
Setelah sarapan, kini mas Bima dan Kean berangkat ke toko dan kesekolah.
"Mas, nanti aku mau ijin kerumahnya Sinta." aku meminta ijin dulu pada mas Bima sebelum berangkat kerumah Sinta setelah jam makan siang nanti.
"Iya, sayang. Apa perlu aku yang antar?," tanya mas Bima.
"Tidak usah, mas. Biar Sarah naik tak online saja " jawabku.
"Baiklah kalau begitu aku berangkat dulu ya," aku segera mencium punggung tangan mas Bima.
Dan Kean bersalaman dengan ku, dan mencium punggung tangan ku. Kini mobil mas Bima sudah hilang dari pandangan ku.
Aku segera masuk kedalam untuk bersiap-siap pergi ke toko.
Saat aku menoleh ke samping rumah, aku melihat seorang perempuan yang mungkin usia nya dua tahun lebih tua dariku, sedang duduk di kursi di teras rumah nya.
Dengan sengaja aku menyapanya dengan senyuman manis.
"Mungkin itu istrinya pak Edi." gumamku. karena kemarin saat aku bersilaturahmi ke rumah nya ia sedang mandi.
Ia pun membalas senyumanku dengan tersenyum juga.
Lalu aku masuk kedalam rumah untuk bersiap-siap pergi ke toko.
Sesampainya di toko, aku langsung mengambil posisi kasir. Karena toko sangat ramai.
Dan Reni langsung membantu karyawan lain untuk melayani pembeli.
Handphone ku berbunyi, dan ternyata pesan masuk dari Sinta.
"Jangan lupa kalau kesini bawakan aku kue mu yang enak-enak." pesan dari Sinta membuat aku tersenyum. Mungkin ia sudah kangen dengan kue kue ku. Karena sudah lama kita tak bertemu.
"Beres," ku balas pesan nya dengan singkat dan jelas.
Setelah jam makan siang, aku pun bersiap untuk pergi kerumah Sinta. Kali ini aku tak naik taksi online, aku meminta paman Udin untuk mengantarkan aku.
Untuk Kean, kali ini ia di jemput oleh mas Bima. Karena ia tahu kalau hari ini aku akan kerumah Sinta.
"Paman Udin, tolong antar aku kerumah Sinta ya." ucapku pada paman Udin yang sedang membersihkan mobil.
"Baik, Bu. Apa kita berangkat sekarang?." tanya paman Udin.
"Iya, paman." ucapku.
Lalu paman Udin membukakan pintu mobil, akui pun segera masuk dengan tangan kanan membawa satu paper bag yang berisikan kue-kue permintaan Sinta.
Kini mobil yang di Kendarai paman Udin melaju dengan kecepatan sedang.
Aku sungguh menikmati perjalanan ini, karena hampir tiga tahun lebih aku tak pernah melintas di jalan yang penuh kenangan buruk saat bersama mas Damar.
"Bagaimana kabar mu sekarang, mas Damar? Apa kamu tak mempunyai rindu sedikit pun untuk anakmu?," gumamku dalam hati.
Jujur saja dihati ku sudah tak ada perasaan cinta sama sekali padanya, setelah apa yang ia lakukan di depan mataku dulu.
Namun dia adalah bapak dari anak ku. Aku tahu, saat ini Kean sudah bahagia dengan mas Bima sebagai ayah kandungnya.
Tapi tak bisa dipungkiri, kalau hati nya masih tetap menginginkan kasih sayang dari bapak kandung nya.
"Paman Udin tahu kan rumah Sinta?," tanya ku saat aku tersadar dari lamunanku.
"Sedikit lupa, Bu. Lumayan lama kita tak pernah ke sini. Apa Bu Sarah lupa?," tanya paman Udin.
"Kalau Bu Sarah lupa, minta share lokasi saja pada Bu Sinta." lanjut paman Udin memberi saran.
__ADS_1
Asal kamu tau paman Udin, aku tak pernah lupa dengan jalan menuju rumah masalalu ku.
Masalalu yang telah membawa ku sampai di titik ini. Dari masa lalu itu aku menjadi wanita yang kuat dan menjadi wanita yang mandiri.
