
"Kenapa uang sebanyak itu, masuk ke rekening milik Lola?," kepala Veni terasa langsung pusing melihat banyak uang yang keluar untuk kebutuhan yang tak begitu penting untuk kantor.
"Saya rasa, ini semacam pencucian uang, Bu. Karena aku sudah mengecek di rekening milik Lola, uang itu masih ada. Mungkin karena uang itu baru masuk kemarin sore di rekening Lola." jawab lelaki yang sudah disewa untuk mengaudit keuangan di kantor milik Veni.
"Lalu apa yang harus aku lakukan untuk mengambil lagi uang itu?, karena aku yakin kalau Awan ingin mengambil uang perusahaan sebesar sepuluh miliar itu." Veni meminta solusi pada team audit yang sudah ia sewa.
"Ibu tenang, rekening itu sudah di bekukan oleh pihak Bank. Karena semalam, setelah selesai mengerjakan tugas yang ibu berikan. Saya sudah memberi laporan pada pihak bank, agar segera membekukan rekening atas nama Lola itu." jawab lelaki misterius itu.
"Oh... Baik lah. Kamu memang bisa di handalkan mulai dari dulu. Dimana bapak masih hidup, bapak sangat percaya dengan apa yang telah kamu berikan pada kami." ucap Veni.
"Lalu bagaimana dengan mobil?, karena mobil ini atas nama Awan. Aku ingin merubah nama mobil ini atas nama ku." ucap Veni.
Tujuan Veni kali ini, memeng untuk mengambil semua harta yang atas nama Awan.
"Itu hal yang sangat mudah, Bu. Biar saja itu temanku yang mengerjakan nya." jawab lelaki itu.
"Sekarang ibu coba cek surat-surat penting lainya kantor ini. Karena takut saja Awan akan nekat dengan mengambil dokumen penting perusahaan." usul lelaki itu.
Veni langsung menepuk jidat nya, Kenapa ia tidak berfikiran sampai sejauh itu.
"Baiklah, sebentar lagi aku akan mengecek nya." jawab Veni.
Sebelum pamitan, lelaki yang sudah menjadi detektif keluarga Veni selama masih hidup nya mama dan papa Veni itu, meminta surat-surat penting mobilnya. Agar mengurus perubahan nama pemilik, bisa di kerja kan langsung dengan cepat.
Veni pun segera memberikan surat-surat yang sudah di bungkus rapi dengan amplop yang berwarna coklat.
"Dan ini kunci mobilnya," tak lupa Veni juga menyodorkan kunci mobil.
"Baiklah, Bu. Kalau begitu saya pamit undur dulu." ucap lelaki itu dengan menganggukkan kepala nya.
"Ku buat kembali miskin kamu, mas. Datang miskin, pergi pun juga harus miskin," gumam Veni sambil tersenyum jahat.
"Pantas saja akhir-akhir ini perusahaan selalu kebingungan uang. Ternyata ada ular di dalam yang ingin bermain-main." ucap Veni.
Selama ini Veni mempunyai orang kepercayaan di kantor nya. Dia lah yang selalu memberikan info seputar keuangan kantor dan tingkah laku Awan selama ini.
Karena orang itu dulu nya juga kaki kanan papi nya Veni. Namun setelah Awan yang mengambil alih urusan perusahaan ini. Orang itu pun di pindah tugaskan di bagian belakang. Karena Awan sudah mengetahui potensi lelaki paruh baya itu akan merusak semua rencana nya.
Sempat juga, Awan ingin memecat lelaki itu. Namun Veni melarang nya, dengan alasan terlalu banyak jasa orang itu kepada perusahaan nya.
Karena takut di curigai, Awan pun mengikuti permintaan Veni untuk tidak memecat orang kepercayaan Veni.
**
Sedangkan dirumah Laras, Awan terbangunnya dari tidurnya karena perutnya terasa sangat lapar.
