
Setelah sampai ruko, ternyata toko belum tutup. Masih ada customer yang membeli kue. Tapi persediaan kue tinggal beberapa saja.
"Sudah pulang, bu?," tanya Reni.
"Iya Ren. Gimana toko hari ini?," tanya Sarah.
"Alhamdulillah, bu. Kue tinggal ini saja." Jawab Reni.
Sarah pergi ke dalam meninggalkan Reni, untuk menemui Kean. Sarah berharap Kean masih belum tidur. Tapi sebelum ia menui anaknya, Sarah mandi dulu untuk membersihkan tubuhnya.
Setelah selesai mandi dan berganti pakaian ia masuk kekamar untuk melihat Kean. Namun ternyata sudah tidur di temani suster pengasuh nya.
Melihat Sarah sudah datang dan ini memang sudah jam pulang untuk suster pengasuh Kean. Suster Kean berpamitan untuk pulang kepada Sarah.
Sarah duduk disamping Kean yang sudah tertidur pulas. Sarah mengambil laptop nya untuk mengetik novel nya. Ia harus segera merampungkan bab nya untuk up malam ini.
Semakin ia rajin menulis dengan jumlah kata yang sudah ditentukan pihak noveltoon semakin cuan mengalir kerekening Sarah.
Kini Sarah sudah punya tabungan yang lumayan. Dari hasil menulis ia sudah bisa buka dua cabang usaha kue. Dan juga sudah bisa membeli mobil walau hanya mobil bekas. Sekarang Sarah fokus menabung untuk mengembangkan bisnisnya di bidang lain.
Sarah ingin sekali mempunyai rumah dikota. Agar bisa membawa kedua orangtuanya ke kota untuk tinggal bersama.
Setelah beberapa bab sudah di up, Sarah pun segera menarik selimut dan segera memejamkan mata nya.
Namun walau mata terpejam, hati Sarah masih terjaga. Ia masih terngiang-ngiang suara Damar yang menalaknya sore tadi.
Tak pernah terlintas di pikiran Sarah akan menjadi seorang janda beranak satu.
Sebelum subuh Sarah sudah bangun, untuk menyiapkan bahan-bahan untuk membuat kue. Setelah terdengar kumandang adzan subuh, Sarah bergegas mengambil air wudhu. Dan disegerakan untuk sholat. Karena sudah menjadi kebiasaan Sarah tak mau mengulur-ulur waktu untuk sholat.
Selesai sholat, Sarah langsung mengerjakan pekerjaan nya membuat kue-kue yang akan dijual di rukonya. Untuk yang dijual dicabang Sarah membuat nya langsung di outlet. Jadi kualitas kue nya selalu fresh.
Walau karyawan nya belum datang, Sarah mengerjakan sendiri pekerjaan nya. Nanti setelah para karyawan nya datang, ia tinggal ke outlet cabang nya yang berada di mall. Dan pekerjaan diruko para karyawan nya lah yang menghandle.
Kini Sarah bersiap untuk pergi ke outlet cabang yang berada di mall terbesar di kota ini. Ia membawa Kean dengan di gendong suster nya.
Sesampainya di outlet, Sarah pun segera meracik adonan untuk kue-kue nya. Dan dibantu oleh beberapa karyawan nya. Sarah sangat menjaga kualitas rasa kue-kue nya, maka dari itu Sarah tak pernah menyuruh karyawan nya untuk meracik adonan kue-kue nya.
Setelah selesai meracik adonan, urusan mengoven dan mengukus kue baru ia serahkan pada karyawan nya. Tapi tetap dengan pengawasan langsung dari Sarah. Apalagi karyawan di outlet ini tergolong karyawan baru, jadi masih harus di ajari dan di awasi. Demi menjaga kualitas kue yang sudah banyak di minati oleh para customer.
Harum kue yang baru keluar dari oven, membuat para pengunjung mall penasaran dan ingin mencoba.
Rata-rata customer kue Sarah, yang awal nya hanya mencoba karena penasaran. Akhirnya beli lagi dan lagi dan menjadi pelanggan tetap.
