
Kali ini panggilan telepon yang di lakukan Sarah. Tujuan Sarah menelpon Veni kali ini, agar Veni sendiri yang membujuk dan memberi pengertian pada Kay.
"Halo, Sarah." sapa Veni dari sebrang telepon.
"Assalamualaikum, Ven." Sarah langsung mengucap salam, saat ia tau panggilan telepon nya sudah di terima.
"Wa...allaikum salam " jawab Veni gugup, Veni langsung salah tingkah dan merasa malu. Karena tak mengucap salam sebelum nya, saat menyapa Sarah di panggilan telepon.
"Ven, Kay merengek terus ingin pulang. Kata nya ia ingin bertemu dengan mu." ucap Sarah mengatakan apa yang terjadi pada Kay anak nya.
"Lalu sekarang dia dimana, Sarah?, apa kamu sudah mengantarkan dia ke rumah ku?," tanya Veni.
"Aku masih belum mengantarkan nya, dia masih makan malam bersama Kean. Aku terus membujuknya agar dia mau bermalam disini. Namun rasanya itu sia-sia. Karena Kay masih terus meminta pulang." ucap Sarah.
"Lebih baik kamu coba bicara sendiri pada Kay. Siapa tau kalau kamu yang bicara, Kay mau untuk bermalam disini." lanjut Sarah memberi saran pada Veni.
"Baiklah, berikan handphone nya pada Kay." jawab Veni dari sebrang telepon.
Sarah pun berjalan kembali menuju ruang makan. Terlihat disana Kean dan Kay masih menikmati hidangan makan malam yang sudah di masak oleh ibu nya Sarah.
"Anak-anak sangat lahap, Sarah." ucap ibunya Sarah dengan tersenyum bahagia, karena melihat kelahapan dua anak kecil di depan nya. Itu menandakan kalau masakan nya cocok di lidah mereka.
"Iya, Bu." jawab Sarah membalas senyum ibunya.
"Kay," panggil Sarah pada Kay yang sedang asyik makan ayam crispy buatan uti nya Kean.
Kay pun menoleh pada Sarah. "Iya, Tante?,"
"Ini mami nya Kay mau ngomong." Sarah menyodorkan handphone apel promeg nya. Lalu dengan sangat hati-hati Kay pun mengambil handphone yang harga nya lumayan mahal itu.
"Assalamualaikum, mami." Kay mengucap salam pada Veni dengan suara imut khas anak-anak.
"Waalaikumsalam, sayang. Kay, dengarkan mami. Malam ini mami minta, Kay bermalam di rumah nya Kean ya?," ucap Veni pada Kay. Kenapa Veni menyuruh Kay untuk bermalam dirumah Sarah?, karena memang malam ini rumah Veni sedang kosong. Tak ada orang satupun disana.
Veni sedang menyelesaikan urusannya dengan Laras, mertuanya itu. Sedangkan Awan saat ini juga berada di salon Siska.
"Enggak, mami. Pokoknya Kay mau tidur sama mami!," teriak Kay pada Veni lewat panggilan telepon nya.
"Kay, dengar mami...,"
"Pokoknya Kay nggak mau tidur disini!!, Kay maunya sama mami!!," Kay sama sekali tak mau mendengar apa yang dikatakan oleh Veni. Kay pun menangis, karena Veni terus membujuk Kay.
"Oke,, sekarang berikan handphone ini pada Tante Sarah. Mami mau bicara dengan dia." perintah Veni pada Kay, anaknya.
Kay pun melakukan apa yang dikatakan oleh Veni. Kay memberikan handphone apel promeg itu pada Sarah.
"Tante, mami mau ngomong." ucap Kay dengan menyodorkan handphone nya.
Sarah pun mengambil dengan tersenyum pada Kay.
"Halo, Ven." sapa Sarah.
"Sarah, bisakah aku minta tolong padamu?," ucap Veni bertanya pada Sarah.
"Kamu mau minta tolong apa, Ven?," tanya Sarah dengan raut wajah yang datar.
Sebenarnya Sarah sama sekali tak ingin ikut campur dengan urusan Veni. Dan tak pernah terbesit untuk menjalin hubungan pertemanan yang akrab, walau dia sudah meminta maaf padanya atas kesalahan-kesalahan yang sering dilakukan Veni pada Sarah.
