DERITA SEATAP DENGAN MERTUA

DERITA SEATAP DENGAN MERTUA
#329


__ADS_3

Siang ini Sarah menjemput Kean di sekolah. Namun di sekolah, Sarah tak melihat Kay.


"Kean, Kay mana?," tanya Sarah.


"Kay, sudah pulang duluan amma." jawab Kean.


"Memang kenapa?, apa Kay sedang sakit?," tanya Sarah.


Kean menggelengkan kepalanya, dengan raut wajah sedih.


Sarah melihat raut kesedihan di wajah Kean. Sepertinya ada sesuatu yang tengah terjadi pada teman nya itu.


"Memang nya Kay kenapa, nak?," tanya Sarah dengan tangannya memeluk tubuh Kean.


"Kasihan Kay, amma. Tadi itu Kay sedang sedih. Walau udah Kean hibur, Kay masih bersedih." jawab Kean.


"Sedih?, kenapa bersedih?," tanya Sarah lagi.


Namun Kean diam tak mau cerita pada Sarah. Ia menundukkan kepalanya. Kean tak mau melihat Sarah.


"Ya sudah, kalau anak amma yang pintar ini belum mau cerita. Amma nggak maksa, lebih baik sekarang kita ke taksi, yuk!," ajak Sarah sambil mengangkat wajah Kean.


"Loh, kenapa Kean menangis?," tanya Sarah yang terkejut melihat anak nya mengeluarkan air mata. Dalam hati Sarah berkata , "sesedih itu kah Kay, sehingga Kean sampai menangisinya?,"


Lalu dengan lembut, jari-jari Sarah mengusap air matanya. Ia tak mau memaksa Kean untuk bercerita. Karena Sarah takut, hati Kean semakin sedih.


Kini mereka berdua berjalan menuju taksi yang sudah menunggu di depan sekolah.


Kean yang biasa nya terlihat ceria, siang ini wajah nya sangat murung.


"Ibu...," panggil ustadzah yang setiap hari nya mengajar di kelas Kean.


Sarah pun membalikkan tubuhnya pada sumber suara yang berasal.


"Assalamualaikum, Bu Sarah." ustadzah Kean mengucap salam pada Sarah.


"Waalaikumsalam, ustadzah." jawab Sarah sambil tersenyum ramah pada ustadzah Kean.


Kean langsung memegang tangan dan mencium punggung tangan ustadzah nya.

__ADS_1


Sambil tersenyum simpul, lalu wajah murung kembali nampak di wajah milik lelaki kecil itu.


"Ibu, ada sesuatu yang ingin saya tanya kan pada ibu Sarah. Ini mengenai Kean di kelas akhir-akhir ini, Bu." ucap ustadzah Salma.


"Baik ustadzah." jawab Sarah.


"Lebih enak kita bicara di ruangan saya saja ya, Bu?," ajak ustadzah Salma.


Dan Sarah pun menyetujui nya, dan kini mereka bertiga, ustadzah Salma, Sarah dan Kean berjalan menuju ruangan ustadzah Salma.


"Kean, Kean main-main dulu ya bersama teman-teman. Ustadzah ingin ngobrol dulu sana mama nya Kean." ucap ustadzah Salma yang berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan Kean, sambil memegang kedua pundak Kean.


"Tapi, Kay sudah pulang ustadzah." jawab Kean dengan wajah sedihnya.


"Kean, kan temen Kean banyak. Disini teman Kean bukan hanya Kay saja. Jadi Kean bisa bermain bersama teman yang lain." bujuk ustadzah Salma.


Dan ustadzah Salma langsung memanggil samah satu tenan sekelas Kean, yang kebetulan masih belum di jemput oleh orang tua nya.


"Damian!!!," panggil ustadzah Salma pada siswa nya itu.


"Ada apa ustadzah?," tanya Damian dengan suara polosnya.


"Baik ustadzah." Jawab Damian.


"Kean, ayo kita main bersama." ajak Damian.


Lalu Kean menganggukkan kepalanya, Kean ikut ajakan Damian.


Kini mereka berdua berjalan menuju taman sekolah yang tak jauh dari ruangan ustadzah Salma. Mereka berdua berjalan dengan bergandengan tangan.


"Mari Bu Sarah, kita masuk." ajak ustadzah Salma.


Sarah pun berjalan mengikuti ustadzah Salma di belakang.


"Silahkan duduk, Bu Sarah" ustadzah Salma mempersilahkan Sarah sambil telapak tangan nya menunjuk pada kursi yang ada di depan meja kerhmja ustadzah Salma.


