DERITA SEATAP DENGAN MERTUA

DERITA SEATAP DENGAN MERTUA
Karma Instan


__ADS_3

"Kamu yakin itu anak mu, Mar?!!," tanya mama Linda dengan nada sangat tinggi sambil menunjuk perut Bianca.


"Pelan kan suara mu ma!! Malu di dengar tetangga!!," ucap mas Damar dengan pelan namun penuh penekanan. Kali ini terlihat dan terdengar jelas mas Damar sangat membela Bianca.


Dan diseberang jalan kompleks sudah banyak para tetangga yang keluar dan berdiri di tepi jalan. Tak sedikit yang terlihat saling bisik-bisik.


Namun tak ada satu pun dari mereka yang melerai keributan di depan rumah mas Damar.


Kejadian didepan matanya itu, seakan-akan menjadi tontonan gratis bagi para warga penghuni kompleks perumahan elit itu.


"Mama yang malu punya menantu seperti dia, Mar!!!, Apa kata tetangga kalau ternyata menantu yang aku banggakan dulu ternyata istri orang yaitu Handoko, lelaki yang pernah dekat dengan mama dulu waktu SMA!!! Dengan bicara sangat lancar dia bilang pewaris tunggal kekayaan orang tuanya. Namun apa? Ternyata yang ia gunakan untuk berfoya-foya adalah harta Handoko!!!!, Dan kali ini ia sudah di depak oleh Handoko karena ketahuan menikah dengan mu!!," Mama Linda berteriak sampai terlihat urat nadi dilehernya.


Para tetangga semakin menikmati tontonan yang ada di depan matanya.


"Benarkah yang dikatakan mama, Bi?," tanya mas Damar pada Bianca yang terus saja menangis.


"Aku akan menjelaskan semua nya padamu, Mar. Aku melakukan ini karena punya alasan." Jawab Bianca melakukan pembelaan.


Menurutku, walau dengan alasan apapun Bianca tetap bersalah. Karena sudah berselingkuh dari suaminya dan merusak rumah tangga orang lain.


"Aku sudah tidak butuh penjelasan dan alasan mu, perempuan ******!!!!, Sekarang kamu pergi dari sini!!!," mama Linda terlihat sangat emosi.


Dengan pengusiran Bianca, teringat malam itu waktu aku dan Kean diusir dari rumah ini. Untung saja waktu itu ada ruko yang dulu masih aku sewa. Jadi aku dan Kean tak perlu tidur di trotoar jalan.


"Mampus kamu!!!," ucap Lidya, terlihat sekali diwajahnya kalau dia ada dendam yang ter kesumat pada Bianca.


"Sint, yuk kita pergi dari sini!," ajak ku, karena aku tak sanggup melihat ini semua.


Melihat adegan yang ada di depan mata ini, seakan memutar kembali ingatan ku saat aku masih tinggal di sana.


Aku tak mau hati ini terluka lagi, dengan munculnya rekaman-rekaman yang terputar lagi di benak ku. Karena aku dan Kean juga berhak bahagia.


"Bentar Sarah, nanggung nih." ucap Sinta yang tak berpaling sedikit pun dari tontonan yang ada didepan matanya.


"Tapi Sint, aku..." tak ku lanjutkan ucapan ku, karena hati ini terasa begitu sesak.


"Sarah, kamu kenapa? kamu tak tega dengan apa yang kamu lihat sekarang?, Kamu harus ingat ini balasan untuk mereka yang sudah menyia-nyiakan kamu dulu. Dan satu lagi, kamu harusnya senang. Tanpa harus menunggu lama karma itu akhirnya datang dan kamu bisa melihat nya secara langsung." Ucap Sinta, yang sedikit banyak ada benarnya.


Namun itu sangat berbanding terbalik dengan hati kecil ku.


"Aku tau, mungkin ucapan ku tadi terlalu sadis menurut mu. Tapi, ayolah kamu berfikir yang realistis. Kamu ingat kan perlakuan mereka padamu dulu? Aku aja yang hanya mendengar dari cerita mu, sudah gemes sama spesies seperti mantan mama mertua mu dan keluarganya."


