DERITA SEATAP DENGAN MERTUA

DERITA SEATAP DENGAN MERTUA
Liburan Ke Bali POV Damar


__ADS_3

Hari ini aku pamit ke Sarah kalau aku mau ke luar kota urusan pekerjaan. Padahal aku hari ini pergi liburan bersama Mama, Lidya dan Bianca.


"Memang Sarah itu wanita kampungan dan bodoh, mudah sekali dibohongi," ucapku dalam hati.


Memang sengaja aku berangkat tanpa mama, biar Sarah tak curiga. Mama lebih dulu pergi dari rumah dengan alasan nginap dirumah teman nya. Padahal waktu itu mama di jemput Bianca dirumah dan dibawa ke apartemen nya. Tidak mungkin Bianca membawa mama kerumah nya, karena Bianca masih tinggal dengan kedua orangtuanya.


Pagi ini aku pergi bersama Lidya. Bianca, mama dan satu asisten Bianca sudah menunggu di bandara.


Iya kali ini kita rencana berlibur di Bali, kita menginap di villa milik keluarga Bianca.


Aku lihat wajah mama begitu bahagia, mungkin ini yang di inginkan mama punya menantu yang kaya raya. Biar bisa jalan-jalan sesuka hatinya tanpa bingung masalah uang.


Tujuan ku saat ini hanya ingin membahagiakan mama, karena mama segalanya bagiku. Dan Sarah orang lain yang kebetulan akan menjadi ibu dari anak ku. Bukannya surga ku ada di orang tua ku? dan surga Sarah ada padaku. Jadi mau tak mau Sarah harus patuh padaku untuk mendapatkan surga dari aku.


Akhirnya kita sampai di villa milik Bianca yang begitu mewah. Villa dengan view pantai yang sangat indah. Dan asisten Bianca mengantarkan mama dan Lidya ke kamar nya masing-masing.


Seperti tak ada capeknya, mama dan Lidya sudah tak betah ada dalam villa. Mereka ingin sekali jalan-jalan menikmati indahnya pantai didepan villa.


Tanpa menungguku yang sedang beristirahat, mereka pun langsung keluar untuk jalan-jalan di ikuti asisten pribadi Bianca. Yang memang ditugaskan oleh Bianca untuk menemani mama.


Kulihat mama dari balkon, beliau sangat bahagia bisa jalan-jalan ke Bali. Bianca pun datang dengan membawa wine.


"Lihat mama, Mar. Dia sungguh bahagia kita ajak jalan-jalan." Ucap Bianca sambil menyodorkan segelas wine padaku.


"Iya, sayang. Makasih ya Uda membuat mama ku bahagia." Ku ambil gelas berisi wine, yang Bianca berikan padaku. Ku rangkul pinggang langsingnya dan ku kecup keningnya.


Bianca membalas kecupan di bibir ku, namun saat Bianca mau menarik bibirnya dari bibirku. Ku erat kan pelukan tubuhnya, sehingga bibir kita tetap bertaut.


Aku mulai *****@* bib!rnya yang merah, dan Bianca membalasnya. Dan gejolak hasrat kami berdua pun semakin besar. Kutarik tubuh Bianca masuk dalam ruang tengah, dan ku rebahkan tubuh nya diatas sofa.


Hasrat kami makin tinggi, tiba-tiba handphoneku berdering. Ku abaikan suara handphone ku, karena lagi diatas kenikmatan surga dunia.


Berkali-kali handphone berbunyi, membuatku teramat jengkel.


"Dasar mengganggu saja!!." Ucapku saat ku melihat ternyata Sarah yang menelepon ku. Ku matikan handphone dan ku letakkan diatas meja.

__ADS_1


Ingin sekali segera menuntaskan hasrat yang sedang menggebu-gebu ini.


"Siapa, Mar?," tanya Bianca.


"Hmmm,, tidak ada yang penting," jawabku sambil ******* pucuk gunung indah milik Bianca.


Bianca pun mulai mengerang nikmat, dan langsung mengambil posisi diatas tubuhku.


Cekleeek....


Tiba-tiba suara pintu terbuka, Sinta asisten Bianca masuk.


Dan kami berdua menoleh ke arah pintu secara bersamaan.


"Sinta..!!," ucap Bianca kaget.


