DERITA SEATAP DENGAN MERTUA

DERITA SEATAP DENGAN MERTUA
Terkejut


__ADS_3

Pagi ini aku menjalani rutinitas yang sama, hanya saja semenjak aku tinggal bersama ibu. Tugas memasak untuk sarapan sudah di ambil alih oleh ibu


Aku sudah melarang ibu untuk melakukan itu. Tapi ibu bilang kalau ia tak ngapain-ngapain, malah badannya terasa capek. Akhirnya aku membiarkan ibu untuk memasak. Karena aku takut ibu nanti sakit hati kalau aku terus melarang nya.


"Sarah, sebenarnya ibu ini pingin punya kesibukan." ucap ibu sambil menata makanan diatas meja makan.


"Kesibukan yang seperti apa, Bu?," tanyaku sambil duduk di kursi meja makan dengan tangan membawa piring untuk sarapan.


"Ibu ingin membuka warung makan, Sarah. Ya...kita buat aja di ,teras rumah kecil-kecilan." ucap ibu sambil berlalu untuk menaruh sendok yang kotor di wastafel.


"Yakin ibu mau jualan makanan?. Kalau menurut ku lebih baik ibu dan bapak istirahat saja di rumah. Ibu dan bapak cukup mengawasi Kean dirumah." ucapku.


"Tetap saja ibu tidak enak, Sarah. Selain ibu badan ibu terasa berat kalau lama menganggur. Ibu juga kasihan sama kamu, kamu berjuang sendiri untuk mencukupi kami semua disini." ucap ibu dengan memandang ku sayu. Terlihat sekali wajah ibu kalau saat ini ia banyak pikiran.


"Kenapa ibu berkata seperti itu?, Sarah tak merasa terbebani sedikit pun Bu. Bapak dan ibu berada disini, itu sebagai pemompa semangat Sarah." ucapku pada ibu.


"Apa yang ibu pikirkan sekarang?," tanyaku.


"Kami tak ingin menjadi beban mu, nak. Gara-gara ibu dan bapak ada disini, kamu dan Bima bercerai." jawab ibu.


Bisa jadi yang ada dipikiran ibu saat ini adalah ia merasa bersalah atas perceraian ku dengan mas Bima.


"Ibu, ibu jangan pernah punya pikiran seperti itu. Aku dan mas Bima bercerai bukan karena ibu dan bapak ada disini. Perceraian ini murni karena aku dengan mas Bima sudah tidak ada kecocokan lagi, Bu." jelas ku.


"Bukankah ibu yang bilang, kalau sudah tidak bahagia kenapa harus dipertahankan. Nah saat ini pernikahan ku dengan mas Bima itu sudah tidak bisa di teruskan, Bu. Bukan karena ibu dan bapak, tapi karena sifat dan sikap mas Bima dan keluarga nya yang tidak bisa menerima aku dengan baik." lanjutku menjelaskan pada ibu.


"Pokoknya ibu dan bapak istirahat saja dirumah sambil mengawasi Kean." ucapku sambil menyendokkan nasi yang ada diatas piring ke mulutku.


"Tapi, ibu juga ingin punya kesibukan yang lain, Sarah." gumam ibu.


Memang saat di kampung, ibu tak pernah hanya diam saja di dalam rumah. Ia senang sekali bercocok tanam di area halaman rumah yang sangat luas.


"Iya, ibu sabar dulu ya. Nanti Sarah pikiran, kesibukan apa yang cocok untuk ibu." jawabku.


"Tapi ibu hanya ingin menjual makanan yang ibu masak, Sarah." ibu terus memaksaku.

__ADS_1


"Iya Bu, tapi tidak sekarang. Sekarang ibu istirahat saja dulu." ucapku lagi memberi pengertian ibu.


"Ya sudah, terserah kamu saja." jawab ibu dengan pasrah. Lalu ia meninggalkan ku yang sedang sarapan, untuk memanggil Kean dan bapak untuk diajak sarapan bersama.


Setelah kamu semua selesai sarapan, aku pun mengantar Kean kesekolah.


"Sarah, biar nanti pulang nya bapak saja yang menjemput Kean di sekolah." ucap bapak setelah kami bergantian mencium punggung tangannya.


"Baik, pak." jawabku.


