DERITA SEATAP DENGAN MERTUA

DERITA SEATAP DENGAN MERTUA
Yang Aku Takutkan


__ADS_3

"Tapi mas,....."


"Sarah, aku mohon tolong aku untuk saat ini saja. Aku sudah sangat terlambat ke kantor." mas Awan memohon dengan mengangkat telapak tangan nya yang saling menangkup.


"Maaf, mas. Sarah nggak bisa." jawab ku dengan bersikukuh.


Aku takut hal yang pernah terjadi, akan terjadi lagi. Dan itu bisa membuat nama baik ku tercoreng.


"Sarah, aku mohon." kali ini mas Awan bertekuk lutut di depan ku. Jujur aku sangat risih dengan apa yang ia lakukan di depan ku ini.


"Kenapa kamu seperti ini, mas?. Cepat berdiri!!, semua orang pada melihat mu!!," ucapku pada mas Awan sambil pandangan ini ku edarkan pada orang-orang yang berlalu lalang melewati ku dengan tatapan mata yang penuh tanda tanya.


"Ayo mas, berdiri lah." perintah ku pada mas Awan.


"Aku akan berdiri kalau kamu mau mengantarkan aku ke kantor." ancam mas Awan.


Apalagi yang akan terjadi setelah ini?, kenapa seperti nya tak bisa lepas dengan keluarga mas Bima?.


Aku yakin setelah ini akan muncul masalah baru. Apalagi kalau sampai mbak Veni tau apa yang dilakukan oleh mas Awan di depan ku.


Bukan kah mbak Veni membenciku karena sikap mas Awan yang begitu perhatian padaku?.


"Ya Allah, aku harus bagaimana ini?!," ucap ku dalam hati.


"Mas, cepatlah mas Awan berdiri. Tidak enak kita jadi tontonan orang di sini." paksa ku pada mas Awan sambil melihat kanan kiri.


Namun aku hanya memaksa dalam bentuk ucapan, tidak dengan tindakan yang menarik tubuh mas Awan untuk berdiri.


"Aku akan berdiri kalau kamu mau mengantarkan aku ke tempat kerja ku, Sarah." ucap mas Awan.


"Aku tak mau punya masalah lagi dengan mbak Veni, mas! Apa kamu lupa waktu mbak Veni memfitnah ku?. Apa kamu lupa saat mbak Veni menuduhku menggoda mu?," tanya ku pada mas Awan yang masih bertekuk lutut di depan ku.


"Jadi aku mohon pada mu, jangan membuat masalah lagi seperti itu, mas." aku pun memohon pada mas Awan.


"Aku pastikan tak akan ada orang yang tau tentang ini, Sarah." bujuk mas Awan padaku.


"Maaf mas, aku tak bisa!!," ucap ku dengan tegas. Lalu aku membalikkan badan dan berjalan meninggalkan mas Awan menunju mobilku yang terparkir di parkiran dengan sekolah.


Aku tak mau mencari masalah lagi dengan mbak Veni dan keluarga mas Bima. Sebisa mungkin aku harus menghindari mereka, demi kewarasan dan kebahagiaan hati ku.

__ADS_1


"Sarah...tunggu!!." teriak mas Awan. Namun aku sama sekali tak memperdulikan nya. Aku terus berjalan menuju mobil.


"Sarah!!," mas Awan teriak semakin keras, membuat aku semakin risih dengan suaranya. Apalagi ini adalah lingkungan sekolah.


Lalu cepat-cepat aku masuk kedalam mobil, saat mesin mobil sudah hidupkan, tapu mobil tak bisa di jalan kan.


"Kenapa dengan mobil ku?," tanyaku dengan pelan.


Dengan terpaksa aku pun turun, setelah ku matikan mesin mobil. Maksud hati ingin cepat-cepat meninggalkan mas Awan. Namun takdir berkehendak lain.


Saat aku keluar, ternyata ban mobil ku yang depan sebelah kanan kempes.


"Huuuufft...," aku membuang nafas dengan kasar.


"Kenapa lagi dengan ban mobilku ini?!," gerutu ku dengan pelan.


"Sarah, kenapa dengan mobil mu?," tanya mas Awan yang sudah berada di belakang ku.