__ADS_1
Namun karena memandang anak kecil yang berada di depan nya itu, membuat hati nya terketuk. Sarah memang tak bisa kalau ia melihat anak kecil seusia anaknya menangis.
Jadi mau tak mau, Sarah pun mengiyakan apa yang dikatakan Veni. Bahwa sarah akan mengantarkan anak Veni di salon Siska.
"Kay, sekarang habis kan makanannya. Setelah itu ikut Tante." ucap Sarah pada Kay, setelah menutup panggilan nya dari Veni.
Dan Kay menganggukkan kepalanya. Mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Sarah. Sarah pun berlalu meninggalkan mereka di meja makan. Sarah bersiap-siap untuk mengantarkan Kay pada Veni di salon Siska.
Setelah selesai makan malam, ibunya Sarah mengajak dua anak itu untuk ke depan, lebih tepatnya ke ruang tamu.
Mereka berdua duduk dengan manis di sofa ruang tamu, untuk menunggu Sarah.
Setelah selesai berganti pakaian, Sarah pun keluar dari kamar nya. Sarah sudah melihat dua anak manis itu sudah duduk santai di sofa ruang tamu.
"Makan nya sudah selesai, sayang?," tanya Sarah pada Kean.
"Sudah, amma." jawab Kean.
"Kean, amma mau antar Kay pulang. Kean ada di rumah ya, bersama uti?," Sarah mencoba merayu Kean agar ia tak ikut dirinya untuk mengantar Kay pulang.
"Iya, amma. Kean capek, Kean mau tidur aja sama uti. Lagian, Kean kasian sama uti. Kalau Kean ikut amma, uti sendirian di rumah." ucap Kean dengan suara khar anak kecil yang tak begitu jelas ucapan kosakata nya.
"Anak amma memang pinter." sanjung Sarah sambil memegang dagu Kean.
"Kalau gitu, ayo kita tidur uti. Kean udah ngantuk." ajak Kean pada uti nya.
Dan ajakan Kean di sambut dengan bahagia oleh ibu nya Sarah.
Uti nya itu pun langsung berdiri dari duduknya, dan mendekati Kean.
"Uti, terimakasih ya. Karena uti udah baik sana Kay " ucap Kay pada uti nya Kean.
"Dan terimakasih ya Kean, karena seharian kamu sudah mau menemani aku bermain." ucap Kay pada Kean sambil tersenyum.
"Sama-sama Kay." jawab Kean.
Kini Sarah dan Kay berjalan kedepan, karena taksi yang dipesan sudah datang.
Kay pun melambaikan tangan nya pada uti dan Kean. Mereka berdua pun juga melakukan hal yang sama
Setelah Sarah berpamitan pada Kean dan ibu nya. Kini Sarah sama Kay masuk kedalam taksi.
"Sesuai aplikasi ya Bu?," ucap sopir taksi itu.
"iya, pak." jawab Sarah.
Setelah mendengar jawaban dari Sarah, supir taksi itu pun menghidupkan mesin mobilnya, lalu menginjak pedal gas.
Tujuan malam ini, bukan kerumah Veni. Melain kan ke salon Siska.
Karena masalah Veni dengan Laras masih belum selesai.
Sepanjang perjalanan, Kay sangat bahagia. Banyak pertanyaan yang terlontar dari mulut imut nya itu pada Sarah. Tak ada kecanggungan pada diri anak kecil itu, sehingga menciptakan suasana yang hangat.
Sarah pun tak berhenti mengajak ngobrol Kay. Karena anak kecil itu sebenarnya asyik untuk diajak ngobrol.
"Kay suka deh sama Tante Sarah." ucap Kay pada Sarah.
__ADS_1
"Hmmm?, suka?, kenapa Kay suka sama tante Sarah?," tanya Sarah.
"Iya karena Tante Sarah itu baik." jawab Kay.
"Kay, tau darimana kalau Tante Sarah itu baik?," Sarah terus melontarkan pertanyaan pada anak perempuan kecil itu.
"Secara Kan, Kay baru hari ini kenal sama Tante Sarah." lanjut Sarah, Sarah ingin mendengar alasan dari mulut lugu anak kecil.
"Iya, Tante. Walau Kay masih hari ini kenal Tante. Tapi Kay sudah tau dan bisa merasakan kalau tante sangat sayang pada Kay." jawab nya sambil tersenyum manis pada Sarah.
Oh ..ya?," ucap Sarah dengan membalas senyum Kay.