Sarah tak pernah putus untuk bersyukur dengan jalan yang sudah di tentukan oleh sang pembuat hidup.
Siang ini Linda dan Lidya bersiap untuk pergi jalan-jalan.
Lalu ada yang mengetuk pintu rumah nya, saat di buka ternyata seorang kurir membawa selembar amplop.
Linda yang menerima nya pun penasaran dengan isi amplop itu. Yang saat ini di pikiran nya adalah uang. Ia berharap isi amplop ini adalah cek.
Namun setelah di buka, betapa kagetnya Linda. Ternyata surat peringatan dari salah satu Bank swasta untuk segera membayar angsuran nya, karena sudah menunggak tiga bulan.
Kalau tidak segera diselesaikan, dengan terpaksa rumah yang ia tempati harus dikosongkan sesuai ketentuan Bank.
Linda pun menangis histeris saat membuka dan membaca surat itu, Karena ia kini sedang tak punya uang sama sekali.
Uang yang didapat dari menggadaikan rumah ini habis tak bersisa. Untuk membelikan mobil brondong nya dan buat tukar tambah mobilnya sendiri.
"Ada apa, ma?," tanya Lidya yang keluar dari kamarnya karena mendengar teriakkan mama nya.
__ADS_1
"Lihat ini, lid!." Linda menyerahkan lembaran surat peringatan itu.
"Apa ini, ma?" Lidya yang kepo langsung mengambil kertas berwarna putih itu.
"Haaaah...?!." Mata Lidya membelalak saking terkejutnya. Karena saat Linda menggadaikan sertifikat rumah nya Lidya dan Damar tak tahu sama sekali.
"Kok bisa-bisanya mama menggadaikan sertifikat rumah ini?, Kalau kita nggak bisa bayar, otomatis rumah ini akan disita. Dan kita mau tinggal dimana, ma?!," Lidya tak abis pikir dengan keputusan mama nya yang menggadaikan sertifikat rumah yang ditempatinya ini tanpa bermusyawarah terlebih dahulu dengan anak-anak nya.
"Mama bingung, Lid. Mama malu dengan teman-teman mama yang mobilnya bagus dan mewah. Sedangkan mama hanya dibelikan mobil bekas sama Damar. Damar sih, sama orang tua nya aja perhitungkan banget." Linda beralasan, padahal alasan awal ia menggadaikan sertifikat rumah nya untuk membelikan mobil brondong nya.
Namun Linda tak berani untuk berkata yang sebenarnya pada Lidya. Dipastikan Lidya akan murka kalau mendengar alasan yang sebenarnya.
"Trus ini gimana, Lid? Kamu punya tabungan kan?," ucap Linda meminta solusi pada Lidya.
"Lidya tak punya uang sama sekali, ma. Mama tau sendiri kan semua rekening Lidya terblokir semua. Satu-satunya sumber uang kita ya mas Damar." ucap Lidya.
Kalau masalah Damar itu hal mudah bagi Linda. Karena ia paling jago menaklukkan hati anak lelakinya itu.
"Kalau gitu, kita jadi jalan atau nggak?," tanya Lidya ngambek karena dari tadi nggak berangkat-berangkat jalan disebab ulah Linda yang menangis Histeris.
Akhirnya mereka berdua pergi ke mall. Saat Lidya dan Linda melintas di depan outlet SKcake, Lidya mencium harum kue yang baru keluar dari oven. Dan itu membuat perut Lidya langsung keroncongan.
Lidya pun menghentikan langkahnya lalu menarik tangan Linda yang berjalan didepan nya. Linda pun berhenti lalu menoleh pada Lidya yang berada dibelakang nya.
"Ma, mau kue itu?!," rengek Lidya manja bak anak TK yang sedang minta dibelikan mainan sambil menunjuk kearah outlet SKcake milik Sarah.
Linda tak bisa menolak keinginan putrinya yang saat ini sedang mengandung empat Minggu itu.
Mereka berdua langsung masuk kedalam outlet, saat mereka berjalan melewati barisan kursi dan meja. Mereka melihat Sarah yang sedang membersihkan satu meja yang telah terpakai makan oleh pelanggan kue nya. Lalu Linda dan Lidya pun menghampiri Sarah.
