
"Kamu kenapa senyum-senyum sendiri, Sarah?," lagi suara Sinta membuat ku kaget'.
"Kamu apaan sih, Sin? bikin kaget aku aja." ucap ku sambil menatap nya lalu mengalihkan pandangan ku ke handphone yang aku pegang.
"Kamu lagi berbalas pesan dengan siapa, Sarah?," tanya Sinta pelan.
"Dengan Randy." jawabku singkat.
"cieee..yang lagi berbalas pesan dengan kekasih hati." kali ini Sinta meledek ku.
"Apaan sih?," ucapku dengan sangat malu, mungkin saat ini wajah memerah karena ledekan Sinta.
"Ada apa sih, mbak? kok keliatan nya seru banget?," Mayang yang melihat aku dan Sinta tertawa, ia pun langsung kepo dan langsung menggeser duduknya mendekat padaku.
"Ini loh, May. Kayaknya mbak mu ini lagi kasmaran," ucap Sinta sambil menoleh dagu ku.
"Iya kah mbak?, siapa laki-laki itu? wah... curang nih, aku yang adiknya tidak dikasih tau." ucap Mayang merajuk sambil memonyongkan bibirnya.
"Aku ke toilet dulu ya, May." Celvin yang saat ini dicuekin oleh Mayang berdiri dan pamit untuk ketoilet.
"May, lihat tuh si Celvin ngambek. Gara-gara kamu tinggal kesini." celetuk Sinta.
"Apaan sih mbak Sinta ini, dia emang kebelet aja " jawab Mayang dengan lugu nya.
"Ayo lah mbak Sarah, kasih tau aku siapa laki-laki yang beruntung itu?." Mayang merengek sambil memeluk lengan tangan ku.
"Nggak ada Mayang, mbak Sarah tidak dekat sama siapa-siapa. Mbak Sarah masih ingin sendiri, konsentrasi membesarkan Kean dulu dan mempersiapkan masa depan yang cerah untuk Kean," jawab ku.
Karena tujuan pertama ku saat ini adalah kebahagiaan anak semata wayang ku ini.
Pak Handoko dan Celvin akhirnya datanglah bersama dari toilet. Dan kami bertiga pun juga sudah selesai makannya.
"Sint, jangan lupa abis ini kamu hubungi Jodi untuk mengambil mobil dan apartemen Bianca." Pak Handoko kembali mengingatkan Sinta, agar Sinta tidak lupa.
Lalu pak Handoko pulang bersama Celvin karena ada suatu urusan yang penting. Aku dan Mayang nanti akan diantar oleh Sinta asisten pribadi pak Handoko sekaligus teman dekat ku dulu dikampung.
Apa kabar dengan mantan mama mertua ku ya? Kalau tau berita ini. Dan bagaimana reaksinya kalau seandainya mobil dan apartemen Bianca di sita oleh pak Handoko?
"Hey, kenapa kamu bengong begitu Sarah?," tanya Sinta saat melihat ku melamun sambil memukul pelan bahu ku.
"Aku cuma lagi bayangin bagaimana reaksi mantan mama mertua alias mama nya mas Damar kalau menantu yang dia bangga-banggakan ternyata tidak sesuai dengan harapan nya." ucap ku sambil tersenyum getir.
"Kamu masih punya rasa sama Damar?," tanya Sinta.
"Ih... kok kamu nanya nya gitu?, aku sudah tidak ada rasa sama sekali sama mas Damar. Bisa keluar dari rumah nya itu suatu keberuntungan bagi ku, Sint." jawabku dengan tatapan nanar kedepan saat mengingat masa-masa sulit menjadi istri mas Damar.
Yang selalu dijadikan pembantu oleh mertua, Lidya dan mas Damar sendiri.
"Trus kenapa kamu masih memikirkan mereka?," tanya Sintia seperti sedang mengintrogasi ku.
"Bukan aku mempedulikan mereka, aku hanya ingin tahu bagaimana ekspresi wajah mantan mama mertua ku setelah ia tau kalau ternyata Bianca sudah tidak sekaya dulu," ucapku menjelaskan pada Sinta.
Sinta pun mengangguk mengerti dengan maksud ucapan Bianca.
"Kalau begitu habis ini kalian ikut dengan ku," ajak Sinta pada aku dan Mayang.
"Kemana?," tanyaku serentak dengan Mayang.