"Terima kasih, ustadzah." ucap Sarah sambil duduk di kursi yang sudah di tunjuk oleh ustadzah nya Kean itu.


"Saya langsung saja ke inti masalah nya ya, Bu. Mumpung Kean mau bermain dengan teman nya yang lain. Karena tadi waktu saya lihat, sepertinya Kean kurang mood untuk bermain dengan Damian." ucap ustadzah Salma.

__ADS_1


"Iya ustadzah, itu lebih baik. Karena saya juga takut nanti Kean bosan dan langsung kembali ke sini." jawab Sarah.


Lalu ustadzah Salma menceritakan sikap dan tingkah laku Kean selama seminggu terakhir ini. Dan parah nya, tadi pagi saat sudah masuk kedalam kelas.


Bu Salma bercerita, kalau mulai tiga hari yang lalu, Kean sering melamun dan bengong di kelas.


"Namun sifat anak seperti itu adalah hal biasa kalau hanya dilakukan satu atau dua hari. Namun ini selama seminggu berturut-turut dilakukan oleh Kean. Padahal sebagai wali kelas, saya sudah berusaha untuk membuat Kean kembali fokus dalam pelajaran dan bermain." ucap ustadzah Salma.


"Awal nya saya kira Kean lakukan itu hanya didalam kelas, mungkin karena ia tidak menyukai mata pelajaran yang saya sampaikan. Namun ternyata, saat jam istirahat. Saya melihat Kean juga sering melamun, dan tidak fokus saat bermain dengan teman-temannya, Bu Sarah. Dan yang paling parah lagi, menurut saya adalah tadi saat saya menjelaskan tentang hubungan dalam keluarga. Saat saya bertanya tentang ayah pada Kean, ia tak menjawabnya dan tiba-tiba Kean menangis sesenggukan." lanjut ustadzah Salma menjelaskan pada Sarah.


"Saya minta maaf sebelumnya pada Bu Sarah, karena lancang bertanya. Apa memang dalam keluarga saat ini sedang ada masalah dan Kean tau itu, Bu Sarah?," Tanya ustadzah Salma dengan suara yang berhati-hati. Takut Sarah tersinggung dengan pertanyaan yang ditanyakan oleh ustadzah Salma.


Sarah pun langsung membuang nafas besar, setelah mendengar pertanyaan ustadzah nya Kean itu.


Lalu, Sarah pun menjawab pertanyaan ustadzah Salma dengan bercerita tentang yang terjadi selama ini antara dirinya dan ayah nya Kean yaitu Damar.


Sekarang ustadzah Salma pun sedikit mendapatkan titik terang dari masalah Kean saat ini.


"Biar nanti aku akan mencoba untuk berbicara dengan Kean, ustadzah." ucap Sarah.


"Iya Bu Sarah, tapi saya nitip ibu yang halus dan berhati-hati ya kalau bertanya tentang perasaan nya saat ini. Karena saya lihat hari Kean saat ini sedang tidak baik-baik saja." jawab ustadzah Salma.


"Dan saya juga minta tolong, kalau memang Bu Sarah sudah tau jawabannya. Segera kabari saya ya, Bu. Agar saya bisa membatasi materi apa yang akan saya berikan nanti dikelas." lanjut ustadzah Salma.


"Baik, ustadzah. Saya akan secepatnya mengabari ustadzah." jawab Sarah.


"Kalau begitu, saya pamit undur diri ustadzah. Saya takut Kean bosan dan ingin segera pulang." pamit Sarah.


Lalu Sarah bersalaman dengan ustadzah Salma, dan segera keluar dari ruangan ustadzah Kean itu. Kenapa terburu-buru keluar?, karena saat ini hati Sarah sedang tidak tenang, setelah mendengar cerita dari ustadzah Salma yang tak lain adalah wali kelas Kean.


Dan apa yang ditakutkan oleh Sarah pun terjadi,. Ternyata Kean sudah duduk di lantai tepat depan ruangan ustadzah Salma.


"Kean?!," panggil Sarah sambil menghampiri anak lelaki nya itu.


"Kenapa Kean ada disini?, bukankah tadi Kean sedang bermain dengan Damian, teman sekelas Kean?," tanya ustadzah Salma yang mengetahui Kean yang sedang duduk di teras ruangannya.


"Kean bosan, Amma. Kean ingin segera pulang." rengek Kean.


Sarah pun segera mengajak anaknya itu untuk pulang. Ia tak mau kalau pikiran dan mental anaknya itu tertekan dan sedih berada di sekolah ini.

__ADS_1


__ADS_2