DERITA SEATAP DENGAN MERTUA

DERITA SEATAP DENGAN MERTUA
Rencana Sarah


__ADS_3

"Maksudnya pak Bara?," tanya Bima dengan menautkan alisnya.


"Maksudnya begini, pak. Kalau bapak mau agen kami memberi stok sebanyak itu di toko pak Bima. Pak Bima harus memberikan jaminan pada kami atau paling tidak ada hitam di atas putih yang bermaterai." sekali lagi Bara menjelaskan pada Bima.


"OOO...begitu ya pak?," tanya Bima.


"Iya, pak Bima. Itu sudah membuat peraturan perusahaan kami." jelas Bara.


"Baiklah saya setuju dengan peraturan itu, pak Bara." jawab Bima menyetujui yang telah di ucapkan Bara.


"Ini kami sudah menyiapkan dua kertas yang bermaterai yang isi nya tentang perjanjian yang telah kita sepakati. Nanti kita pegang kertas itu satu-satu, pak. Jadi pak Bima bisa baca dulu isi nya, sekiranya tidak ada yang di rugikan kedua belah pihak. Pak Bima bisa langsung menanda tangani nya disini." jelas Bara sambil menyodorkan selembar kertas yang sudah berisi tulisan perjanjian.


"Aku sangat percaya dengan anda, pak Bara. Jadi menurutku tak perlu aku membacanya lagi." ucap Bima dengan tersenyum penuh kebahagiaan. Karena toko kelontong nya akan kembali seperti semula dengan pembeli yang sangat banyak.


"Dimana aku harus bertanda tangan, pak?," tanya Bima sangat berantusias.


"Pak Bima yakin tidak membaca perjanjian ini terlebih dahulu?," tanya Bara pada Bima.


"Aku sangat percaya kepada pak Bara, karena pak Bara sangat baik sekali sudah mau memberi stok toko saya sebanyak yang saya minta, pak." ucap Bima yang terlihat sangat bahagia.


Tanpa membaca isi perjanjian itu, akhirnya Bima menandatangani kertas putih yang bermaterai itu.


Lalu ia menyodorkan kertas yang sudah Bima tanda tangani kepada Bara yang saat ini sedang duduk di depan nya.


"Kalau begitu saya ucapkan banyak terima kasih untuk kerja sama nya, pak. Saya akan segera menyuruh anak buah saya untuk mengangkat barang-barang yang sudah bapak pesan." jawab Bara setelah ia menandatangani juga kedua kertas itu.


Kini mereka berdua pun membawa kertas perjanjian itu masing-masing.


Dan Bara bergegas berdiri dan berjalan menuju mobil box yang sudah ia bawa. Lalu ia memerintahkan beberapa karyawan nya untuk mengangkat semua barang pesanan Bima yang ada di mobil itu. Setelah selesai memerintah para karyawan nya, Bara pun kembali duduk di depan meja kerja Bima.


Saat mereka berdua sedang asyik mengobrol, tiba-tiba handphone Bara berbunyi. Ada panggilan masuk di handphone nya, saat Bara lihat ternyata panggilan dari Sarah.


"Assalamualaikum, Bu Sarah?," sapa Bara.


"Waalaikumsalam, pak. Apakah bapak jadi kirim pesanan saya sore ini?," tanya Sarah dari sebrang telepon.


"Jadi Bu, sebentar lagi saya jalan kesana. Ini masih mengirim di toko teman saya." jawab Bara.


"Baiklah, pak. Saya tunggu kedatangan bapak." ucap Sarah. Lalu ia menutup teleponnya setelah mengucapkan salam pada Bara dan Bara pun menjawab nya.


"Mau kirim barang kemana lagi, pak?," tanya Bima setelah mendengar pembicaraan Bara di telepon tadi.


"Setelah ini mau kirim ke toko roti SKcake, pak." jawab Bara, lalu ia mengambil minuman kopi kaleng yang di suguhkan Ina tadi.


"Oh.. Bapak juga menyuplai bahan-bahan kue disana?," tanya Bima lagi.


