
"Kamu tenang ya, Areta. Aku akan mengusahakan uang itu. Sekarang kamu angkat telepon dari rentenir itu dan tanyakan berapa total hutang mu termasuk bunganya." perintah Bima pada Areta.
"Baik, Bima." jawab Areta. Lalu Areta melakukan apa yang diperintahkan Bima padanya. Ia mengangkat panggilan telepon itu. Sedangkan Bima juga sedang mengirimkan pesan pada seseorang lewat handphone nya
Belum sempat Areta berbicara dengan penelpon itu, panggilan itu sudah di tutup oleh si penelpon itu.
"Panggilan nya sudah ditutup Bima." ucap Areta sambil menunjukkan layar handphone nya.
"Sekarang kamu kirim pesan padanya, tanyakan apa yang aku bilang tadi padamu.
Areta segera mengetik pesan sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Bima tadi. Dan ia segera mengirim pesan itu ke nomor panggilan tadi.
Tak menunggu lama, pesan yang dikirim Areta pun mendapat balasan.
"Apa yang dikatakan oleh rentenir itu, Reta?," tanya Bima dengan sangat penasaran.
"Semua total hutang dan bunganya sepuluh juta, Bim." jelas Areta sesuai dengan yang ia baca di balasan pesan dari rentenir itu.
"Hah?, sepuluh juta?!," Bima terkejut saat mendengar ucapan Areta.
"Maafkan aku, Bim. Aku tak bermaksud untuk merepotkan mu. Kalau kamu tidak sanggup memberikan uang itu, aku tak akan memaksa mu." ucap Areta dengan gestur wajah yang memelas.
"Kamu tenang ya, sayang. Aku akan mengusahakan uang itu sekarang juga. Aku sangat tidak rela kalau tubuhmu disentuh orang lain selain aku." ucap Bima berusaha menenangkan hati Areta yang terlihat sangat gusar dengan tangannya kembali menyentuh pipi Areta.
Areta tersenyum dengan sikap Bima yang memperlakukan nya dengan sangat baik dan perhatian.
Drrrttttt
Drrrttttt
Kali ini handphone Bima yang berbegetar, karena Bima sengaja ia mengatur handphone nya dengan mode getas saja. Tujuannya agar ia tak terganggu dengan suara dering telepon yang masuk.
Bima pun segera mengambil handphone nya yang ada diatas lemari es.
Lalu ia pergi menjauh dari Areta yang saat ini masih duduk di bibir ranjang nya.
"Halo, mbak." sapa Bima pada orang yang sedang menelpon nya yang tak lain adalah Veni. Istri dari Awan kakak kandung Bima.
"Kamu butuh uang berapa, Bim?," tanya Veni melalui panggilan telepon nya.
"Sepuluh juta, mbak." bisik Bima, karena Bima takut Areta mendengar nya.
"Baik lah,aku akan share lokasi setelah ini." ucap Veni lalu ia menutup panggilan telepon nya.
Setelah panggilan telepon itu sudah di tutup, satu pesan masuk ke handphone Bima. Pesan dari Veni yang menunjukkan lokasi keberadaan nya saat ini.
"Aku ke kamar mandi dulu, Reta." ucap Bima setelah membuka pesan dari Veni kakak iparnya itu.
Bima bergegas ke kamar mandi sambil membawa pakaian nya. Karena saat ini di tubuh Bima hanya tersisa ****** ***** saja yang menempel.
Areta tersenyum melihat tindakan yang dilakukan oleh Bima.
Lalu Areta kembali mengambil handphone nya, Untu mengirim pesan pada seseorang.
Tak lama, Bima pun keluar dengan pakaian yang sudah rapi kembali.
"Kamu mau kemana, Bim?," tanya Areta.
"Aku akan keluar sebentar," jawab Bima pada Areta yang sedang memakai kembali bajunya.
"Jam berapa rentenir itu datang, Reta?," tanya Bima.
