DERITA SEATAP DENGAN MERTUA

DERITA SEATAP DENGAN MERTUA
#328


__ADS_3

"Iya, Bu. Sebentar lagi akan saya tanyakan. Sekarang ibu silahkan duduk saja di sofa yang sudah di sediakan." ucap wanita cantik itu dengan sopan. Walau di dalam hati nya , ia sangat jengkel dengan sikap Laras.


Laras dan Awan berjalan menuju sofa. Dan ia duduk disan menunggu udi panggil untuk menemui Siska.


"Kenapa ibu tidak bikin janji dulu sebelum datang kesini?," tanya Awan.


"Seharusnya ibu telpon dulu si Siska itu, biar kita tidak harus menunggu lama seperti ini." ucap Awan.


"Masalah nya, aku tak punya nomor telepon Siska, Wan. Yang punya itu Veni sialan itu." jawab Laras.


Hampir satu jam, Laras dan Awan menunggu. Resepsionis tak ada memanggilnya. Lalu Laras berdiri dan berjalan menuju meja resepsionis, untuk menanyakan Siska.


Namun resepsionis itu menjawab, kalau memang tamu Siska asih belum keluar. Dan Siska mau menemui Laras, kalau tamu nya sudah pulang.


Laras kembali marah-marah, dengan mulut nya terus mengomel sambil berjalan menuju Awan yang sedang duduk.


Akhirnya, satu jam lebih lima belas menit. Laras pun di panggil dan disuruh masuk ke dalam ruangan Siska.


Laras berjalan menuju ruangan Siska yang di ikuti oleh Awan di belakang nya, terkejut dengan kemunculan Veni dari dalam ruangan Siska.


"Waah .. Ternyata tamu Siska itu adalah kamu rupanya?!," ucap laras sambil tangan berkacak pinggang.


"Lalu apa urusannya dengan anda?!," sahut Veni dengan wajah sinis nya.


"Mobil milik Awan itu segera kembalikan!!," ucap Laras dengan mata melotot.


"Mobil?, milik kamu, mas?, mobil yang mana ya?," Veni pura-pura lupa ingatan. Niat sekali Veni membuat Laras dan Awan marah.


"Kamu jangan pura-pura pikun, Ven!!!, bukannya kamu sendiri yang bilang kalau kamu akan mengembalikan mobil itu hari ini?," ucap Awan.


"UPS ya,,, aku lupa. Tunggu saja besok ya, mas. Karena malam ini Kay meminta jalan-jalan dengan naik mobil mu." jawab Veni.


"Lalu ngapain kamu kesini??!!," tanya Laras dengan mata melotot pada Veni.


"Yang jelas aku kesini untuk perawatan ibu mantan mertua ku." jawab Veni dengan senyum mengejek pada Laras.


"Hmmm, kayak yang punya uang ajah!!," nyinyir Laras dengan ujung bibir kanannya terangkat.


"Oke, saya permisi dulu ya." pamit Veni.


"Oh ya mas, untuk gugatan perceraian nya. Biar saya saja yang urus. Kamu tinggal duduk manis saja di rumah." ucap Veni dengan senyum di bibirnya.


"Terserah kamu saja!!," jawab Awan tanpa memandang kearah Veni.


"Ingat!!?, segera kembalikan mobil itu. Biar aku tidak bingung kalau mau pergi kemana-mana!!," teriak Laras pada Veni.

__ADS_1


Namun dengan sengaja, Veni tak menjawab dan tak menoleh pada Laras.


"Dasar perempuan gila, sok sok an perawatan. Padahal sudah kere." gerutu Laras sambil berjalan mendekati pintu ruangan Siska.


"Ingat, Wan. Kamu harus memasang wajah yang keren dan wibawa. Agar Siska semakin terpesona dengan mu." bisik Laras setelah diri nya sudah siap untuk mengetuk pintu.


Tok tok tok....


Pintu ruang kerja Siska di ketuk oleh Veni.


"Masuk," sahut Siska dari dalam.


"Ingat yang ibu katakan tadi, Wan!," Laras kembali mengingatkan Awan.


"Apaan sih, Bu!," jawab Awan dengan badmood.


"Assalamualaikum, nak Siska." ucap Laras saat pintu terbuka, dengan senyuman yang paling manis.


"Waalaikumsalam, Bu." jawab Siska.


"Silahkan duduk, Bu, mas Awan." Siska mempersilahkan kedua tamu nya itu dengan sangat sopan.


"Sepertinya tamu nak Siska tadi sangat lama, ya?, karena tadi aku menunggu di depan lumayan lama." ucap Laras sambil tersenyum.


"Iya, Bu. Kebetulan yang datang tadi adalah...," Siska tak meneruskan omonganya, karena Siska merasa tidak enak pada Awan dan Laras.


"Iya, Bu. Kok ibu tau?," tanya Siska.


"Ya karena tadi saya dan Awan berpapasan di depan." jawab Laras.


"Hmmm, apakah kedatangan ibu Laras kesini sudah menemukan titik temu dengan masalah yang saat ini terjadi?," tanya Siska. Karena ia tak mau membahas tentang Veni lebih dalam.