"Iya pak Bima. Dari awal toko itu buka, mereka sudah berlangganan kepada kami." jawab Bara sambil sesekali menyeruput kopi kaleng itu.


"Sampai saat ini toko roti itu semakin besar. Aku sungguh salut dengan pemilik toko itu." ucap Bara.


"Sudah selesai, pak." Satu karyawan Bara datang untuk memberi tau, kalau barang-barang yang diangkat ke toko Bima sudah habis. Bara pun menganggukkan kepala dan karyawan panggul itu pun segera pergi kembali kedalam mobil.


"Kalau begitu saya pamit ya, pak Bima." Bara mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Bima.


"Baik, pak. Dan terima kasih untuk kerja sama nya." jawab Bima dengan menyambut tangan Bara. Dan mereka berdua pun bersalaman.


Lalu Bara pun meninggalkan toko kelontong milik Bima, yang saat ini sudah kembali penuh lagi dengan barang dagangan nya.


"Sekarang kamu tutup saja tokonya, biar ini besok saja di bereskan." perintah Bima pada Ina, setelah Bara sudah menghilang di telan oleh jarak.


"Baik, pak." jawab Ina dengan sangat sopan.


Kini mereka berdua pun keluar bersama dari toko ini. Awalnya karyawan Bima ada tiga, karena beberapa bulan ini ada penurunan omset yang sangat besar. Jadi kedua karyawan nya yang lain di istirahat kan oleh Bima. Jadi sekarang hanya ada Ina satu-satunya karyawan nya saat ini.


Kini mereka berdua pulang kerumahnya masing-masing dengan kendaraan masing-masing.

__ADS_1


Bima bergegas pulang ke rumah, karena tubuhnya terasa sangat capek. Setelah seharian banyak kegiatan yang ia lakukan. Mulai dari memu*skan mantan istrinya sampai memberi ke pu*San kakak iparnya.


Karena saat ini sudah di tunggu pemilik toko roti terbesar di kota ini, Bara pun menginjak pedal gas dengan sedikit lebih dalam. Agar ia segera sampai di tempat tujuan.


Kini ia sudah memarkir mobil box nya itu tepat di depan toko roti milik Sarah.


"Assalamualaikum, Bu Sarah." sapa Bara sambil mengetuk pintu harmonika yang separuh sudah tertutup itu.


"Waalaikumsalam, pak. Silahkan masuk." jawab Sarah mempersilahkan Bara untuk masuk.


Sarah berani menyuruh Bara masuk kedalam toko nya, karena semua karyawan nya belum ada yang pulang. Mereka masih beres-beres toko, agar besok saat mereka membuka toko ini kembali sudah bersih.


"Bagaimana toko nya hari ini, Bu?," tanya Bara pada Sarah dengan terus matanya menatap lekat pada wajah Sarah.


"Alhamdulillah untuk sejauh ini sangat lancar, pak." jawab Sarah dengan menundukkan pandangan nya. Karena ia tau kalau saat ini ia sedang di pandang oleh Bara.


Dan kini mereka berbincang-bincang sambil menunggu para karyawan Bara mengangkat bahan-bahan kue yang sudah di pesan Sarah.


"Sudah selesai, pak." ucap karyawan Bara.


"Baiklah, kamu bisa menunggu di mobil." perintah Bara pada karyawan nya.


"Uangnya akan saya transfer, pak." ucap Sarah sambil mengambil selembar kertas putih yang bertuliskan rincian harga barang-barang yang ia order.


Dan Sarah pun berdiri dari meja kasir untuk mengambil handphone nya yang ada di dalam tas yang saat ini sedang tergantung di dinding.


Lalu dengan segera, Sarah pun mentransfer sejumlah uang yang sudah tertulis di kertas nota itu.


"Sudah ya, pak." ucap Sarah, sambil mengirim bukti transfer nya ke nomor Bara.


"Terimakasih, Bu." jawab Bara, yang tak lama notifikasi pesan dari Sarah pun masuk ke handphone nya.


