
Bianca tak memberikan pekerjaan pada Damar, tapi ia akan membantu mengangsur setiap bulan nya. Kini hati Damar mulai tenang.
Lalu mereka membicarakan tentang rencana pernikahan. Dan sudah disepakati pernikahan nya akan dilakukan lusa di rumah Damar. Karena Bianca tak mau anak yang ia kandung itu tak punya bapak.
Dan Bianca menolak melakukan melakukan akad nikah dirumahnya, dia beralasan kalau papa nya tak setuju dengan hubungan nya dengan Damar.
Damar yang mendengar itu pun tak peduli, yang terpenting untuk Damar saat ini adalah ia harus segera menikah dengan Bianca. Agar ia bisa hidup dengan bergelimang harta, tak susah lagi seperti sekarang ini.
Setelah makan mereka akhirnya pulang, Bianca mengantarkan Damar terlebih dahulu. Sekalian akan memberi tahu pada Linda tentang rencana nya untuk menikah minggu depan.
Sedangkan Lidya yang saat ini sedang naik taksi online dengan membawa beberapa berkas untuk lamaran pekerjaan.
Kali ini ia berhenti di depan perusahaan yang cukup besar, namun tak sebesar punya Handoko group.
Lidya berjalan masuk menuju lobi, lalu ia berhenti di petugas resepsionis.
Lidya bertanya tentang lowongan pekerjaan yang ia lihat di situs website. Resepsionis itu membenarkan kalau ada lowongan pekerjaan, lalu Bianca disuruh menyerahkan berkas-berkasnya untuk dikumpulkan.
Lidya dengan cepat memberikan berkas-berkas yang diminta.
Resepsionis memberi tahu, kalau misalkan Lidya diterima akan diberitahukan lewat sms. Dan akan diminta datang kesini untuk review.
Sambil pulang, dalam hati Lidya terus berdoa agar ia diterima bekerja di perusahaan ini.
Lalu Lidya menuju rumah dengan naik taksi online. Sampai dirumah ia melihat mobil Bianca terparkir di halaman depan rumahnya.
"Udah lama, mbak?," sapa Lidya pada Bianca yang duduk disofa bersama dengan mama nya.
Lidya pun ikut duduk disofa yang berhadapan dengan mereka. Lalu ia menaruh tas nya diatas meja.
"Barusan datang kok, Lid. Kamu darimana?," tanya Bianca pada Lidya yang terlihat pucat, mungkin Lidya saat ini sedang kelelahan.
"Dari ngelamar kerja, mbak. Kali aja ada perusahaan yang mau Nerima aku." Jawab Lidya sambil mengusap keringat di dahinya. Nafas Lidya terlihat agak tersengal-sengal.
"Kamu yakin mau kerja dengan keadaan mu yang masih belum seratus persen pulih?, lihat tuh wajah mu pucat sekali." Bianca menunjuk wajah Lidya yang sangat pucat dengan keringat dingin yang keluar.
"Bagaimana lagi, mbak?, keadaan yang menuntut ku seperti ini." Lidya menjawab dengan melirik kearah Linda.
""Oya, Bianca kesini memberi kabar, kalau dia dan Damar lusa ini akan menikah." Linda mengalihkan pembicaraan Lidya dan Bianca. Karena ia tahu akan disalahkan dengan masalah itu.
"Ya syukurlah kalau begitu, jadi ada yang membantu memikirkan masalah ekonomi keluarga kita." ucap Lidya sambil berdiri dan berjalan menuju kamar nya.
Linda yang mendengar ucapan Lidya, sangat kebingungan. Linda takut Bianca akan menggagalkan pernikahannya dengan Damar karena tau permasalahan ekonominya.
Sedangkan Bianca yang mendengar hal itu, hanya tersenyum pahit. Karena sebenarnya ia sudah tau dari cerita Damar.
"Maafkan ucapan Lidya ya, Bi?! Mungkin dia lagi badmood, jadi omonganya sekenanya." ucap Linda mencoba memberi pengertian pada Bianca.
"Nggak apa-apa kok, ma." ucap Bianca dengan tersenyum kepada Linda.
Damar keluar dari kamar nya setelah berganti pakaian, lalu ia duduk disamping Bianca.