"Iya, Tante. Kalau Tante Sarah bukan orang baik. Pasti Tante Sarah tidak akan ajak Kay jalan-jalan seharian. Dan juga tidak mungkin Tante Sarah mau mengantarkan Kay pulang untuk bertemu mama." jawab Kay.
"Dan Kay juga suka berada di rumah Tante Sarah." lanjut Kay, sambil tatapan yang awalnya menatap mata Sarah kini berjalan ke depan dengan tatapan mata kosong.
"Kenapa Kay suka dirumah Tante Sarah?," tanya Sarah sambil menautkan kedua alisnya. Karena Sarah bingung saat melihat ekspresi wajah Kay yang berubah.
"Karena dirumah Tante Sarah begitu hangat, dan tak pernah sepi. Kay yakin kalau Kean pasti bahagia disana." jawab Kay, masih dengan pandangan kosongnya ke depan.
"Kean beruntung punya mama seperti Tante Sarah." ucap Kay lagi.
"Kenapa beruntung, sayang?," tanya Sarah semakin bingung dengan ucapan anak kecil itu.
"Kay, juga sangat beruntung punya mami seperti mami Veni." lanjut Sarah pada Kay. Sarah mencoba menghibur Kay. Karena terlihat raut wajah Kay yang tadi sangat bahagia, tiba-tiba berubah menjadi anak yang melow.
Kay pun menggelengkan kepalanya, ia menyangkal ucapan yang di katakan Sarah.
"Maksud Kay apa?, kenapa Kay menggelengkan kepala?," tanya Sarah dengan suara pelan dan sangat hati-hati. Karena saat melihat wajah anak kecil itu, ada kesedihan yang terpancar di wajahnya. Dan matanya pun di penuhi air mata yang suka menetes japan saja.
"Kay, baik-baik saja?," tanya Sarah yang melihat anak itu yang sedang tidak baik-baik saja.
"Kay, selalu sendirian dirumah. Mami ku tidak pernah punya waktu untuk bermain dengan Kay." jawab Kay dengan menundukkan wajah, dan tak dapat di hindari. Air matanya pun jatuh membasahi pipi chubby nya.
Melihat itu, Sarah pun langsung memeluk tubuh kecil nan mungil itu.
"Kay, tidak boleh sedih. Mungkin memang mami Kay sedang sibuk. Jadi mami tidak bisa menemani Kay bermain. Tapi kalau mami sibuk kan masih ada papi?," ucap Sarah mencoba menenangkan hati malaikat kecil itu.
"Apalagi papi, Kay aja setiap hari nya jarang sekali bertemu dengan Kay. Papi itu orang nya super sibuk, Tante." jawab Kay.
"Kata papi, papi itu di kantornya banyak sekali pekerjaan nya." lanjut Kay.
Betapa sedihnya hati Sarah mendengar jeritan hati anak kecil itu. Anak seusia Kay dan Kean itu memang sangat butuh kasih sayang dari kedua orang tua nya.
Sarah beruntung, walau dirinya hanya single parent. Tapi dirinya bisa mendampingi kembang tumbuh nya Kean. Walau masih kurang maksimal, karena Sarah sendiri juga banyak bekerja di luar rumah.
Namun belajar dari curhatan seorang anak kecil yang selalu kesepian di rumahnya. Sarah harus makin introspeksi diri dalam kedekatan nya dengan Kean, anaknya.
"Sabar ya sayang. Biar nanti tante mencoba bicara sama mami dan papi nya Kay." ucap Sarah sambil memeluk tubuh anak kecil itu.
"Kay, selalu bermain sendirian. Dikala mbak yang suka masak dirumah sudah pulang." ucap Kay lagi.
Mendengar itu, hati Sarah semakin terasa teriris sembilu. Betapa kesepian nya Kay saat berada dirumah nya sendiri.
"Kalau begitu, apa Kay malam ini nginap di rumah tante aja?, biar tak kesepian lagi." otak Sarah pun mencoba membujuk Kay, agar mau menginap dirumah nya.
Namun Kay menolaknya, karena ia ingin bersama dengan mami nya. Kay masih nyaman berada di pelukan Sarah. Sampai tak terasa Kay tertidur di pelukannya.
__ADS_1
"Kasian kamu Kay, ternyata kamu kurang kasih sayang dari mami papi mu." gumam Sarah.