
"Apa maksud mu?!," tatapan mata Bianca sangat tajam pada Sarah.
Dan Sarah yang juga menatap nya, tak ada rasa takut sama sekali.
"Aku tak bermaksud apa-apa, kok. Sekarang kamu bisa keluar." ucap Sarah sambil menunjuk arah pintu yang berada di belakang Bianca.
Bianca pun keluar dengan perasaan campur aduk, antara emosi dan was-was.
"Kamu baik-baik saja kan, Bi?." tanya Damar yang melihat Bianca keluar dari kamar rawat Kean dengan wajah kesal.
"Mantan istri mu itu selalu mencari gara-gara." ucap Bianca dengan wajah sedihnya.
"Kenapa dengan Sarah?," tanya Damar lagi dengan memegang pundak Bianca.
"Padahal aku sudah meminta maaf atas kesalahanku yang dulu, tapi Sarah masih tak terima dengan keputusan mu yang menceraikan dia." Bianca berakting seakan-akan dia lah yang tersakiti.
"Memang Sarah bilang apa sama kamu?," tanya Damar lagi dengan mengangkat dagu Bianca yang wajah nya tertunduk.
"Sarah bilang sampai mati ia bakal membenci ku. Dan dia tak akan pernah ikhlas kalau aku memegang anaknya. Padahal Kean sudah ku anggap seperti anak ku sendiri." ucap Bianca sambil meneteskan air mata penuh drama.
"Biar aku nanti yang akan menegur Sarah. Makasih ya, kamu sudah menganggap Kean seperti anak mu sendiri. Aku semakin yakin kalau kamu memang pantas menjadi ibu sambung untuk Kean." ucap Damar sambil mencubit hidung Bianca.
Bianca sangat bahagia dengan perlakuan Damar pada nya. Saat ini Bianca berfikiran untuk menikah dengan Damar, tanpa harus berpisah dengan pak Handoko.
Mereka berdua berjalan ke arah tempat duduk Linda yang sedang menunggu proses operasi Lidya.
Sudah berjam-jam operasi Lidya di lakukan, tapi masih belum selesai hingga saat ini.
Damar sangat cemas dengan keadaan Lidya didalam, beda dengan Linda terlihat sangat menikmati sebungkus nasi Padang.
"Harus nya tadi rendang nya ini ditambah, Bi." ucap Linda pada Bianca sambil mengunyah nasi yang sudah masuk kedalam mulutnya.
"Tadi yang pesan mas Damar, ma." jawab Bianca yang eneg melihat cara makan Linda. Seperti orang yang kelaparan tak makan selama seminggu.
"Kamu ini gimana sih, Mar?!," ucap Linda menyalahkan Damar. Nasi bungkus itu pun sudah habis.
"Heeeeeeekkk...." Linda bersendawa sangat keras. Membuat Bianca makin ilfeel dengan Kelakuan calon mertuanya itu.
Berselang beberapa menit, dokter pun keluar dari ruang operasi Lidya.
"Bagaimana keadaan adik saya dok?," tanya Damar yang segera berdiri dari duduk dan melangkah mendekati Dokter yang baru saja keluar dari ruang operasi itu.
"Hmmm,,, Alhamdulillah Bu Lidya sudah melewati masa kritisnya. Kita sudah berupaya semaksimal mungkin untuk tidak mengangkat rahimnya, tapi itu sia-sia. Karena rahim Bu Lidya infeksi yang sangat parah dan hampir membusuk, jadi dengan perasaan menyesal kamu team dokter yang menangani nya terpaksa mengangkat nya." ucap dokter itu dengan mencopot kacamata nya.
Damar yang mendengar itu langsung menitihkan air mata, namun ia percaya bahwa itu yang terbaik saat ini untuk adik perempuan satu-satunya.
"Terimakasih, dok." Ucap Damar. Dan dokter itu langsung berpamitan meninggalkan mereka yang saat ini sedang berdiri menunggu Lidya yang akan di pindah di ruang rawat.
"Kasian Lidya, Mar. Seumur hidupnya dia tidak bisa mempunyai anak." Ucap Linda pada Damar dengan pandangan kosong kedepan.
