DERITA SEATAP DENGAN MERTUA

DERITA SEATAP DENGAN MERTUA
Wajah Bahagia


__ADS_3

Malam ini aku dan Kean bermalam dirumah ibu dan bapak. Semua ini aku lakukan untuk menghindari hal-hal yang tak ku inginkan. Mengingat kenekatan mas Bima yang sangat menakutkan itu.


Segera ku rebahkan tubuhku diatas ranjang yang ukuran nya cukup besar ini. Setelah aku menyelesaikan tugas, yaitu up beberapa bab di novel online ku.


Dunia pernovelan masih aku geluti sampai saat ini, selain memang menghasilkan banyak uang. Menulis adalah hobi ku sejak aku masih di bangku sekolah.


Setelah menaruh handphone di atas nakas, ingin sekali memejamkan mata. Namun, handphone yang baru saja aku taruh diatas nakas itu berbunyi. Seperti nya ada notifikasi pesan WhatsApp masuk.


"Sarah, apa kabarnya kamu?. Apa benar kamu sudah ditalak oleh suami mu?,"


Pesan singkat itu masuk dan ternyata nomor baru yang mengirim pesan itu.


Aku rasa nomor ini adalah nomor orang yang aku kenal, orang yang dekat dengan keluarga ku.


Sehingga dia sangat tahu bagaimana keadaan rumah tangga ku saat ini.


"Kamu siapa?," balas ku dengan singkat. Karena sebetulnya aku sangat malas dapat pesan yang tak jelas pengirimnya seperti ini.


"Kamu tak perlu tahu aku, yang terpenting saat ini aku mendukung keputusan mu yang memutuskan untuk berpisah dengan Bima."


Aku sudah tak ingin meladeni dan bermain-main dengan hal seperti ini. Aku rasa ini sangat tidak bermanfaat bagiku.


Aku segera memejamkan mata, karena besok pagi aku harus mengantar Kean ke sekolah.


Namun saat mata ini ingin terpejam, handphone ku berbunyi lagi.


Kulihat ternyata pesan singkat dari nomor yang sama, nomor yang tak ku kenal.


Aku pun langsung memblokir nomor itu tanpa membaca pesan yang ia kirim.


Handphone ku pun segera ku matikan, agar tak ada yang mengganggu istirahat ku malam ini.


****


Pagi ini aku menyiapkan sarapan, sedangkan ibu yang memakaikan baju untuk Kean.

__ADS_1


Entah kenapa, disini Kean menjadi anak yang manja. Padahal kalau dirumah, Kean selalu melakukan nya sendiri.


"Yuk kita sarapan bersama." ajak ku pada ibu, bapak dan Kean, setelah semua masakan sudah siap untuk di santap.


Dan mereka bertiga pun langsung berjalan menuju meja makan.


"Kalian makan saja dulu, biar ibu menyuapi Kean." ucap ibu.


"Ibu, biarkan Kean makan sendiri, ayo kita makan bersama. Jangan biasakan memanjakan Kean, Bu. Biarkan Kean mandiri." ucapku pada ibu.


"Biarkan saja ibu melakukan itu, Sarah. Kean itu masih kecil, dan ibu suka dengan itu." ucap bapak. Aku pun tak berani lagi melarang ibu untuk tidak melakukan itu.


Selain takut ibu tersinggung dengan ucapan ku, aku juga membiarkan kan ibu untuk menikmati hari-hari bersama cucu nya.


Aku segera sarapan berdua bersama bapak. Karena sebentar lagi aku harus mengantarkan Kean ke sekolah. Setelah itu aku ingin pergi ke toko, karena beberapa hari ini aku tak pernah ke toko sama sekali.


"Sudah siap, nak?," tanyaku saat aku berjalan kedepan menghampiri Kean yang sedang memasang sepatu nya.


"Sudah, amma." jawabnya dengan penuh semangat.


Kami berdua pun masuk kedalam mobil secara bersamaan, setelah berpamitan pada bapak dan ibu. Tak lupa aku dan Kean mencium punggung tangan mereka berdua. Hal ini selalu aku lakukan dan aku ajarkan pada Kean, pada saat kita akan berpergian ke luar rumah.


Sebenarnya malas aku bertemu dengan dia, tapi mau bagaimana lagi? Mau tidak mau aku harus menghadapi nya, karena ini sudah jadi resiko anak kita berada di satu sekolah.


Tapi sebisa mungkin aku mencoba menghindari nya, demi kenyamanan dan kewarasan hati dan pikiran ku.


