
Hari sudah malam, dan para karyawan pun juga sudah pulang.
Kini hanya tinggal kita bertiga disini. Aku, Mayang dan Kean.
Kean yang sudah tidur mulai dari sore, kini dia masih terlelap dengan mimpi indahnya.
Aku dan Sarah duduk di kursi yang berada di depan kamar tidur ku.
Aku mulai mengetik novel, sedangkan Mayang duduk nonton tivi sambil makan Snack yang tadi ia beli di indo April sebelah ruko.
"Kamu nggak tidur, May? Ini sudah malam loh." ucapku sambil terus menatap laptop yang berada di atas pangkuanku.
"Belum ngantuk, mbak. Aku masih berbalas pesan dengan Celvin." jawabnya dengan mulutnya terus mengunyah.
"Jangan malam-malam kalau tidur, jaga kesehatan mu." ucap ku lagi dengan terus mengetik.
"Mbak sendiri gimana?, bukan nya mbak juga sering begadang?," ucapnya.
"Kamu ini kalau diberi tahu pasti gitu, selalu membalikkan kata." lalu aku menyeruput secangkir kopi.
Setelah up beberapa bab di beberapa novel ongoing ku, aku pun memutuskan untuk tidur.
Kini aku, Mayang dan Kean tidur bersama. Karena ini adalah momen sangat langkah bagi kami. Jarang-jarang kita punya banyak waktu seperti sekarang ini.
...****************...
Sebelum adzan subuh aku sudah bangun, ku lakukan rutinitas ku. Yaitu sholat di sepertiga malam terlebih dahulu. Setelah itu aku lanjutkan dengan sholat subuh.
Setelah sholat subuh, tenyata Mayang sudah bangun. Dan ia menyusul ku untuk melaksanakan sholat subuh.
Lalu aku pergi kekamar untuk melihat Kean, tenyata ia masih terlelap. Rutinitas pagi ku adalah membuat adonan kue.
Kini lebih mudah, karena kemarin bahan-bahan nya sudah disiapkan terlebih dahulu oleh Reni dan Mita.
Sudah beberapa hari aku membuat kue dibantu oleh Mayang. Ya..mumpung dia ada disini, lumayan kan dapat bantuan tenaga secara gratis?.
Kini beberapa kue sudah matang, jam di dinding sudah menunjukkan pukul setengah tujuh. Menandakan setelah ini para karyawan ku akan datang.
Kali ini yang datang terlebih dulu adalah pengasuh Kean, karena si bayi masih tidur. Pengasuh Kean tidak mau nganggur. Dia menyapu rumah dan membersihkan perabotan. Serta kalau masih ada waktu ia juga masak. Itu kemauan nya sendiri melakukan semuanya.
Kedatangan pengasuh Kean di ikuti oleh paman Udin, Reni dan Mita. Mereka datang bersama-sama.
"Mit, ini kamu bawa kedepan ya. Langsung taruh saja di etalase. Biarkan paman Udin membuka tokonya." perintah ku pada Mita.
"Iya, Bu." jawabnya. Lalu Mita membawa baki-baki yang berisikan beberapa kue.
Sedangkan Reni membersihkan ulang kaca etalase, agar terlihat lebih bersih. Karena ini menjual makanan, jadi tempat nya harus bersih dan higienis. Itu yang selalu aku katakan pada mereka.
Toko pun dibuka setelah isi etalase sudah penuh, dan alhamdulilah para pelanggan setia ku sudah standby dari toko belum dibuka tadi.
Pagi ini aku rencana mau visit ke outlet cabang yang ada di mall.
"Kamu hari ini ada acara kah dengan Celvin, May?," tanya ku sambil membenarkan Khimar panjang ku yang berwarna navy.
"Memang kenapa, mbak?," tanya Mayang sambil nonton tivi menemani Kean.
"Pagi ini mbak, rencana mau ke outlet. Siapa tau kamu ikut." ucap ku menjelaskan.
"Aku ikut, mbak. Tapi nanti disana mbak traktir Mayang di resto makanan Korea ya mbk?," jawab Mayang memberi persyaratan.