"Ini semua juga gara-gara mama. Kenapa mama tega membuat masa depan Lidya hancur," ucap Damar.
"Kok kamu nyalahin mama?! Mama melakukan itu juga untuk masa depan Lidya!!!," Linda emosi saat di salah kan oleh Damar.
"Yang pantas kamu salahkan itu pak Anton. Dia yang sudah merusak masa depan Lidya. Padahal kalau saja Lidya tidak hamil dengan pak Anton. Mungkin saat ini dia sudah menjadi anggota keluarga Handoko group." ucap Linda.
Deg!!
Jantung Bianca serasa berhenti berdetak saat mendengar ucapan Linda.
"Handoko group, ma?," tanya Bianca penuh selidik.
"Iya, Bi. Kamu pasti sudah kenal dengan Handoko group karena perusahaan itu perusahaan terbesar dikota ini." jawab Linda dengan senang nya menjelaskan tentang Handoko group pada Bianca.
"Trus apa hubungannya Lidya dengan Handoko group?," Bianca sangat ingin tahu tentang ucapan calon mertuanya itu.
"Kalau seandainya Lidya tidak hamil, Yang akan ber......" saat perkataan Linda belum selesai, Lidya keluar dari ruang operasi. Jadi dengan cepat Damar memanggil mama nya untuk segera mengikuti suster yang membawa Lidya.
__ADS_1
Bianca yang tak mendapatkan informasi tentang keluarga suaminya, mendengus kesal.
Lalu Bianca berdiri dan mengikuti langkah Damar dan Linda dari belakang, menuju kamar rawat Lidya.
Sebenarnya Bianca sangat malas dengan semua ini, saat ini ia ingin berada di rumah, beristirahat dengan tenang di istananya.
Namun karena Damar yang meminta untuk ditemani, Bianca pun tak bisa menolak nya.
Saat sampai di ruang rawat, Bianca sangat malas untuk masuk. Lalu dia hanya berdiri diambang pintu
Damar yang melihat itu, langsung mendekat. Dan mengajak Bianca untuk masuk dan duduk.
Bianca pun mengikuti Damar. Namun sampai saat ini Lidya masih belum sadar kan diri. Linda terus mengelus kepala Lidya dan sesekali Linda membisikkan kata untuk menyemangati Lidya agar segera sadar.
Bianca merasa bosan di sini, ia mengajak Damar untuk keluar sekedar mencari angin.
"Kamu mau kemana, Mar?," tanya Linda.
"Sepertinya Bianca bosan disini, ma. Biar aku antar Bianca jalan-jalan dulu. Agar dia fresh lagi." ucap Damar.
"Trus kamu mau ninggalin mama sendiri disini?!, nanti kalau terjadi sesuatu pada Lidya gimana?. Mama takut, Mar." Rengek Linda yang hatinya sedikit cemburu saat Bianca mulai manja kepada Damar.
"Lagian kamu mau kemana, Bi? Sudah disini saja!! Masak iya, ada calon menantu bosan bersama lama-lama dengan calon mertua. Kamu itu harus bisa belajar dari sekarang untuk lebih bersama dengan aku. Biar nanti setelah kamu menikah dengan Damar, kamu dan aku sudah bisa akrab." Linda memberi wejangan pada calon menantu nya itu.
"Pokoknya kalian harus menikah secepatnya!!," lanjut Linda.
"Kalau kalian tidak segera menikah, aku dan Lidya akan pergi menjadi TKW". ancam Linda pada Damar.
Damar pun saat ini hari nya bingung, karena ia sendiri sangat ingin menikah dengan Bianca. Namun Bianca selalu menolak. Dan sekarang Linda mama nya main ancaman. Damar sangat bingung, apa yang harus ia lakukan.
"Ayo, Bi." Damar masih mengajak Bianca untuk keluar dari rumah sakit ini untuk sementara. Bukan hanya Bianca yang bosan di sini, Damar pun otak nya saat ini sangat penat.
