
Saat sedang fokus menatap lantai untuk mengepel. Tidak sengaja, alat pel Lidya mengenai sepatu seorang perempuan.
Karena sudah malas ribut, Lidya pun segera minta maaf pada perempuan itu. Dan betapa kagetnya Lidya, saat tau kalau yang di depan nya adalah perempuan yang ada di ruangan keamanan tadi.
"Kalau ngepel itu sambil lihat depan!!!!, Jangan nunduk aja!!!!, lihat sepatu mahal ku jadi kotor kan!!," Veni Melotot pada Lidya, sambil tangan nya memegang tas besar yang ada tulisan brand terkenal.
"Mata kamu yang jelalatan, sudah jelas kalau ada orang yang lagi ngepel, main tabrak aja!!!, apa kamu sengaja melakukan itu?!!," Lidya tak mau kalah, dan ia tak mau disalahkan.
"Wah, keren ya.... , kamu bersenang-senang dengan berbelanja tas brand terkenal. Sedangkan mertua dan saudara ipar mu sedang membersihkan toilet." ucap Lidya di ikuti senyum yang menghina.
"Ha ha ha....asal kamu tau, Itu bukan urusan ku. Karena mereka pantas melakukan itu semua." ucap Veni dengan wajah tak merasa bersalah.
Lalu Lidya kembali melakukan pekerjaan nya, ia tak memperdulikan Veni yang banyak bicara itu. Karena tak ada hubungan nya sama sekali.
"Hey!!!, kenapa kamu tak minta maaf dan merasa bersalah dengan apa yang sudah kamu lakukan padaku!!," Veni sangat tak suka kalau dia tidak di pedulikan.
"Bukankah aku tadi sudah minta maaf?," ucap Lidya dengan datar dan tidak melihat kearah Veni sama sekali. Ia terus fokus pada pekerjaan nya.
Lalu kaki Veni menginjak kain pel nya dan berkata "Begitu ya cara mu berbicara dengan orang yang lebih tua dari mu, dengan tidak memandang dengan hormat pada orang itu?,"
"Oh jadi anda minta dihormati?!," jawab Lidya menatap tajam Veni. Lidya benar-benar sudah sangat emosi. Tubuhnya sudah terasa capek dengan kejadian bertengkar dengan Laras dan Ambar tadi. Lalu ia harus mengerjakan hukuman nya, dan kini Veni berulah dengan nya.
Lidya melempar alat pel itu ke dasar lantai, dan berjalan mendekati Veni.
"Jangan mendekat!!," teriak Veni, Veni ketakutan saat Lidya berjalan mendekati nya dengan wajah Spikopat nya.
Namun Lidya terus berjalan mendekat pada Veni dengan kedua tangannya mengepal.
"Stop!!, aku maafkan kamu tapi kamu harus menghentikan kaki mu!!," teriak Veni.
Dan Lidya masih terus berjalan mendekat, kini dia sudah berada tepat di depan Veni.
Kedua tangan Veni mendorong tubuh Lidya dengan kuat. Sehingga Lidya terjatuh kelantai.
Seperti tak ada perlawanan sama sekali oleh Lidya, Lidya tak beranjak berdiri dari jatuhnya itu.
"Hmmm ternyata segitu aja kekuatan, mu?," ucap Veni dengan senyum miring.
"Sekarang bersihkan sepatu ku yang kotor karena ulah mu itu!!," perintah Veni sambil mengangkat kakinya dan ia taruh di kaki Lidya.
Lalu Lidya mengambil kaki Veni yang ada di atas paha nya dengan sangat pelan dan Lidya membersihkan sepatu itu dengan tangan nya.
__ADS_1
Veni yang melihat itu pun tersenyum sangat puas.
"Keberuntungan memang sudah menjadi milik ku." gumam Veni dalam hati dengan senyum bangga.
"Ini ada apa, Ven?," tanya Teguh dari arah belakang.
Lidya kaget dengan suara itu, karena suara itu sangat familiar ditelinga Lidya.
Namun Lidya mencoba menyangkal pikiran buruk nya.
"Lihat perempuan itu, mas!!. Berani sekali dia mengotori sepatu ku." ucap Veni pada Teguh dengan sangat mesra.
Lalu tangan Teguh memeluk pinggul Veni dengan sangat mesra.
Lidya pun penasaran dengan lelaki yang suaranya sangat familiar di telinga nya itu.
Lidya memutuskan mengangkat kepala nya, untuk melihat lelaki yang bersama Veni itu.
"Mas Teguh?!!!,"
Betapa kagetnya Lidya saat melihat suaminya itu memeluk perempuan lain dengan sangat mesra di depan mata kepala nya sendiri.
