DERITA SEATAP DENGAN MERTUA

DERITA SEATAP DENGAN MERTUA
Laporan


__ADS_3

Tok


Tok


Tok


"Bu, ibu Sarah."


Terdengar samar-samar suara memanggil ku dari luar. Sepertinya suara Reni.


Aku membuka mata dengan sangat pelan, agar kepala ini tidak terasa pusing.


"Bu, ini sudah jam lima. Apa ibu tidak pulang?," suara Reni kini terdengar jelas di telinga ku.


Dan aku pun beranjak dari tempat tidur, dan mengambil handphone untuk melihat jam di sana.


"Sudah sore rupanya." gumamku.


Aku segera membuka pintu, agar Reni tak khawatir dengan ku karena panggilan nya tak aku jawab.


Cekleeek....


Gagang pintu ku tarik dari dalam kamar.


"Bu, maaf Reni mengganggu. Ini sudah sore dan toko juga sudah tutup. Kami semua juga akan pulang, apa ibu tidak pulang?," tanya Reni saat aku keluar dari kamar.


"Iya, Ren. Aku tadi ketiduran, setelah ini aku akan pulang. Kalian bisa pulang dulu." aku menyuruh para karyawan ku untuk pulang terlebih dahulu. Karena sudah waktunya jam pulang untuk mereka.


"Ibu berani disini sendirian?," tanya Reni dengan ragu.


"Kenapa tidak, Ren?," tanya ku.


"Tapi aku takut terjadi sesuatu pada ibu. Mengingat banyak sekali orang-orang yang akhir-akhir ini selalu membuat keributan dengan ibu." jawab Reni dengan wajah kekhawatiran.


"Jangan kamu khawatir seperti itu, Ren. Aku bisa menjaga diri kok. Lebih baik kamu dan teman-temanmu pulang sekarang. Kasian mereka sudah kerja seharian, pasti capek dan ingin beristirahat." ucapku pada Reni sambil berjalan menuju kamar mandi, untuk mencuci muka.

__ADS_1


Setelah aku keluar dari kamar mandi, ternyata Reni dan karyawan lain masih duduk kursi depan televisi.


"Loh, kenapa kalian belum pulang?," tanyaku dengan alis bertaut karena terkejut.


"Kamu masih menunggu ibu." jawab Reni.


"Bukankah kalian capek dan butuh istirahat?," tanya ku.


"Tapi kami sangat khawatir dengan keselamatan ibu." jawab Mita terlihat wajahnya penuh dengan kepedulian padaku.


"Terimakasih ya, kalian sudah sangat sayang dan peduli padaku." ucap ku dengan penuh haru.


Kini aku segera memakai Khimar dan mengambil tas yang berada diatas nakas.


Kita bersama-sama keluar dari dalam toko. Mereka berjalan menuju motor masing-masing yang terparkir di depan toko. Sedangkan aku menuju ke mobil ku yang berada di pinggir jalan.


Dan kini kita pulang kerumah masing-masing. Terlihat sekali ketulusan dari mereka para karyawan ku. Mereka terlihat benar-benar tulus menyayangi ku. Mereka sudah seperti keluarga kedua ku saat ini.


"Amma...," Kean menghamburkan tubuhnya di pelukan ku. Saat mendengar ucapan salam ku dari luar pintu.


"Waalaikumsalam, amma. Maaf kan Kean yang lupa ya, Amma?." ucap Kean dengan mencium pipiku. Saat aku berjongkok mensejajarkan diri dengan Kean.


"Lain kali harus di ingat-ingat lagi ya, nak." aku selalu mengajarkan hal-hal sepele tapi akan berdampak besar nantinya.


"Siap amma!!," jawab Kean dengan mengangkat tangannya yang di taruh di dahi nya.


"Kamu mau makan dulu, Sarah?." tanya ibu yang sedang menyiapkan makan malam di meja makan, saat aku berjalan ke dapur untuk mengambil segelas air putih.