"Kamu gitu, kalau ada mau nya pasti semangat." Ledek ku.
"Ya sudah, buruan gih ganti baju!," perintah ku.
Mayang berjalan menuju kamar untuk mengambil pakaian nya. Dan kini ia keluar dengan memakai gamis model overall dengan pasmina berwarna senada dengan gamisnya.
Terlihat sangat cocok sekali di usianya yang masih mudah.
"Kean diajak, mbak?," tanya Mayang.
"Nggak usah lah, soalnya nanti mbak mau bantu-bantu mbak indah dulu. Kasian dia, pasti kewalahan." jawab ku sambil mengambil kunci mobil yang tergantung di hiasan dinding.
Lalu kita berdua berangkat setelah berpamitan dengan Kean dan para karyawan ku.
"Mbak, aku nitip Kean ya." itu ucapan ku setiap aku meninggalkan Kean bersama pengasuh nya.
__ADS_1
Aku dan Mayang sudah berada di dalam mobil. Aku putar musik untuk menghilangkan stress dan untuk merefresh otak ku dari kepenatan masalah hidup.
"Ih... lagu nya kok jadul banget, mbak?!," protes Mayang, lalu ia mengganti nya dengan lagu kesukaan nya.
"May!!!! sejak kapan kamu jahil seperti itu?!," ucap ku dengan menatap tajam kearah Mayang.
"Tapi, mbk....! itu lagu kuno. Mbak Sarah harus mencoba mendengar lagu yang lagi hits saat ini. Biar mbak nggak ketinggalan jam....man. hi...." ucap Mayang dengan memelankan suaranya diakhir kalimat dan di ikuti dengan nyengir kuda.
"Kamu bilang, mbak ketinggalan jaman?!, hmmm sekarang gitu ya caramu pada orang yang lebih tua, mentang-mentang kuliah di luar negeri. Jadi hilang rasa hormat nya." Aku pura-pura marah kepada Mayang. Padahal hati ini tertawa terbahak-bahak saat melihat wajah Mayang ketakutan.
"Maksud Mayang bukan gitu, mbak...," terlihat sekali Mayang ketakutan kalau aku benar-benar marah.
"Maafkan Mayang ya, mbak. Mayang nggak bermaksud menyinggung perasaan mbak Sarah." Mayang menangkupkan kedua telapak tangan nya.
Lalu aku memandang nya dan tertawa melihat wajah yang ketakutan.
"Kamu percaya kalau mbak akan marah padamu, May?," tanyaku dengan mengalihkan pandangan kedepan untuk melihat jalan.
"Ah... mbak Sarah jahat!!," ucap Mayang terlihat kesal, sampai ia mengeluarkan air mata.
"Mbak Sarah tega ii sama Mayang," ucap nya lagi sambil mengusap air matanya yang sudah ada di ujung matanya.
"Mbak Sarah hanya bercanda kok. Maafin mbak Sarah ya.." ucapku sambil tersenyum dan tanganku menggosok kepalanya.
Walau Mayang sudah tunangan dan sebentar lagi ia akan menikah, tapi bagiku ia masih anak kecil yang manja dan menggemaskan.
Dan tak terasa akhirnya kita sampai di parkiran mall. Ku parkir mobil di tempat yang kosong sesuai arahan tukang parkir.
Kami pun berjalan bergandengan masuk kedalam mall.
"Apa kamu mau sarapan dulu, May?," tawarku, karena tadi kita berdua tidak sempat untuk sarapan di rumah.
"Nanti saja, mbak. Sekalian makan siang, karena tidak pas aja menurut ku. Makanan Korea di makan untuk sarapan." ucapnya dengan banyak alasan.
"Alaaa... ya kata siapa?, kalau Uda lapar makanan apapun akan nikmat. Sekalipun hanya nasi dan garam. Kita harus banyak-banyak bersyukur." kali ini Mayang aku kasih wejangan.
"Ih..mbak Sarah nyontek kata-kata ibu aja." ucapanya.
