
"Masalahnya, Bima dan Sarah itu sudah bercerai, Bu!!," ucap Bima dengan pelan, namun sangat begitu jelas.
"Apa?!, cerai??," tanya Laras tidak percaya, ia membulatkan matanya ke arah Bima.
Dan Bima hanya menganggukkan kepalanya, sambil kepalanya tertunduk. Karena banyak penyesalan di hati Bima, sehingga akan terpancar di wajahnya.
"Bima... Bima...kamu ini benar-benar lugu ya. Kamu masih menalak Sarah, Bim. Jadi kamu masih bisa rujuk, dengan cara menikahinya lagi." ucap Laras dengan sangat tegas.
"Jadi orang yang pintar dikit, kenapa?!," gerutu Laras dengan kesal pada Bima yang seperti nya malas untuk berfikir.
"Tidak semudah itu, Bu. Aku dan Sarah tak akan bisa rujuk kembali." jawab Bima.
"Kamu ini lelaki kok lemah sekali, Bim!!, yang tegas donk!!, Kalau kamu tidak mau rujuk dengan Sarah, itu sangat rugi besar!!," ucap Laras memakai Bima.
"Kalau kamu tak mau rujuk dengan Sarah, lantas kamu mau nikah dengan siapa?, dengan Areta?!," tanya Laras lagi.
"Apa yang di miliki Areta??, Ingat Areta itu miskin tak punya apa-apa. Dia hanya bisa menghabiskan uang mu saja!!," Saat ini yang mendominasi pembicaraan adalah Laras.
Bukannya Bima takut untuk membantah Laras, namun karena malas berdebat dan berkurangnya rasa respek pada Laras, membuat Bima sedikit mengurangi bicara pada ibunya itu.
Karena Bima masih sakit hati dengan apa yang telah Laras lakukan pada usahanya itu.
"Sekarang selesaikan makan mu. Dan antar aku ke rumah Sarah!!," ucap Laras sambil berdiri dari duduknya. Lalu ia berjalan menuju kamar nya.
Bima pun tidak menolak dan tidak mengiyakan ucapan ibunya itu.
"Yang sabar ya, Bim. Aku yakin keputusan ibu itu yang terbaik untuk mu." ucap Ambar menenangkan hati adik terakhir itu, sambil mengusap-usap lengan kiri Bima.
"Tapi, mbak. Ibu sungguh keterlaluan. Dulu dia yang menyuruhku untuk menceraikan Sarah. Dan sekarang dia juga yang menyuruh ku untuk rujuk." Ucap Bima dengan wajah kesalnya.
"Itu ibu lakukan demi kebahagiaan mu, Bim." ucap Ambar.
"Lebih baik, sekarang kamu siap-siap mengantar ibu. Daripada kamu nanti kena marah lagi." lanjut Ambar sambil berdiri meninggalkan Bima.
Kini Ambar berjalan masuk kedalam kamar nya. Begitu juga Bima, ia berjalan masuk ke dalam kamarnya. Namun bukan untuk bersiap-siap mengantar Laras, Bima merebahkan tubuhnya diatas ranjang.
__ADS_1
"Seandainya Sarah mau rujuk dengan ku, aku akan memperlakukannya bak seorang ratu." gumam Bima dengan tatapan mata nya ke atap kamar nya.
"Bim.. Bima...," beberapa menit kemudian, Laras memanggil-manggil Bima.
Namun ia tak menemukan Bima di ruang Tv atau pun ruang tamu.
"Bim....," panggilnya lagi.
Tapi, tak ada sahutan dari Bima.
"Kemana perginya tuh anak?!!," Laras berdecak kesal.
Cekleeek,
suara pintu kamar Ambar terbuka, dan Ambar keluar dari kamar nya.
"Mau kemana kamu, Mbar?," tanya Laras pada Ambar, saat ia melihat anak perempuan pertama nya sudah berdandan cantik.
Laras sangat heran dengan dandanan Ambar yang tak seperti biasanya. Yang biasa nya kalau dirumah, Ambar berdandan ala kadarnya. Namun kini ia sangat berbeda penampilan nya.
"Kamu melihat Bima, Mbar?," tanya Laras.
"Sepertinya, Bima sedang berada di kamarnya." jawab Ambar.
