DERITA SEATAP DENGAN MERTUA

DERITA SEATAP DENGAN MERTUA
Kejutan Dari Sinta


__ADS_3

"Kenapa tadi kamu tak mendatangi aku, Sin? Malah kamu duduk sembunyi di pojokan." ucapku tanpa menatap Sinta, aku fokus ke jalan yang saat ini lumayan ramai.


"Bukannya sembunyi sih. Tepat nya lebih ke memantau. Jadi aku pantau dulu, kalau Damar sudah mulai sarkar aku akan keluar untuk membantu mu. Namun nyatanya, kamu bisa menghadapi sikap Damar. Jadi aku tak menampakkan diri." mulutnya terus mengunyah snack kentang rasa sapi panggang itu.


Dan dia membetulkan duduknya, agar posisi duduknya lebih nyaman.


"Jujur, aku salut loh sama kamu, Sar. Kamu bisa membuat Damar malu di depan orang banyak." kali ini Sinta berkata dengan menghentikan tangan yang berisi Snack kentang rasa sapi panggang itu yang akan di masukkan kedalam mulutnya dan matanya menatap ku.


"Tapi aku juga dipermalukan balik oleh mas Damar." ucap tanpa melihat kearah Sinta.


"Iya sih, tapi kamu kan nggak pernah melakukan itu. Jadi kenapa harus dipikirkan." ucapnya lagi dengan mulut yang penuh dengan makanan.


"Ini kita mau kemana sih, Sin?," tanyaku lagi. Karena penasaran juga, aku mau diajak kemana.


"Sudah, kamu diam saja. Fokus nyetir dan ikuti arahan ku." jawab Sinta dengan mengangkat kedua kakinya keatas dasboard mobil.


"Aku ngantuk, Sar." lanjutnya setelah ia mendapatkan posisi yang wenak untuk memejamkan mata.


"Kalau kamu tidur, trus yang ngarahin jalan siapa donk?," tanya.


"Aku nggak tidur kok," sahutnya.


Aku pun mengarahkan mobil sesuai dengan arahan Sinta.


Tapi...


"Sin, bukan kah ini jalan menuju kompleks rumah mas Damar?," tanya ku sambil terus menyetir mobil sesuai dengan arahan Sinta.


"Duh, kok kamu hafal banget sih?!, padahal udah lama kan kamu tak kesini?," ledek Sinta.


"Kan baru kemarin kita kesini, waktu pak Handoko menyuruh orang suruhannya untuk menyita mobil Bianca." jawab ku. Karena aku ingat betul waktu itu, dan itu nggak lama-lama amat kok. Hanya hitungan bulan.


"Oh ya, aku lupa!," jawab Sinta sambil menepuk jidatnya.


"Emang kita mau kerumah siapa sih, Sin? Jangan bilang kalau kamu mau mengajakku kerumahnya mas Damar loh!," ku tunjuk Sinta. Karena awas saja kalau dia mencari gara-gara dengan mengajak aku ke rumah mas Damar.


"Ih....apaan sih, main tunjuk-tunjuk aja kamu ini." jawab Sinta dengan tersenyum tengil penuh ejekan padaku.


"Udah, kamu jalan aja. Nanti juga bakal tahu kita mau kerumah siapa." ucapnya lagi.

__ADS_1


Kini semakin dekat dengan pintu kompleks perumahan rumah mas Damar. Jantung terasa bergetar lebih cepat, bukan perasaan cinta atau masih ada rasa sayang tapi ada rasa kesal mengingat kejadian baru saja aku alami.


"Yakin kita kesini, Sin?," tanyaku pada Sintia, karena menurut ku ini hal yang konyol. Ngapain juga aku dan Sinta datang kesini?


Masak iya, Sinta mau labrak mas Damar karena kejadian tadi.


"Huh..." Aku membuang nafas kasar untuk menyetabilkan deguban jantung yang berdetak semakin kencang, saat mobil ini sudah memasuki pintu kompleks.


"Kamu grogi ya?," ledek Sinta dengan senyum nya terlihat banget meledek ku.


"Tenangkan hati mu ya,,,, karena aku pastikan nanti kamu akan sering kesini. Ya itung-itung senam jantung lah." lanjut Sinta dengan tertawa besar.


Entah apa yang direncanakan Sinta saat ini. Kenapa dia ngotot sekali mengajak ku datang kesini.


Aku pasrahkan saja semua nya, aku yakin Sinta tak akan menjerumuskan ku ke lubang buaya.


"Stop!!,"


Ucapan Sinta berhasil membuat ku kaget, sehingga aku menginjak pedal rem dengan refleks. Tak bisa di hindari, Sinta pun terpental. Dan dahi nya kepentok dasboard mobil.


