DERITA SEATAP DENGAN MERTUA

DERITA SEATAP DENGAN MERTUA
#335


__ADS_3

"Bekerja untuk biaya pengobatan, ibu?," tanya Sarah dengan sedikit terkejut.


"Ibu, sakit apa Lid?," tanya Sarah.


"Ibu sudah lama sakit, mbak. Dan membutuhkan biaya yang lumayan banyak." jawab Lidya.


"Lalu dimana sekarang, ibu?," tanya Sarah dengan wajah cemasnya.


"Ibu sekarang ada di rumah sakit jiwa diperbatasan kampung mbak Sarah." jawab Lidya.


"Jadi mas damar memutuskan bekerja dikampung mbak Sarah, agar bisa setiap menemani ibu." ucap Lidya.


"Amma, Kean ingin bertemu dengan ayah dan nenek." rengek Kean.


"Tapi, ayah dan nenek kamu dari sini Kean. Nggak bisa kita berangkat sekarang. Karena ini sudah sore, pasti kita akan kemalaman sampai sana." ucap Sarah.


"Tapikan disana ada rumah akung, jadi kita bisa bermalam disana Amma." rengek Kean lagi.


"Kean, amma janji akan mengajak Kean kesana. Tapi tunggu Kean libur sekolah." ucap Sarah berjanji pada Kean.


"Kalau memang mbak Sarah dan Kean ingin menemui mas Damar dan ibu. Biar Lidya yang antar, mbak." sahut Lidya.


"Itu ide bagus, Lid." jawab Sarah.


Setelah cukup lama melepas kangen, akhirnya Kean mengajak Sarah untuk pulang.


Didalam perjalanan pulang, wajah Kean terlihat sedih dan tak banyak bicara.


"Kean, kenapa Kean masih sedih?, bukankah sudah bertemu dengan Tante Lidya?," tanya Sarah.


"Kean kepikiran sama nenek, amma." ucap Kean dengan tatapan mata kosong.


"Kean jangan berpikiran aneh-aneh, Kean harus yakin kalau nenek akan sembuh." bujuk Sarah.


Lalu Kean pun bersandar dalam pelukan Sarah, sampi ia tidur terlelap didalam pelukan ibunya itu.

__ADS_1


"Sarah, kok kamu baru pulang?," tanya ibu nya Sarah pada Sarah, setelah Sarah menidurkan Kean di kamar nya.


"Iya, Bu. Sarah baru pulang dari rumah Lidya." jawab Sarah dengan wajah yang terlihat sangat lelah.


"Kamu jadi kerumah mantan suami mu?,"


"Iya, Bu. Kean terus merengek minta kesana." jawab Sarah.


"Sarah mau istirahat dulu, Bu." Sarah yang duduk di sofa itu pun beranjak berdiri dan berjalan menuju kamar nya.


Baru saja Sarah melangkag masuk kedalam kamar. Diluar terdengar suara mobil yang berhenti


"Assalamualaikum," ucap salam dari luar pintu rumah Sarah.


"Waalaikumsalam." jawab ibunya Sarah.


Ibu nya Sarah pun berjalan menuju pintu depan untuk membukanya. Karena tadi, setelah Sarah masuk rumah, pintu pun di tutup dan di kunci.


"Bu Laras,?," ibunya Sarah kaget dengan kedatangan Laras kerumahnya. Kali ini ia datang tidak bersama Bima, namun bersama Awan.


"Bu, Sarah ada?," tanya Laras dengan suara lemah lembutnya.


"Memang ibu Laras datang kesini ada perlu apa?," tanya ibunya Sarah tanpa basa-basi. Karena ibunya Sarah sudah membaca body language Laras. Pasti ada tujuan tertentu kedatangan Laras ke rumahnya.


"Hmmm... Saya kesini mau menyambung tali silaturahmi kita yang sudah terputus, Bu. Rasanya hati ini merasa bersalah kalau tali silaturahmi kita ini terputus, Bu " jawab Laras beralibi.


Ibunya Sarah pun sudah jengah dengan alasan klasik seperti itu. Karena setiap datang kesini karena ada maksud dan tujuannya. Pasti memakai alasan ingin menyambung silaturahmi.


"Yakin itu alasan Bu Laras datang kesini?, bukan untuk mencari ribut?," celetuk ibunya Laras dengan ketus.