Awan berjalan kebelakang, untuk menghampiri ibunya yang duduk di meja makan sendirian.
"Hari ini ibu masak apa?," tanya Awan sambil mengintip piring yang ada di depan Laras.
"Perut Awan lapar." lanjut Awan dengan tangannya mengelus perutnya.
"Tidak ada makanan." jawab Laras ketus.
Awan pun menautkan kedua alisnya saat mendengar jawaban Laras.
__ADS_1
"Lalu yang ibu makan?," tanya Awan sambil menunjuk piring yang berisi nasi goreng dan telur mata sapi di depan Laras.
"Aku hanya memasak untuk diri ku sendiri, karena bahan makanan ini aku beli dengan uang ku sendiri." jawab Laras sambil mengunyah makanan yang ada di mulut nya.
"Astaga ibu...., kok ibu sampai sebegitu nya sih pada Awan?!," ucap Awan dengan memegang jidatnya.
"Ibu nggak mau rugi ya, dengan keberadaan mu disini akan menambah pengeluaran." jawab Laras dengan ketus.
"Aku disini sudah banyak dirugikan oleh istri mu. Gara-gara perempuan gila itu, aku kehilangan sertifikat rumah. Dan sekarang aku harus menanggung biaya hidup mu? Oh... Maaf, ibu tidak bisa." ucap Laras.
"Ibu mengira aku disini tidak bawa uang?, begitu?," tanya Awan.
"Sudah pasti kamu tidak akan bawa apa-apa, karena perusahaan itu bukan milik mu tapi milik bapaknya Veni." jawab Laras dengan menghentikan aktivitas mulutnya.
"Heh, ibu salah. Kali ini dugaan ibu salah besar. Sebelum awan memutuskan untuk menceraikan Veni, Awan sudah mengatur semuanya, Bu. Dan aku pastikan sebentar lagi perusahaan Veni akan gulung tikar." ucap Awan dengan tersenyum bangga.
"Jadi kamu....?," tanya Laras dengan wajah dan tatapan mata yang berbinar.
"Iya, ibu. Percaya sama Awan, Awan akan membahagiakan ibu dengan apa yang Awan punya." jawab Awan, ia sudah mengerti arah kemana arah pertanyaan Laras, walau Laras tidak meneruskan ucapannya.
"Sekarang kamu makan apa, Wan?, biar ibu masakan." ucap Laras pada Awan dengan wajah yang sumringah.
"Terserah ibu saja lah. Awan sudah sangat lapar." jawab Awan sambil terus memegangi perutnya.
"Kalau begitu, sekarang kamu mandi dulu. Biar ibu yang akan masak seafood buat kamu. Bukan kah itu makanan kesukaan mu?," tanya Laras dengan bibir yang selalu tersenyum.
"Ternyata ibu masih hafal dengan makanan kesukaan ku." jawab Awan.
"Baiklah, Awan akan mandi dulu." pamit Awan, lalu ia masuk kedalam kamar mandi.
"Bu, ada nggak baju ku disini?," tanya Awan dengan tubuh bagian bawah terlilit handuk.
"Tidak ada sama sekali, wan. Karena bekas-bekas baju mu yang dulu sudah ibu jual di pasar loak." jawab Laras dengan terus fokus memasak.
"Kok di jual, Bu?," tanya Awan.
"Ya dari pada nggak kepakai, menghabiskan space lemari saja." jawab Laras.
"Tapi kan nggak harus dijual Bu. Ibu bisa memberikan nya pada orang-orang yang membutuhkan." ucap Awan sambil berjalan menuju kamar Bima.
"Enak aja kalau hanya dikasihkan dengan gratis. Mending dijadikan uang. Lumayan hasil nya untuk makan-makan enak." gerutu Laras.
Kini awan sudah rapi keluar dari kamar Bima. Awan meminjam baju Bima sebelum ia berbelanja baju siang nanti.