Memang itu kata-kata yang selalu dikatakan oleh ibu sewaktu kita kecil dulu. Karena sedari kecil hidup kita serba kekurangan, namun hanya kekurangan materi bukan kekurangan kasih sayang.
Itu yang ku terapkan saat ini pada Kean, sesibuk apapun aku untuk mencari uang. Akan aku luangkan waktu ku untuk bermain-main dan memanjakan nya. Agar aku tak menjadi orang tua yang gagal nantinya.
Kini aku dan Mayang sudah sampai di outlet cabang, aku bergegas berjalan ke area produksi.
" Selamat pagi Ibu...,"
"Pagi ibu.,"
"Selamat pagi ibu,,"
Sapa beberapa karyawan yang berpapasan dengan ku sambil menganggukkan kepala nya.
Aku suka dengan sikap ramah para karyawan ku, karena itu sangat penting saat berhadapan langsung dengan customer.
Aku menghampiri mbak Indah yang sedang memasukkan loyang yang berisi adonan kue kedalam oven.
"Gimana mbak Indah, semuanya lancar kan?," tanya ku pada mbak Indah sambil melihat posisi loyang yang sudah masuk kedalam oven. Takut loyang nya miring. Karena kalau loyang nya miring, hasil kue nya pun jelek.
Kini aku membantu mbak Indah membuat adonan kue, dan mbak Indah di bagian oven. Sedangkan Mayang duduk santai di meja yang kosong. Karena ini masih pagi, jadi pengunjung pun masih belum ramai.
Di outlet dan diruko sangat berbeda, kalau diruko jam pagi itu sangat ramai pembeli. Biasa orang membeli kue untuk pengganjal perutnya disaat mau berangkat kerja.
Sedangkan di outlet sini, ramai disaat menjelang makan siang dan malam hari. Karena banyak pengunjung mall yang capek dan butuh camilan setelah belanja.
Jam makan siang pun menjelang, Mayang mendatangi ku ke tempat produksi.
"Mbak, udah lapar nih." bisiknya sambil memegang perutnya.
"Ya sudah, kita makan ya." ajak ku.
"Mbak Indah aku tinggal ya, lagian ini sudah tinggal sedikit," pamit ku.
"Iya, Bu." jawabnya dengan pelan dan kepala mengangguk.
Aku berjalan keluar dari tempat produksi, dan ternyata benar saja dugaan ku. Menjelang makan siang gini, outlet pasti ramai.
__ADS_1
Aku segera berjalan menuju resto yang Mayang maksud, dan resto itu letaknya tak begitu jauh dari outlet kue ku.
Setelah sampai, kita berdua masuk dan mencari kursi yang kosong. Karena resto saat ini lumayan ramai.
Setelah duduk, waiters pun datang menghampiri kita. Ia memberikan list menu makanan dan minuman ala-ala Korea.
"Mbak Sarah, mau pesan apa?," tanya Mayang sambil matanya terus menatap list menu yang ada ditangan nya itu.
"Mbak Sarah mana ngerti dengan makanan seperti ini," bisik ku pada Mayang. Karena malu kalau waiters yang ada disamping ku mendengar nya.
"Lah terus? Mbak Sarah nggak makan?," tanya Mayang dengan mata melotot, mungkin dia kaget kalau mbak nya ini masih kampungan.
"Aku pasrah ke kamu saja, May. Kamu pilih menu makanan yang cocok buat lidah mbak Sarah yang kampungan ini, ya.." ucapku masih dengan bisik-bisik karena alasan nya juga sama dengan yang tadi.
"Ooo...ok ok, mbak. Pasrah kan semuanya pada adik mu ini." ucap Mayang dengan membanggakan diri.
Setelah memilih menu dan menunggu makanan nya datang kita mengobrol tentang kehidupan Mayang di Singapura. Selain itu aku juga bertanya tentang hubungan nya dengan Celvin.
Dan akhirnya menu yang sudah dipesan Mayang pun datang. Walau kedatangan nya sangat lama menurutku, karena cacing perut ini sudah tidak mau diajak kompromi.