"Dia datang tiga jam lagi, Bim." jawab Areta dengan menatap jam di di dinding yang saat ini sudah pukul tiga belas kosong-kosong. Yang artinya rentenir itu akan datang nanti pukul empat sore.
"Baiklah, aku akan datang kembali tepat waktu. Dan aku akan mengusahakan sebelum rentenir itu datang." ucap Bima.
"Kamu jaga diri baik-baik, Areta." pamit Bima.
Lalu Bima keluar, dan Areta tak ikut keluar untuk mengantarkan Bima ke mobilnya. Karena saat ini ia hanya memakai ****** ***** dan crop top saja.
Setelah Areta sudah tak mendengar suara mobil Bima, ia segera ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Dan mengganti pakaian nya dengan lingerie yang berwarna hitam.
Lalu Areta mengambil handphone nya yang ada diatas nakas. Dia mencoba menelpon seseorang yang ada dikontak handphone nya.
"Halo, sayang." sapa nya saat panggilan itu sudah terhubung.
__ADS_1
"Kamu dimana sekarang?," tanya nya lagi.
"Aku sudah di warung kopi dekat kost'an mu, sayang." jawab lelaki yang saat ini ada di sebrang telepon.
"Aku melihat mobil mantan suami mu keluar dari kost'an mu, sayang." ucap lelaki yang usia nya terpaut sangat jauh dengan Areta.
"Kalau begitu segeralah datang kesini, sebelum dia kembali." perintah Areta pada lelaki yang menjadi simpanan nya saat ini.
Tak lama kemudian terdengar pintu diketuk, Areta sudah bisa menebak nya. Kalau yang datang saat ini adalah Bagas, pria yang masih berusia belasan tahun yang masih duduk di bangku kuliahan. Yang tak lain adalah simpanan nya.
cekleeek...
Suara Areta membuka pintu, dan benar saja dugaan Areta. Kalau yang datang saat ini adalah berondong simpanan nya.
"Masuklah sayang." ucap Areta pada Bagas lelaki yang jauh lebih mudah darinya.
"Wow, kamu sangat cantik sayang." ucap Bagas saat melihat tubuh Areta yang hanya terbalut lingerie dengan bahan yang sangat transparan. Sehingga kulit mulus tubuh Areta pun terlihat sangat jelas.
"Terimakasih atas pujian nya, sayang." ucap Areta dengan senyum yang menggoda.
Lelaki mana yang tak berhasrat saat tubuh seksi nya yang disuguhkan. Lelaki mudah ini pun merasakan hal yang sama dengan yang dirasakan oleh Bima tadi.
Tanpa banyak kata, mereka berdua pun melakukan apa yang dilakukan oleh Areta dan Bima tadi.
Seperti tak ada puasnya, Areta lah yang saat ini memimpin pertandingan. Namun lelaki mudah yang bernama Bagas itu tak mau kalah dengan Areta. Berkali-kali lelaki itu memimpin pertandingan. Sampai Areta pun lemas tak berdaya, dan sedangkan lelaki itu masih kuat dan sangat kokoh tak tak tertandingi.
"Aku kalah, sayang." ucap Areta dengan nafas yang tersengal-sengal.
"Kamu sangat susah untuk dikalahkan, dan itu yang membuat ku candu dengan permainan mu." puji Areta pada Bagas.
Areta terkapar tak berdaya diatas ranjang yang dalam sehari ini ia pakai untuk bergulat dengan dua lelaki yang berbeda.
Sedangkan Bagas saat ini masih berdiri dengan sangat kokoh.
"Kamu sangat pintar memuaskan aku, sayang." bisik Areta.
"Beda sekali dengan Bima mantan suamiku, kalau bukan karena uang nya. Aku malas sekali melakukan itu dengan nya. Bukan kepuasan yang aku dapat, malah badan terasa sakit semuanya." Areta curhat pada Bagas yang saat ini sedang mendekap tubuh langsing dan seksi Areta.
"Aku bahagia kalau kamu puas dengan apa yang aku berikan padamu tadi, sayang." ucap Bagas sambil mencium kening Areta.