" Auuw....!!!" Teriak Sinta sambil memegang dahinya.


Aku yang melihat itu pun, tertawa.


Dan aku makin tertawa lebar melihat ekspresi Sinta.


"Kamu sih, ngomong stop nya mendadak." aku beralasan, karena tak mau disalahkan atas merahnya jidat Sinta.


"Ye.... kok nyalahin aku! Kamu tuh, bawa mobilnya sambil melamun." ucapnya sewot.


Aku cekikikan melihat benjolan yang kini tumbuh di jidat Sinta.


"Pasti kamu lagi mikirin Damar ya?, karena sekarang ada di komplek rumah nya...," Sinta menunjuk sambil tertawa mengejek.


"Jangan-jangan kamu kangen ya sama Damar,,, ha ha ha." Sinta semakin tertawa lebar.


"Apaan sih!!!," aku melirik Sinta yang suka banget menggodaku.


" Loh?? kok berhenti nya disini?!," Aku kaget saat mengetahui ternya mobil ku berhenti tepat didepan rumah mas Damar.

__ADS_1


"Kenapa lagi Sarah?," tanya Sinta sambil memasang kacamata hitamnya dan membenarkan poni nya untuk menutupi jidat nya yang saat ini tumbuh benjolan.


"Heh!!! kamu jangan main-main ya, Sin!!, Sekarang juga kamu jelaskan. Apa maksud semua ini!!," kali ini aku marah pada Sinta. Kurasa Sinta sedang mempermainkan ku.


"Kalau menurut kamu ini candaan, ini sangat tidak lucu sama sekali, Sin!!," lanjut ku.


Dan Sinta yang mendengar aku sedang marah, ia terbengong sambil kelopak mata nya berkedip-kedip. Mirip sekali dengan barongsai.


"Lebih baik aku pulang saja!!!," ucapku sambil menghidupkan mesin mobil ku.


"Stop! Stop! stop!!," ucap Sinta menghentikan kali ku yang saat ini sudah berada di pedal gas.


"Stop!! Sarah!!, tenang kan dirimu dulu. Aku akan menjelaskan semuanya." ucap Sinta sambil mencopot kacamata hitam nya yang baru saja ia pakai itu.


Dan aku urungkan kaki ini menginjak pedal gas, dan kumatikan lagi mesin mobilnya, karena masih penasaran dengan tujuan Sinta datang kesini.


"Lebih baik kita turun saja dulu, biar nanti aku jelaskan."


"Hah?!!, maksud nya kita berdua turun disini? di depan rumah mas Damar ini?, gila aja kamu Sin!! Nggak, nggak, aku nggak mau." Lalu ku hidupkan lagi mesin mobil ini. Kali ini aku sangat kecewa dengan sikap Sinta.


"Sarah..!! Stop!!, oke. Aku akan menjelaskan disini." ucapnya lagi dengan tatapan mata yang meyakinkan.


"Silahkan." ucapku singkat dengan tangan ini mempersilahkan Sinta untuk berbicara.


"Asal kamu tau, Sarah. Aku datang kesini bukan untuk mempermainkan mu atau pun mempermalukan mu. Aku datang kesini mengajak kamu itu, bertujuan untuk memberi tahu mu tentang sesuatu." ucap Sinta, dan aku masih diam untuk mendengarkan pengakuan Sinta padaku.


"Bukankah kemarin kamu ingin tau rumah baru ku?," lanjut Sinta sambil menatap ku.


Iya sih, kemarin aku bilang seperti itu, tapi kenapa malah aku diajak berhenti didepan rumah mas Damar?


"Iya, Sin. Aku memang ingin tau rumah kamu, tapi kenapa kamu bawa aku kesini? kerumah mas Damar?!," ucapku dengan pelan tapi penuh penekanan. Karena ada rasa jengkel karena ulah Sinta.


"Siapa juga yang ngajak kamu kerumah neraka seperti itu." Sinta menunjuk keluar kearah rumah mas Damar.


"Lah terus?," tanya ku.


"Asal kamu tau, itulah rumahku." ucap Sinta sambil menunjuk rumah yang berada di kanan ku dan berhadapan dengan rumah mas Damar.


"Apa?!,"

__ADS_1


Aku terkaget-kaget mendengar penjelasan Sinta. Jadi rumah baru Sinta berhadap-hadapan dengan rumah mas Damar?


Mana bisa aku sering-sering kesini, sedangkan rumah Sinta berhadapan langsung dengan rumah mas Damar.


__ADS_2