DERITA SEATAP DENGAN MERTUA

DERITA SEATAP DENGAN MERTUA
Mengosongkan Rumah


__ADS_3

Aku dan pak RT masih tetap ada di tempat yang sama. Tak beranjak sedikit pun dari tempat ku yang semula. Sengaja aku tak mengantar kepergian mas Bima.


Sedangkan Dewi, terburu-buru keluar dengan berlari kecil. Mungkin dia mengikuti mas Bima dan keluarga nya.


Sebagai seorang perempuan, aku juga punya rasa takut dengan ancaman yang dikatakan oleh mas Bima tadi.


Karena aku sangat yakin, mas Bima akan melakukan segala hal untuk semua tujuannya.


Kini mereka berempat sudah hilang dari pandangan mata ini. Dan suara mobil mas Bima juga sudah tak terdengar lagi. Itu tandanya mereka sudah pergi jauh dari rumah ini.


Aku segera berdiri dari duduk ku, untuk mengintip para warga dari balik korden. Ternyata mereka sudah tidak ada lagi diteras rumah ku. Mungkin mereka pergi bersama kepergian mas Bima dan keluarga nya.


Jujur ada rasa malu pada warga komplek ini, karena pada akhirnya mereka mengetahui semua masalah rumah tangga ku.


Padahal awalnya aku mencoba untuk menutupi nya, agar para warga komplek yang tak semua aku kenal ini tak tahu tentang masalah rumah tangga ku.


Namun nyatanya, suara ibu nya mas Bima lah yang membuat para warga komplek kumpul di depan rumah ku. Dan menjadi penonton drama yang sedang aku dan mas Bima lah yang jadi pemeran nya.


"Kalau begitu, saya pamit pulang ya, Bu Sarah." ucap pak RT yang sudah berdiri di belakang ku.


Dan beliau mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan. Namun aku tak membalas nya, aku hanya menangkupkan kedua telapak tangan ku dan mengangkat nya.


Lalu pak RT pun menarik lagi tangan nya, dan membalas dengan hal yang sama dengan apa yang aku lakukan tadi.


Kini pak RT berjalan keluar rumah setelah surat-surat rumah di kembalikan padaku.


"Bu, pak, maafkan Sarah kalau Sarah selalu bikin bapak dan ibu kecewa dengan kegagalan rumah tangga Sarah untuk yang kedua kali nya." ucapku pada ibu dan bapak. Karena aku tahu pasti di hati ibu dan bapak ada perasaan sedih melihat anak nya selalu gagal dalam berumah tangga.


"Ibu tak pernah kecewa, Sarah. Yang terpenting untuk ibu dan bapak saat ini adalah kebahagiaan mu." jawab ibu.


"Karena kebahagiaan mu lah yang harus di utamakan, ibu dan bapak akan selalu mendukung semua keputusan mu, Sarah. Jadi jangan pernah berfikir kalau ibu akan kecewa dengan kegagalan mu dalam berumah tangga." lanjutnya.


"Karena sejatinya, berumah tangga itu untuk mencari kebahagiaan dan ketenangan hati. Jadi kalau dalam rumah tangga itu sudah tak ada kebahagiaan dan hanya ada kedzaliman mungkin perceraian lah jalan yang tepat untuk ditempuh." ucapan ibu sangat meneduhkan dan menenangkan hati dan pikiran ku saat ini.


Aku pun langsung merangkul ibu dan bapak. Karena mereka berdua lah malaikat yang selalu ada untuk ku.


"Amma....," suara Kean memanggil ku keluar dari kamar nya.


"Kean lapar." lanjutnya sambil memegang perutnya.


"Oh ya?, amma lupa kalau anak amma yang Sholeh ini belum makan." ucap ku sambil berjalan mendekat pada lelaki kecil penyemangat hidupku ini. Dan sebisa mungkin air mata yang ada di pipi ku hapus tak bersisa. Agar lelaki kecilku ini tak melihat ada kesedihan di mata amma nya.


Aku segera menuntun Kean menuju ruang makan. Saat aku sudah berada di meja makan, tiba-tiba bayangan mas Bima dan Areta yang sedang bermesraan di ruangan ini muncul di pikiran ku.