Saking mandiri nya, aku sampai lupa dengan uang yang dikasih mas Bima. Uang itu masih tersimpan rapi di dalam amplop putih dan sekarang ada didalam dompet ku.
"Aku masih ingat kok, paman." ucapku sambil tangan ini mengambil amplop yang tersimpan didalam tas.
Aku membuka, tenyata ada beberapa lembar uang pecahan seratus ribuan.
Setelah aku hitung, uang itu berjumlah tiga juta rupiah. "Alhamdulillah, nafkah dari mas Bima akan aku gunakan sebaik-baiknya untuk keluarga kecilku." gumamku dalam hati sambil tersenyum. Lalu uang itu kembali ku masukkan kedalam amplop dan segera ku taruh didalam tas.
"Habis ini belok kanan ya, paman!," ucapku menunjukkan jalan menuju rumah Sinta.
"Iya, Bu." jawab paman Udin.
Kini aku memasuki pintu gapura kompleks. Hati ini berdebar kencang saat mobil sudah berada di dalam komplek perumahan ini.
Entah apa yang aku rasa sampai hati ini berdebar dengan kencang. Padahal aku juga tau kalau mas Damar dan keluarga nya sudah tak tinggal di sini lagi.
Tiba-tiba air mata ini keluar dengan sendirinya saat mobil berhenti tepat didepan rumah mas Damar, mengingat masalalu yang aku alami sangat pahit di rumah itu.
"Bu Sarah ditinggal apa ditunggu?," tanya paman Udin.
"Ditinggal saja paman, biar nanti aku naik taksi online saja." ucapku. Lalu aku turun dari mobil.
Saat aku turun dan melihat rumah mas Damar, sepertinya rumah ini ada penghuni nya. Karena terlihat bersih dan terlihat rapi terawat.
Kalau memang tak berpenghuni, aku yakin akan tumbuh rumput-rumput liar di halaman rumahnya.
Aku segera berjalan masuk kedalam halaman rumah Sinta. Ku ketok pintu rumah Sinta yang masih tutup itu.
Tok!!
Tok!!
Tok!!
"Waalaikumsalam," jawab Sinta sambil membuka pintu rumah nya.
"Sarah....," ia langsung memeluk tubuh ku.
"Bagaimana kabar mu?, maafkan aku yang tak bisa datang di acara nikahan mu dengan suami baru mu." Sinta melepas pelukan nya, dan menuntun ku masuk kedalam rumahnya.
"Tidak apa-apa, Sin. Aku tau kok, kalau waktu itu kamu lagi sibuk." jawab ku.
"Ini permintaan mu." ku sodorkan paper bag pada Sinta.
"Waahhh... aku sangat merindukan kue kue ini." ucap Sinta langsung membuka kotak kue dan ia langsung mencomot nya.
"Uh... rasa kue mu sungguh tak ada tandingannya." ucap Sinta sambil terus mengunyah.
Aku tersenyum melihat tingkah Sinta yang tak pernah berubah mulai dari dulu.
"Kean mana, Sar?," tanya Sinta. "Aku sangat rindu pada Kean." lanjutnya.
"Kean sekolah, Sin." jawabku.
Sinta terlihat begitu menikmati gigitan Deni gigitan kue yang aku bawa.
"Sekangen dan serindu itu kah kamu pada kue kue ku, Sin?," tanya ku saat melihat dia begitu nikmat mengunyah kue yang aku bawa tadi.
"Benar, Sarah. Bayangkan saja, tiga tahun aku tak makan kue mu. Aku hanya bisa meneteskan air liur saat melihat story WhatsApp mu memamerkan kue-kue mu." jawab Sinta.
__ADS_1
Saat kami sedang asyik ngobrol, tiba-tiba ada mobil mewah berhenti didepan rumah mas Damar.
Dan mobil itu? Sepertinya aku pernah melihat mobil itu.
"Itu mobil siapa, Sin?," tanya ku pada Sinta. Karena mobil itu mirip sekali dengan mobil milik pak Edi, tetangga sebelah rumah.