Kita pun memakan makanan ala-ala Korea, yang menurut lidah ku makanan ini sangat aneh sekali.
Menurut lidah ku yang kampungan ini, paling enak tetap masakan ibu dikampung.
"Memang kamu sering ya, makan makanan seperti ini disana?," tanyaku pada Mayang yang terlihat sangat menikmati makanan dari negara oppa-oppa tampan itu.
"Kalau Mayang disana makannya seperti ini, ya mana bisa Mayang bayar kost, mbak." jawab Mayang sambil terus mengunyah kimchi.
"Kadang kalau Celvin mengajak makan diluar, baru aku makan makanan yang seperti ini. Kadang juga di resto Jepang, tapi lebih sering sih di restoran Indonesia. Karena itu mengobati rindu ku pada tanah air." jawab nya sambil nyengir kuda.
Drrrttttt
Drrrttttt
Handphone ku berbunyi, ada panggilan masuk. Ku rogoh tas ku, dan kuambil handphone ku.
Ternyata panggilan dari Reni, ada apa dia menelpon ku? Masak iya stok kue sudah kosong, secara ini masih jam makan siang.
"Hallo, assalamualaikum Ren," sapaku pada Reni yang ada disebrang telepon.
"Waalaikumsalam, Bu. Bu.. Bu Sarah." suara Reni terdengar gemetar dan ketakutan.
"Ada apa, Ren?," tanya ku sangat penasaran.
"Bu Sarah.... itu Bu. Kean...Kean itu Bu ..," ucapan Reni semakin tak jelas membuat hati ku khawatir. Karena Reni menyebut nama Kean.
"Ren, ngomong yang jelas. tenang kan dirimu!! Sebenarnya ada apa?!," tanya ku dengan nada agak tinggi karena sangat kesal dengan Reni yang tak jelas sama sekali.
"Kean Bu... Kean." ucapnya lagi semakin membuat ku penasaran.
"Ada apa mbak?," tanya Mayang yang juga bingung melihat ekspresi wajahku.
Aku hanya menggeleng kan kepala menjawab pertanyaan dari Mayang.
"Ada apa dengan Kean, Reni!!! Kalau ngomong yang jelas!! Jangan membuat ku semakin bingung!!," kali ini emosi sudah sampai di ubun-ubun.
"Kean di bawa mamanya pak Damar, bu." mendengar ucapan Reni seketika tubuh ku terasa lemas seperti tak bertulang. Untuk berdiri saja rasa nya sangat sulit. Handphone ditangan pun jatuh dengan sendirinya. Darah yang mengalir di tubuh ini rasanya berhenti.
"Ada apa mbk?," tanya Mayang yang terlihat cemas saat melihat ekspresi ku.
Aku tak mampu menjawab pertanyaan Mayang, pikiran ku saat ini adalah Kean. Aku takut mama Linda akan berbuat macam-macam pada Kean.
"Mbak Sarah minum dulu, biar lebih tenang," ucap Mayang sambil menyodorkan botol yang berisi air mineral.
Aku pun segera meneguknya, lalu menarik nafas dalam-dalam dan membuang. Untuk menghilangkan rasa sesak didada ini.
"Sekarang mbak Sarah sudah tenang?," tanya Mayang. Dan aku menganggukkan kepala.
"Sekarang mbak Sarah cerita pada Mayang, apa yang sebenarnya terjadi?." tanya Mayang dengan memegang kedua tangan ku.
"Kean, May. Kean diambil mama nya mas Damar." Aku menangis dan Mayang pindah posisi duduknya disebelah ku dan langsung memeluk ku dari samping.
"Tenang kan diri mbak dulu, habis itu kita kesana untuk mengambil Kean. Mayang yakin disana Kean akan baik-baik saja, mbak. Nggak mungkin mas Damar tega kepada anaknya sendiri." ucapan Mayang sedikit menenangkan hati ku yang tidak karuan ini.
Aku meminum kembali air mineral kemasan botol yang diberikan Mayang tadi padaku, agar hati ini lebih tenang.
__ADS_1