Aku pun diam saat Sinta bicara dengan fakta, dan akhirnya aku ikuti kemauan Sinta untuk terus stay di sini.


"Sabar ya mbak," Mayang terus menguat kan hati ku dengan mengelus pundak ku.


"Hey, kalian!!! ngapain kalian berdiri disitu?! Pulang sana!! kalian kira ini tontonan?!," kali ini mantan mama mertua mengusir para tetangga kompleks yang sedang berdiri di tepi jalan.


"Kalau mau tidak ditonton ya selesaikan didalam rumah donk. Jadi jangan salahkan kita yang berdiri disini." ucap satu ibu yang memakai daster batik warna coklat.


"Kita selesaikan ini didalam saja yuk, ma." terdengar suara mas Damar sangat pelan.


Lalu ia menuntun tangan mama Linda berjalan masuk kedalam rumah dan di ikuti dari belakang oleh Bianca.


Lidya pun berjalan dengan cepat sehingga mendahului Bianca dan mas Damar.


Pintu gerbang pagar pun ditutup, dan kini pintu rumah juga ditutup.


Kumpulan warga komplek perumahan pun ikut bubar, dengan suara menggerutu.


Tak sedikit terdengar ada yang mensyukuri apa yang terjadi kepada mama Linda karena kesombongan nya.


Ada dua ibu-ibu yang pernah aku lihat waktu di acara akad nikah Lidya yang gagal, mereka berdua masih tetap berdiri ditempat yang sama.


"Hmm syukurin, abisnya jadi orang sombong dan belagu banget. Baru saja punya menantu kaya eh ternyata istri orang," ucap salah satu ibu yang memakai kacamata. Lalu mereka berdua tertawa bersama.


"Dulu, mau punya menantu kaya juga gagal. Karena ternyata suami orang hahahaha," sahut ibu yang satunya. Kembali mereka berdua menertawakan keluarga mas Damar.


Kami tak beranjak dulu dari tempat ini, karena masih ada dua orang tetangga yang masih asyik membicarakan kejadian tadi dirumah mas Damar.

__ADS_1


Karena tak enak saja, kalau tiba-tiba mobil ini berjalan, mungkin sangkaan mereka mobil ini kosong tak ada orang nya didalam.


Sinta dan Mayang pun ikut tertawa saat mendengar ucapan dua orang ibu-ibu yang julid itu.


Menurut ku bukan julid ya...


Mungkin mereka sakit hati dengan sikap mantan mama mertua atau bisa jadi sikap mantan mama mertua tidak pernah baik sama tetangga dekat.


"Kasian si Sarah dulu ya, menantu dijadikan seperti babu!!. Hmm sekarang baru tau rasa mereka, mungkin saja itu semua karma atas perlakuan mereka pada Sarah dulu." ucap ibu yang memakai kacamata itu, ya itu ibu Ida namanya. Aku kenal dengan beliau, karena sering belanja bareng di tukang sayur yang biasa mangkal di ujung kompleks.


"Eh,,, bukan nya sekarang si Sarah hidupnya sudah enak, ya?, Dia kan pemilik toko roti yang besar itu. Dia juga buka cabang di mall terbesar dikota ini." jawab ibu yang satunya. Ibu yang memakai daster batik berwarna cokelat.


"Oh...ya? kamu tau darimana?," tanya ibu Ida.


"Lah kamu ketinggalan berita jeng, bukan nya tadi pagi ada konferensi pers tentang video Sarah yang viral dengan orang terkaya di kota ini?," ucap ibu ber daster coklat sambil tangan menepuk pundak ibu Ida.


"Loh.. loh.. kenapa aku ketinggalan berita gini ya?!, padahal biasanya aku yang tau duluan tentang berita-berita viral seputar kota ini." ucap Bu Ida sudah seperti wartawan saja. Memang mereka berdua ini sangat terkenal dengan sebutan biang gosip.


"Duh lama sekali dia orang ini kalau menggosip?," gerutu Mayang.


"Mana perut Uda lapar lagi?," lanjutnya sambil memegang perutnya.


"Masak sih kamu sudah lapar lagi, dek?," tanya ku.