"Pokoknya kalian ikut aku, dan jangan banyak pertanyaan." ucap Sinta tegas.
Lalu Sinta merogoh tas nya untuk mengambil handphone nya.
Setelah menekan beberapa digit angka, Sinta langsung menaruh handphone ditelinga sebelah kanannya.
"Halo, Jodi!," sapa Sinta pada seseorang di sebrang telepon.
"Kamu diperintah oleh pak Handoko untuk mengambil mobil dan kunci apartemen Bu Bianca sekarang!," Sinta memberi perintah kepada orang yang bernama Jodi sesuai dengan apa yang disuruh oleh pak Handoko.
"Ok, abis ini aku akan mengirim alamat lengkap nya. Dan kalau kamu akan berangkat jangan lupa hubungi aku!," ucap Sinta dengan tegas.
Lalu sambungan telepon pun diputus, lalu Sinta terlihat sibuk mengetik di layar handphone nya.
"Kalian makan nya sudah?,atau mau pesan lagi?," tawar Sinta.
"Aku Uda kenyang, Sin. Mending kita pulang aja." usulku.
"Yakin kalian mau pulang?, mending kalian ikut aku aja. Aku yakin kalia suka Jalu ikut aku." ajak Sinta pada kami berdua.
Aku dan Mayang pun saling berpandangan, dan akhirnya kami berdua menganggukkan kepala menyetujui apa yang Sinta katakan.
"Tunggu sebentar, abis kita dapat aba-aba baru kita berangkat." ucap Sinta.
__ADS_1
Aku pun pasrah dengan apa yang Sinta katakan, karena aku juga tak mengerti dengan maksud nya.
Aku yakin Sinta tak akan menjerumuskan kita berdua, karena aku sudah sangat kenal betul dengan sikap dan sifat nya.
Lalu handphone ku berbunyi, saat aku lihat ada pesan masuk dari Randy. Aku langsung membuka dan membacanya.
Ternyata dia pamitan pulang terlebih dahulu, karena ada urusan yang mendesak. Awalnya dia ingin menunggu ku dan pulang bersama. Namun ternyata tidak bisa, karena dia harus segera pergi. Aku pun membalasnya dengan emoticon ibu jari.
Kali ini handphone Sinta berbunyi, dan ia segera mengangkat telepon dari handphone nya itu.
"Iya, jod?," tanyanya, kurasa itu panggilan dari orang yang bernama Jodi tadi, yang mendapat perintah dari pak Handoko.
"Baiklah, sekarang laksanakan tugas mu." Sinta menutup teleponnya.
"Ayo, sekarang Kalian ikut aku!!," ajak Sinta yang sudah berdiri, aku dan Mayang pun mengikuti nya.
Kali ini kita sudah berada didalam mobil, Sinta membawa mobil dengan kecepatan tinggi.
"Memang kita mau kemana sih, Sin? kok u kenceng banget membawa mobilnya?," aku sangat penasaran, karena tak seperti biasanya Sinta membawa mobil bersama ku.
"Kamu jangan bawel deh, pokoknya kamu ngikut aja!," ucapnya sambil terus fokus nyetir.
Aku pun saling berpandangan dengan Mayang, dan bersama-sama mengangkat bahu.
Kali ini aku dan Mayang hanya diam, yang terdengar hanya suara penyanyi jebolan ajang pencari bakat yang lagunya sedang viral karena enak kalau di buat dangdut.
"Seperti nya, aku sangat familiar dengan jalan ini?," ucapku dalam hati.
"Bukankah ini jalan ke kompleks perumahan rumah ya mas Damar?," gumam ku lagi dalam hati.
"Sint, inikan....,"
"Iya betul sekali." Belum selesai bertanya, tapi Sinta sudah menjawabnya dengan yakin kalau itu benar.
"Kok kita kesini?," tanya ku.
"Bukankah tadi kamu bilang ingin tahu ekspresi si tua Bangka yang menyebalkan itu saat ia tau kalau menantu idamannya itu miskin?," ucap Sinta dengan sangat sebal saat mengingat sikap ibunya Damar padanya saat liburan ke Bali dulu.
"Kamu tau dengan ibu nya mas Damar? kok kamu bilang dia menyebalkan?," tanya ku penuh selidik.