"Ambar pamit berangkat, Bu." lanjut Ambar, sambil meraih tangan Laras dan mencium punggung tangan nya.
"Kalau tidak akan pergi mengantar Bima. Pasti aku akan ikut dengan mu." ucap Laras.
"Tapi, tidak lah. Hal ini lebih penting, karena kalau Bima kembali rujuk dengan Sarah hidupku akan sejahtera." Laras berkata sambil tersenyum miring.
Ambar pun berjalan keluar meninggalkan Laras yang masih menunggu Bima.
Beberapa menit sudah berlalu, namun Bima tak kunjung keluar dari kamarnya. Dan hal itu membuat Laras emosi.
"Bim,,, Bima,,," panggil Laras sambil mengetuk pintu kamarnya. Dan tetap masih tak ada jawaban dari Bima.
__ADS_1
"Ngapain aja sih Bima di dalam?!!," gerutu Laras. Dengan rasa penasaran dan tidak sabar karena terlalu lama ia menunggu.
Laras pun membuka pintu kamar Bima, yang ternyata tidak terkunci. Sehingga tak perlu tenaga dan pikiran untuk membuka pintu itu.
Cekleeek...
Suara gagang pintu ditarik, sehingga daun pintu kamar Bima terbuka.
"Bima!!!," teriak Laras dengan tatapan penuh amarah. Bagaimana tidak, Laras menunggu nya hampir satu jam diluar. Ternyata Bima tertidur di atas ranjang nya.
Bima yang mendengar suara yang melengking itu pun, langsung terjengkat karena kaget.
"Kenapa ibu mengagetkan ku, sih?!!," ucap Bima dengan wajah kesal sambil tangannya mengusap mata nya.
"Ibu menunggu mu di sini sampai jamuran, ternyata kamu di dalam enak-enakan tidur ya!!!," Laras sangat emosi dengan tingkah laku Bima, yang menurut Laras tak tau balas Budi itu. Karena menurut Laras, yang Laras lakukan ini, semata-mata untuk Bima dan pastinya untuk masa depan Putri, anak nya Bima.
"Memang, siapa yang suruh ibu menunggu?," gerutu Bima dengan bibir yang di majukan.
"Ingat Bim!!!, aku melakukan ini sematang untuk mu dan untuk masa depan keluarga mu. Termasuk untuk masa depan Putri." Kali ini Laras berbicara dengan berkacak pinggang.
"Ibu yakin, yang ibu lakukan sekarang memang untuk Bima dan Putri?," tanya Bima meragukan ucapan Laras.
"Entah lah Bim, aku harus omong bagaimana lagi agar kamu percaya dengan ibu. Ibu melakukan ini hanya ingin meminta maaf padamu dengan apa yang sudah ibu lakukan pada usaha mu itu. Ini lah saat nya untuk ibu menebus kesalahan ibu." ucap Laras dengan suara parau.
"Heh!!," Bima tersenyum sinis saat melihat ekspresi wajah Laras ibu nya itu.
"Aku tak yakin, kalau Putri akan menyetujui rujuk ku dengan Sarah. Karena waktu aku menikah dengan Sarah, hanya ibu dan Putri lah yang menyuruhku untuk bercerai dan meninggalkan Sarah." Bima pun berhasil mengeluarkan uneg-uneg dalam hatinya.
"Kalau masalah Putri, kamu pasrahkan saja pada ku Bim. Karena aku bisa mengendalikan anak mu itu." ucap Laras terus mencoba membujuk Bima.
"Jadi, ayolah sekarang antar ibu kerumah Sarah. Biarkan ibu yang akan berbicara dengan Sarah nanti." Laras terus memaksa Bima, agar Bima mau mengantarkan nya.
"Baik lah!!, terserah ibu saja." ucap Bima sambil menghempas kan nafas besar. Ia pun beranjak dari duduknya di atas ranjang, untuk menuju kamar mandi.
Laras pun tertawa bahagia, karena akhirnya Bima mau mengantarkannya meraih impian masa depannya.
__ADS_1
Lalu Laras berjalan menuju sofa ruang tamu. Ia duduk menunggu Bima yang sedang bersiap-siap untuk mengantarkan nya kerumah Sarah.