"Kalau begitu saya pamit undur dulu, Bu." lanjut Bara, sambil ia menangkupkan kedua telapak tangan nya dan diangkat nya sampai ke dada. Bara sudah hafal dengan kebiasaan Sarah yang tak mau bersalaman dengan yang bukan mahramnya. Sarah pun membalas dengan hal yang sama.


Setelah Bara keluar dan pergi dengan mobil box nya, Reni dan karyawan lainnya pun segera menutup pintu harmonika itu. Dan kini Sarah dan para karyawan nya pun pulang kerumah masing-masing.


Bukan tak di karuniai, memang waktu itu Sarah berniat tak mau hamil terlebih dahulu, Sarah dengan sengaja memakai alat kontrasepsi.


Ada rasa trauma di diri Sarah dengan pernikahan nya dulu bersama Damar. Ia tak ingin mengulang hal yang sama, yaitu di tinggalkan saat anaknya masih bayi.


Ya walau cerita yang dulu, ia rasakan lagi sekarang. Yaitu di tinggal selingkuh oleh suaminya. Setidaknya ia tak punya bayi dari Bima suami keduanya itu.


"Amma...," sambut Kean sambil membaurkan pelukannya di tubuh Sarah.


"Anak amma sudah mandi?," tanya Sarah pada anak lelaki nya itu. Yang semakin hari semakin tumbuh dengan sehat dan pastinya dengan paras yang tampan seperti Damar ayahnya.


"Sudah, Amma. Sekarang amma yang mandi dulu, Kean mau melanjutkan menggambar." jawab Kean.


"Baiklah kalau begitu." jawab Sarah pada Kean sambil tersenyum bahagia.


Kean pun berlari kembali ke dalam kamarnya, sedang Sarah masuk kedalam kamarnya untuk membersihkan diri.


Beberapa jam berada di dalam kamar, Sarah pun keluar dengan piyama.


Sarah melihat ibu nya yang sedang sibuk di dapur menyiapkan makan malam.


Kamu mau makan dulu, Sarah?," tanya ibunya Sarah.


"Aku mau makan bersama Kean, Bu. Biar Kean aku panggil dulu." jawab Sarah.


"Kean sudah makan tadi, Sar. Sekarang ia sudah tidur, sebaiknya kamu jangan mengganggunya." ucap ibu.


"Kenapa Kean sudah tidur sesore ini, Bu?, apakah dia sakit?," tanya Sarah dengan wajah cemas. Padahal tadi saat Kean memeluk nya, tak terasa kalau badan Kean itu demam.


"Kean sehat, Sarah. Kamu tak perlu cemas, dia hanya kecapean saja. Karena tadi sepulang sekolah dia tidak tidur siang sama sekali." jawab ibu nya Sarah. Mencoba menenangkan kecemasan Sarah.

__ADS_1


"Apa dia juga sudah makan, Bu?," tanya Sarah yang terlihat masih cemas. Wajah nya tak bisa di bohongi kalau ia masih khawatir Kepada anaknya.


"Sudah, barusan saja dia selesai lalu pamitan untuk tidur. Karena matanya sudah sangat kantuk. Sekarang kamu yang makan!," ucap ibu sambil menyodorkan piring bersih dengan sendok tak lupa garpu nya.


Sarah pun sangat menikmati menu makanan yang di masak oleh ibu nya itu. Dia sungguh bahagia, karena akhirnya setelah sekian lama tak makan masakan ibunya, saat ini ia bisa memakan kembali makanan yang di masak ibu nya setiap hari.


"Tumis kangkung nya enak, Bu." puji Sarah pada masakan ibu nya.


"Karena itu makanan kesukaan mu, Sar." sahut ibunya yang sedang mencuci piring.


"Memang masakan ibu tidak ada dua nya." puji Sarah.


Ibu nya yang mendengar pujian dari anak sulungnya itu pun tersenyum bahagia.


Setelah selesai makan, Sarah pun berencana pergi kekamar Kean. Sudah beberapa hari ini, Kean meminta tidur sendiri di kamar nya. Katanya, dia sudah besar dan harus berani tidur sendiri.