"Kalau kalian memaksa keluar dari kamar ini dan meninggalkan aku sendiri disini. Aku akan mengijinkan asal kamu membelikan stok makanan yang sangat banyak." ucap Linda yang terkesan tak mau rugi.
Dan sikap itu yang membuat Bianca sedikit ilfeel pada Linda calon mertuanya itu.
Keadaan dimana ekonomi nya saat ini sangat jatuh sejatuh jatuh nya.
Namun apa yang ditakutkan Damar akhirnya terjadi. Dengan tidak sengaja Damar dan Sarah bertabrakan.
Bianca yang melihat itu , seketika hatinya sangat emosi.
Ia langsung menarik tangan Damar agar segera pergi dari hadapan Sarah. Dan Sarah yang melihat itu hanya tersenyum saja.
Saat ini Damar dan Bianca berjalan menuju taman kota. Bianca sangat ingin menghirup udara segar, karena disini udaranya sangat sejuk. Mungkin karena banyaknya pohon-pohon besar yang tumbuh disekitar taman ini.
Mereka berdua duduk di bangku taman yang panjang, kira-kira bisa di isi dengan tiga orang. Bianca menyandar tubuh nya di bangku yang terbuat dari besi itu. Lalu dengan sengaja tangan Damar merangkul nya dari belakang dan menarik tubuh Bianca untuk bersandar pada tubuhnya.
Bianca yang melihat tingkah laku Damar membuat hati nya meleleh dan hati nya tak jadi emosi.
"Bi, pokoknya aku akan segera menikahi mu." ucap Damar sambil memeluk tubuh Bianca dari samping dengan tatapan matanya kedepan.
Bianca pun berfikir, akan membuktikan pada Sarah kalau ia bisa menikah dengan Damar. Agar pikiran Sarah tentang nya itu salah.
Bianca pun mengangguk kan kepalanya. Yang berarti ia setuju untuk hidup bersama dengan Damar dengan ikatan pernikahan.
Damar yang melihat anggukan kepala Bianca, Hati nya sangat bahagia. Ia sampai lupa tempat, Damar langsung ******* bibir Bianca.
Dan Bianca pun membalas ******* itu, dan mereka sangat menikmati nya. Akhirnya mereka tersadar bahwa mereka melakukan itu ditempat umum.
🌸 flashback on
Dikediamannya pak Handoko sangat curiga dengan gerak gerik Bianca akhir-akhir ini. Bianca sering sekali keluar rumah dan keluar saat jam kantor sedang aktif.
Padahal ia sudah di beri tanggung jawab penuh dikantor salah satu cabang perusahaan milik Handoko group.
Malahan banyak karyawan kantor yang bercerita kalau Bianca juga jarang masuk ke kantor.
__ADS_1
Handoko yang penasaran dengan itu, akhirnya menanyakan langsung pada Sinta yang sudah ditugaskan oleh Handoko untuk menjadi asisten pribadi Bianca.
Sinta sangat dilema dengan masalah ini. Kalau ia katakan sejujurnya, Sinta takut merusak rumah tangga orang lain apalagi itu bos nya. Orang yang sudah banget berjasa di hidupnya. Karena pak Handoko lah ia bisa membangun rumah dikampung halaman nya dan bisa membiayai adik nya kuliah setelah ayah nya meninggal.
Namun kalau ia menyembunyikan masalah ini pada pak Handoko, hatinya sangat kasihan pada bos nya itu. Karena diam-diam beliau telah dikhianati oleh istrinya sendiri. Istrinya berselingkuh dan berfoya-foya dengan kekasih gelapnya menggunakan uang dan fasilitas dari pak Handoko.
Akhirnya Sinta mengusulkan agar pak Handoko menyewa detektif untuk mengikuti kemana Bianca pergi.
🌸 flashback off
Dan detektif yang disewa pak Handoko itu sudah mengikuti Bianca dari kemari. Dan sat ini pun ia juga sudah berada di taman yang sama dengan Bianca.
Namun keberadaan nya pun tak di ketahui oleh Damar dan Bianca. Mereka semakin asyik bercumbu di tempat umum.
Detektif yang melihat itu semua, tak mau membuang-buang waktu. Dia segera memfoto dan merekam aksi mereka lewat handphone Boba nya.
