
"Lihat nih, gaun ini sangat cocok di tubuhku," Lidya keluar dengan memakai gaun milik Mayang sambil memutar kan badan nya.
Lidya keluar dari ruang ganti bersamaan dengan Celvin baru datang dan langsung menghampiri Mayang yang sedang berdiri bersama karyawan butik.
Celvin pun terkejut dengan kelakuan Lidya, saat Lidya keluar dari ruang ganti dengan memakai gaun milik Mayang.
"Lidya!!!!!," Celvin memanggil Lidya dengan tatapan geram.
"Lihat nak Celvin, Lidya lebih pantas memakai gaun itu dibanding dia." Ucap Linda dengan mencincing kan bibirnya ke arah Mayang.
"Maaf, Bu. Kelakuan kalian ini sudah melebihi batas dan tidak punya etika." Ucap Celvin geram.
"Sekarang copot baju itu!!!," ucap Celvin.
" Ma..... aku suka sama gaun ini," rengek Lidya manja kepada Linda.
Calvin dan Mayang saling berpandangan, dan keluar ide dari Mayang untuk memberi pelajaran pada kedua perempuan yang tak punya malu itu.
"Oke, Lid. Kalau kamu mau, kamu bisa mengambilnya. Aku ikhlas kok," ucap Mayang.
"Tapi May, bukan nya itu gaun impian mu?," tanya Celvin bingung dengan sikap Mayang yang mau menyerahkan begitu saja gaun yang sudah didesain secara khusus untuk nya.
"Nggak papa Vin. Lidya lebih cocok kok makai nya." Jawab Mayang sambil melihat dan menunjuk Lidya.
"Itu kan Vin, Mayang aja ikhlas memberikan gaun ini pada ku." ucap Lidya dengan sikap sok manja nya.
"Aku sih terserah Mayang saja, pokoknya yang terbaik aja buat May," ucap Celvin pasrah dengan keputusan Mayang.
"Oke kalau begitu, ayo kita pulang Vin." Ajak Mayang pada Celvin yang sedang berdiri disampingnya.
"Itu baju nya di bungkus buat ibu Lidya saja ya, mbak." ucap Mayang pada karyawan butik.
"OOO baik Bu." Jawab karyawan butik itu.
Celvin dan Mayang membalikkan tubuhnya dan mau melangkah kearah pintu keluar
"Tunggu-tunggu...," panggil Lidya dengan sedikit teriak.
Celvin dan Mayang serentak menoleh pada Lidya.
"Tapi ini sudah di bayar kan?," tanya Lidya lagi dengan menunjuk gaun yang iya pakai itu.
Serentak mereka berdua menggeleng kan kepala.
"Trus siapa yang bayar dong?," tanya Lidya.
"Bukannya kamu yang memakai? bukannya kamu yang membeli? ya berarti kamu yang bayar." ucap Celvin dan langsung menarik tangan Mayang untuk segera pergi.
Dan Mayang tersenyum geli melihat ekspresi Lidya yang wajahnya merah bak kepiting rebus karena malu.
Akhirnya Celvin mengerti kalau itu sudah direncanakan oleh Mayang yang akan menjadi tunangan nya itu.
Celvin dan Mayang pergi dari butik itu, untuk jalan-jalan memutari mall besar itu.
Masalah gaun tak perlu terlalu dipikirkan, karena bisa sewaktu-waktu dipesan lagi.
Sedangkan Lidya dan Linda kebingungan didalam butik.
"Maaf Bu, ibu bisa menyelesaikan pembayaran gaun nya itu di kasir hari ini," ucap salah satu karyawan butik itu.
Sudah kepalang malu dengan berat hati mereka berdua berjalan menuju kasir yang ditunjuk oleh karyawan butik.
Setelah sampai kasir, Lidya menyodorkan gaun yang sudah dilepas dari tubuh nya.
"Tiga puluh lima juta, ibu." Ucap kasir setelah melihat harga di laptop. Dan langsung membungkus dengan bungkus yang sangat elegan.
"Haah?!"
