DERITA SEATAP DENGAN MERTUA

DERITA SEATAP DENGAN MERTUA
Bertemu Lagi


__ADS_3

Mesin mobil ku hidupkan, dan segera ku lajukan kearah rumah Sinta.


Sengaja aku tak memberi kabar kada Sinta, kalau saat ini aku menuju rumah nya, untuk menjemput nya.


Beberapa menit, akhirnya aku sampai di depan pintu pagar rumah Sinta.


Saat aku keluar dari mobil, tak bisa aku hindari aku melihat rumah mas Damar. Dimana dirumah itu aku pernah hidup bersama nya, dan menyisakan goresan luka di hati karena penghianat nya.


Aku tak mau terlalu dalam mengingat itu, ku pasang lagi kaca mata hitam ku. Agar tak terlalu terlihat oleh Sinta, kalau mata ini memerah karena bendungan mata ini tak berhasil menghentikan air mata ku yang tiba-tiba mengalir.


"Assalamualaikum," ku ucapkan salam dengan pintu yang tertutup ini ku ketuk


"Waalaikumsalam." jawab Sinta dari dalam rumah. Tapi suaranya terdengar jauh, mungkin ia berada di belakang.


cekleeek


Gagang pintu di tarik, dan daun pintu pun terbuka.


"Sarah?!," Sinta terkejut melihat ku dari belakang pintu. Dengan dandanan yang acak kadul.


Aku pastikan saat ini ia masih belum mandi, karena masih memakai piyama.


"Kok kamu disini?, bukankah tadi kamu bilang mau ke outlet cabang mu dulu?," tanya Sinta dengan membuka pintu nya lebih lebar. Dan ia mempersilahkan aku masuk.


Aku pun masuk kedalam rumah nya dan duduk di sofa tamu nya.


"Ih... buka lah kacamata hitam mu. Nggak banget di dalam ruang masih aja di pakai." protes Sinta.


Dan aku baru ingat, kalau tadi kacamata hitam ku, aku pakai lagi.


"Pantesan, rumah mu terlihat gelap." celetuk ku sambil tertawa dan ku copot kacamata hitam dengan brand Dios ini.


"Terus rencana kita ini kemana?," tanya Sinta yang ikut duduk di sofa ruang tamu ini, dengan kakinya diangkat dan di taruh diatas sofa.


"Apa kita langsung pergi ke salon?," tanya Sinta lagi.


"Kita ke outlet dulu, baru ke salon." jawabku.


"Oke, kalau begitu tunggu aku ya. Aku mandi dulu." ucap Sinta beranjak berdiri dari duduknya.


"Eh... ngapain sih mandi segala, kalamaan. Ganti baju aja sana!!," ucap ku.


"Yaelah.... kamu mau cantik sendiri, biar dikata teman mu ini babu mu!," celetuk Sinta.


Aku tertawa cekikikan mendengar ucapan Sinta dengan wajah cemberut nya. Sinta bergegas masuk kedalam kamarnya.


Beberapa menit kemudian, Sinta keluar dengan pakaian rapi dan bau yang harum.

__ADS_1


"Yakin, kamu ini mandi Sin?," tanya ku.


"Menurutmu?!,"


"Ya mandi lah.....tapi keteknya aja! hahahaha....," Sinta tertawa lebar. Dan aku bergidik ngeri membayangkan yang ia lap hanya keteknya aja.


"Ayo kita berangkat." Sinta menarik tangan ku.


"Ini kamu yang bawa mobilnya!!!," kunci mobil aku lempar kepada Sinta.


"Sar, kita ke salon temen ku yuk!!," ajak Sinta.


"Mumpung ada diskonan, nih. Dia sedang buka cabang baru di kota ini." ucap Sinta.


"Oke lah,, terserah kamu Sin. Yang penting aku ingin merelaksasi pikiran ini." jawabku.


Sampai sudah kita di outlet cabang, aku tak lama disana. Hanya untuk mengecek bahan-bahan yang sudah habis aja.


"Bu Sarah, sudah mau pulang?," tanya mbak Indah .


"Iya, mbak.", jawabku sambil catat bahan-bahan yang harus di beli.