Sarah melihat anak lelaki nya itu tertidur sangat pulas dengan memeluk bantal guling dan di balut selimut bermotif Spiderman yang senada dengan motif sprei nya.


"Kamu sudah tumbuh besar nak," bisik Sarah sambil mengusap rambut anaknya.


"Semakin kamu tumbuh besar, wajah mu semakin mirip dengan ayah mu." gumam Sarah.


"Entah dimana sekarang keberadaan ayah mu itu, Kean?. Apa dia tak pernah punya rindu untukmu?," Sarah berbicara dengan Kean yang saat ini sedang tidur terlelap. Lalu Sarah membenarkan selimut yang sedikit turun itu.


Setelah dirasa ia sudah puas memandangi wajah anak lelaki nya itu. Sarah pun keluar dari kamar Kean, saat ini ia berjalan menuju kamar nya untuk merebahkan tubuhnya sambil mengetik novel online nya.


Tak terasa setelah meng up bab novel yang ia ketik, Sarah pun tertidur dengan handphone yang masih ada di dalam genggaman nya. Mungkin sarah sangat capek, sehingga ia tertidur.


***


Pagi hari nya Sarah terbangun saat mendengar suara adzan subuh. Seperti rutinitas setiap pagi ia melakukan nya satu persatu pekerjaan nya.


Setelah selesai sarapan, Sarah langsung mengantar kean untuk ke sekolah nya. Kali ini Sarah tidak turun dari mobil saat mengantarkan Kean. Karena Sarah menghindari keributan dengan Veni mantan kakak iparnya itu.


Untung saja Kean termasuk anak yang pintar dan sangat mandiri, sehingga tak ada drama saat pengantaran sekolah pagi ini.


Setelah Kean sudah tak nampak dari pandangan mata Sarah, Sarah pun segera menghidupkan mesin mobilnya. Kali ini tujuan Sarah adalah rumah Sinta.


"Gimana kabar mu, Sar?," tanya Sinta yang duduk di sebelah Sarah.


"Aku bingung, Sin. Pikiran ku sekarang sedang tidak baik-baik saja." jawab Sarah.


"Ada apa, Sarah?, ceritakan saja padaku." ucap Sinta.


"Aku berencana menjual rumah dan mobil ku, Sin." jawab Sarah.


"Kenapa?," tanya Sinta.


Sarah pun menceritakan semua tentang ancaman Bima kepada nya. Ia takut kalau Bima akan berbuat nekat pada nya dan Kean.


"Kalau begitu, aku akan membantumu mencari pembeli rumah itu. Kalau soal menjual mobil itu sangat mudah, Sarah. Apalagi kondisi mobil mu masih sangat baik." ucap Sinta.


"Kamu disini dulu ya, Sar. Aku mau ke toilet, kalau kamu mau minum, ambil sendiri aja seperti biasa nya." ucap Sinta pada Sarah.


"Oke, Sin." jawab Sarah singkat.


Menghilangkan kejenuhan saat di tinggal Sinta ke toilet, Sarah pun memainkan handphone nya. Ia membuka akun Facebook nya.


Pertama yang muncul di beranda Facebook ku, adalah postingan foto Ambar. Sebenarnya Sarah dan mbak Ambar tak berteman di Facebook. Hanya saja di postingan foto Ambar, akun Veni di tag oleh Ambar. Sehingga fotonya keluar di akun Facebook Sarah.


Di foto itu terlihat Ambar dan suaminya sedang makan malam disebuah restoran mewah di kota ini.


"Banyak uang juga ternyata mbak Ambar." gumam Sarah dengan tersenyum sinis.


"Kenapa kamu omong dan tersenyum sendiri Sarah?," tanya Sinta heran saat melihat Sarah sedang bicara sendiri sambil melihat handphone nya.

__ADS_1


"Kamu baik-baik saja kan?," lanjut Sinta khawatir dengan keadaan Sarah.


"Ih... Apaan sih?, Aku baik-baik saja, kok." jawab Sarah.


__ADS_2