"Mar....," panggil Bianca.
"Hmmm....," jawab Damar tanpa menoleh kearah Bianca. Damar sedang asyik memainkan handphone nya.
"Aku pingin bolu cokelat," rengek Bianca dengan menyandarkan kepalanya di lengan Damar.
"Bolu cokelat?,".
Damar menoleh kearah Bianca, seketika ia teringat pada Sarah. Karena bolu cokelat buatan Sarah sangat enak.
"Kok kamu bengong menatap ku?," tanya Bianca heran melihat Damar yang langsung bengong saat Bianca sebut bolu cokelat.
"Oh... enggak kok. Aku nggak bengong. Ayo kita beli!!," Damar mengajak Bianca sambil memegang tangan nya.
"Tapi aku malas keluar....," Bianca merengek manja dan bergelayut di tangan Damar.
"Trus bagaimana?," Damar dibuat bingung oleh Bianca.
"Apa kita beli pakai ojek?," tanya Damar.
"Ya Uda deh, kita berangkat aja." kini Bianca semangat untuk membeli bolu cokelat yang ia idamkan saat ini.
__ADS_1
Mereka berdua keluar dari rumah, dan masuk mobil. Damar mengemudikan mobil itu dengan sangat hati-hati. Ia tak mau terjadi apa-apa pada calon istri dan calon bayi nya.
Mereka tak menyadari kalau dibelakang mobilnya ada mobil yang sedang mengintai nya.
Iya, dia adalah detektif yang sudah dibayar oleh pak Handoko untuk mengikuti dan mencari tau tentang Bianca diluar rumah.
Detektif itu terus mengikuti mobil Bianca, dan ternyata mobil mereka berhenti didepan toko roti SKcake.
Bianca dan Damar masuk ke toko roti milik Sarah. Kali ini di depan tak ada Sarah. Damar mencari dengan mengedarkan pandangannya.
"Kamu sedang mencari, Sarah?." Bianca menyadari tingkah Damar yang seperti mencari sesuatu.
"Enggak kok," jawab Damar yang salah tingkah saat gerakannya di ketahui oleh Bianca.
Damar pun langsung menghentikan pencarian nya. Lalu Reni yang melihat itu, hanya menatap sinis pada mereka berdua.
Tak mau ketinggalan momen, detektif itu juga mengikuti mereka masuk ke dalam toko roti. Ia berpura-pura menjadi customer yang membeli beberapa potong roti. Detektif itu merekam kemesraan Bianca dan Damar.
"Lumayan nih, untuk menambah barang bukti," gumam nya dalam hati.
Lalu mereka berdua akhirnya kembali pulang setelah membayar roti yang sudah mereka beli.
Malam ini Sarah diundang Randy untuk makan malam dirumahnya. Randy ingin mengenalkan Sarah pada Tante nya yang baru datang dari Inggris.
Randy disini sebatang kara, ia ditinggal oleh papa dan mama nya saat ia masih kecil. Kedua orang tua nya mati karena kecelakaan saat mau menjemput nya sekolah.
Jadi om dan tantenya ini sudah dianggap sebagai orang tua nya Randy. Randy ingin sekali mengenalkan Sarah pada mereka. Karena Sarah adalah orang spesial buat Randy. Namun kali ini Tante nya hanya datang seorang diri tanpa suaminya.
Sedangkan kedatangan tantenya Randy kesini, selain ingin menjenguk ponakan satu-satunya yang tinggal sendiri di Indonesia.
Dia juga ingin tau tentang perempuan yang selalu diceritakan oleh Rama.
Rama selalu bercerita tentang Sarah kepada mama nya, sehingga mama nya Rama sangat penasaran dengan wanita yang berhasil meluluhkan hati anak nya.
Karena Rama tipe lelaki yang sulit untuk jatuh cinta, apalagi dia pernah patah hati saat menembak teman sekolah nya waktu SMA dulu. Gara-gara itu, Rama sampai saat ini tak pernah lagi jatuh cinta.
Itu yang membuat mama Rama sangat penasaran dengan Sarah, lalu mama Rama memutuskan untuk terbang ke Indonesia sendiri tanpa suaminya. Karena suaminya saat ini sedang sibuk.