"Ternyata nonton drama pertengkaran juga membutuhkan tenaga ya, mbak? apalagi yang menjadi pemain nya," ucap Mayang dengan sangat lugu.


Seketika Sinta yang mendengar ucapan Mayang pun tertawa terbahak-bahak. Lalu aku segera menutup mulutnya dengan telapak tanganku.


Karena takut saja dua orang yang saat ini sedang asyik menggibah mendengar suara tertawanya Sinta. Di kiranya nanti mobil ini ada setan nya lagi.


Sinta segera mengecilkan suara tertawanya, tapi sulit untuk menghentikan nya. Karena ucapan Mayang sangat lucu, dan ditambah dengan aku yang menutup mulut nya.


Dan akhirnya dua ibu-ibu itu, masuk kedalam rumah nya masing-masing. Dan kini jalanan di komplek sudah sangat sepi.


Ini lah saat nya kami pergi dari sini.


"Kita ini mau kemana, Sarah?," tanya Sinta yang sedang berkonsentrasi nyetir mobil.


"Kita makan dirumah aja mbak," jawab Mayang.


Akhirnya kita bertiga menuju ruko, kali ini aku dan Mayang diantara Sinta pulang.


Didalam mobil tak lupa Sinta memutar lagu kesukaan nya. Lalu dengan sangat percaya dirinya, Sinta ikut menyanyi dengan suaranya yang fals.


"Mbak Sinta, stop!! Hentikan!! Suara mu fals mbak!!," keluh Mayang.


"Bisa-bisa pecah kepalaku mendengar suara mu mbak," lanjut Mayang dengan lirikan nya yang mematikan.


"Iya, iya nyonya...." jawab Sinta dengan terpaksa.


"Kalau bukan adikmu ini calon menantu bos ku, hmmmm akan ku buat gendang telinga nya pecah. ha ha ha," Ledek Sinta pada Mayang. Mayang hanya diam dan memanyunkan bibirnya.


Akhirnya kita sampai didepan ruko, dan Mayang segera turun dari mobil dan lari masuk kedalam.


"Adikmu kenapa, Sarah?," tanya Sinta yang heran dengan tingkah Mayang.


"Apa mungkin dia marah ya karena tadi ku Ledek?," Sinta terlihat tidak enak hati. Kami berdua berjalan masuk kedalam.


Sampai di dalam terlihat Mayang baru keluar dari kamar mandi.


"Alhamdulillah lega..." ucap Mayang sambil berjalan mengelus perut nya.


Aku dan Sinta saling berpandangan dan langsung tertawa terbahak-bahak.


"Kenapa sih kalian berdua ini?, kayak lagi kesambet saja." ucap Mayang dengan tatapan keheranan karena kita berdua tertawa terbahak-bahak secara bersamaan.


"Mbak, aku lapar nih." ucap Mayang sambil menunjuk perutnya.


"Tunggu ya, mbak siapin dulu. Kita makan bersama ya...," usul ku. Dan dijawab anggukan kepala oleh mereka berdua.

__ADS_1


Aku segera pergi kedapur, karena aku juga sangat lapar setelah melihat drama action tadi di rumah mas Damar.


Kean juga sedang tidur, jadi aku bisa dengan tenang masaknya.


Setelah selesai masak, kini makanan sederhana sudah terhidang. Kami menggelar karpet dan duduk lesehan bersama sambil menikmati makanan.


"Besok kita rencana mau ke kampung, Sin. Kamu ikut ya..?," ajak ku.


"Besok?, kalau besok aku nggak bisa Sarah. Besok aku masih mau mengurus perceraian pak Handoko dengan Bianca. Gimana kalau hari Minggu saja? kan aku juga libur kerja nya," Nego Sinta pada ku.


Aku dan Mayang pun menyetujui usulan Sinta, untuk berangkat hari Sabtu sore setelah Sinta pulang dari kantor.


Selesai makan Sinta Pamitan untuk pulang, karena masih ada pekerjaan yang harus ia selesaikan.


Kini Mayang juga sedang istirahat dikamar bersama Kean. Aku yang ingin memejamkan mata sebentar saja kayaknya tidak bisa, karena terus terbayang kejadian tadi di rumah mas Damar.


