DERITA SEATAP DENGAN MERTUA

DERITA SEATAP DENGAN MERTUA
Keributan


__ADS_3

"Kalau mbak Veni kesini hanya bertanya tentang ini, aku rasa lebih baik mbak Veni pergi dari sini!!," usir ku dengan sangat ketus. Orang macam mbak Veni tak perlu untuk terlalu di baiki dan dihormati.


"Wow, sadis sekali kamu Sarah. Padahal aku kesini ingin membeli kue-kue yang dijual disini. Tapi kenapa pelayanan mu pada customer seperti ini?. Apa kamu tak takut sama bos mu, kalau aku melaporkan sikapmu pada customer seperti ini?!," ancam mbak Veni pada ku.


"Apa kamu siap dipecat dari sini dan menjadi gembel bersama anak dan kedua orang tua mu?," lanjutnya.


"Hufftt,,,,." Aku membuang nafas besar, untuk menenangkan hati ini.


"Sebenarnya, apa sih alasan mbak Veni benci dan selalu mengganggu kehidupan ku?. Padahal sedikit pun aku tak pernah ikut campur urusan mu mbak!!!," ucap ku pada mbak Veni.


"Kamu ingin tahu kenapa aku sangat membencimu?!," tanya mbak Veni.


"Karena kamu masuk di kehidupan ku, Sarah!!!. Kamu telah mengambil semua kebahagiaan ku." lanjut mbak Veni, ia berbicara dengan wajah yang sangat emosi saat menatap ku.


Sebegitu cintanya dia pada mas Bima, sampai ia membenci ku seperti itu.


"Sekarang mbak Veni sudah tak punya alasan lagi untuk membenciku, karena aku sudah bukan anggota keluarga mbak Veni lagi." jawab ku.


"Itulah, aku kesini mau mengucapkan banyak terima kasih padamu Sarah. Setelah kamu keluar dari kehidupan keluarga suami ku, kebahagiaan itu akhirnya datang. Apa yang aku inginkan, sudah aku dapat kan." ucap mbak Veni dengan di ikuti tawa kemenangan.


"Terus kedatangan mbak Veni kesini untuk apa?," tanya ku dengan sangat tenang.


"Yang jelas untuk menunjukkan kemenangan ku padamu, Sarah!!," jawab nya dengan wajah yang terlihat bahagia dan senyum licik tersemat di bibirnya.


"Kalau begitu, sekarang kalian berdua bisa keluar dari sini!!." usirku sambil jari telunjuk ku menunjuk pintu keluar.


"Kamu mengusir ku, Sarah?!," tanya mbak Veni dengan mata melotot dengan berkacak pinggang.

__ADS_1


Aku pun menganggukkan kepala, yang artinya membenarkan pertanyaan mbak Veni barusan.


"Berani kamu mengusir ku?!," tanya nya lagi masih dengan berkacak pinggang.


"Mengapa tidak, mbak. Bukan kah tujuanmu datang kesini sudah selesai?, lantas apa yang membuat mu betah berada disini?," tanya ku, kali ini aku memasang wajah santai. Tak ada emosi yang membalut hati dan pikiran ku.


Setelah dipikir-pikir, percuma emosi pada mbak Veni. Karena itu hanya membuang-buang tenaga dan waktu ku saja.


Aku tau tujuan mbak Veni kesini, ia sengaja datang hanya untuk membuat ku marah dan sakit hati.


Kalau ia melihat ku emosi, dia akan senang dan semakin menjadi-jadi untuk menghina ku.


Tapi sebaliknya, kalau bersikap biasa saja dan tenang. Mbak Veni yang akan emosi.


"Aku pastikan setelah ini kamu akan dipecat dari sini, Sarah!!!!." ucap mbak Veni dengan sangat emosional, terbukti sudah prediksi ku tentang sifat mbak Veni.


"Maaf Bu. Ada yang bisa saya bantu?," Terdengar suara Reni dari belakang ku.