"Oh ya aku lupa belum cerita ke kamu, kamu ingat nggak waktu dulu kamu telpon aku disaat kamu mau lahiran Kean. Waktu itukan aku ada di Bali. Dan kamu tau? Aku di Bali dengan siapa? ya aku di Bali bersama Damar, Lidya dan si nenek lampir itu,"
Otak ku langsung flashback kejadian dulu, betapa sengsaranya aku saat mau melahirkan Kean. Karena tak ada satu orang pun yang menemani ku.
Aku juga ingat kalau Sinta sedang bersama dengan nenek yang menyebalkan, berarti yang di maksud oleh Sinta adalah mama Linda?
"Hey kamu jangan bengong aja, Sarah. Nanti kamu kesambet lagi!!," ucap Sinta sambil terus menyetir.
"Bentar lagi kita mau sampai nih," lanjut Sinta sambil menunjuk depan.
Iya ini persimpangan jalan sebelah timur rumah mas Damar.
Jantung ini berdebar dengan kencang, seakan-akan mau bertemu dengan kekasih hati.
Tapi jujur aku sudah tidak ada rasa apapun pada mas Damar karena dia hanyalah masalalu. Mungkin jantung ini berdebar karena ingin melihat si masalalu dengan perempuan lain.
Sekarang rumah mas Damar sudah kelihatan dari sini, rumah dengan pagar cat putih itu pernah mengukir cerita di hidupku dan Kean.
Walau aku yakin, Kean juga tak akan pernah ingat kalau ia pernah tinggal disana. Dan tak terasa air mata ini jatuh membasahi pipi.
"Mbak, mbak kenapa nangis?," tanya Mayang, tenyata dia melihat saat menangis. Langsung aku usap air mata yang mengalir di pipi ini dengan tangan ku.
"Mbak nggak kenapa-kenapa kok, May." jawab ku dengan senyum sangat manis di bibir ini.
Lalu Mayang memeluk ku, mungkin ia juga sedih saat Sinta bercerita tentang aku yang akan melahirkan.
Sekarang mobil Sinta sudah berada tepat di depan rumah mas Damar.
Dan di depan mobil Sinta ada satu mobil, aku yakin itu adalah mobil yang nama nya Jodi yang disebut-sebut Sinta tadi ditelepon.
Dari mobil itu keluar beberapa orang yang sangat menyeramkan, tubuh yang kekar dan rambut yang gondrong.
Mereka terlihat berjalan kearah rumah mas Damar. Kini mereka membuka pintu pagar yang berwarna putih itu.
Terlihat mobil mewah Bianca terparkir dihalaman rumah, itu berarti Bianca saat ini sedang berada di rumah.
Ketiga orang lelaki kini mengetuk pintu rumah mas Damar. Dan yang keluar membuka pintu adalah mas Damar.
Lalu mas Damar kembali masuk, mungkin mau memanggil Bianca didalam.
"Sin, kalau kita melihat dari sini apa nanti kita tidak ketahuan?," tanyaku cemas, takut saja nanti mereka melihatku disini. Aku malas sekali kalau terjadi keributan.
__ADS_1
"Tenang, Sarah. Kaca film mobil ku ini gelap, jadi kalau dari luar kita tidak akan nampak." jawab Sinta. Aku pun tenang setelah mendengar ucapan Sinta.
Kita bertiga masih terus memantau didepan rumah mas Damar untuk melihat kejadian yang akan terjadi setelah ini.
Dan akhirnya Bianca pun keluar di ikuti oleh mas Damar. Terlihat mereka bicara sangat serius sekali.
Bianca juga bicara seperti dengan luapan emosi, lalu ia kedalam lagi.
Sayangnya dari sini suaranya tak terdengar begitu jelas.
Lalu Bianca keluar dengan membawa handphone, dan handphone itu di lekatkan ditelinga nya. Sepertinya ia sedang menelepon seseorang. Dan dia terlihat berbicara sambil menangis'.
"Pasti Bianca saat ini sedang menelpon pak Handoko." ucap Sinta sambil tersenyum sinis.
"Kok mbak Sinta tau?," tanya Mayang.
"Ya iyalah, mau telepon siapa lagi? Bianca itu yatim-piatu. Dia tidak punya siapa-siapa disini. Yang ia punya hanya pak Handoko. Seharusnya Bianca itu bersyukur karena sudah diangkat derajatnya dari gembel menjadi ratu sama pak Handoko."