Dari pada terus memikirkan hal yang tak penting itu, aku pun keluar untuk membantu Reni dan kawan-kawan di depan melayani para customer.


Lalu handphone ku berbunyi, ternyata ada pesan dari Randy.


"Kamu sudah pulang, Sarah?," pesan singkat dari Randy aku baca.


"Aku sudah di rumah, Ran." Balas ku singkat.


"Ya sudah, jangan lupa makan ya Sarah. Biar kamu nggak sakit." pesan kali ini membuat aku mengerutkan dahi. Kenapa Randy selalu seperhatian ini pada ku? Membuat hati ini semakin...... Ah entahlah aku menyebut nya seperti apa.


Lalu aku membalasnya hanya dengan emoticon jempol besar.


Lalu aku lanjutkan berjalan menuju toko. Di toko para pembeli sangat banyak. Terlihat sekali Reni dan kawan-kawannya sangat kewalahan.


"Ren, biar aku yang di kasir. Kamu temani Mita ya layani para pembeli." ucapku.


"Iya, Bu." Reni pun beranjak dari kursi yang ia duduki sekarang. kini aku yang menggantikan Reni untuk menjadi kasir.


Alhamdulillah untuk pencapaian ku saat ini, aku sangat bersyukur punya toko roti seramai ini. Ini berkah untuk ku, Kean dan semua karyawan-karyawan ku.


Tidak dipungkiri, aku bisa seperti ini. Bisa punya toko roti dan juga mempunyai cabang itu semua dari hasil menulis novel online di platform NOVELTOON.


Jadi walau aku sudah bisa makan dan beli apapun dari hasil kedua toko roti ku. Aku masih tetap menulis, karena selain menulis itu hobi ku. Aku besar dan sampai di titik ini juga karena menulis novel online. Aku tak mau meninggalkan dunia literasi ini.


Pembeli pun sudah mulai berkurang, tapi masih ada beberapa yang datang.


"Bu, toko sudah agak sepi. Kalau Bu Sarah mau istirahat, ibu istirahat aja dulu." ucap Reni.


"Aku nggak capek kok Ren, tenang saja." ucapku sambil memandang wajah Reni.


Kini toko sudah sepi pembeli, karena sudah menjelang Magrib. Sebentar lagi toko juga akan tutup.


"Alhamdulillah ya,,, kue-kue nya sudah pada habis " ucap ku sambil mengecek kue yang ada di dalam etalase.


"Iya, Bu. Hari ini yang best seller kue yang ini." ucap Reni sambil menunjuk bolu kukus coklat yang mekar merekah.


"Banyak orang yang bilang bolu kukus itu enak, coklat nya tidak eneg dan bau nya juga nggak amis." jelas Reni sambil menggosok kaca etalase.


Sedangkan Mita saat ini sedang menyapu dan mengepel lantai. Seperti inilah rutinitas para karyawan ku sebelum toko tutup.


Paman Udin membersihkan area depan, agar terlihat selalu bersih. Karena di pinggir jalan terdapat pohon besar, jadi setiap waktu pasti banyak daun kering yang berjatuhan.


"Ren, setelah ini kamu siapkan bahan untuk pembuatan kue-kue besok ya," perintah ku pada Reni.


"Mit, kamu bantu Reni ya didalam." aku juga memerintah Mita agar ia membantu Reni.


Biasa nya ini tugas mbak indah'. Namun karena mbak Indah sudah ku pindah di outlet cabang. Akhirnya aku pasrahkan ini semua pada Reni dan Mita.


"Paman Udin, tokonya paman tutup ya. Karena ini sudah sore. Kue juga sudah habis," perintah ku.


Kue yang tersisa hanya beberapa ini aku kemas menjadi tiga kotak.


Biar nanti bisa di bawa pulang oleh Reni, Mita dan paman Udin.

__ADS_1


Kini mereka bertiga pun pulang setelah berpamitan padaku, dengan membawa sekotak kue.


Aku harap keluarga mereka juga merasakan kue-kue yang aku buat.


__ADS_2