
Hampir saja aku bisa memisahkan kan Sarah dan Bima.
Tapi semuanya gagal gara-gara Bima terlalu cinta pada perempuan sial*n itu.
Apa hebatnya sih dia? sampai Bima bisa bertekuk lutut seperti itu. Aku rasa dia punya ilmu pelet, sehingga dengan mudah ia menaklukkan Bima.
Bukan hanya Bima, seperti nya mas Awan juga menaruh hati pada perempuan jal*ng itu.
Karena berkali-kali aku melihat mas Awan mencuri-curi pandang pada Sarah. Sungguh sakit hati ku ini.
Dan Kenapa aku tak seberuntung Sarah. Sarah begitu dimanjakan oleh Bima.
Ada rasa iri saat aku mengetahui Sarah membeli emas seharga ratusan juta, bisa perawatan mahal di salon kecantikan milik Siska, dan setelah menikah Sarah langsung menempati rumah baru yang telah di beli oleh Bima. Dan hari ini rasa iri ini semakin bertambah saat mengetahui Bima baru saja membeli mobil untuk Sarah.
Bima dan mas Awan sangat jauh berbeda,
Bima termasuk suami yang mau bekerja keras dengan usahanya sendiri dan sangat royal pada istri nya.
Sedangkan mas Awan, dia hanya meneruskan usaha ayah dan ibu ku. Mobil yang kita pakai saat ini adalah pemberian ayah dan ibu ku. Begitu juga dengan rumah, kami menempati rumah peninggalan ayah dan ibu.
Untung saja aku ini anak satu-satunya. Jadi setelah ayah dan ibu meninggalkan aku untuk selamanya, harta itu kini menjadi milikku seutuhnya, Karena aku anak kandung dan anak satu-satunya ayah dan ibu. Ayah dan ibu ku meninggal dalam kecelakaan beruntun.
Mas Awan tak royal seperti Bima, dia sangat perhitungan padaku. Padahal uang yang ia punya adalah dari peninggalan kedua orang tua ku.
Yang sangat membuat ku kesal adalah saat aku meminta dia mentransfer uang untuk membayar biaya perawatan tubuh ku di salon milik Siska, tapi tak sepeserpun ia mentransfer nya.
Sampai aku dibuat malu dengan hal itu, karena aku tak bisa membayarnya. Apalagi saat aku ingin membayar di kasir, posisi ku sedang berada tepat di depan Sarah. Rasa malu ini semakin bertambah.
Karena aku tak bisa menutupi malu ku, akhirnya aku pun berpura-pura kesurupan. Dan sialnya lagi, teman Sarah menyiram ku dengan seember air comberan.
Seandainya saja yang jadi suami ku saat ini adalah Bima. Pasti hidup ku akan sempurna. Harta ku akan semakin berlimpah.
Karena Bima pasti akan lebih pintar mengelola harta peninggalan kedua orang tuaku.
Sedangkan mas Awan hanya bisa menghabiskan uang ku saja. Mana ibu nya mas Awan juga banyak permintaan padaku. Kalau nggak ingin ibu mertua ku ikut membenci Sarah, mungkin aku sudah malas menuruti semua permintaan nya.
Dan satu lagi, mbak Ambar kakak perempuan nya mas Awan. Sering kali dia meminjam uang pada ku tapi jarang sekali dia mengembalikan nya. Tapi dengan begitu, dia sangat patuh sekali padaku.
Dan dengan mudah aku bisa menghasutnya untuk ikut membenci Sarah.
Malam ini aku pulang dengan perasaan kesal, karena gagal untuk membuat Sarah dan Bima bertengkar dan berpisah. Padahal perpisahan mereka adalah tujuanku.
Siapa tahu setelah mereka berpisah, akhirnya Bima mau dengan ku. Seandainya Bima mau dengan ku, aku akan segera menceraikan mas Awan.
Dengan gagalnya rencana ini, aku harus memutar otak lagi untuk bisa membuat rencana yang lebih bagus lagi dari rencana yang gagal ini.
Sepanjang perjalanan pulang, aku hanya diam saja di dalam mobil. Tak ada sepatah kata pun keluar dari mulut ku. Karena aku sangat kesal pada sikap mas Awan yang matanya jelalatan pada Sarah.