"Tiga puluh lima juta?," ucap mereka berdua serentak.
"Iya, Bu. mau cash apa debit?," tanya kasir itu lagi.
__ADS_1
"Mama........", rengek Lidya.
Linda pun ikut bingung, karena dikira gaun itu sudah di bayar di muka oleh Celvin. Tapi ternyata belum ada pembayaran sama sekali.
"Maaf, ya mbak, aku nggak jadi ambil gaun ini. Karena aku nggak begitu suka sama warnanya dan rasa nya juga sedikit kekecilan di tubuh ku," ucap Lidya beralasan untuk tak membeli baju itu.
"Maaf, Bu. Tidak bisa seperti itu, karena gaun ini sudah dipesan."
"Gaun itu bukan aku yang memesannya!!!, tapi perempuan tadi. Jadi dialah yang harus membayar!!" Lidya emosi karena malu, Lidya tak ada uang untuk membayar nya.
"Bukankah ibu tadi yang memaksa untuk mengambil nya?," ucap kasir itu lagi.
"Iya aku mau ambil itu, tapi aku tak mau kalau disuruh bayar!!!!," teriak Lidya.
"Dasar orang aneh," gumam kasirnya.
"Apa kamu bilang?! Kamu bilang kamu orang aneh?!!," Linda yang mendengar ucapan kasir itu, sangat marah.
"Kamu kira aku orang miskin? kamu kira aku tak mampu membayar gaun jelek seperti ini?! Asal kamu tau, anak ku itu banyak uangnya dan calon mantu ku juga orang kaya raya. Ingat ya, jangan sekali-kali kamu menghina aku dan anak ku ini," ucap Linda marah sambil tangan kirinya berkacak pinggang dan tangan kanan nya menunjuk-nunjuk.
"Kalau memang ibu, punya banyak uang. Ya dibayar donk. Tidak usah marah-marah, atau bisa di selesaikan dengan pihak yang berwajib." ucap kasir itu.
Linda dan Lidya paling takut berurusan dengan polisi, namun memang saat ini tak ada uang sama sekali di dompet ataupun di rekening nya.
Akhirnya Linda terpaksa menghubungi Damar yang sedang bekerja.
"Halo ma?," telepon pun diangkat oleh Damar.
"Mar, kirimi uang mama. Lidya pingin gaun yang ada di butik ini," jawab Linda.
"oke ma. Berapa?," tanya Damar dengan santai nya.
"Cuma tiga puluh lima juta, mar." Jawab Linda dengan enteng nya.
"Hah? cuma tiga puluh lima juta kata mama?. Tiga puluh lima juta itu banyak ma, kalau hanya untuk membeli baju. Susah ma cari Tiga puluh lima juta itu." Damar terkejut dengan nominal yang disebut oleh Linda.
"Sekarang kamu perhitungan ya sama mama!! tiga puluh lima juta itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan pengorbanan mama melahirkan mu dan membesarkan mu, Damar!!! Kamu mau terjadi apa-apa pada kami kalau kamu tak memberi uang tiga puluh lima juta itu?!," cerocos Linda panjang lebar berisi pengancaman pada Damar.
Akhirnya Damar mentransfer uang tiga puluh lima juta itu kerekening Linda. Damar tak abis pikir, kenapa mama nya dan Lidya senang sekali menghambur-hamburkan uang.
"Sekarang aku bayar lunas gaun itu!!!," ucap Linda pada Kasir butik.
"Baik, Bu," ucap kasir itu dengan tersenyum ramah.
Setelah selesai mentransfer uang untuk membayar gaun itu, kini Lidya dan Linda berjalan keluar dari butik dengan menenteng paperbag besar berisi gaun tunangan yang seharusnya di pakai Mayang.
Saat memutari mall Linda dan Lidya melihat Celvin sedang makan di restoran Jepang bersama Mayang. Lidya langsung mendatangi Celvin yang sedang makan sushi dan beberapa hidangan ala Jepang lainnya yang terhidang menggiurkan diatas meja yang terbuat dari papan kayu ala-ala Jepang.