Kali ini Randy tidak pergi ke cafe, karena ia ingin menyiapkan diri untuk bertemu Sarah, perempuan yang mengisi hatinya saat ini.
"Nanti jam tujuh malam, tante." Jawab Randy sambil melihat arlojinya.
"Sekarang masih jam empat, Tante masih punya waktu untuk pergi sebentar saja." ucap Natasya.
"Tante mau kemana?,"tanya Randy penasaran.
"Mau menyelidiki seseorang," bisik Natasya pada Randy, karena tak mau suaminya tau tentang perempuan yang sudah di taksir anaknya itu. Sebelum ia tau pasti tentang bibir beber dan bobotnya perempuan yang dimaksud anaknya.
"Maksud Tante?," Randy sangat penasaran dengan ucapan tantenya itu, ia pulang ke Indonesia hanya untuk menyelidiki seseorang. Randy makin dibuat penasaran.
"Ini masih misi rahasia, Ran. Tante nggak mau bocorin dulu." ucap Natasya pada Randy sangat serius.
"Masa sih sama ponakan sendiri main rahasia-rahasiaan." Randy mencoba merayu Tantenya itu untuk terbuka padanya.
"Jangankan kamu, om kamu aja nggak tau kok tentang misi Tante ini," jawab Natasya ketus. Lalu Natasya masuk kekamar tamu yang disediakan untuknya selama ia ada di Indonesia.
Tantenya Randy ini orang yang sedikit tak ramah, kepada orang yang baru ia kenal. Siapapun yang melihatnya pertama kali, pasti wajah judes yang akan ia tampilkan.
Namun kalau dia sudah kenal dan cocok dengan nya, ia akan sayang seperti kepada anaknya sendiri. Ia tak mudah Wellcome kepada semua orang.
"Tante pinjam mobil kamu ya, Ran. Mana kuncinya?," tanya Natasya pada Randy saat keluar dari kamar.
"Tante yakin keluar sendiri tanpa aku?," Randy takut Tante nya itu akan tersesat di sini. Karena ia sudah sangat lama berasa di Inggris.
"Kamu meragukan Tante?," Natasya sangat tidak suka kalau disepelekan. Ia menengadahkan tangan nya meminta kunci mobil Randy.
Randy pun tanpa banyak pertanyaan lagi memberikan kunci mobil nya.
Natasya bergegas pergi ke alamat toko roti milik Sarah. Rama tak pernah memberitahu alamat toko roti Sarah. Ia hanya memberi tahu nama toko nya saja. Bukan Natasya namanya kalau dia tidak bisa menemukan nya.
Walau sudah lama hidup di Inggris, Natasya masih hafal betul wilayah kota kelahiran nya itu.
Ia bukan perempuan gaptek, dengan lancar ia membuka google map untuk mencari tempat yang dimaksud oleh Rama.
__ADS_1
Hanya butuh beberapa menit dari rumah Randy, walau sempat ada sedikit drama tersesat masuk kedalam gang buntu.
Akhirnya Natasya sampai didepan toko roti milik Sarah.
"Iya, ini dia SKcake namanya," Natasya berbicara dengan dirinya sendiri sambil menunjuk neon box yang tergantung di depan toko roti itu.
Natasya masuk dengan gaya wanita sosialita seperti umumnya. Ia berjalan menggunakan heels dan menenteng tas kremes dan berkacamata hitam. Rambut pendek yang di curly. Serta memakai gaun pres body dengan panjang selutut. Betis putih nya pun terlihat jelas.
"Selamat datang ibu, ibu mau kue apa? silahkan dipilih..," kali ini Mita yang melayani Natasya.
"Apa benar ini toko kue milik Sarah?," tanya Natasya dengan menaruh tas kremes nya diatas etalase kue yang terbuat dari kaca. Ia juga mengedarkan pandangan nya keseluruh ruangan. Dengan tujuan ingin mencari yang bernama Sarah. Tak lupa kacamata hitam nya ia angkat keatas kepala nya.
Namun terlihat yang berada disini adalah karyawan nya. Karena baju yang mereka pakai sama semua.