"Ban mobilku kempes, mas." jawabku.


"Sini aku bantu," ucap mas Awan sambil berjalan menuju bagasi mobilku.


Mas Awan kembali dengan membawa peralatan untuk memasang ban mobilku.


Tin


Tin


Tiiiiiiiiiiiiiiinnnnnn......!!


"Astaga!!," ucapku sambil menutup kedua telinga ku.


Suara klakson mobil di belakang ku berhasil membuat ku terkejut.


Brakkkk!!!


Belum sempat aku menoleh kearah suara klakson itu, aku kembali di kejutkan dengan suara pintu yang di tutup dengan sangat keras.


"Veni!," terdengar suara mas Awan menyebut nama mbak Veni.

__ADS_1


Huuuufft.....aku menghela nafas yang panjang, sebelum aku menoleh kearah suara mobil itu. Aku tau apa yang akan terjadi setelah ini.


Kenapa takdir terus mempertemukan ku dengan orang-orang yang selalu bikin masalah dalam hidup ku?


Tapi aku yakin pasti ada sesuatu yang baik, yang sudah direncanakan Allah untuk ku.


Belum sempat aku menoleh ke arah mbak Veni yang berada di belakang ku, tiba-tiba mbak Veni menarik dan mencekram Khimar ku.


"Auuuww..." pekikku dengan sangat keras, karena begitu sakitnya cengkraman yang dilakukan oleh mbak Veni di kepala ku.


"Veni!!!! lepas!!!," teriak mas Awan yang terlihat berlari kearah ku.


Lalu tangan mas Awan mencoba menarik tangan mbak Veni yang masih melekat di kepala ku.


"Veni!!!." bentak mas Awan dengan kasar menghempas tangan mbak Veni dari kepala ku.


"Sejak kapan kamu selingkuh dengan mas Awan?!," tanya mbak Veni padaku dengan mendorong bahu ku.


"Ini semua tak seperti yang kamu pikirkan, mbak!, aku dan mas Awan tak ada hubungan apa-apa." jawabku.


"Mana ada maling ngaku!!!!, Kalau memang kamu tak ada hubungan apa-apa, kenapa kalian semesra ini?!, satu mobil pula!!." suara mbak Veni begitu sakit terdengar di telinga ku.


"Jelaskan yang sebenarnya terjadi, mas!!," perintah ku pada mas Awan. Karena aku sangat kecewa dengan sikap mas Awan yang hanya diam saja, seperti meng iya kan tuduhan mbak Veni padaku.


"Sungguh aku tak abis pikir dengan kamu, Sarah!!, pakaian mu alim dan sangat tertutup. Tapi kelakuan mu sungguh seperti binat*Ng!!!."


Plaak....


Satu tamparan tangan kanan ku mendarat sempurna di pipi kiri mbak Veni.


"Cukup, mbak!!!. Kamu menuduhku selingkuh dengan suami mu saja, rasanya sudah sakit hati ini, mbak!! Apalagi kamu bilang kelakuan ku seperti binat*Ng, hancur rasanya harga diri ini!!." ucapku dengan tegas pada mbak Veni.


"Hah?, memang wanita murah*n seperti kamu punya harga diri?!," tanya mbak Veni sambil melihat ku dari atas sampai kaki ku dengan tatapan penuh hinaan.


"Aku rasa perempuan murahan itu, perempuan yang berani menghianati suami nya dengan berselingkuh dengan adik kandung suaminy." bisik ku pada mbak Veni.


"Apa maksud mu, Sarah!!!!," tangan mbak Veni kembali menjambak rambut ku yang terbalut dengan Khimar panjang berwarna merah maroon.


"Lepaskan tanganmu dari kepala ku, mbak!!!, kalau tidak mas Awan akan tau tentang kelakuan busuk mu di belakang nya." ucapku dengan pelan, dengan mata ku menatap penuh benci pada mas Awan.

__ADS_1


Aku sangat tidak suka dengan sikap mas Awan yang hanya diam saja melihat ku di caci maki oleh istrinya.


"Kamu mengancam ku?!!!," ucap mbak Veni dengan matanya yang membulat sempurna kepadaku.


__ADS_2