"Nah dengan adanya masalah ini, banyak sekali hikmah yang kami ambil. Dan adanya masalah ini, hal-hal baik terus mendekat pada kami sekeluarga." ucap Laras sambil sesekali mengangkat kedua tangan nya, perihal hanya membenarkan rambutnya. Sedangkan Siska, sesekali melirik kearah Awan.


"Alhamdulillah sekali ya, Bu. Lalu keputusan nya bagaimana?," tanya Siska dengan matanya melirik kearah Awan. Sedangkan Laras sibuk dengan membenarkan gelang-gelang yang ada di pergelangan tangan nya.


"Awan akan menebus sertifikat itu sekarang, nak Siska. Kebetulan sekali, Awan dapat rejeki banyak" ucap Laras sambil tersenyum sangat ramah.


Awan yang tak tau menahu pun kaget mendengar ucapan Laras. Mata nya melotot kebingungan.


"Bukan begitu, Wan?," tanya Laras sambil menatap Awan.


"Ibu!!," bisik Awan yang berhasil dipermalukan oleh Laras, ibunya sendiri.


Siska yang melihat raut wajah yang tak enak pada Awan pun segera pamit untuk pergi kebelakang. Siska memberi kesempatan pada mereka berdua untuk mengobrol kembali.

__ADS_1


Karena Siska merasa, kalau Awan tidak tahu dengan rencana ibu nya itu.


"Oh... Silahkan nak Siska." jawab Laras pada Siska setelah berpamitan untuk kebelakang.


"Ibu ini gimana sih?!, kan awan sudah bilang, untuk saat ini awan masih belum ada uang nya!!," bisik Awan namun penuh dengan tekanan. Saat Siska sudah menghilang dari pandangan nya.


"Lagian ibu kenapa nggak bilang dulu, kalau ibu menyuruh Awan untuk membayar ini?!!," Awan sangat kesal kepada Laras.


"Loh!!, kok kamu nyalahin ibu sih, Wan!!. Bukankah tadi ibu sudah bilang ke kamu, saat kamu bilang kalau kamu mendapatkan uang dari penggelapan dana di perusahaan Veni?!," ucap Laras yang tak mau di salah kan.


"Ibu!!!, kecilkan sedikit suara mu!!, awas Siska mendengar apa yang barusan ibu katakan!!, Bisa habis hidup kita" bisik Awan.


Laras pun ketakutan dengan apa yang sudah diucapkan oleh Awan barusan.


"Awan minta, ibu diam setelah ini. Biar Awan saja yang bicara dengan Siska." bisik Awan di samping telinga Laras.


Laras pun mengerti, dengan menganggukkan kepalanya. Kali ini Laras pasrah pada Awan. Karena ia yakin Awan mempunyai solusi yang terbaik.


Sedangkan, di dalam kamar mandi. Siska memantau Awan dan Laras dari cctv yang terhubung di handphone nya.


Lalu Siska merekam nya, siapa tau nanti dia membutuhkan video rekaman itu.


Setelah rekaman itu selesai, Siska keluar dari kamar mandi.


"ibu, maaf ya Siska lama di kamar mandi." ucap Siska dengan wajah bersalah.


"Tidak apa-apa, nak Siska. Ruangan ini cukup nyaman. Jadi kami betah disini, walau ditinggal nak Siska." jawab Laras.


"Mmmm... Begini, sis. Biar saya jelaskan kedatangan kami kesini." tiba-tiba Awan membuka suara. Dan itu membuat hati Siska sangat senang dan bahagia.


"Sebenarnya kedatangan kami kesini, untuk meminta perpanjang lagi waktu penebusan sertifikat rumah kami. Karena pada saat ini, uang itu belum ada. Tapi pasti kami akan menebusnya dan kami akan mengusahakan secepat nya." ucap Awan dengan sangat serius. Namun beda dengan Awan, Siska malah menikmati wajah Awan yang menurut Siska sangat wibawa itu.


"Sis...!!, apa kamu mendengar omonganku?," tanya Awan. Namun Siska masih bengong dengan menatap Awan. Entah apa yang sedang di bayangkan oleh Siska, sehingga Siska sangat menikmati nya.


"Sis,,, Siska,,!." panggil Awan lagi dengan melambaikan tangan nya.


Siska pun langsung tersadar dari lamunannya. Wajahnya memerah karena malu kepada Awan.


"Apa kamu baik-baik saja?," tanya Awan.


"Aku baik-baik saja, mas." jawab Siska dengan malu-malu kucing.


"Lalu apa kamu mengerti dengan apa yang ku ucapkan tadi?!," tanya Awan.


"Iya, mas. aku mengerti." jawab Siska. Ia mengaku mengerti, walau sebenarnya ia tak tau apa yang telah di bicarakan oleh Awan.

__ADS_1


"Kalau memang sudah mengerti, kami pamit pulang dulu." ucap Awan berpamitan. Karena Awan merasa tidak nyaman dengan tatapan Siska yang sepertinya sangat menyukai nya.


Kini mereka berdua pulang dengan naik taksi online.


__ADS_2