Aku melihat dengan mata kepala ku sendiri, dia sedang memandang wajah Sarah dengan tatapan penuh kagum.
Apa sih kelebihan perempuan itu?, cantik? aku juga cantik malah lebih cantik dari dia. Kaya? dia kaya darimana? dia kan hanya pelayan toko roti. Masih kalah jauh dengan kekayaan ku saat ini.
Aku pun mengambil handphone untuk mengisi keheningan di dalam mobil. Aku ingin melanjutkan membaca novel online dari penulis favorit ku.
Karena tadi belum sempat membacanya, mas Awan sudah menegur ku untuk menaruh kembali handphone ku kedalam tas.
Aku senyum-senyum sendiri membaca episode yang baru saja di up oleh author favorit ku ini.
Kenapa kejadian yang ia tulis itu sama dengan apa yang terjadi padaku sore tadi di salon Siska?
"Sungguh penulis yang kreatif, kenapa dia sampai berpikiran seperti itu? pikiran nya sama dengan pikiran ku, sepertinya aku dan penulis ini punya ikatan batin." gumam ku dalam hati.
Sebenarnya ingin sekali aku berkomentar di episode yang ini. Tapi aku dan mas Awan keburu sampai rumah, jadi aku bergegas turun dan segera masuk kamar untuk melihat Kay yang sudah tertidur bersama pengasuh nya.
Dan aku pun langsung tertidur, karena tubuh ini sangat terasa capek sekali.
"Ternyata marah-marah itu juga membuat tubuh terasa capek," gumamku.
...****************...
Pagi ini aku sangat malas untuk bangun, karena mood ku masih belum kembali setelah kejadian semalam dirumah ibu mertua.
Rasa kesal dan benci pada Sarah masih bersarang di hati ku. Dan tak memudar sama sekali walau sudah aku buat untuk tidur semalaman.
__ADS_1
Aku lihat mas Awan sudah bangun, karena tak ada disamping ku saat ini.
"Mbak.. mbak..." panggil ku pada pengasuh Kay.
"Iya, Bu." pengasuh Kay pun datang ke kamarku.
"Kay sudah siap untuk pergi kesekolah?," tanya ku.
"Sudah, Bu. Non Kay dan tuan sudah selesai sarapan juga, tinggal menunggu ibu saja." jawab pengasuh Kay.
"Hari ini aku tidak enak badan, mbak. Jadi kamu ya yang antar Kay ke sekolah!," perintah ku pada pengasuh Kay.
"Baik, Bu." pengasuh Kay segera angkat kaki dari kamar ku setelah menjawab perintah ku.
Mungkin dia pergi ke kamarnya untuk bersiap-siap mengantar Kay kesekolah nya. Dan aku kembali menarik selimut, malas sekali rasanya mau turun dari atas kasur ini.
"Kamu kenapa, Ven?," tanya mas Awan mengagetkan aku. Karena tak ada suara pintu di buka, tiba-tiba dia sudah ada didalam kamar.
"Aku lagi nggak enak badan, mas." ucapku sambil kembali membetulkan posisi selimut yang ada di atas tubuhku.
"Kalau begitu biar Kay aku yang antar, mbak bisa merawat dan menemani mu dirumah." ucap mas Awan.
"Terserah kamu." jawab ku acuh tanpa menghadap pada mas Awan.
"Baiklah, kalau begitu aku dan Kay berangkat dulu." mas Awan berpamitan pada ku. Namun aku tak bergeming sama sekali.
Mas Awan pun keluar dari kamar, tapi aku baru ingat sesuatu.
"Tunggu....!!," teriak ku pada mas Awan.
Seketika mas Awan menghentikan langkah kaki nya, dan membalikkan badannya agar menghadap padaku.
"Ada apa lagi, Ven?," tanya mas Awan dengan alis bertaut.
"Jangan kamu yang antar Kay, mas. Biar aku saja." ucapku.
"Bukankah kamu lagi tak enak badan?." tanya mas Awan.
Aku tak rela kalau mas Awan yang mengantarkan Kay ke sekolah. Aku takut mas Awan bertemu dengan Sarah di sekolah Kay. Karena anak Sarah satu sekolah dengan anak ku Kayla.