"Nanti saja Bu, Sarah mau ngetik dulu." jawabku memberi alasan pada ibu, lalu ku teguk segelas air putih yang telah ku ambil tadi.


Setelah menaruh gelas di tempat cucian piring kotor, aku segera masuk kedalam kamar. Aku gantung tas ku di gantung tas, setelah aku mengambil handphone.


Aku baru ingat, kalau tadi ada pesan masuk dari nomor yang tak ku kenal.


Mau tak mau aku pun melihat nya, takut saja itu pesan dari customer ku untuk memesan kue-kue untuk acara di rumah nya.

__ADS_1


Karena sering sekali para customer, langsung memesan kue pada ku. Padahal ada hp admin yang siap melayani dua puluh empat jam.


"Selamat sore, Bu owner SKcake. Saya adalah salah satu pelanggan setia kue-kue anda. Tapi dengan perlakuan para pelayan anda, aku jadi malas untuk membeli kue di toko ibu." pesan dari nomor yang tak di kenal itu.


"Ini dengan ibu siapa?," tanya ku. Karena di handphone ku tak ada nomor pelanggan ku yang satu ini.


"Kenalkan, nama ku Veni. Aku pelanggan setia toko kue ini. Dan setiap belanja, aku tak pernah belanja sedikit. Paling sedikit di nominal seratus lima puluh ribu." jawab nya melalui pesan singkat yang ia kirim.


Dan ternyata pengirim pesan itu adalah mbak Veni. Disini aku harus bijak pada pembeli dan pada karyawan ku.


Aku tau yang di maksud mbak Veni itu adalah aku. Masa iya aku harus memecat diriku sendiri. Itu sangat lucu bagiku.


"Apakah ibu tau siapa nama karyawan ku yang bersikap tidak baik pada ibu?," tanyaku.


"Semua karyawan ibu, terutama yang bernama Sarah. Aku rasa ibu harus memecat semua karyawan ibu dan mengganti nya yang baru. Aku yakin karyawan ibu yang sekarang ini sudah terpengaruh oleh Sarah."


Enak sekali mbak Veni bicara seperti itu. Dikira mudah mencari karyawan yang benar-benar bersungguh-sungguh untuk bekerja.


"Maaf untuk sebelumnya, untuk memecat karyawan tidak semudah itu, Bu. Dan tidak mungkin aku memecat semua karyawan ku begitu saja. Tanpa ada bukti yang memang menunjukan keseluruhan kesalahan yang dilakukan oleh para karyawan ku." jawabku dengan tegas.


"Aku sangat yakin, kalau ibu tidak memecat karyawan-karyawan ibu. Toko roti ibu bakal sepi, karena cara pelayanan karyawan-karyawan ibu yang kurang baik kepada kami para customer toko roti milik ibu."


Yakin sekali mbak Veni kalau bicara, seakan-akan ia tau kalau yang dilakukan para karyawan ku pada semua customer ku seperti yang mereka lakukan padanya.


Mereka melakukan itu pada mbak Veni karena mereka sudah sangat jengkel dengan sikap mbak Veni.


"Apa ibu ada bukti yang bisa meyakinkan aku untuk memecat mereka semua?," tanya ku lewat balasan pesan singkat.


"Aku tak punya bukti, Bu. Tapi aku ak tau di sana ada kamera cctv. Ibu bisa melihat nya di rekaman dari kamera cctv itu." jawab mbak Veni.


"Seandainya kamu tau kalau aku lah karyawan yang kamu lapor kan itu adalah pemilik toko roti SKcake, apa yang akan kamu lakukan pada diri mu sendiri, mbak?." gumamku dalam hati sambil tersenyum getir dan segera menutup aplikasi WhatsApp.


Aku sengaja tak membalas pesan terakhir dari mbak Veni. Biarkan saja dia menantu balasan pesan dari ku.


Aku taruh handphone diatas nakas, dan aku berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuh ini agar tubuh kembali terasa segar dan capek pun hilang.

__ADS_1


__ADS_2