DERITA SEATAP DENGAN MERTUA

DERITA SEATAP DENGAN MERTUA
Mencari Jalan Keluar


__ADS_3

"Ya sudah!!!. Terus ngapain kamu dan keluarga mu masih di sini, mas?!." tanya ku. Sambil tangan ku lipat di atas perut dan dagu ku angkat. Tatapan ku tajamkan pada mas Bima.


"Sekarang kamu sudah menjadi wanita sombong ya, Sarah!!!. Hanya karena sudah punya rumah kecil seperti ini saja, sifat mu sudah sangat sombong!!." ucap ma Bima setelah melihat sikap ku, yang sebenarnya ini bukan lah sikap asli ku.


Karena untuk menghadapi orang-orang yang seperti mas Bima dan keluarga nya memang harus mengeluarkan sikap yang menurutku tak baik ini.


Kalau menghadapi mereka memakai sikap asli ku yang tak enakan pada orang lain. Bisa-bisa aku, ibu dan bapak di injak-injak oleh kumpulan orang-orang seperti keluarga mas Bima ini.


Jadi untuk menghadapi orang-orang seperti mereka tak perlu menjadi orang baik. Karena kebaikan yang kita berikan tak akan ada dan kelihatan baiknya.


Yang ada mereka semakin seenak jidat nya kepada kita yang sudah bersikap baik.


"Sekarang kamu bisa keluar dari rumah ku, mas!!," usir ku sambil ku tunjuk pintu keluar yang ada di samping ku ini.


"Kamu nggak boleh seenaknya itu mengusir kamu, Sarah!!, di rumah ini masih ada hak Bima." Sahut ibu nya mas Bima.


"Hak yang mana, Bu?. Coba ibu jelaskan!!," ucapku pada ibu nya mas Bima.


"Kamu membeli rumah ini saat menjadi istri Bima, jadi rumah ini adalah harta bersama!!," begitu detailnya ibunya mas Bima menjelaskan, sudah seperti yang paling tau saja.


"Memang ibu mendapatkan informasi itu dari siapa?. Dari mas Bima?," tanya ku sambil ku tunjuk mas Bima di akhir kalimat ku.


"Coba sekarang kamu jelaskan yang sebenarnya, mas!!!!, jelaskan semua tentang uang yang kamu beri pada ku pada saat kita menikah beberapa bulan ini!!!." kini suara ku agak sedikit lebih tinggi dari biasanya.


Karena manusia-manusia yang ada di depan ku ini sudah berhasil membuat ku emosi tingkat dewa.

__ADS_1


"Kenapa kamu terus memojokkan ku seperti ini, Sarah?!, kamu jangan menjadi istri yang durhaka pada suami." jawab nya, seakan-akan ia lupa kalau dia sudah menjatuhkan talak pada ku. Dengan jatuh nya talak yang ia ucapkan beberapa menit lalu, itu sudah mengesahkan kalau aku sudah bukan istrinya lagi.


"Apa kamu bilang, mas?. Kamu bilang aku istri? Istri siapa???," tanyaku pura-pura tidak mengerti dengan apa yang diucapkan mas Bima.


"Ya, kamu ini masih istri ku!!," bentak mas Bima.


"Kamu ini mimpi atau sedang mabuk sih, mas?!!, bukankah kamu sudah menjatuhkan talak padaku?, jadi dengan jatuhnya talak itu, aku sudah bukan istri mu lagi." lagi-lagi aku menjelaskan pada manusia-manusia yang sulit aku mengerti jalan pikiran nya.


"Tapi kita masih belum resmi bercerai sebelum palu hakim diketuk, Sarah!!!. Kenapa kamu bodoh seperti ini, sih?!!." umpat mas Bima.


"Kamu itu yang bodoh!!!!, katanya pendidikan tinggi tapi tidak mengerti tentang ilmu agama. Kalau talak sudah di jatuhkan pada seorang istri. Waktu itu juga kalian sudah haram untuk berhubungan seperti suami dan istri. Kecuali kamu menikah lagi dengan nya!!," ucap bapak dengan sangat emosi saat mendengar mas Bima mengatakan kalau aku bodoh.


