DERITA SEATAP DENGAN MERTUA

DERITA SEATAP DENGAN MERTUA
Berubah


__ADS_3

 Kini Bima pun kembali kedalam kamarnya dengan perasaan kecewa. Sepanjang malam Bima tak bisa tidur dengan nyenyak, karena ia memikirkan usahanya yang sudah diambang kehancuran.


Ia mengalihkan kegundahan hatinya dengan memainkan gawai nya. Karena sudah lama juga, ia tak bermain handphone.


Saat membuka aplikasi Facebook, begitu ramai berita yang muncul di beranda akun Facebook Bima adalah berita penerbitan novel milik Sarah.


"Sarah?!, benarkah kamu seorang penulis novel?!," gumam Bima bicara sendiri didalam kamar nya yang hanya di sinari cayaha lampu dari teras rumahnya.


"Aku tak percaya kalau itu benar-benar, Sarah." gumamnya lagi.


"Tapi...," Bima pun memperjelas foto Sarah dengan memegang novel hasil tulisan nya.


"Iya, aku yakin dia Sarah." lagi-lagi Bima berbicara dengan dirinya sendiri.


"Ternyata kamu perempuan hebat, Sarah. Menyesal aku menyakiti mu." tak terasa air mata penyesalan itu keluar dari netra Bima.


"Pantas saja selama ini, dia tak pernah mengeluh tentang uang. Walau aku tak pernah sepeserpun memberi nya uang bulanan." Gumam Bima dengan penuh penyesalan.


Lalu Bima membaca banyak komentar yang mengatakan bahwa Sarah juga pemilik toko roti terbesar di kota ini.


"Ternyata selama ini dia menutupinya dari aku." ucapnya lirih.


Tak terasa, mata Bima semakin berat dan akhirnya terpejam dengan handphone nya tergeletak diatas dada bidangnya.


****


Pagi ini, Ambar sedang sibuk di dapur. Berbeda dengan Laras, yang masih bermalas-malasan di atas kasurnya.


Ambar menyiapkan makanan untuk sarapan ibu dan adik lelakinya itu.


Aroma masakan itu tercium oleh hidung Bima. Ia segera membuka matanya. Karena cacing di perutnya sudah mulai berdendang, akibat dari aroma masakan Ambar.


"Lapar banget perutku." gumam Bima sambil mengelus perutnya.


Ia baru ingat, kalau memang ia belum makan sedari ia pulang dari kantor polisi siang kemarin.


Walau kemarin sudah di masakkan oleh Ambar, namun Bima tak memakannya. Karena ia sangat sibuk mengurusi usahanya yang sudah diujung tanduk itu.


Bima pun beranjak dari tempat tidurnya. Rasa lapar sudah tidak bisa ditahan oleh Bima. Setelah membersihkan diri di dalam kamar mandi, kini Bima keluar dari kamar nya.


"Masak apa, mbak?,$ tanya Bima pada Ambar yang sibuk menata beberapa jenis masakan favorit Bima.


"Sambal balado dan ayam goreng kesukaan mu, Bim." jawab Ambar, sambil berlalu kembali kedapur untuk mengambil menu masakan yang lain.


"Hemmm... Enak ini." gumam Bima sendiri sambil menghirup aroma sedap yang keluar dari masakan itu.


Lalu ia membalikkan piring yang sudah ada di atas meja makan itu. Bima pun menyendokkan ke atas piringnya.


"Waahh... Enak sekali kamu, Bima!!!!, bangun tidur langsung makan!!," celetuk Laras yang baru saja keluar dari kamarnya.


"Perut Bima lapar," jawab Bima dengan suara datar dan pandangan nya tak beralih dari makanan yang sudah ia taruh diatas piringnya.

__ADS_1


"Enak ya,,, bangun tidur udah langsung makan aja!!, Uda nggak kerja, nggak kasih uang juga." ucap Laras dengan tatapan sinis pada Bima.


"Bukankah usaha ku sudah ibu ambil?, lalu kenapa aku harus memberi uang lagi pada ibu?," jawaban Bima kali ini tak kalah pedas dengan apa yang dikatakan oleh Laras.


