
Aku bingung tiba-tiba Lidya datang dengan menangis histeris. Dua masuk kamar dan menguncinya pintunya.
Dari luar terdengar dia menangis dan melempar semua barang-barangnya.
Dan yang paling membuat hati ku kaget di memecahkan kaca. Aku sangat cemas takut sekali dia kenapa-kenapa didalam sana.
Ku gedor pintu kamarnya, tak ada jawaban dari Lidya. Ini membuat ku semakin bingung. Mana aku sendirian dirumah. Damar tak pulang-pulang.
Entah kemana perginya Damar, apa dia jadi menginap dirumahnya Sarah?. Padahal aku sudah bilang ke dia kalau tidak usah nginep di gubuk reyot nya Sarah.
Aku telepon Damar, tapi tak diangkat. Aku kirimkan pesan juga tak kunjung di balas. Hati ini sangat cemas mendengar teriakkan Lidya dari dalam kamar nya.
"Lid, ayo keluar. Cerita sama mama ada apa?" rayu ku agar Lidya mau keluar dari kamar nya.
Tak ada jawaban dari nya, tapi dia menangis semakin histeris.
Tak kurang akal, aku cari kunci cadangan di laci tempat penyimpanan kunci. Dan syukur lah akhirnya aku menemukannya.
Aku buka pintu kamar Lidya, dan kulihat Lidya sedang menangis sambil memeluk kaki nya. Jangan di tanya bagaimana keadaan kamar nya. Yang pasti seperti kapal pecah. semua barang-barang berserakan kemana-mana.
Aku hampiri Lidya, aku peluk dia.
"Kamu kenapa, Lid?!," tanyaku.
Tak ada jawaban apapun dari dia, dia hanya menangis dan menangis. Aku bingung mau ngapain, karena terlihat ada darah di tangan nya.
Berkali-kali aku menghubungi Damar, tak ada jawaban dari dia. Aku peluk Lidya, sambil ku bersihkan darah yang ada ditangannya. Ternyata tangannya luka terkena pecahan kaca.
"Kenapa sampai begini sih, Lid? Ada apa sebenarnya? cerita sama mama", ucap ku melihat Lidya sudah agak tenang.
"Celvin ma, Celvin", ucap nya sambil menangis lagi.
"Iya ada apa dengan Celvin? cerita sama mama. Bukan nya dia ada diluar negeri?", tanya ku masih bingung.
"Celvin mau tunangan ma, Lidya nggak terima. Celvin harus jadi milik Lidya", jawab Lidya dengan tangisan nya yang histeris.
"Apa?? jadi dia mau tunangan? bukan nya dia pacarmu?? berarti dia menyelingkuhi mu??", tanyaku geram.
Bisa-bisanya dia menyakiti hati anak perempuan ku satu-satunya.
"Kamu harus bisa mendapatkan nya lagi Lidya, bagaimana pun caranya. Karena dia anak tunggal pewaris harta Handoko", ucapku.
"Mama tau papi Celvin?", tanya Lidya.
"Iya, aku tau. Dia anak tunggal dari Handoko. Jadi bagaimana pun caranya kamu harus mendapatkan nya. Agar keluarga kita bisa hidup bergelimang harta", ucap ku kepada Lidya.
"Tapi gimana caranya ma?", tanya Lidya.
__ADS_1
"Dekati Celvin, dekati trus. Rayu dia, kamu perempuan cantik tak mungkin Celvin akan menolak pesona mu", ucapku dengan tatapan kosong.
Kulihat Lidya sudah tenang, dia sudah menangis histeris lagi. Jam sudah menunjukkan pukul 12 malam.
"Tidur lah, Lid. Ini sudah malam. Tak baik perempuan cantik tidur larut malam. Nanti wajah mu cepat keriput dan keluar mata panda", rayu ku.
"Besok kita pikirkan lagi bagaimana cara memikat hati Celvin agar mau kembali padamu", ucapku.
Dan Lidya mengerti akan maksud ku, dia pun langsung tertidur. Mataku juga sangat ngantuk sekali. Tapi kepala ini mau pecah melihat kamar Lidya yang berantakan.
"Duh, siapa nanti yang bersihin ini semua? mana Sarah nggak ada!!!", gumam ku.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Aku buka mata ternyata sudah siang, kulihat jam dinding di kamar menunjukkan jam 8.