Aku sangat paham dengan apa yang dirasakan bapak dan ibu sekarang. Pasti ia tak terima dengan apa yang dilakukan mas Bima dan keluarga nya padaku.


Orang tua mana yang tak sakit hati nya saat melihat anaknya terus-menerus dihina suami dan keluarga nya.


"Bukan nya aku disini sok pintar, tapi memang kalau mas Bima sudah menjatuhkan talak pada Bu Sarah. Di mata agama mas Bima sudah bukan suami Bu Sarah." lanjut pak RT memberi penjelasan pada mas Bima dan keluarga nya.


"Dan untuk mengenai rumah ini, bagaimana seluk beluknya uang yang di dapat untuk membeli rumah ini?. Biar nanti jelas, rumah ini termasuk harta bersama atau tidak." pak RT mencoba mencari keterangan yang sebenarnya.


Aku sengaja diam, ingin tahu apa Yanga akan di ucapkan mas Bima dan keluarga nya.


"Yang jelas uang untuk membeli rumah ini, ya uang nya Bima. Mana mungkin uang Sarah!!!, logikanya uang sebanyak itu untuk membeli rumah ini, dia dapat darimana??? Dia hanya seorang pelayan toko roti disini, dan dia juga dari keluarga miskin dari kampung!!," hina ibu nya mas Bima dengan sangat lancar.


"Apakah benar yang di katakan ibu, pak Bima?," tanya pak RT pada mas Bima.

__ADS_1


"Hmmm.... Itu..." mas Bima tak meneruskan ucapannya.


"Ayo katakanlah yang sejujurnya, Bima!!. Jangan bikin malu ibu!!." bentak ibunya mas Bima pada mas Bima.


"Ayo lah katakan, mas." tantang ku.


"Iya, rumah ini aku yang membeli nya." ucap mas Bima dengan mata nya tak berani menatap ku. Mas Bima berkata sambil menunduk kepalanya.


Disini sangat terlihat sekali kalau mas Bima berbohong. Karena tatapan mata nya seperti takut untuk menatap ku.


Teruskan saja kamu berbohong, mas. Aku akan mencoba mengikuti permainan mu. Dan tunggu saja balasan dari Allah.


Asal kamu tau, bukan aku yang akan membuat mu malu. Namun omongan dan perilaku mu lah yang akan mempermalukan diri mu sendiri.


"Wah,,, ternyata benar. Rumah ini adalah pak Bima yang membeli nya." terdengar suara bisik-bisik dari pintu yang sedikit terbuka. Saat aku melihat kearah pintu itu, ternyata ada Dewi dan satu tetangga lain yang sedang menguping.


"Gaya nya saja sok, Padahal semua fasilitas yang di pakai milik mas Bima." celetuk Dewi lagi sambil menatapku dengan sinis.


"Pakai acara usir-usir mas Bima segala!!," mulut Dewi terus nyerocos.


"Apa benar yang dikatakan pak Bima, Bu?," tanya pak RT sambil menatap ku.


"Semua yang dikatakan mas Bima tidak benar, pak. Rumah ini asli hasil keringat ku sendiri tanpa ada sepeserpun uang mas Bima disini." aku menyangkal pengakuan dari mas Bima.


"Hey!!!!, kamu jangan terus merendahkan suami mu didepan umum dengan berkata seperti itu, Sarah!!. Kurang apa Bima padamu?!!!, kamu selalu perawatan mahal disalon, beli baju, sepatu dan tas brand import yang terkenal. Uang darimana itu? Kalau bukan uang dari Bima!," ucap ibu sambil memandang ketus kepadaku.

__ADS_1


"Sampai uang jatah bulanan ku pun terpotong gara-gara Bima harus memenuhi semua gaya hidup mu yang sudah seperti orang tajir melintir." lanjut nya.


"Kalau memang mas Bima yang membeli rumah ini, apa buktinya?," tanya ku pada mereka berdua yang saat ini duduk di depan ku ini.


__ADS_2