"Udah lah Bu, pagi-pagi jangan cari ribut." lerai Ambar.


Kini mereka bertiga lus sarapan bersama. Tak ada suara yang keluar dari ketiga orang yang ada di meja makan itu. Hanya ada suara piring dan sendok yang mengiringi sarapan pagi ini.


"Ih ya, Bim. Ternyata istri mu itu orang kaya ya?!," ucap Ambar memecahkan keheningan pagi ini.


"Istri?," tanya Bima bingung dengan Alus yang bertaut.


"Istri Bima siapa, mbak?," tanya Bima lagi.


"Ya Sarah lah!!, emang istri kamu yang sekarang siapa kalau bukan Sarah." jawab Ambar dengan sedikit jengkel, karena Bima mencoba mengajak gurau diri ya, namun diwaktu yang tidak tepat.


Laras hanya menyimak percakapan mereka berdua sambil terus fokus menikmati makanan yang terhidang di depan nya itu.


"Sarah?, maksud mu, Mbar?," tanya Laras. Akhirnya ada rasa ingin tahu dengan apa yang di katakan oleh Ambar. Apalagi Ambar menyebut nama Sarah, rasa penasaran di diri Laras semakin tinggi.


"Iya Bu, Sarah itu sekarang kaya Raya." jawab Ambar dengan antusias.


"Alaaah... paling juga kaya karena ia berhasil meroti uang Bima." ucap Laras sambil mencincing kan bibir kanannya.


"Tidak, Bu. Sebelum dia menikah dengan Bima, ternyata dia sudah menjadi seorang penulis online." jawab Ambar antusias.


"Hah??, penulis online??. Emang apa hebatnya jadi penulis??, Aku tak yakin kalau karena menjadi penulis itu akan menjadi kaya. Emang berapa sih penghasilan seorang penulis??, paling-paling tak jauh dari tiga ratus ribu sampai lima ratus ribu sebulan." ucap Laras dengan ekspresi wajah menghina.


Lalu ia mencoba mencari-cari kisaran bayaran seorang penulis yang sudah di level tertinggi itu.


Bima tak bersuara sama sekali, ia malu pada dirinya sendiri dan pada Sarah tentunya. Bima sangat menyesali perceraian yang sudah terjadi itu.


"Wow,,, fantastis!!!," jerit Ambar sambil menutup mulutnya dan mata melotot pada layar handphone nya.


"Ada apa Mbar?!," tanya Laras yang jengkel pada Ambar, karena suaranya berhasil membuat ibu nya itu kaget.


"Kamu ini ngagetin ibu, aja!!!, untuk ibu nggak kesedak!!!," gerutu Laras.


"Lihat, Bu, lihat!!!," lagi-lagi Ambar berbicara terpotong-potong. Tak langsung pada intinya.


"Katakan, ada apa?!!!," Laras semakin penasaran dengan apa yang telah dikatakan oleh Ambar. Apalagi dengan ekspresi Ambar yang sangat berlebihan itu.


"Ini loh, Bu. Gaji seorang author sekelas Sarah itu berkisar antara sepuluh sampai lima belas." jawab Ambar.


"Lima belas apa?, satu juta lima ratus?, ha ha ha..., uang segitu apa cukup untuk biaya hidup dirumah?!," jawab Laras sambil tertawa lebar, tawa yang penuh rasa hinaan pada Sarah.


"Bukan satu juta lima ratus, Bu. Tapi lima belas juta." ucap Ambar dengan penuh semangat.


"Hah?!!, lima belas juta?!!," mata Laras pun melotot karena kaget dengan nominal angka yang di sebut oleh Ambar.


"Iya, Bu." jawab Ambar sambil menganggukkan kepala nya

__ADS_1


"Dan satu lagi, ternyata Sarah juga pemilik toko roti SKcake loh, Bu." Ucapan Ambar berhasil membuat Laras melongo.


"Apa?!!!!, kamu yakin dengan kabar itu?, bukan kah kata Veni dia hanya pelayan disana?," tanya Laras yang kali ini benar-benar sangat kepo dengan kehidupan Sarah.