Namun ia tak langsung mengirimkan video itu kepada pak Handoko.
Karena ia disewa untuk satu Minggu, maka ia akan menyerahkan semua bukti yang detektif ambil pada hari terakhir ia bekerja.
Setelah ia asyik bercumbu di taman kota, mereka berdua memutuskan untuk beranjak pergi. Mereka berdua menuju mobil mewah milik Bianca.
Detektif bayaran itu pun langsung masuk kedalam mobil dan mengikuti dari belakang. Memang dasar detektif profesional, ia bekerja sangat halus. Sehingga mereka berdua tak ada curiga dengan mobil yang berjalan terus di belakang nya.
Saat Damar membelokkan mobilnya kearah kanan, detektif itu sudah membaca tujuan Damar dan Bianca. Mereka menuju hotel bintang lima, dan detektif itu pun terus mengikuti nya.
"Yap, benar yang ada dipikiran ku saat ini." ucap detektif itu. Ia terus mengikuti mobil Bianca, dan kali ini ia akan mendahului nya.
Karena ia ingin mempunyai bukti yang sangat akurat. Karena keakuratan ini yang membuat para detektif akan dibayar mahal.
Kini mobil detektif bayaran pak Handoko berada di depan mobil yang di kendalikan Damar.
Lalu detektif itu sampai hotel lebih dulu, ia pun masuk setelah menyerahkan kunci mobil kepada tukang parkir yang bertugas menjaga didepan pintu hotel.
Kini detektif itu masuk dan langsung melangkah ke resepsionis. Detektif itu berkerja sama dengan resepsionis hotel agar mau meletakkan kamera kecil yang diberikan oleh detektif itu didalam kamar hotel yang akan disewa oleh Damar dan Bianca.
Namun tak ada yang gratis, detektif itu memberikan beberapa lembar uang seratus ribuan kepada penjaga resepsionis itu.
Kalau dengan uang, segala urusan akan lancar. Petugas resepsionis itu memang sering menerima uang dari para detektif yang menyelediki kasus rumah tangga seperti ini.
Setelah apa yang direncanakan sudah beres, detektif itu pun kembali duduk di lobby hotel.
Beberapa menit kemudian, apa yang sudah ditebak oleh detektif profesional itu pun benar.
Damar dan Bianca turun dari mobil, setelah Damar memberikan kunci mobil pada petugas parkir. Mereka berdua berjalan bergandengan tangan sangat mesra.
Sedangkan detektif yang disewa oleh pak Handoko sudah standby dengan kamera handphone yang sudah on ditangan nya. Dia sengaja mengambil video kemesraan mereka. Untuk di jadikan tambahan barang bukti nya nanti.
Saat ini Damar berjalan menuju resepsionis hotel untuk check in, petugas resepsionis itu memandang kearah detektif. Dan dengan segera detektif itu menganggukan kepalanya. Yang berarti benar itu orang yang ia maksud.
Setelah mendapat kunci kamar hotel, mereka berdua berjalan bergandengan tangan sambil bergurau mesra.
Dan detektif itu masih standby di lobby hotel untuk memantau kamera yang terpasang dikamar hotel yang dipesan oleh Damar.
Damar dan Bianca yang saling melepas hasrat, terekam jelas di kamera tersembunyi milik detektif sewaan pak Handoko.
Setelah beberapa jam kemudian, mereka berdua pun keluar dari kamar hotel. Sedangkan detektif itu masih duduk di bangku lobby hotel.
Saat mengetahui mereka sudah keluar dari kamar dan menuju resepsionis. Detektif itu masih duduk dengan santai disana. Mereka berdua pun melewati detektif yang sedang duduk dan bermain handphone tanpa ada kecurigaan sama sekali.
Setelah dirasa mereka berdua sudah keluar dari hotel itu, akhirnya detektif itu berdiri dan berjalan kearah resepsionis untuk mengambil kamera yang ia berikan tadi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
*Duh.... gimana perasaan pak Handoko saat melihat rekaman video itu...
Tunggu kelanjutannya di episode berikutnya 😘
__ADS_1