Karena Awan sangat malas kalau harus mengambil baju-baju nya dirumah Veni. Ia sudah tak ingin bertemu dengan Veni lagi.
"Masakan nya belum matang, Bu?," tanya Awan yang sudah duduk manis di kursi meja makan.
"Ini, kamu minum kopi aja dulu sambil menunggu ibu selesai masak." Laras menyodorkan secangkir kopi hitam di depan Awan.
"Kebetulan Awan sudah kangen dengan kopi buatan ibu." ucap Awan lalu ia mengambil cangkir itu dan menyeruput kopi nya.
"ah..... Nikmat sekali." ucap Awan sambil memejamkan mata menikmati aroma kopi murni yang sangat khas itu.
"Oh ya, Bu. Katanya tadi di lemari es tak ada bahan makanan. Tapi sekarang ibu kok bisa masak seafood?," tanya Awan dengan alis bertaut.
__ADS_1
"Itu tadi ibu lupa, Wan. Ibu kira bahan makanan sudah habis, eh ternyata di lemari es masih ada. Maklum lah ibu kan sudah tua." jawab Laras sambil tersenyum. Laras beralasan, agar Awan tidak mengetahui kalau dirinya telah berbohong.
"Oooo....," ucap Awan sambil menganggukkan kepala nya, mengerti dengan apa yang di katakan oleh Laras.
"Hmmm aroma masakan ibu membuat perut ku semakin lapar." ucap Awan.
"Sabar, wan. Sebentar lagi selesai." jawab Laras.
Tok tok tok...
Suara pintu di ketuk terdengar sampai dapur rumah ini.
"Siapa wan?," tanya Laras
"Awan juga nggak tau, Bu." jawab Awan.
"Sebentar, biar Awan lihat dulu." Awan pun berdiri dari duduknya. Ia berjalan ke depan menuju sumber suara yang datang.
Cekleeek, Awan membuka pintu.
"Permisi, pak. Apa benar ini rumah pak Awan?," tanya bapak-bapak yang seumuran ibunya itu.
"Iya, benar. Ada apa ya pak?,". Tanya Awan.
"Ini dengan bapak siapa?," tanya lelaki paruh baya itu.
"Saya Awan, pak." jawab Awan.
"Oh,,, kebetulan kalau begitu. Begini pak, saya diutus ibu Veni untuk mengantarkan ini semua." ucap lelaki itu dengan menunjuk beberapa Kantong plastik yang berisi semua baju milik Awan.
"Hah?!, kenapa pakai kantong plastik seperti ini sih, pak?!," tanya Awan dengan sedikit bingung. Bisa-bisanya Veni membungkus baju nya dengan kantong plastik. Padahal dirumah nya ada banyak koper dengan brand terkenal.
"Maaf, pak. Saya hanya disuruh, jadi saya tidak tau." jawab lelaki itu.
"Kalau begitu saya pamit dulu ya, pak. Assalamualaikum." pamit lelaki tua itu.
"Waalaikumsalam," jawab Awan masih dengan tatapan melongo melihat bungkusan baju-baju mahalnya.
"Tunggu, pak!!," panggil Awan pada lelaki itu.
Dan lelaki itu pun segera menghentikan langkahnya dan menoleh kepada Awan.
"Iya, ada apa pak?," tanya nya.
"Lalu mobil ku dimana?," tanya Awan.
"Mobil?," lelaki tua itu kebingungan dengan pertanyaan Awan.
"Mobil apa yang bapak maksud?," tanya lelaki itu.
"Apakan Veni tidak menyuruh bapak membawa mobil lain selain mobil itu?," tanya Awan Sam il menunjuk mobil pik up yang di buat untuk mengangkut barang-barang milik Awan.
Lelaki tua itu menggelengkan kepalanya.
"Ya sudah lah, silahkan bapak pulang." ucap Awan.
__ADS_1
Awan kembali masuk dengan membawa lima kantong kresek besar baju-bajunya.