"Kok sebentar, Bu? apa ibu nggak makan siang dulu?," tanya mbak Indah.


"Aku sedang ada urusan, mbak. Sekarang aku sedang di tunggu temanku di depan. Lain kali aja aku makan siang disini." jawabku.


"Baik, Bu." jawab mbak Indah.


Aku berjalan menuju Sinta yang sedang duduk menunggu ku.


"Yuk Sin!!," ajak ku.


"Udah, Sar?," tanya Sinta.


"Sudah donk!!, yuk ah... keburu sore loh." tangan Sinta ku tarik.


Dan kini kita berdua menunju salon yang di rekomendasikan oleh Sinta itu.


Sampai sudah kita di depan salon kecantikan yang lumayan mewah, dengan desain salon yang aesthetic. Dari luar terlihat sekali kenyamanan nya.


Semoga saja para pegawai nya juga ramah, agar nilai plus nya lebih.


Setelah mobil dibawah oleh tukang parkir untuk di taruh di tempat parkir. Aku dan Sinta berjalan masuk kedalam salon yang desain interior nya sangat mewah sekali.


"Salon nya bagus ya, Sin?!," ucap ku sambil mata ku melayang kan pandangan di setiap sudut salon, yang terdapat manik-manik dan hiasan yang aesthetic-aesthetic.


"Kamu sudah bikin janji, Sin?," tanya ku.

__ADS_1


"Sudah, Sar. Ini aku sudah kirim pesan untuk memberitahu dia, kalau kita sudah datang.* Jawab Sinta.


"O.. ya sudahlah. Takutnya kamu lupa, kamu kan sedikit pikun." celetuk ku.


"Selamat datang, Bu Sinta." sapa salah satu pegawai perempuan salon ini.


"Ibu Sinta silahkan duduk, owner kami masih ada tamu. Jadi kami harap Bu Sinta berkenan menunggu." lanjut perempuan cantik itu.


"Terimakasih, kami akan menunggu nya." jawab Sinta. Lalu kami berdua duduk di sofa yang di khususkan untuk para tamu yang datang.


"Mbak, toilet sebelah mana?," tanya ku.


"Oo... disebelah sana, Bu." pegawai salon itu menunjuk pada lorong yang ada di sebelah kananku.


"Sin, aku ke toilet dulu ya. Udah kebelet dari tadi nih." ucapku pada Sinta yang duduk disofa berwarna pink itu.


"udah sana, buruan!! Ntar kamu ngompol disini lagi." celetuk Sinta.


"Mbak, minta tolong anterin dia ya. Takut saja dia nanti nyasar! hi hi hi." Sinta cekikikan membuat ku kesal sekali.


"Mari, Bu." ajak pegawai salon yang cantik itu.


Memang rata-rata semua pegawai di salon ini semua nya cantik-cantik dan memiliki body goals.


"Jadi penasaran seperti apa owner-nya." gumamku dalam hati.


Aku pun berjalan di belakang mbak yang mengantarkan ku.


"Ibu, bisa masuk kedalam sini." ucap pegawai salon itu sambil tangan menunjukan lorong yang ada di depan nya.


"Baik, mbak. Terimakasih." ucapku.


"Kalau begitu, bisa saya tinggalkan Bu?," tanya pegawai itu.


"Silahkan, mbak." Jawab ku dengan senyum ramah.


"Ini gara-gara Sinta, kayak aku yang dari suku yang primitif aja. Sampai ke toilet aja harus diantar." gerutuku dalam hati di sepanjang lorong masuk kedalam toilet.


brakkkkk....!!


"auw!!," pekik ku.


Dari belakang ada yang menabrak ku.


"Duh lelet banget sih kalau jalan." ucap seseorang dari belakang ku. Tidak meminta maaf, malah ia mengumpat ku. Padahal jelas dia yang salah. Dan satu lagi suara itu sangat familiar di telinga ku.


Saat aku balikkan badan ke belakang, ternyata benar dugaan ku. Mbak Veni yang tadi menabrakku dari belakang.

__ADS_1


"Sarah?!," mbak Veni seperti terkejut melihat keberadaan ku disini. Kedua matanya melotot seperti mau keluar.


__ADS_2