"Kapan dia akan memberikan uang itu, sayang?," tanya Bagas pada Areta.
"Nanti jam empat sore, dia akan datang kembali kesini, sayang. Jadi kamu yang sabar ya?," jawab Areta dengan kedua tangannya memegang sambil membelai pipi Bagas. Dan Bagas pun menganggukkan kepala dengan senyum yang sangat manis ia persembahkan pada perempuan yang sudah membiayai hidup nya selama ini.
Kini mereka berdua sedang di mabuk kenikmatan surgawi, dua manusia beda umur yang sangat jauh itu terlelap saling berpelukan di bawah selimut.
Di tempat lain, Bima yang sedang melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi pun, telah sampai di tempat yang dimaksud oleh Veni.
Terlihat hanya bangunan biasa, yang terdapat beberapa kamar yang berjajar. Dengan pintu dari kayu yang berwarna coklat gelap yang bertuliskan angka-angka. Dan sudah bisa dibayangkan kalau didalam nya sangat lengkap, karena tak ada fentilasi udara yang bisa keluar masuk di ruangannya itu.
Bima pun berjalan menuju pintu dengan angka yang sudah di katakan oleh Veni lewat pesan singkat nya tadi.
Tok
Tok
Tok
Bima mengetuk pintu kamar itu.
"Masuk saja, Bim. Pintunya tak di kunci." ucap Veni dari dalam kamar.
Bima yang mendengar itu pun segera memegang handle pintu dan menarik nya kebawah.
Cekleeek!
Pintu yang terbuat dari kayu dan berwarna coklat itu pun akhirnya terbuka.
Terlihat sebuah kamar yang sepetak, dan penampakan nya sangat jauh dari kata mewah. Hanya ada kasur yang di taruh di lantai dan sebuah nakas disamping nya. Tak ada ornamen-ornamen lain untuk pemanis ruangan ini.
"Mbak Veni!!," ucap Bima terkejut saat melihat mbak Veni sudah tak memakai apa-apa ditubuhnya.
"Masuk Bima dan segera tutup pintunya." ucap Veni pada Bima yang masih terperangah melihat kelakuanku kakak ipar nya itu.
"Mbak, aku kesini hanya ingin mengambil uang itu." ucap Bima menjelaskan kembali tujuan nya menemui Kakak iparnya.
"Aku sudah tau itu, Bim. Dan uang itu sudah aku siapkan." jawab mbak Veni.
__ADS_1
"Kamu tau kan, apa yang harus kamu lakukan saat ini?," tanya mbak Veni pada Bima yang masih berdiri mematung di belakang pintu yang sudah tertutup.
"Demi kamu Areta, aku akan melakukan ini pada kakak ipar ku." ucap Bima dalam hati.
Tak banyak kata, Bima pun langsung menyambar Veni yang sudah siap diatas kasur yang berada diatas lantai itu. Mereka berdua melakukan nya lagi seperti tak punya rasa takut akan dosa.
Mereka berdua dengan sadar menyakiti hati Awan yang saat ini masih berstatus suami Veni dan kakak kandung Bima.
Setelah mereka melakukan itu, kini Veni keluar dari kamar untuk pergi kekamar mandi yang memang berada di sebelah kamar yang sudah di sewa Veni.
Veni pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri, sedangkan Bima langsung mengambil handphone nya yang berada diatas nakas.
Bima melihat jam yang ada gawai nya sudah menunjukkan pukul setengah empat sore. Bima sangat mencemaskan Areta.
Bima takut Areta diambil oleh rentenir yang sudah meminjami uang mantan istrinya itu.
Tuttttt....
Tuttttt..
Bima mencoba menghubungi Areta, namun sambungan telepon nya masih belum terhubung.
"Angkat Reta!!," gumam Bima dengan wajah yang penuh kecemasan.
"Halo, Bim." sapa Areta dari panggilan telepon yang dilakukan oleh Bima. Hati Bima pun langsung tenang saat panggilan nya sudah terhubung.
"Apakah rentenir itu sudah datang, Areta?," tanya Bima.
