
POV Siska
"Hallo, mas Awan?!," sepertinya Veni sedang menelpon suami nya.
Sengaja langkah ini ku perlambat, ingin mengetahui apa yang akan di bicarakan Veni dengan suami nya.
"Mas, transfer uang sekarang ke rekening ku. Uang ku sudah habis." ucap Veni.
"Ya uang segitu, cuma cukup untuk jajan ku sehari aja." lanjutnya. Rupanya ia meminta suaminya untuk mentransfer sejumlah uang.
"Untuk perawatan kecantikan ku, mas. Memang kamu mau istri mu ini jelek?." tanya Veni dari sambungan telepon nya.
"Masa sih kamu kalah sama Bima?, Bima saja bisa memberikan uang lebih untuk istrinya. Sehingga istrinya bisa perawatan di salon hingga menghabiskan biaya puluhan juta!," ucap Veni. Entah siapa yang di maksud oleh Veni di dalam percakapan nya. Karena ia menyebut nama yang sangat asing ditelinga ku.
"Pokok nya kamu harus transfer aku uang sepuluh juta sekarang juga, mas. Aku nggak mau kalah dengan adik ipar ku itu. Dan aku harus bisa ada diatasnya!!," Rajuk Veni pada suami nya lewat sambungan telepon.
"Iya, aku tunggu!!!," Veni pun menutup telepon nya, dan kembali menikmati pijatan-pijatan ringan di kepalanya.
"Aku rasa setelah ini, uang puluhan juta akan masuk ke rekening." gumamku dalam hati sambil berjalan keluar meninggalkan Veni yang sedang kepanasan.
"Sepertinya Veni dan Sarah mempunyai hubungan kekeluargaan. Dan terlihat sekali, kalau Veni mempunyai kecemburuan sosial pada Sarah." gerutu ku sambil terus berjalan menuju tamu-tamu ku yang lain.
Sungguh tak sampai di fikiran ku, kalau grand opening salon cabang ku akan seramai ini. Begitu bahagia nya aku, saat melihat antusiasme masyarakat dengan grand opening salon cabang ini.
Sedang asyik menjamu para customer yang datang tiba-tiba handphone yang ku pegang di tangan ku berbunyi. Saat kulihat ternyata panggilan telepon dari Veni.
"Yes!, akhirnya masuk perangkap." ucapku lirih dengan senyum yang sangat licik.
"Iya, Ven? ada apa?," tanyaku.
"Kamu dimana, Sis?," tanya Veni lewat telepon nya.
"Aku sedang menjamu tamu yang datang. Ada apa Ven?, apa treatment mu sudah selesai?," tanya ku penuh basa-basi.
"Cepetan kamu kesini sekarang juga!," ucap Veni dengan nada yang lumayan tinggi.
Ini lah sifat Veni yang aku tak suka, ia seperti majikan saja. Seenak hati nya main perintah-perintah padaku.
Kadang aku menjadi tega padanya, karena sikapnya yang seperti ini padaku.
__ADS_1
Dan gayanya yang selangit namun tak mengerti fashion membuat ku ilfeel.
"Memang ada apa Ven?," tanyaku lagi, sengaja aku mengulur waktu. Agar tak lama-lama bersama nya didalam sana.
"Kamu ini banyak tanya ya?!, Uda cepat kesini saja!,"
"Iya, bentar ya..ini aku masih jalan." jawab ku. Namun aku masih belum beranjak dari tempat ku. Lalu telepon pun aku tutup tanpa menunggu konfirmasi dari Veni.
Aku masih menikmati menjamu tamu-tamu ku yang terus berdatangan.
"Siska?!, kenapa kamu tak datang-datang?," pesan singkat dikirim oleh Veni pada aplikasi WhatsApp ku.
Namun aku hanya membacanya dan aku tak membalasnya. Kali ini aku bergegas menuju Veni yang masih di tempat yang sama.
"Ada apa Ven?," tanyaku saat membuka pintu ruangan ini.
Veni melakukan treatment yang VVIP jadi semua treatment dilakukan di dalam ruangan khusus.