Rasa sedih, jengkel dan jijik pun tak dapat aku hindari saat mengingat hal itu.


Dan dengan sendirinya, air mata ku pun jatuh membasahi pipi.


"Amma kenapa menangis?," tanya Kean dengan wajahnya mendongak menatap wajahku.

__ADS_1


"Amma tidak kenapa-kenapa, sayang. Seperti nya ada hewan kecil yang masuk kedalam mata amma." jawabku berbohong pada Kean.


"Amma harus hati-hati, ya." ucapan perhatian yang sangat tulus seperti ini lah yang mampu menguatkan hati ku yang sedang rapuh.


"Iya, sayang. Amma akan selalu hati-hati." jawabku sambil ku usap rambut Kean yang sudah tersisir rapi itu.


Lalu aku pun segera mengambilkan nasi dan beberapa lauk pauk yang sudah ku masak tadi.


"Kita makan diluar bersama akung dan uti ta sayang?." usulku, agar aku bisa keluar dari ruangan ini. Terasa sakit saat berada di ruang ini setelah apa yang dilakukan mas Bima di belakang ku.


"Baik amma." jawab Kean menyetujui usulan ku. Biasa nya dia paling susah untuk makan tak di tempat nya.


Entah kenapa kali ini tak ada perdebatan dari Kean, saat aku mengajak nya makan di ruang tamu.


Kini ia makan dengan sangat lahap nya, mungkin dia benar-benar sangat lapar.


"Sarah, ibu mau bicara dengan mu." ucap ibu saat aku sedang menatap Kean yang sedang lahap menikmati nasi dan lauk di piring nya.


"Sstttttttt, nanti saja ya, Bu. Masih ada Kean." bisik ku pada ibu sambil jari telunjuk ku taruh di bibirku. Sengaja aku tak ingin membahas tentang semua masalah rumah tangga ku di depan Kean. Aku takut kalau Kean akan trauma dengan kegagalan rumah tangga ku yang ke dua ini.


Ibu pun mengerti dengan apa yang aku maksud, beliau menganggukkan kepala nya.


"Sudah habis, nak?." tanya ku saat melihat nasi yang ada di atas piring Kean sudah tak bersisa sedikit pun.


Kean menganggukkan kepalanya, mungkin ia sudah menjawab pertanyaan ku. Karena mulutnya masih sibuk mengunyah makanan yang terakhir ia masukkan.


"Kean udah kenyang amma." jawab Kean sambil memegang perutnya yang sudah buncit itu. Lalu ia berdiri sambil membawa piring kotor bekas nya itu kebelakang untuk dicuci.


"Sayang, mau kemana?," tanya ku. Padahal aku sudah tau, pasti ia akan pergi kedapur untuk mencuci piring kotor yang telah ia pakai itu. Karena itu sudah menjadi kebiasaan nya setelah selesai makan.


Aku sudah mengajarkan padanya sedini mungkin untuk disiplin dalam segala hal. Termasuk mencuci piring nya sendiri setelah selesai ia makan. Dan itu selalu di lakukan oleh Kean sampai saat ini.


"Mau mencuci piring ini, amma." jawabnya dengan suara sangat lembut.


"Sini!, biar amma saja yang bawa dan cuci." ucapku sambil mengambil piring kotor yang ada di tangan Kean.


"Tapi amma....," Kean ingin mengambil kembali piring itu. Namun aku menolak nya.


"Tadi Kean ngapain di kamar?," tanyaku.


"Tadi Kean di kamar sedang menggambar." jawab nya.


"Sudah selesai apa belum?," tanya ku lagi.


"Belum selesai sih." jawabnya sambil menggaruk kepalanya.


"Ya sudah, sekarang Kean masuk kedalam kamar. Selesaikan dulu gambar nya, biar amma yang mencuci piring kotor ini." ucapku dengan sangat pelan.


"Oke deh, amma!," jawab Kean sambil mengangkat kedua jempol tangan nya.

__ADS_1


Lalu ia berjalan menuju kamar nya setelah meminum segelas air putih.