"Iya, Bu. Ada yang bisa kami bantu?." tanya Mita dengan sopan.
"Sebenarnya sih aku kesini ingin bertemu dengan Sarah, apa dia ada?," tanya Natasya sangat penasaran.
"Kebetulan owner kami sedang keluar, Bu. Jadi mohon maaf kalo saat ini masih belum bisa ketemu dengan Bu Sarah." jawab Mita.
Kali ini Sarah sedang keluar, ada keperluan yang harus ia beli.
"Yah, gagal ketemu deh!," ucap Natasya dengan wajah kecewa.
"Kalau gitu aku beli kue ini tiga, ini lima, trus ini lima sepertinya enak, sama ini juga lima, tambah ini tiga saja, dan yang ini lima." Natasya menunjuk-nunjuk kue sesuka hati.
"O... tunggu-tunggu, nambah yang ini empat ya. Berapa semua totalnya?," Natasya seperti dimanjakan mata nya melihat aneka kue yang ada didepan matanya itu.
"Bentuk kue nya sih cantik-cantik, Semoga saja rasa kue nya juga enak." Gumamnya lirih namun tetap didengar oleh Mita yang saat ini sedang melayani nya.
Mita yang mendengar itu tersenyum kecil. Namun ia tak berani membantah nya. Biar Natasya merasakan nya sendiri nanti.
"Bayar di kasir ya Bu," ucap Mita sambil menunjuk arah meja kasir.
"Ok." Jawab Natasya singkat, ia langsung mengangkat kembali tas kremes yang terbuat dari kulit buaya. Lalu ia menenteng tas kremes warna hijau itu lagi di tangan nya.
Setelah ditotal, Natasya mengeluarkan tiga lembar uang seratus ribuan. Dan langsung ia berikan kepada karyawan yang sedang duduk dimeja kasir.
"Kembalian nya buat kamu saja." Natasya berlalu setelah mengambil kotak yang sudah berisi bermacam-macam kue yang ia pilih tadi.
Ia kembali memasang kacamata hitamnya dan menuju mobil Randy yang terparkir di sebrang jalan.
Saat Natasya berjalan menuju trotoar jalan, Sarah baru turun dari mobil. Kean yang berjalan sambil menggandeng Kean.
Tiba-tiba Kean lepas dari genggaman tangan Sarah. Ia yang masih belajar berjalan, langsung berlari.
"Brakkk!!
Kean menabrak Natasya, ia terjatuh dan langsung menangis.
Sarah yang melihat itu, langsung berlari kearah anaknya.
"Maafkan anak saya, Bu." Ucap Sarah sambil membungkukkan badannya lalu mengangkat Kean yang terjatuh.
"Tapi kamu tidak apa-apa kan sayang?," tanya Natasya pada Kean sambil memeriksa kaki Kean. Natasya sangat suka dengan anak kecil, apalagi melihat Kean yang lucu dan ganteng.
"Lain kali kamu harus hati-hati menjaga anak!!, untung saja dia tidak apa-apa!," Natasya menasehati Sarah. Sarah yang saat ini sama-sama memakai kacamata hitam tidak begitu jelas dengan wajah Natasya. Begitu juga dengan Natasya.
Sarah pun berpamitan untuk masuk, setelah sekali lagi ia meminta maaf atas keteledoran nya.
Natasya pun melanjutkan langkahnya menuju mobil nya. Dia berjalan sambil mengangkat dagu nya.
Sarah pun berlalu masuk kedalam ruko dengan menggendong Kean yang sudah tenang dan berhenti menangis.
"Tali ada yang mencari ibu." ucap Mita pada Sarah saat Sarah menutup pintu masuk kedalam toko.
"Siapa, Mit?," tanya Sarah dengan membuka kacamata hitamnya.
"Mita nggak tau Bu, yang jelas ia seperti orang kaya bak sosialita." ucap Mita sambil meniru gayanya.
Secara bersamaan semua orang yang ada disitu tertawa melihat tingkah Mita yang menirukan gaya Natasya tadi. Sarah pun geli melihatnya.
"Kamu ini ada-ada saja, mit!," Sarah berlalu sambil tersenyum melihat tingkah Mita yang konyol.
__ADS_1