"Ya mungkin itu hanya karangan Veni aja, Bu." jawab Ambar sambil menyuapkan makanan ke mulutnya.


"Bukan hanya Veni loh yang bilang seperti itu. Areta juga bilang kalau Sarah hanya pelayan disitu. Malahan Areta itu kenal loh dengan pemilik toko roti itu. Pasti hanya akal-akalan Sarah aja dengan ngaku kalau ia pemilik toko itu," ucap Laras, lagi dengan bibir yang tercincing.


"Lebih baik tanya Bima, saja. Karena dia kan suami nya." usul Ambar sambil melempar pandangan pada Bima yang terus diam dan menundukkan kepalanya.


"Memang benar dengan berita yang tersebar tentang Sarah itu, Bim?," tanya Ambar yang juga sangat penasaran dengan kehidupan Sarah.


Bima pun hanya menjawab dengan anggukan kepalanya, membenarkan apa yang dikatakan oleh Ambar.


"Jadi, Sarah itu seorang penulis dan pemilik dua toko roti yang besar itu?!," mata Laras pun melotot pada Bima, ia meyakinkan diri nya dengan jawaban Bima.


"Iya." jawab Bima dengan singkat dan wajah datar.


"Ya ampun, Bim. Sekarang lebih baik kamu makan yang banyak ya." ucap Laras sambil menambahkan ayam goreng ke atas piring Bima.


"Setelah kamu selesai makan, lebih baik kmu pulang ya. Karena kasian Sarah, pasti ia saat ini sedang menunggu mu." lanjut Laras sambil tersenyum manis pada Bima.


"Kalau bisa, nanti biar ikut kerumah Sarah. Ibu ingin meminta maaf pada Sarah dengan perlakuan ibu padanya selama ini." ucap Laras lagi, dengan senyum yang mengembang manis di bibir nya.


Ambar yang melihat perubahan sikap pada Sarah pun sangat terkejut. Karena tak membutuhkan waktu lama, sikap Laras pada Sarah berubah total.


Berbeda dengan Bima, tak ada rasa terkejut dengan sikap ibunya itu. Kini lama kelamaan Bima semakin tau sikap busuk ibu nya.


Wajah Bima saat ini sangat datar, tak ada ucapan apapun yang keluar dari mulut nya. Ia hanya melihat keatas Laras dan bergantian menatap Ambar.


"Bim, kenapa kamu selama ini diam saja. Tau gitu kalau Sarah adalah pemilik toko roti itu, ibu bakal ajak teman-teman ibu agar borong di toko roti milik istri mu itu." celetuk Laras dengan senyum gembira pada Bima.


"Nanti kamu bilang ya pada Sarah, kalau ibu minta maaf padanya." wajah Laras sangat berbinar-binar.


"Ingat Bim, kamu itu jangan menceraikan Sarah ya, kaena dia adalah perempuan baik-baik." ucap Laras lagi.


Kenapa baru sekarang Laras mengatakan kalau Sarah itu wanita baik-baik, disaat ia mendengar kalau ternyata Laras adalah wanita yang hartanya lumayan banyak. Namun masih tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan harta pak Handoko.


Bima pun menyudahi makan nya, ia menaruh sendok dengan keras diatas piring nya, Sehingga menimbulkan suara yang membuat Laras kaget.


"Bima!!," bentak Laras secara refleks.


Bima tak mempedulikan panggilan ibunya, ia beranjak dari kursi makan dan berlalu kedalam kamarnya.


"Bim, Bima. Lebih baik kamu pulang, nak. Kasihan Sarah sendirian dirumah." ucap Laras dengan kakinya mengejar Bima yang berjalan keluar dari ruang makan itu.


"Pulang kemana, Bu. Rumah Bima itu disini!!," bentak Bima pada Laras.


"Tapi kan Sarah itu istri mu, Bim. Kamu jangan seperti itu pada Sarah. Kasian dia." bujuk Laras.


"Kalau kamu malu ingin pulang, biar ibu ikut dengan mu dan bicara pada Sarah. Pasti ia akan memaafkan mu."ucap Laras dengan percaya diri yang tinggi.

__ADS_1


__ADS_2