kan sudah lama tak mengendarai mobil disini." ucap pak Randy sambil tersenyum, seperti nya pak Randy suka sekali menggoda tantenya itu.
__ADS_1
"Randy tunggu di tempat yang tadi Randy Uda share lokasi nya y Tan."
Lalu pak Randy menyudahi pembicaraannya lewat telepon.
"Tunggu sebentar ya Sarah, Tante ku sudah on the way kesini. Kalau kamu mau pesan minum dulu, silahkan." ucap pak Randy, mungkin ia tak enak, karena aku menunggu lama.
"Tidak usah, pak. Biar nanti sekalian saja." jawab ku. Karena tak mungkin aku memesan makanan terlebih dulu, rasa nya seperti tak punya sopan santun saja.
"Oya, Sarah. Aku boleh meminta sesuatu padamu?," tanya pak Randy yang seketika membuat pikiran ku kemana-mana.
"Meminta apa, Pak?," tanya ku dengan wajah agak tegang dan pasti itu sangat terlihat jelas pada pak Randy. Aku takut pemintaan pak Randy adalah hal yang begitu besar di hidupku.
Walau aku janda, aku tetap harus menjaga harga diriku, bukan berarti karena aku janda jadi orang seenaknya pada diriku.
"Jangan tegang gitu donk, santai saja."
Tuh kan, benar dugaan ku. Pak Randy melihat mimik wajah ketakutan ku karena pertanyaan nya.
"Aku bukan meminta sesuatu yang memberatkan mu kok, Sarah. Aku hanya meminta jangan memanggil ku dengan sebutan pak. Cukup kamu panggil aku Randy saja."
Ah..... kali ini aku seperti bernafas bebas, ternyata hanya itu permintaan nya. Pikiran ku saja sudah traveling kemana-mana.
"Dasar si otak dodol," ucapku dalam hati, dan tidak disengaja aku menepuk jidat ku pelan sambil tersenyum.
"Kamu kenapa, Sarah? Apa kamu baik-baik saja?," Tak kusadari pak Randy melihat tingkah ku. Dan ini berhasil membuat aku semakin malu atas tingkah konyol ku.
Aku hanya menjawab dengan gelengan kepala pertanyaan pak Randy. Karena ada ras malu dengan tingkah ku tadi.
"Bisa kah?," tanya nya lagi.
"Bisa apa, pak?," tanyaku tak mengerti apa yang dimaksud bisa oleh pak Randy.
"Bisa memanggil ku tanpa sebutan pak didepan nama ku, Sarah!," pak Randy berkata pelan tapi penuh penekanan.
"Ooo....hmmm... bisa pak, eh mas... oh Randy. duh....." Aku menjawab dengan bingung, sampai ku garuk kepala ku yang tak gatal.
Canggung rasanya memanggil-manggil pak Randy tanpa sebutan di depan nya. Karena sudah terbiasa dan sudah nyaman dengan panggilan pak Randy.
Tapi mau tak mau aku harus belajar membiasakan diri untuk memanggil nya tanpa sebutan bapak. Karena itu permintaan nya.
Pak Randy menertawakan aku saat aku menjawab pertanyaan nya dengan gugup dan salah tingkah.
Tiba-tiba ada yang membuka pintu dan masuk seorang wanita cantik dan putih. Terlihat sangat elegan dengan menenteng tas kremes serta ditangan satu nya terdapat tas kresek yang dijinjing nya. Dari bentuknya seperti tas...
"Maafkan Tante telat ya, Ran." ucap wanita itu pada pak Randy. Aku tebak ia adalah Tantenya pak Randy.
"Its ok Tante, memang Tante dari mana aja?," tanya pak Randy pada tantenya.
"Ini, Ran. Kamu harus nyobain ini. Rasanya sangat memanjakan lidah. Tante sangat suka sekali, lima potong sudah aku habis kan tadi." ucap Tante nya pak Randy tanpa jeda.
Lalu ia menyodorkan box didalam tas kresek itu. Yap, benar dugaan ku. Itu adalah box kemasan kue yang aku jual.
Jadi yang dimaksud dimanjakan lidahnya itu berarti dia menyukai kue-kue buatan ku?
Ah... ada rasa bangga sekali didalam diri ini. Tanpa di minta testimoni tentang rasa kue yang aku buat, Tante pak Randy sudah memberi testimoni sendiri. Bahkan ia tak tahu kalau pembuat kue itu ada didepan matanya saat ini. Jadi ini benar-benar testimoni asli, no peres-peres club'.
Pak Randy langsung tersenyum dan menatap ku, aku sangat mengerti dengan maksud pak Randy.
Tapi aku memberi kode padanya untuk tidak bilang kalau itu adalah kue buatan ku, dengan menggelengkan kepala. Dan pak Randy langsung mengerti dengan maksud ku.
"Ayo lah Ran, kamu coba. Kenapa cuma di lihat aja sih?!," Tante pak Randy membuka box kue nya.
"Apalagi yang ini, ini sudah menjadi favorit ku." tantenya pak Randy mengambil bolu cokelat dan langsung di suap kan ke mulut pak Randy.
Aku yang melihat itu hanya bisa menahan tawa, aku hanya tersenyum. Karena mau tertawa rasanya tidak etis.
"Gimana rasanya, Ran? enakkan?," Tante pak Randy memberi pertanyaan tanpa jeda, pak Randy yang mulutnya penuh dengan bolu cokelat itu tak bisa menjawab pertanyaan nya. Sehingga ia hanya menjawab dengan anggukan.
Ingin sekali diri ini tertawa lepas, saat melihat tingkah laku pak Randy dan Tante nya itu. Tapi tetap aku harus menahan nya. Aku hanya tersenyum melihat pak Randy yang mulut nya penuh dengan bolu coklat.
__ADS_1