"Hay, perempuan ******!!!!. Ternyata selain jadi wanita panggilan, kamu juga jadi babu disini?!!!," Umpat Linda pada Sarah dengan tatapan menghina.
"Tapi kamu lebih pantes jadi babu sih, mbak." Ha ha ha ha," Lidya melanjutkan hinaan yang telah dilontarkan Linda dan mereka berdua tertawa bersama.
"Untung saja Damar sudah menalak mu, bisa malu aku mempunyai seorang menantu yang murahan. Demi tak tinggal dikolong jembatan dengan rela menjual tubuh nya," Linda berkata sambil melipat kedua tangannya didepan dada dengan tatapan matanya dari atas kepala sampai kaki.
Sarah langsung menatap tajam mata Linda saat terlontar hinaan dari mulut mantan mertua nya itu untuk nya.
"Ngomong nya sudah?!!, Sekarang kalian silahkan pergi dari sini!!!," ucap Sarah pelan tapi penuh penekanan dengan menunjuk pintu keluar.
Sangat sulit Sarah menahan emosi nya saat ia dihina begitu rendahnya didepan umum. Namun ia terus berusaha agar emosi itu tak meledak, karena ia tahu siapa yang ada didepan nya. Yaitu orang lebih tua dari nya, Sarah masih punya sopan santun yang telah diajarkan oleh kedua orang tuanya agar menghormati orang yang lebih tua.
"Kamu mengusir kami?!, memang kamu siapa? yang punya outlet ini?!," ucap Lidya dengan senyum yang menghina.
"Disini kita ini pembeli loh, kamu tau kan mbak, kalau pembeli itu adalah raja?! Dengan sikap mu yang seperti ini, aku bisa loh membuat mu kehilangan pekerjaan ini!!!" Lidya mengancam Sarah seakan akan ia penguasa.
Sarah hanya tersenyum-senyum meremehkan ucapan Lidya. Sarah tak takut sama sekali dengan ucapan Lidya karena dia lah pemilik outlet itu.
"Sekarang kalian pergi dari sini, atau aku panggilkan satpam biar menyeret kalian keluar!!!!," ucap Sarah dengan suara yang dibuat agak tinggi.
"Wow, perempuan ini semakin berani sekarang," ucap Lidya.
"Dila, panggilkan satpam di depan untuk menyeret kedua orang ini agar mereka keluar dari sini," Sarah memerintah salah satu karyawan nya.
"Baik, Bu." Dila pun melakukan perintah dari bos nya itu. Dila segera keluar dari outlet untuk memanggil satpam.
"Tunggu!!!!," Teriak Lidya menghentikan langkah Dila yang sudah sampai di tengah pintu keluar.
"Kamu tidak usah repot-repot untuk memanggil satpam. Aku akan pergi dari sini, karena aku sudah tak nafsu lagi makan disini karena melihat mu, mbak!!!," ucap Lidya dengan segera membalikkan tubuhnya kearah pintu keluar.
Sarah pun akhirnya bernafas lega karena trouble maker sudah pergi. Ia pun langsung pergi kedalam untuk menghindari pandangan banyak orang yang sedang santai memakan kue dan meminum kopi.
__ADS_1
"Mama, melihat ada yang aneh nggak dari penampilan mbak Sarah?," Lidya bertanya pada Linda, mungkin saja jawaban Linda sama dengan apa yang dipikirkan Lidya.
"Iya sih... penampilan nya sekarang lebih cantik terawat dan pakaiannya tidak menunjukkan kalau dia babu," jawab Linda dan ternyata apa yang Lidya pikirkan sama dengan pikiran Linda.
"Pasti Sarah menjadi selingkuhan bos nya ditempat ia kerja tadi," Linda berasumsi dengan pikirannya sendiri.
Dan Lidya menganggukkan kepalanya, mengerti dengan apa yang dimaksud oleh Linda.
Sementara Mayang yang sudah dijemput supir Celvin, menuju ketempat dimana mereka kemarin sudah memesan gaun untuk acara tunangan nya.