Jujur aku sangat kaget sama kenyataan yang di ucapkan Sinta, karena sangat berbanding terbalik dengan apa yang di katakan Bianca kepada mas Damar dan keluarga nya
Aku sangat tau, apa yang dikatakan Bianca pada mama Linda. Kalau dia lah pewaris tunggal kekayaan kedua orang tuanya. Karena itu yang sering dikatakan mama Linda didepan ku waktu itu.
Belum selesai drama didepan ku, kini ada taksi online yang berhenti di depan rumah mas Damar. Aku sangat penasaran dengan orang yang keluar dari taksi itu.
Aku menunggu nya, lalu tak lama ternyata yang datang adalah mantan mama mertua bersama Lidya.
Terlihat mantan mama mertua turun dengan wajah kesal penuh amarah. Ia berjalan cepat menuju segerombolan orang yang sedang bersitegang. Dan di belakang mantan mama mertua di ikuti Lidya yang berjalan dengan santai, beda sekali dengan mantan mama mertua.
"Dasar penipu!!!,"
PLAKK!!
Satu tamparan dari tangan mantan mama mertua ku mendarat sempurna dipipi mulus Bianca.
Kali ini suara mama Linda terdengar jelas dari sini, karena saking kerasnya.
Bianca pun terlihat bingung dengan sikap mama Linda padanya.
Dan rupanya ia meminta penjelasan tentang apa yang telah mama Linda lakukan padanya.
"Itu satu tamparan buat kamu yang telah menipu keluarga kami," sahut Lidya dengan sangat tenang.
"Kamu bilang kmu adalah pewaris tunggal Kekayaan orang tua mu. Tapi ternyata kamu hanyalah istri Handoko!!!," lanjut mama Linda.
"Sekarang kamu pergi dari sini!!," mama Linda terlihat menyeret tangan Bianca. Namun Bianca memberontak, dan kini mereka sudah berada di pintu pagar.
Suaranya pun saat ini terdengar jelas dari tempat aku berada.
"Lepaskan tanganku, ma!!!," akhirnya Bianca bisa terlepas dari genggaman tangan mama Linda.
Jodi dan kawan-kawan sudah berhasil membawa mobil mewah dan kunci apartemen milik Bianca.
"Ini ada apa, Bi? coba kamu jelaskan!!! Dan kenapa mereka mengambil mobil dan apartemen mu?," tanya mas Damar terlihat wajahnya sangat bingung.
"Ini sama dengan perampasan, Bianca. Ayo kita laporkan ini ke pihak yang berwajib!!," lanjut mas Damar.
"Kamu ini sudah di bohongi sama perempuan ini, mas!!," ucap Lidya.
"Bohong bagaimana maksud mu, Lidya?," tanya Damar.
"Dia ini wanita miskin, dia hanya mengandalkan kekayaan pak Handoko, mas." jelas Lidya.
"Kamu jangan asal tuduh saja, Lidya!!! Kalau bukan karena Bianca, mungkin kita sudah tidur dikolong jembatan gara-gara ulah mama." Terlihat mas Damar tidak terima dengan apa yang dikatakan Lidya.
"Kasian Bianca kalau terus diperlakukan seperti ini, ma! Kalian harus ingat kalau dia sekarang sedang hamil anak Damar!!," lanjut mas Damar, terlihat sekali pada raut wajahnya kalau dia sedang emosional.
Deg!!!
Jantung ku terasa berhenti saat mendengar kalau Bianca sedang hamil anak mas Damar.
Walau kemarin juga sempat dengar pengakuan Bianca pada pak Handoko kalau dia sedang hamil anak dari pak Handoko.
Namun yang membuat hati ini sakit, aku mendengar pengakuan dari mas Damar kalau itu anaknya. Mas Damar terlihat sekali membela Bianca didepan mama nya.
Kali ini mas Damar terlihat berani berbicara tegas kepada mama nya. Dan itu sangat berbanding terbalik dengan saat bersama ku dulu.
"Mbak Sarah kok menangis?," tanya Mayang. Seperti nya dia melihat ada air mata di pipiku.
Padahal aku tak merasa kalau aku sedang menangis, karena air mata ini jatuh dengan sendirinya.
"Mbak Sarah pasti mengingat kejadian yang dulu ya, mbak?," ucap Mayang.
__ADS_1
"Mbak Sarah sabar ya... karena kebahagiaan mbak sudah ada di depan mata." Kali ini Mayang berusaha menghibur ku, lalu dia memeluk ku dari belakang. Karena posisiku saat ini berada di kursi depan berdampingan dengan Sinta.