"Duh kepala ku pusing sekali, mungkin ini efek begadang tadi malam", ku bangunkan tubuh ku secara pelan-pelan.
"Mana perut ini terasa lapar banget", ucapku sendiri.
Semalam aku tak makan apapun karena tak ada makanan apapun dimeja makan. Karena biasanya Sarah lah yang menyiapkan makan malam.
Aku kira Lidya datang membawa makanan, padahal aku sudah berpesan padanya. kalau pulang belikan aku makanan. Tapi malah datang dengan tangisan histeris nya.
Damar pun juga tak ada kabar, kemana perginya anak itu semalaman. Pagi ini aku bingung harus makan apa. Biar Lidya aja pesan di g*food karena aku sangat malas untuk masak.
Untung Damar memberikan semua uang bulanan untuk Sarah padaku. Mudah sekali aku menghasut nya.
Aku pun keluar dari kamar mau ke kamar Lidya, ternyata ada Damar yang baru saja datang.
"Dari mana kamu Mar? semalaman tidak pulang. apa kamu nginap dirumah Sarah?!", tanyaku dengan sedikit geram.
"Tidak ma, Damar nggak tidur dirumah Sarah. Damar tidur dirumah temen Damar. Emang kenapa dengan Lidya ma?", tanya Damar.
"Lihat sendiri dikamar nya", aku menunjuk kamar Lidya.
Damar pun bergegas ke kamar Lidya, dan langsung masuk.
"Ya ampun.... ini kenapa kok berantakan seperti ini?!", ucap Damar kaget. Dan terlihat Lidya sudah bangun.
"Ma, Lidya lapar", ucap Lidya.
"Sama, Lid. Mama juga lapar. Tapi di meja makan nggak ada makanan", ucapku.
"Emang mama nggak masak? Damar juga lapar ma", tanya Damar.
"Malas ah... mama malas mau masak", jawabku.
__ADS_1
"Ya Uda pesen aja", ide Damar.
"Trus yang beresin kamar Lidya siapa ma?", tanya Lidya.
"Nggak tau, pokok nya jangan mama. Mama nggak suka bersih-bersih nanti mama capek dan berkeringat. Pokoknya mama nggak mau", ucapku dengan penuh penolakan.
"Ya terus siapa ma?", tanya Damar.
"Udah kamu pesen makan dulu, mama Uda sangat lapar nih!", suruh ku pada Damar.
"Ya Uda mama mau makan apa? kamu juga mau makan apa Lid?," tanya Damar.
"Aku nasi Padang aja mar", jawabku
"Sama mas aku juga", ucap Lidya.
"Ya Uda kita sarapan nasi Padang semua", jawab Damar.
Dan Damar langsung memesan nasi Padang langganan keluarga kami.
"Emang ada dengan kamu, Lid?", tanya Damar pada Lidya.
" Celvin mas, dia mau tunggangan dengan perempuan lain. Padahal Lidya sangat mencintai nya mulai dari kita kuliah bersama dulu", jawab Lidya sambil menangis lagi.
"Jadi kamu begini karena kamu patah hati?", tanya Damar.
"Harus nya kamu jadi perempuan jangan mudah menyerah dong, kejar dia sampai dapat. Jangan mau kalah sama perempuan lain. Apalagi Celvin pewaris satu-satunya keluarga Handoko", ucap Damar memberi semangat pada Lidya.
"Iya Lid, benar apa yang dikatakan mas mu. Kamu harus bisa mengambil hatinya Celvin lagi", ucap ku.
Tiba-tiba suara bel berbunyi, dan Damar berdiri membuka pintu. Ternyata nasi Padang yang dipesan Uda datang.
Damar masuk dengan membawa nasi padang dan juga nota pembayaran nya.
"Ini ma, totalnya seratus lima puluh ribu. Mana uang nya?", Damar sambil menyodorkan nota pembayaran nya.
"Ya pakai uang mu lah Mar, masak sama mama perhitungan ", jawabku.
"Bukan perhitungan gitu ma, tapi kan mama tau sendiri semua uang ku Uda Damar berikan ke mama. Damar cuma sisain buat jalan aja", ucap Damar.
"iya iya, ini". ku sodorkan uang pecah lima puluh ribuan tiga lembar. " Mahal sekali, coba kalau ada Sarah pasti ada yang masak. Kita nggak perlu keluar uang banyak seperti ini", ucap ku.
💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞
jangan lupa mampir di novel temen ku yagesya
__ADS_1