"Benar, Bu. Kedatangan kami kesini untuk menyambung silaturahmi. Ya, walaupun ada sedikit hal penting yang ingin kamu sampaikan pada Sarah." jawab Awan.


"Aku sudah mengira, tidak mungkin kalian datang kesini tanpa ada tujuan lain selain menyambung tali silaturahmi. Dan maaf sekali, Sarah tidak bisa diganggu karena dia sedang beristirahat." ucap ibu nya Sarah dengan lirikan mata yang tidak suka dengan mereka berdua.


"Tapi aku mohon Bu, kami datang kesini ingin sekali bertemu dengan Sarah. Jadi tolong panggilkan Sarah!," Awan memohon pada ibunya Sarah.

__ADS_1


"Tidak bisa, Sarah tidak bisa di ganggu. Dia sedang beristirahat!!, lebih baik kalian pergi dari sini." Laras dan Awan diusir oleh ibunya Sarah.


"Kenapa ibu jahat sekali?, aku sangat yakin kalau Sarah tau aku yang datang, pasti ia langsung menemui ku." ucap Awan dengan rasa percaya diri yang sangat tinggi.


"Memang kalian siapa?!, kenapa yakin sekali kalau Sarah mau menemui kalian!!," ibu nya Sarah sangat marah pada Laras dan Bima. Ibunya Sarah berbicara dengan tangan berkacak pinggang.


"Aku yakin , kalau aku bicara tentang mu pada Sarah. Kamu akan dipecat sekarang juga!!," bentak Awan dengan mata melotot.


"Apa maksudmu dengan berkata seperti itu?!," ibunya Sarah sedikit tidak terima saat Awan berkata seperti itu. Seakan-akan dirinya disini adalah seorang pembantu.


"Memang pantas kamu itu dipecat!!, karena tidak ada sopan-sopan nya pada tamu majikan mu!!," Seperti Awan masih belum puas untuk menghardik ibu nya Sarah.


Sedangkan Laras yang mendengar ucapan Awan, dengan kerja yang sangat keras ia menahan tawanya.


Ia biarkan Awan menghina ibunya Laras, karena menurut Laras dia pantas dihina seperti itu.


Toh, mana mungkin Sarah mendengarkan apa yang kini mereka bicarakan.


"Kamu memang tak pernah diajari sopan satun nya sama orang tua mu." ucap ibunya Sarah sambil melirik kearah Laras, yang kebetulan Laras juga sedang menatap ibunya sarah dengan tatapan jijik.


Namun pikiran Laras pun salah, ternyata dari dalam kamar nya Sarah sudah mendengarkan apa yang mereka katakan kepada ibunya. Semua hinaan yang diucapkan Awan pun ia dengar dengan sangat jelas.


"Ada apalagi sih mereka datang kesini?!," gumam Sarah dengan wajah jengkel. Karena suara mereka sangat keras. Sarah takut, suara Laras dan Awan mengganggu istirahat Kean, yang kebetulan kamar Kean dekat denga ruang tamu.


Rasanya Sarah sangat malas untuk menemui mereka berdua. Namun kalumau ia tidak keluar, Sarah yakin Mereka akan terus mencari keributan dengan ibu nya.


Jadi, mau tidak mau. Sarah harus tetap keluar untuk menemui orang-orang pembuat rusuh itu.


"Ada apa sih?!, kok ribut-ribut dirumah orang?!, ganggu orang lagi istirahat aja!!," ucap Sarah dengan wajah ketusnya, ia keluar dari kamarnya dan berjalan menuju ruang tamu. Dimana diruang tamu itu ada ibunya, Awan dan Laras yang sedang beradu mulut.


"Lihat pembantu mu ini, Sarah!!!. Lagaknya sudah seperti ibu mu saja!!," ucapnawan dengan percaya dirinya berkata seperti itu.


Sedangkan Laras yang berada di samping Awan, terus menarik baju Awan. Sepertinua ia ingin memberi tahu Awan. Namun sayang nya itu sudah telat.


"Pembantu?!," tanya Sarah dengan kedua alis bertaut.

__ADS_1


"Iya, perempuan ini?," Awan menunjuk ibunya Sarah.


"Asal mas Awan tau, itu ibu ku dan beliau bukan pembantu ku!!," mata Sarah membulat dengan sempurna, dengan tangan berkacak pinggang.


__ADS_2