"Benar yang ibu katakan, kalau sedang melayani customer itu harus baik dan ramah dan tidak ketus pada customer. Tapi itu dilakukan dan berlaku pada customer yang baik dan menghargai kita. Tapi kalau untuk customer seperti ibu, rasanya bosku pun tak melarang kalau kita melayani nya dengan ketus. Karena orang macam ibu ini tak pernah menghargai jerih payah karyawan, jadi menurut ku pantaslah ibu mendapat pelayanan yang buruk dari kamu." ucap Reni.


"Waahh... kalian ini kerja hanya jadi pelayan. Omongan nya berani ya seperti itu?!. Aku akan melaporkan ini pada bos kalian!!," ancam mbak Veni dengan menunjuk ku dan Reni secara bergantian.


"Bu, sebaiknya ibu makan siang dulu. Biar aku yang melayani mereka." ucap Reni padaku.


"Baiklah, Ren." ucapku. Aku sengaja mengikuti apa yang dikatakan Reni. Karena aku juga malas berdebat terus dengan mbak Veni yang tak ada ujungnya, dengan masalah yang itu-itu saja.


"Biar mbak Veni dilayani temanku saja, ya." ucapku pada mbak Veni.Dan aku segera berjalan menuju ke dalam.

__ADS_1


"Hey, Sarah!! Perempuan kampungan!!!. Mau kemana kamu?!. Memang dasar perempuan kampungan yang tak punya sopan santun!!!." umpat mbak Veni padaku.


"Ibu, bukan kah Bu Sarah sudah bilang kalau saat ini yang melayani ibu adalah aku." tegur Reni yang terlihat sangat kesal pada mbak Veni.


"Ibu?, kamu memanggil perempuan kampung itu dengan ibu?, terhormat sekali dia di matamu. Dia tak pantas di hormati, karena dia hanya perempuan kampungan yang sok alim." ucap mbak Veni dengan di ikuti tawa penuh ejekan padaku.


Aku pun segera masuk kedalam meninggalkan mbak Veni yang semakin menggila. Aku rasa mbak Veni itu sakit jiwa, karena dia suka sekali marah dan mengumpat ku tanpa alasan.


"Sekarang kue mana yang ibu mau beli?," terdengar Reni bertanya pada mbak Veni.


"Aku mau minta nomor telepon bos mu saja. Aku jadi tidak nafsu dengan kue-kue yang dijual disini, mengingat pelayanan nya yang buruk seperti ini." jawab mbak Veni dengan seenak hati nya.


Sedangkan aku berlalu masuk kedalam kamar untuk menenangkan diri. Rasa lapar seketika hilang saat menghadapi mbak Veni yang menurutku sangat bar-bar.


Aku segera membuka handphone, ku tuangkan emosiku di dalam novel online ku.


Aku menulis semua yang sedang aku rasakan di hati ku. Semua yang kejadian yang aku alami aku tulis dan ku jadikan novel.


Hanya butuh beberapa menit, satu bab sudah selesai. Jujur aku paling suka mengetik novel saat perasaan sedang emosi seperti ini. Rasanya ide menulis mengalir terus diotak ini.


Dan tak terasa tiga bab telah aku selesaikan dengan waktu hanya satu jam. Aku pun segera up tiga bab itu secara bergantian sesuai dengan urutan nya.


Handphone pun aku letakkan diatas nakas disamping tempat tidur. Dan ingin sekali aku memejam kan mata untuk mengistirahatkan mata, hati dan pikiran.


Namun hal itu hanya wacana, karena handphone ku berbunyi.


Saat aku lihat, ternyata ada nomor baru yang mengirim pesan di aplikasi WhatsApp ku.

__ADS_1


Aku pun tak membukanya, aku sangat malas untuk meladeni nomor-nomor baru. Karena beberapa hari ini, banyak nomor baru yang masuk ke nomor ku. Aku segera menaruh lagi handphone ku diatas nakas.


Lalu aku memejamkan mata ku yang sudah tidak bisa menahan rasa kantuk ini.


__ADS_2