Aku dan Kean melambaikan tangan pada ibu dan bapak yang saat ini sedang berdiri diteras rumah membalas lambaian tangan ku dan Kean.


Semoga aku tak bertemu mbak Veni pagi ini, karena dengan bertemu mbak Veni mood ku seketika hancur karena nya.


Saat aku memarkirkan mobil, aku lihat di depan ku tak ada mobil mbak Veni yang terparkir.


"Alhamdulillah... ," ucapku didalam hati sambil mengusap dada.


"Ayo amma kita turun!," ajak Kean sambil menarik tangan ku.


Aku dan Kean berjalan bergandengan tangan menuju kelasnya.


Hati terasa tenang saat tak melihat keberadaan mbak Veni di sini.


"Kean belajar yang rajin ya, nggak boleh bandel. Harus patuh dengan apa yang dikatakan oleh ustadzah." pesan ku sebelum aku pergi meninggalkan dia di kelas nya.


"Siap amma." jawab Kean dengan mengacungkan jempol nya.


"Kean, ayo kita main bersama." panggil Kay dari dalam.


Dan rupanya Kay sudah diantar oleh mbak Veni. Namun saat ini aku tak melihat batang hidung sama sekali disini. Jangankan orangnya, mobilnya sepertinya juga tak ada.


"Mungkin dia sudah pulang." gumamku dalam hati.


Aku pun berjalan kembali menuju mobil ku yang terparkir di depan sekolah.

__ADS_1


"Sarah....!!," dari belakang ada suara lelaki yang memanggil ku. Dan seperti nya itu suara mas Awan.


Dan benar saja dugaan ku, saat aku menoleh ke sumber suara yang memanggil ku. Aku melihat mas Awan melambaikan tangan nya dan berjalan menuju aku yang saat ini masih berdiri di gerbang sekolah.


"Sarah, bagaimana ku kabarmu?," tanya mas Awan saat ia sudah ada di depan ku.


"Alhamdulillah baik, mas." jawabku dengan canggung, pandangan pun aku tundukkan. Karena aku takut terjadi fitnah untuk kedua kalinya.


"Aku permisi dulu ya, mas. Masih ada urusan yang lain." pamit ku pada mas Awan sambil berjalan meninggalkan nya.


Namun baru satu langkah kaki ini melangkah, "Kenapa terburu-buru Sarah?," mas Awan menarik tangan ku. Sehingga kaki ini terhenti.


Dan dengan sengaja mas Awan terus memegang pergelangan tangan ku.


"Maaf, mas." aku mencoba melepas tangan mas Awan yang saat ini ada di pergelangan tangan ku. Ada perasaan risih dengan tingkah laku dan tatapan mas Awan padaku.


"Oh...maaf Sarah." ucap mas Awan dengan segera melepas tangan nya dari pergelangan tangan ku. Aku segera menarik tangan ku kebelakang tubuhku.


"Maaf, maaf kan aku Sarah." berkali-kali mas Awan mengucapkan maaf sambil kedua telapak tangan nya di tangkup kan dan diangkat ke depan dadanya.


"Mohon jangan di ulang lagi, mas." ucapku dengan pandangan ini ku tundukkan.


"Iya, Sarah. Sekali lagi aku minta maaf." ucapnya lagi.


"Emmmm.... Apa kamu bawa mobil?," tanya mas Awan sambil mengedarkan pandangan nya uke area parkir di depan sekolah.


"Iya, mas." jawab ku.


"Emm... Aku boleh nebeng di mobilmu?, kebetulan taksi online yang mengantar ku tadi sudah pergi." ucap mas Awan.


"Apa, mas?," jawab ku terkejut. Rasanya tak mungkin sekali aku satu mobil dengan mas Awan, apalagi aku pernah difitnah menggoda nya waktu itu oleh mbak Veni.


"Kebetulan mobilku sedang di pakai Veni, jadi tadi aku mengantarkan Kay pakai taksi online." jawab mas Awan.


"Kenapa sekarang mas Awan nggak pakai taksi online saja?,' tanyaku.

__ADS_1


"Tadi aku sudah berkali-kali pesan taksi online. Namun di batalkan terus. Mungkin mereka dapat orderan yang lebih dekat dengan posisinya saat ini." Jawab mas Awan.


__ADS_2