Mayang pergi sendiri untuk mencoba gaun yang sudah dipesan, kemarin Celvin mendapat telepon dari pihak butik kalau gaun nya sudah selesai. Mayang dan Celvin diminta untuk datang mencoba nya.
Celvin yang saat ini masih ada kunjungan kekantor cabang bersama papi nya, nanti ia berjanji akan menyusul Mayang ke butik yang berada di satu mall dengan outlet milik Sarah.
Sedangkan Lidya dan Linda masih terus berjalan menyusuri toko toko baju dan sepatu. Lalu mereka berhenti di depan butik terkenal, dan langsung masuk kedalam. Dan langsung disambut oleh karyawan butik.
Mereka pun mencoba baju-baju yang ada di sana, lalu Lidya melihat ada sebuah gaun yang anggun berwarna pink muda di manekin.
"Mbak, aku mau mencoba yang itu!," Lidya memerintah karyawan toko untuk mengambil kan gaun di manekin itu.
"Maaf Bu, itu sudah pesanan. Jadi tidak bisa di coba." Ucap karyawan butik itu dengan sangat sopan.
"He, saya kesini bawa uang mbak!!!!, Jadi kmu jangan menghina saya!!!," bentak Lidya sambil mendorong bahu pelayan butik itu dengan telunjuk nya.
"Tapi Bu, saya tak menghina ibu. Dan memang sudah menjadi ketentuan butik kami kalau baju yang sudah dipesan itu tidak bisa dicoba," ucap pelayan itu menjelaskan dengan nada pelan. Karena takut menjadi pusat perhatian pengunjung lain.
"Sekarang mana bos mu?! Biar aku yang ngomong sama dia!!?," Lidya seperti orang yang tak tau malu.
Mayang yang sedang berjalan menuju butik itu melewati depan outlet Sarah. Namun Mayang tak melihat keberadaan Sarah. Karena Sarah sudah masuk kedalam ruang produksi.
Lalu ia masuk kedalam butik dan disambut oleh karyawan butik.
"Bu Mayang, ya?, mari Bu ikuti saya." Ajak karyawan butik sambil menunjukan tempat untuk menunggu. Karena gaun yang sudah dipesan sedang dipersiapkan.
Sedangkan disamping kanan Mayang yang sedang duduk, terdengar suara keributan.
Karena suara gaduh itu sangat mengganggu di telinga, Mayang pun menoleh kearah sumber keributan itu.
Saat Mayang menatap kearah Lidya, tak sengaja Lidya juga menatap wajah Mayang.
Akhirnya Lidya berjalan menuju Mayang yang sedang duduk dengan penuh emosi, seperti ada dendam yang ter kesumat kepada Mayang.
"He orang kampung!!! Ngapain kamu kesini???!!! Kamu itu orang miskin yang kampungan jadi kamu tak akan mampu membeli baju di butik terkenal ini!!!!," Hina Lidya dengan lantang, sehingga semua pengunjung menatap pada Lidya dan Mayang.
Mayang tak menjawab ucapan Lidya sama sekali, karena menurut Mayang hanya akan mempermalukan diri sendiri meladeni orang seperti Lidya.
"Bu Mayang, ini gaunnya," ucap karyawan butik dengan menyodorkan gaun berwarna pink muda yang ada di manekin tadi.
Lidya yang melihat itu seperti tak terima. "Dia itu tak pantas memakai baju ini, mana mampu dia membayarnya!," ucap Lidya sambil mengambil gaun yang di pegang oleh karyawan butik.
"Tapi Bu, itu sudah pes....," belum selesai karyawan butik itu ngomong Lidya langsung membawanya ke kamar ganti.
Karyawan butik itu langsung menoleh kearah Mayang dengan tatap bertanya bagaimana, Mayang pun mengangguk kan kepala. Yang artinya biarkan dia mencobanya.
Karyawan butik itu pun langsung bernafas lega, karena sering kejadian pelanggan butik yang sudah pesan tak mau membeli nya karena sudah di coba orang lain.
💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕
mungkin yang dilakukan Lidya yang bar-bar ini termasuk bawaan bayi ya readers?
yukkk jangan lupa like dan komen nya ya
__ADS_1
terimakasih 😘