Dan dia membalikkan badannya kearahku dan ibu yang sedang duduk di sofa ruang tamu.


"Oh ya, nanti kalau aku g dan uti pulang. Kean ikut ya?, Kean mau tidur bareng uti dan akung." ucapnya pada ibu dan bapak.


"Iya, sayang. Nanti kalau uti dan akung pulang, Kean akan akung panggil. Sekarang Kean lanjutkan menggambar nya." jawab bapak sambil mendekat pada Kean.


"Oke akung!!." Kean pun berlari masuk kedalam kamar nya.


"Sarah, Ibu rasa kamu juga ikut kami. Kita semua tinggal bersama disana. Karena ibu takut kalau kamu tinggal disini berdua dengan Kean, Bima akan berbuat macam-macam pada kalian." ucap ibu.


"Mengingat ucapan Bima tadi, sungguh membuat ibu takut. Ibu sangat yakin, kalau Bima akan melakukan hal-hal yang lebih nekat lagi dari ini." lanjut ibu.


Ucapan ibu banyak benarnya, karena hal itulah yang aku takutkan. Selain sakit hati saat masuk kedalam ruang makan rumah ini, aku juga takut dengan ancaman yang dikatakan oleh mas Bima tadi.


"Ibu yakin Kean akan senang kalau kita tinggal bersama." ucap ibu. Memang itu lah yang di minta Kean selama ini, yaitu tinggal bersama uti dan akung nya.


"Terus, bagaimana dengan rumah ini?," tanyaku.


"Untuk sementara waktu dikosongkan saja, Sarah. Nanti dengan pelan-pelan rumah ini dijual saja. Dari pada nanti muncul masalah-masalah lain dari rumah ini." usul bapak.


Aku sangat setuju dengan usulan bapak, karena rasanya aku sudah tak mau tinggal disini lagi saat mengingat kelakuan yang menjijikan mas Bima bersama Areta di ruang makan tadi.


"Baik, pak". Jawabku menyetujui usulan bapak. Kali ini aku mengikuti semua yang dikatakan oleh ibu dan bapak. Karena aku tak ingin mengecewakan nya lagi.


Dan aku sangat yakin, kalau orang tua akan memberikan yang terbaik untuk anaknya.


Aku pun segera masuk kedalam kamar untuk berkemas. Aku sengaja tak membawa semua baju-baju ku. Karena kalau aku membawa semua baju yang ada di dalam lemari ini, pasti akan membutuhkan waktu seharian.


Hanya beberapa baju dan semua barang-barang berharga ku, yang aku bawa. Untuk gelang kalung dan perhiasan lain nya termasuk laptop dan tas sengaja aku membawanya tanpa terkecuali. Karena harga barang-barang itu harga nya sangat lumayan.


Satu tas dan koper aku bawa keluar dari kamar, sengaja pintu kamar tak aku kunci. Karena sudah tak ada lagi barang-barang yang berharga lagi di dalam nya.


Kini aku beralih ke dalam kamar Kean, untuk mengemasi beberapa baju Kean yang masih tersisa disini. Karena baju-baju Kean sudah banyak berada di rumah ibu.


"Kita mau kemana, amma? Kok amma kemasi baju-baju Kean?," tanya Kean dengan menghentikan aktivitas tangan nya yang sedang mewarnai gambar anime hasil karya nya itu.


"Kita akan menginap di rumah uti dan akung untuk beberapa hari, sayang." jawab ku dengan senyum yang bahagia.


Dan aku sangat yakin, Kean pun akan bahagia. Karena inilah yang ia inginkan sejak dulu, sejak ibu dan bapak masih ada di kampung.


"Bersama Amma juga kan?," tanya nya lagi.


Aku pun menganggukkan kepala, membenarkan pertanyaan Kean.


"Horee!!!!!!, akhirnya kita bisa tinggal bersama uti dan akung." Kean teriak kegirangan saat ia tau aku juga ikut tinggal di sana.


Setelah semua persiapan selesai, kami pun keluar dari rumah. Pintu rumah dan pagar sengaja aku kunci, karena takut ada tangan-tangan jahil masuk kedalam rumah ku ini.

__ADS_1


__ADS_2