Sama dengan Lidya, Teguh juga tak kalah terkejut nya saat melihat ternyata perempuan yang saat ini sedang membersihkan sepatu Veni adalah istri kedua nya.
Darah Lidya pun bergemuruh di dalam dada nya. Emosi semakin memuncak saat melihat pemandangan yang ada di depan nya saat ini.
Dengan tenaga yang kuat, seperti di rasuki setan. Lidya pun mengangkat satu kaki Veni yang saat ini sudah berada di tangan nya. Tak dapat di hindari, Veni pun terjungkal ke belakang.
"Auw...., sakit mas...," rengek Veni yang kesakitan pada Teguh.
Lidya pun berdiri, dan ia langsung menampar Teguh yang berada di depan nya itu.
"Ini yang kamu bilang sedang sibuk di kantor, mas?!," ucap Lidya dengan tatapan mata nanar.
"Aku yang sedang ada masalah disini, kamu malah enak-enakan bersuka ria dengan perempuan itu!!!," tunjuk Lidya pada Veni, yang masih terduduk di lantai. Karena ia sangat sulit untuk berdiri.
Teguh pun terdiam, dia tak menjawab sepatah kata pun pada Lidya. Karena pada dasarnya dia lah yang memang salah.
"Mas.... Tolong aku." ucap Veni masih dengan suara manja nya. Sepertinya Veni tak menyadari tentang hubungan Teguh dan Lidya itu.
Dan Teguh tak memperdulikan permintaan Veni, karena dia harus menjaga hati Lidya.
__ADS_1
Veni yang di cuek'in oleh Teguh itu memanyunkan bibirnya, lalu ia berusaha berdiri sendiri walau sangat sulit untuk melakukan itu.
Namun dengan susah payah, akhirnya Veni bisa berdiri dengan satu kaki nya terkilir.
"Mas, kenapa kamu tega sih membiarkan aku berdiri sendiri?," tanya Veni dengan bergelayut manja pada tangan Teguh.
"Lihat mas, karena dia tas yang kamu belikan rusak." adu Veni pada Teguh sambil mengangkat paper bag yang berisikan tas branded itu.
"Lepaskan," ucap Teguh lirih dengan tangan nya mencoba melepaskan pelukan tangan Veni, namun pandangan Teguh masih tertuju pada Lidya.
"Mas, kamu kenapa sih?," tanya Veni dengan menautkan kedua alisnya, karena heran dengan perubahan sikap Teguh.
"Jadi karena dia kamu tak mau membantu ku?!, Jadi karena kamu membelikan dia tas branded, kamu tak mau memberikan uang lima juta untuk membebaskan aku dari masalah ku?!," ucap Lidya dengan mata nanar.
Teguh hanya terdiam, ia tak tau harus berbicara apa. Karena ia sadar, kalau ia yang salah dalam hal ini.
"Emang kamu siapa nya dia??!!, sehingga mas Teguh harus menuruti semua permintaan mu?!!," tanya Veni dengan penuh selidik.
"Lalu, bagaimana dengan kamu? Kamu siapa nya dia?!," tanya Lidya sambil menunjuk Teguh yang ada di depannya.
"Dia pacarku." jawab Veni mengejutkan Lidya dan Teguh.
Teguh sangat terkejut dengan pengakuan Veni, dia tak habis pikir kalau Veni akan seberani itu mengatakan hal yang sangat tidak pantas itu.
"OOO... jadi itu hubungan kalian?," ucap Veni sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Baik lah kalau gitu," lanjutnya.
Lidya segera mengambil ember dan alat untuk mengepel lantai, lalu ia pergi meninggalkan mereka berdua.
"Lid, tunggu Lid. Apa yang di katakan Veni itu tidak benar." ucap Teguh sambil berlari mengejar Lidya.
Veni yang melihat hal itu semakin bingung, banyak pertanyaan di otak Veni saat ini. Ada hubungan apa Teguh dan perempuan itu.
Akhirnya Lidya bisa lolos dari kejaran Teguh. Lidya sengaja menghindari Teguh. Ia sangat sakit hati dengan pengkhianatan yang dilakukan oleh Teguh.
Ingin sekali Lidya berteriak dan mencaci Teguh saat itu juga. Tapi apa daya, tubuh Lidya saat itu sangat capek dan sudah seperti tak mempunyai tenaga.
Lidya sangat malas untuk ribut, karena sehari ini dia sudah ribut beberapa kali.
Kini Lidya pun pulang dengan menaiki taksi online yang sudah di pesan nya.
__ADS_1