"Ma... maafkan Sinta, Bu." ucap Sinta gugup.


Sinta pun langsung keluar dan menutup pintu itu lagi.


Karena hasrat ini belum sampai puncak, aku mulai menghujam Bianca dengan kenikmatan. Ku balik posisi Bianca yang sebelumnya ada diatas sekarang ada dibawah.


Kami berdua lemas seketika, setelah hasrat tersalurkan.


Aku dan Bianca bergegas memakai baju, mengingat ini adalah ruang keluarga. Yang siapapun bisa masuk dengan bebas.


"Harusnya kamu cari sampai ketemu!!!!," suara mama dari luar terdengar sampai dalam rumah, karena sangat keras sekali. Seperti lagi memarahi seseorang.


"Kamu itu, nggak becus sekali!!!, ucapnya lagi dengan membuka pintu. Seperti nya mama sedang memarahi Sinta asisten pribadi Bianca.


"Maafkan aku, Bu." ucap Sinta dengan menundukkan kepalanya.


"Ada apa, ma?," tanya ku pada mama yang terlihat emosi.


"Ini loh, Damar. Asisten Bianca nggak becus banget, tak suruh ambilkan handphone Lidya yang ketinggalan di kamar aja nggak bisa. Katanya nggak ada. Padahal ini handphone nya ada di atas nakas," ucap mama sambil nyelonong ke dalam kamar mengambil handphone Lidya dan menunjukkan pada ku.

__ADS_1


"Maafkan aku Bu, tadi.......," ucap Sinta terpotong.


""Ada apa ini, Mar?," tanya Bianca yang keluar dari dalam kamar. Terlihat dia sudah mandi, karena tercium bau parfum nya yang kalem namun terasa elegan.


"Itu loh, nak Bianca. Asisten kamu nggak becus. Mending kamu pecat aja, nak. Cari yang lebih pinter lagi," rengek ibu sambil memegang tangan Bianca.


"Memang ada apa dengan Sinta, ma?," tanya Bianca pada mama.


"Aku menyuruhnya untuk mengambil handphone Lidya yang ketinggalan dikamar, katanya tidak ada. Padahal handphone itu ada di atas nakas," ucap ibu menjelaskan pada Bianca.


Seketika aku beradu pandang dengan Bianca. Mungkin apa yang ada dipikiran dia sama dengan yang aku pikirkan sekarang. Yaitu karena Sinta memergoki aku dan Bianca sedang bergulat bebas diatas sofa.


"Tapi Bu, aku.....," ucap Sinta tak di teruskan karena Bianca memotong omongan nya.


"Mungkin Sinta memang nggak melihat nya ma, biar nanti Bianca menasehati nya." ucap Bianca memberi pengertian kepada mama.


"Untung ya, kamu punya bos yang baik seperti calon mantu ku ini!!. Tapi ingat kalau kamu bikin kesalahan lagi nggak segan-segan aku menyuruh calon mantuku ini untuk memecat kamu!!!," tunjuk kasar mama kepada Sinta.


"Sinta, kamu bisa istirahat dulu ya dikamar mu. Nanti agak sorean kamu pesan kan kami makanan untuk makan malam," ucap Bianca pada Sinta.


"Iya, Bu." Jawab Sinta dengan tegas. Sinta pun berlalu kekamar nya.


"Lidya mana ma?," tanyaku, karena tak melihat Lidya masuk bersama Mama dan Sinta.


"Dia masih didepan, Mar. Katanya mau menikmati indahnya pantai di Bali ini," jawab mama.


"Mama istirahat dulu ya, Mar?. Capek nih," pamit mama sambil berlalu menuju kamar nya.


Aku dan Bianca saling berpandangan, dan kami saling tersenyum. Mengingat tadi saat kami berdua kepergok Sinta sedang memadu kasih layaknya suami istri.


Aku sudah di mabuk asmara, Bianca sangat pintar mengambil hati ku, mama, dan Lidya.Jujur saat ini, Sarah tak ada di pikiran ku sama sekali.


Aku pun berdiri bergegas kekamar mandi yang ada di kamar utama. Untuk membersihkan tubuh ini yang berpeluh keringat setelah pertempuran sengit bersama Bianca.


💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞

__ADS_1


jangan lupa mampir di karya temen ku juga yagesya



__ADS_2