"Oh ya, aku lupa. Saking asyiknya ngobrol sama kamu." jawab Sinta sambil menepuk jidatnya.
"Sekarang rumah itu sudah ditebus kembali oleh Lidya, Sarah. Dan sekarang Lidya yang menempati."
"Lalu mobil itu?," tanya ku. Karena aku sungguh penasaran dengan mobil yang mirip dengan mobil milik pak Edi.
"Entahlah, aku juga tak tahu. Yang aku tahu mobil itu yang setiap hari mengantar pulang dan menjemput Lidya setiap hari." jawab Sinta.
"Sepertinya, saat ini hidup Lidya sudah kembali bangkit. Buktinya ia sudah bisa menebus kembali rumah nya yang sudah disita oleh bank." lanjut Sinta menjelaskan.
"Mas Damar dan ibu nya, apa tinggal disitu juga?," tanyaku sangat penasaran.
"Sepertinya tidak, karena semenjak aku pulang dari luar negeri. Aku tak pernah melihat Damar dan Bu Linda keluar masuk dirumah itu. Uang aku tahu hanya Lidya saja."
"Kenapa? kamu kangen sama Damar?," ucap Sinta menggodaku.
"Ih, apaan sih. Siapa. yang kangen!," tegas ku.
"Aku hanya penasaran dengan mobil yang mengantar Lidya tadi," gumam ku.
"Emang kamu kenal dengan mobil itu?," tanya Sinta.
Aku menggelengkan kepala, aku tak ingin Sinta tau kalau benar itu mobil pak Edi tetangga rumahku.
"Kamu masak apa, sin?," tanyaku.
"Aku lapar nih," aku memegang perut yang memang sudah saat nya di isi.
"Aku tak masak, Sarah. Ini makan kue mu aja!, atau kita dilevery order aja?," tanya Sinta.
"Terserah kamu saja, Sin. Pokoknya yang membuat perutku kenyang." jawab ku yang memang perut ini begitu sangat lapar.
Sinta pun akhirnya memesan makanan lewat g*food. Beberapa menu makanan yang ia pilih, paling banyak ia memesan makanan kesukaan ku.
"Kabar Randy gimana, Sarah?," jleb, pertanyaan Sinta membuat hati ku ini langsung melow.
Pertanyaan Sinta membuat aku mengingat perasaan yang tak pernah ada jawaban nya. Randy menghilang bak ditelan bumi, tak ada kabar sama sekali sampai saat ini.
"Entahlah, sin. Aku tak tahu, karena ia sampai detik ini tak pernah memberi ku kabar." jawab ku.
"Namun saat ini aku sudah tak berharap lagi kabar dari nya. Karena aku sudah mempunyai keluarga kecil yang bahagia." lanjut ku dengan mata berkaca-kaca, mengingat kebahagiaan yang tercipta dirumah tangga ku sekarang ini.
"Alhamdulillah, kalau kamu sudah menemukan kebahagiaan mu Sarah. Aku ikut bahagia mendengarnya." ucap Sinta.
"Aku selalu mendoakan kebahagiaan mu, Sarah." lanjut nya. Sungguh aku terharu dengan pertemanan yang kita jalin ini.
Tak ada kemunafikan di antara kita, sehingga persahabatan ini sangat awet sampai detik ini.
"Semoga kamu juga segera dipertemukan dengan kebahagiaan mu, Sin." Aku mendoakan kebahagiaan juga untuk Sinta.
"Aamiin." kita berdua bersamaan mengucapkan aamiin. Lalu aku dan Sinta saling berpelukan.
Dan akhirnya, makanan yang dipesan Sinta sudah datang.
Saat aku akan membayar nya, Sinta pun melarang ku. Segera berikan uangnya pada ojek online yang mengantarkan makanan itu.
"Biar aku saja yang bayar, simpan saja uang mu." ucap Sinta sambil menyodorkan tanganku yang memegang uang.
__ADS_1
Kini kita berdua menikmati makanan yang sudah dipesan oleh Sinta. Kita makan sambil mengobrol banyak hal. Karena sudah sangat lama kita tak jumpa, banyak sekali bahan yang bisa kita obrolkan.