"Hai Vin, kita ketemu lagi," Lidya berdiri disamping Celvin.
Namun tak ada jawaban apa-apa dari Celvin, ia hanya menoleh kearah Lidya saja.
"Makasih ya gaunnya, aku suka banget dengan desain ini," ucap Lidya lagi seperti tak punya urat malu.
Sedangkan Mayang yang sedang duduk berhadapan dengan Celvin hanya menatap wajah Celvin dan tersenyum geli melihat tingkah laku Lidya.
"Oh ya Lid, kamu datang ya di acara tunangan kami," tiba-tiba Celvin berucap sambil menyodorkan selembar undangan yang memang sudah disiapkan untuk Lidya. Celvin mengundang Lidya bertujuan agar Lidya tau diri dan tak mengharapkan nya lagi.
"Apa ini, Vin?," tanya Lidya sambil menerima kertas undangan yang berwarna pink.
"Baca aja," ucap Celvin. Kebetulan makanan yang terhidang di meja sudah habis, Celvin dan Mayang pun segera berdiri dan beranjak pergi meninggalkan Lidya yang masih mematung melihat kertas undangan itu.
Mayang hanya tersenyum melihat kelakuan Lidya.
Saat berjalan didepan outlet roti milik Sarah, Mayang pun penasaran. Akhirnya mereka berdua masuk kesana, untuk mencoba membeli beberapa kue.
Tapi saat itu Sarah tak ada lagi di outlet karena sudah waktunya pulang.
Mereka pun membawa kue itu untuk di makan didalam mobil, kali ini Mayang dan Celvin berada satu mobil. Karena mobil yang satunya sudah dibawah pulang oleh supirnya.
******
__ADS_1
Sebelum Damar pulang, Linda dan Lidya pulang terlebih dahulu. Agar tak ada omelan dari Damar.
Mereka berdua duduk santai di ruang keluarga, mereka membahas tentang kehamilan Lidya saat ini.
Linda dan Lidya sepakat untuk menggugurkan kandungan itu, namun rencana itu didengar oleh Damar. Yang baru saja masuk kedalam rumah.
"Jangan pernah menggugurkan bayi yang tak berdosa itu, ma!!," ucap Damar melarang rencana mamanya dan Lidya.
"Tapi tak ada jalan lain, mar. Siapa yang akan menikahi Lidya??," Linda berucap tegas, seakan-akan keputusan nya itu sudah benar.
"Sekarang kita minta pak Anton lagi untuk bertanggung jawab atas kehamilan Lidya. Karena uang yang ia beri ternyata uang hasil menggelapkan uang perusahaan." Damar mendapatkan ide baru didalam otak nya saat ini.
Linda dan Lidya pun menyetujui apa yang dikatakan oleh Damar saat ini.
Dan malam ini mereka berniat untuk pergi kerumah pak Anton, yang tak lain adalah rumah Bu Rina atasan Damar saat ini dikantor nya.
Sesampainya didepan rumah pak Anton. Damar memencet bel yang berada di depan pintu garasi. Lalu keluarlah perempuan paruh baya yang saat pertama kali kesini ia juga membukakan pintu. Sepertinya ia memang asisten rumah tangga dirumah pak Anton.
"Cari siap," tanya perempuan itu berdiri ditengah pintu.
"Cari majikan kamu lah!," ucap Linda asal ngomong.
"Bapak atau ibu?," tanya perempuan itu lagi tanpa mempersilahkan mereka masuk.
"Kalau mencari ibu, ibu tidak ada." wanita itu seperti malas berbicara dengan Linda dan Lidya yang memang tak punya sopan santun itu.
"Saya mencari pak Anton," ucap Damar dengan nada Sopan.
"Sebentar," brokkk...suara pintu ditutup oleh perempuan itu. Dan membiarkan Linda, Damar dan Lidya diluar pintu.
"Dasar pembantu kurang ajar!!!," hardik Linda.
"Lihat saja kalau aku sudah menjadi mertua Anton bakal aku pecat dia!!!," lanjut Linda bicara dengan percaya diri yang tinggi.