Aku malas sekali mendengar ucapan nya yang selalu menyakiti hati ku ini.


"Sayang, amma antar kamu sampai sini ya?," ucapku pada Kean. Aku sengaja mengantar Kean tidak sampai di depan kelas nya, untuk menghindari mbak Veni yang terlihat masih ada di sana.


"Baik, amma. Kean berani kok ke kelas sendiri, Kean kan lelaki." jawab Kean dengan menunjukkan wajah berani nya.


"Anak amma memang hebat." puji ku pada nya.


Setelah mencium punggung tangan ku, Kean pun berjalan sendiri menuju kelasnya.

__ADS_1


Terlihat ia sudah masuk kedalam kelas, aku segera membalikkan tubuh ku untuk cepat-cepat pergi dari sini.


Aku sengaja menghindari keributan yang nantinya akan membuat ku malu sendiri.


"Sarah!!!!!, tunggu!!." maksud hati ingin menghindari mbak Veni, tapi takdir berkata lain.


Sepertinya mbak Veni sudah melihat keberadaan ku disini. Hingga dengan sengaja ia memanggil ku.


Aku pun dengan terpaksa menghentikan langkah ku, namun posisi ku tetap menghadap kedepan. Tak sedikit pun aku membalikkan tubuhku kearah mbak Veni yang sedang berada di belakang ku saat ini.


"Mau kemana kamu, Sarah?, kenapa kamu terlihat sangat terburu-buru??!." ucap mbak Veni sambil menghentikan langkahnya tepat didepan ku.


"Sabar dulu dong.. Jangan terburu-buru gitu. Asal kamu tau, dari tadi aku sudah menunggu kedatangan mu." lanjut nya, dan aku sedikit pun tak menjawab ucapan mbak Veni.


"Kenapa kamu diam saja, Sarah?!, jawab lah pertanyaan ku, jangan menjadi wanita yang tak punya sopan santun seperti ini. Apa mungkin karena kamu sudah tak menjadi saudara iparku lagi?!," ucap mbak Veni dengan tatapan penuh kemenangan.


"Upss.... Sorry...!," lanjut mbak Veni dengan menutup mulutnya dengan ke empat jari nya.


"Bagaimana rasanya setelah di talak Bima?," tanya mbak Veni. Sepertinya kabar mas Bima menalak ku sudah sampai di depan telinga mbak Veni. Itu bukan suatu hal yang aneh sih menurutku. Karena aku sudah tau dengan sifat ibu nya mas Bima itu. Dia pasti akan bercerita tentang ini ke siapapun.


"Ya seperti yang mbak Veni lihat sekarang." jawab ku sambil merenggangkan dan mengangkat kedua tangan ku.


"Sepertinya aku lah orang pertama yang sangat bahagia mendengar berita ini, Sarah." ucap mbak Veni dengan seulas senyum licik padaku.


"Syukurlah kalau memang mbak Veni bahagia dengan perceraian ku dan mas Bima. Aku harap mbak Veni bisa membujuk mas Bima dan keluarga nya untuk segera menceraikan aku secara sah oleh negara." ucapku dengan sangat tegas.


"Wow, besar juga nyali mu, Sarah. Kamu yakin bisa berdiri sendiri tanpa Bima yang menyokong mu dari belakang?," tanya mbak Veni dengan senyum penuh dengan hinaan padaku.


"Ya kita lihat saja nanti, siapa yang akan menyesal dengan perceraian ini. Apakah aku, atau mas Bima?!." aku pun tak mau kalah dengan mbak Veni yang memandang rendah padaku.


Bukannya aku mau menyombongkan diri kalau aku sangat mampu hidup sendiri tanpa mas Bima. Namun kenyataannya, saat aku menjadi istri mas Bima pun aku membiayai hidup ku sendiri. Tanpa uang mas Bima sepeserpun.


"Aku sangat suka dengan keyakinan mu itu, Sarah." senyum licik menghiasi bibir mbak Veni.


"Dan terimakasih, berkat bercerai dengan mu. Kini aku bisa mendapatkan apa yang aku inginkan dari dulu." bisik mbak Veni, dengan wajah penuh kebahagiaan.

__ADS_1


Lalu ia pergi meninggalkan aku menuju mobil nya yang terparkir di depan mobil ku.


Jujur aku tak mengerti dengan apa yang di ucapan mbak Veni padaku. Mungkin saja perceraian ku dengan mas Bima ini lah yang ia inginkan dari dulu. Sehingga terlihat kini wajahnya sangat bahagia.


__ADS_2