"Kamu ini kemana saja sih?," tanyanya dengan matanya melirik sinis padaku.
"Ya,, maaf. Tamu di depan banyak berdatangan. Jadi sebagai owner salon ini aku harus menyambut nya donk." jawab ku memberi alasan.
"Aku juga mau Massage dan spa!," jawab Veni.
"Yes!!, akhirnya kamu masuk kedalam rencana ku." ucapku dalam hati.
"Oke, setelah ini pegawai ku akan menyiapkan semua kebutuhan mu." jawab ku.
"Jadi kamu tunggu disini, aku akan memerintahkan pegawai ku yang lain untuk menyiapkan segala keperluan treatment mu." aku berdiri dan berjalan menuju ruangan ku.
"Kamu mau kemana?," tanya Veni.
"Aku mau keruangan kerja ku " jawabku.
"Kamu disini donk temani aku. Owner yang baik kan harus memberi service untuk pelanggan nya." ucap Veni.
"Lagian aku nggak sedikit loh mengeluarkan uang di salon mu ini." lanjut nya dengan wajah sombong nya.
"OOO... oke oke..., aku akan menemanimu disini." jawab ku, kalau bukan karena ia melakukan berbagai treatment dengan harga yang wow, aku sungguh malas untuk menemani nya.
__ADS_1
"Begitu donk!!," ucap nya sambil melirik sinis padaku.
Beberapa pegawai salon ku sedang sibuk mempersiapkan segala keperluan untuk treatment massage dan spa yang akan dilakukan oleh Veni di dalam ruangan ini.
"Kamu jangan lupa, bilang sama Sarah kalau aku telah melakukan perawatan di salon mu ini menghabiskan uang puluhan juta." ucap Veni dengan mata nya terpejam menikmati setiap pijatan lembut di tubuhnya.
Aku tersenyum penuh kemenangan, walau disini tidak ada yang dirugikan. Tapi dengan cara begini, aku bisa menarik Veni untuk mengeluarkan uang lebih banyak lagi dari sebelumnya.
"Iya, donk. Aku pasti akan mengatakan ini padanya. Dan aku yakin dia tidak akan mampu menyaingi mu, Ven. Dia kan hanya pelayan toko roti." ucapku pada Veni. Niat sekali aku mengatakan itu, agar Veni semakin royal untuk perawatan di salon kecantikan ku.
"Bagus,,, itu kerja yang bagus." jawab Veni dengan mata yang terpejam.
Beberapa menit setelah ia menjawab ucapan ku, terdengar suara dengkuran kecil keluar dari mulut Veni.
Aku yang mendengar itu, sangat yakin kalau ia sudah terlelap di alam mimpinya.
Dan aku segera pergi meninggalkan nya diruangan ini untuk melihat customer ku yang lain.
"Lebih baik, aku keruangan treatment Sinta dan Sarah saja." gumamku.
Tok!
Tok!
Tok!
"Masuk Bu," perintah pegawai ku yang sedang menangani Sinta dan Sarah.
"cekleeek," gagang pintu ku tarik dan pintu terbuka.
"Bagaimana Sin?," tanya ku pada Sinta yang terlihat sangat menikmati setiap pijatan di tubuh nya.
"Biarkan aku untuk menikmati ini, Sis." jawab Sinta.
"Kalau kamu butuh penilaian, nanti setelah selesai semua nya. Aku dan Sarah akan memberikan nilai untuk pelayanan salon mu ini." lanjut Sinta.
Sikap dua customer ku ini sungguh berbanding terbalik dengan Veni. Mereka berdua melakukan perawatan bertujuan untuk mengembalikan ke Segaran tubuh dan otaknya. Berbeda dengan Veni, ia melakukan itu semua untuk menjaga gengsi, agar ia tak di sebut kalah oleh lawan nya.
Tapi terserah apapun alasannya, yang penting pundi-pundi rupiah masuk kedalam rekening ku. Tanpa aku merugikan siapapun.
__ADS_1
Karena memang mereka memberikan upah itu sesuai dengan jasa yang mereka terima.