Lalu lelaki gendut dan berkumis yang mereka cari pun keluar dan membuka pintu.
"Kalian?! ada apalagi kalian kesini?!," tanya Anton Dengan rasa khawatir sambil menoleh kearah kanan dan kiri.
"Lebih baik kalian pergi dari sini!!! Jangan membuat hidup ku makin kacau!!, Karena sekarang rumah tangga ku sudah baik-baik saja," ucap Anton yang masih terlihat ketakutan. Takut ketahuan Reni yang saat ini keluar dengan putrinya yang baru saja pulang dari Singapura.
"Enak saja kamu hidup bahagia dengan keluarga mu, sementara aku disini hamil anak mu, pak. Sekarang aku minta pertanggung jawaban mu. Nikah i aku sekarang juga atau aku akan membuat keluarga mu hancur dan reputasi mu dan istri mu juga hancur!," ancam Lidya pada Anton.
"Bukannya aku sudah membayar, mu? Jadi aku bebas dong dengan dirimu." ucap Anton tak mau kalah.
"Tapi uang yang kamu beri sudah diambil oleh istri mu lagi, pak. Karena uang yang kamu beri padaku adalah uang hasil kamu korupsi. Pokoknya aku nggak mau tau kamu harus nikah i aku atau aku akan teriak sekarang juga," ancam Lidya.
Anton pun takut dengan ancaman wanita bar bar itu. Akhirnya ia akan berjanji datang kerumah Lidya untuk membicarakan hal ini lebih lanjut. Dan sekarang Anton membujuk Damar, Linda dan Lidya untuk pulang. Karena sebentar lagi Rina dan anak nya akan datang. Karena jam menunjukkan sudah malam.
Mereka pun akhirnya pulang dengan syarat Anton membuktikan ucapannya itu untuk datang kerumahnya dan membicarakan masalah ini.
Anton bernafas lega, saat tiga orang pembuat gaduh itu pulang. Dan tak lama kemudian Rina dan Diana anak nya pun datang dari jalan-jalan.
Damar akhirnya bernafas lega karena ada itikad baik dari mantan atasan nya itu untuk menikahi adik perempuan satu-satunya.
Lidya pun akhirnya beristirahat dengan tenang malam ini, setelah seharian sudah menjadi wanita bar bar.
Damar yang masih duduk di sofa ruang tamu sambil menghisap rokok ditemani secangkir kopi itu masih tak bisa tidur. Karena ia masih terbayang-bayang wajah Sarah yang waktu itu ia temui sedang bersama Randy teman kuliahnya dulu.
"Sarah sekarang sudah berubah, ia terlihat seperti wanita berkelas dengan dandanan yang sederhana," ucap Damar pelan lalu ia menyeruput kopi hitam nya.
Setelah ia meminumnya dan menaruh cangkir itu kembali ke atas meja, tiba-tiba pandangan Damar tertuju pada amplop yang berwarna coklat yang berada di bawah tempat puntung rokok.
Lali Damar mengambil dan membukanya. Saat ia membacanya, Damar langsung kaget dengan isi surat itu. Yang ternyata itu adalah surat tagihan dari bank yang sudah nunggak tiga bulan belum dibayar.
"Hutang apalagi ini?," ucap Damar
Lalu ia mencermati dari isi surat itu, dan ternyata surat itu ditujukan untuk Linda mama nya. Yang telah menggadaikan sertifikat rumah nya ke bank dengan nominal yang tak sedikit.
"Apalagi ini, ma?!," ucap Damar sendiri sambil mengusap kepala dar depan kebelakang.
"Satu masalah belum selesai sekarang muncul masalah lagi, dengan apa aku membayarnya. Sedangkan tabungan ku sudah menipis." ucap Damar frustasi.
__ADS_1
Damar pun menyimpan surat itu, besok ia akan meminta penjelasan nya pada Linda.
Lalu ia pergi ke kamar untuk beristirahat. Walaupun Damar sendiri tak yakin kalau malam ini bisa tidur nyenyak karena masalah baru ini.