"Siapa yang telepon, Sa....?," tanya Bagas pada Areta, namun dengan cepat Areta mengangkat jari telunjuk ke bibir nya. Saat melihat apa yang di lakukan Areta, Bagas pun tak melanjutkan pertanyaan nya.
"Suara siapa itu, Areta?!," tanya Bima dengan suara agak tinggi. Dari sebrang telepon Bima mendengar suara lelaki yang bertanya pada Areta.
"I iiiii, ini rentenir nya sudah menunggu mu disini, Bim." ucap Areta memberi alasan pada Bima.
"Tunggu sebentar, Areta. Tunggu aku sebentar, aku akan datang kesana dengan membawa uang itu." ucap Bima dengan penuh kekhawatiran. Ia takut Areta kenapa-kenapa disana.
"Sekarang berikan handphone mu pada rentenir itu, aku akan berbicara dengan nya." ucap Bima memerintah Areta.
Dan Areta pun menyodorkan handphone itu pada Bagas yang saat ini sedang berada di atas ranjang dengan keadaan tak memakai busana.
"Halo?," sapa Bagas pada Bima.
"Hey, tunggu aku sebentar! Aku segera datang membawa uang itu. Jadi jangan kamu apa-apa kan Areta. Karena dia itu istri ku!!," seru Bima lewat panggilan seluler nya.
Bagas yang saat ini bersama dengan Areta diatas ranjang tanpa sehelai pakaian itu, tertawa terbahak-bahak mendengar apa yang di ucapkan oleh Bima barusan.
"Baik lah, akan aku tunggu kamu sampai jam empat. Lewat jam empat, Areta akan menjadi milikku!!," Ucap Bagas dengan suara yang di buat garang oleh nya. Dengan tanpa pamit, Bagas pun mematikan panggilan telepon Bima.
Lalu Areta dan Bagas tertawa terbahak-bahak, menertawakan kebodohan Bima.
"Dasar bodoh!!," umpat Bagas.
Dan Areta pun hanya tertawa menanggapi ucapan Bagas.
Sedangkan Bima masih bingung memikirkan caranya untuk pergi dari Veni. Karena Veni masih belum kembali dari kamar mandi.
"Kenapa mbak Veni sangat lama sekali?," gumam Bima.
Cekleeek,
"Akhirnya yang dinanti-nanti pun datang ucap Bima dalam hati saat Veni masuk kedalam kamar yang sudah disewa itu.
"Bim, kenapa kamu?, seperti ada yang dipikirkan?," tanya Veni saat melihat wajah Bima yang saat ini sangat tegang.
"Aku sangat membutuhkan uang itu, mbak. Kalau tidak, sebentar lagi aku dalam bahaya." ucap Bima beralasan pada Veni, agar uang yang Bima minta segera di berikan.
"Tenang, Bim. Aku akan mentransfer ke rekening mu." Veni pun segera mengambil handphone nya yang berada di dalam tas yang saat ini tergantung di pakai yang ditancapkan di dinding kamar.
Tanpa menunggu lama, Veni segera mengklik sejumlah nominal yang sudah di minta oleh Bima.
"Sudah, Bim." ucap Veni sambil menunjukkan layar handphone nya.
"Terimakasih ya, mbak." ucap Bima dengan sangat gembira, ia langsung mencium kening Veni, lalu pergi meninggalkan Veni sendirian di kamar sewaan itu. Kini Bima sudah pergi dengan mobilnya.
"Dasar, tak punya sopan santun!! Sudah mendapatkan yang dia mau, pergi begitu saja!," gerutu Veni dengan memasukkan handphone nya ke dalam tas.
"Tapi nggak papa, sih. Aku juga sudah mendapatkan kenikmatan yang luar biasa dari adik iparku." gumam Veni pada dirinya sendiri, di ikuti senyum kecil di bibir nya.
__ADS_1
Dan kini Bima melajukan mobilnya dengan kecepatan yang sangat tinggi, agar dengan cepat ia sampai di kost milik Areta.