"Kamu yakin sudah baikan?," tanya mas Awan memastikan keadaan ku.
"Sangat yakin seribu persen." jawabku menyakinkan mas Awan.
"Ya sudah, cepat lah kamu bersiap-siap. Karena ini sudah siang." ucap mas Awan sambil melihat arloji di pergelangan tangan nya.
Aku bergegas kekamar mandi untuk mencuci muka dan menggosok gigi. Karena waktu sudah sangat mepet kalau aku harus mandi terlebih dahulu.
Setelah selesai berganti pakaian dan tak lupa aku memakai berbagai pernak pernik perhiasan emas agar rasa percaya diri ku semakin bertambah.
Aku pun keluar dari kamar tak lupa menjinjing tas yang telah aku beli beberapa hari yang lalu. Saat Siska bilang padaku, kalau tas yang di pakai Sarah harga nya lumayan mahal.
Jadi seketika itu, aku pun membeli tas dengan brand yang sama dengan milik Sarah, tapi beda model dan warna. Kalau untuk harga beda tipis lah dengan milik Sarah.
Dan aku masuk dalam mobil, ternyata mas Awan dan Kay sudah menunggu ku di dalam.
Sepanjang perjalanan, mas Awan lebih banyak bicara dengan Kay. Aku mengirim pesan pada Siska untuk menghilangkan rasa jenuh ku di dalam mobil.
"Sis, kamu sedang tidak sibuk kan?, yuk setelah ini kamu aku jemput." pesan yang sudah ku tulis pun ku kirim. Dan tanpa menunggu lama, pesan yang aku kirim di baca. Dan sekarang sepertinya Siska sedang mengetik pesan balasan untuk ku.
"Iya, Ven. Aku sedang kosong. Ok jemput aku di salon ya!," pesan balasan dari Siska pun sudah masuk ke handphone ku. Dan aku segera membacanya.
Tak terasa kami sudah sampai di perusahaan mas Awan, lebih tepatnya perusahaan ku yang di kelola oleh mas Awan.
Karena perusahaan itu atas nama ku, jadi sudah menjadi hak milik ku seratus persen.
Setelah mas Awan turun dari mobil, aku pun juga turun untuk berganti posisi. Kali ini aku yang menyetir mobilnya.
Seandainya aku punya dua mobil, pasti kita bisa berangkat sendiri-sendiri. Tak akan seperti ini, harus mengantar mas Awan dulu kekantor.
Pokoknya setelah ini, aku harus meminta mobil yang lebih mahal dari milik Sarah.
"Aku tak ingin ada dibawah Sarah. Aku harus selalu ada diatas Sarah." gumam ku dalam hati.
__ADS_1
Kali ini aku membawa mobil dengan kecepatan tinggi, takut kalau Kay telat masuk kelasnya.
Sebelum kesekolah Kay, aku mampir dulu ke salon Siska untuk menjemput nya. Untung saja hubungan ku dengan Siska masih tetap baik, walau aku masih belum membayar biaya perawatan ku kemarin.
Sungguh aku sangat bersyukur punya teman sebaik dia. Siska pun tak meminta ku untuk segera membayar nya. Dia bilang aku bisa membayar nya kapanpun kalau aku sudah punya uang.
Dengan begini, aku tak begitu kepikiran dengan hutang ku padanya.
Tin!
Tin!
Tin?
Klakson mobil ku pencet tiga kali saat aku sudah sampai di depan salon milik Siska. Aku tak turun dari mobil, karena waktunya sangat mepet sekali dengan jam Kay masuk kelas.
Dan tak lama kemudian Siska pun keluar dari dalam salon nya. Outfit yang di pakai oleh Siska saat ini sangat sederhana tapi kelihatan elegan sekali. Sangat cocok di tubuh tinggi semampai milik Siska.
"Kok kamu nggak turun, Ven?," tanya Siska sambil masuk kedalam mobil.
"Waktunya sudah mepet, Sis. Takut Kay telat masuk kelas." jawabku sambil menghidupkan mesin mobil setelah Siska sudah duduk dengan nyaman di jok depan.
"okey..," jawab Siska sambil memasang kacamata hitamnya.
"Halo, Kay." sapa Siska pada Kay yang tengah duduk di jok belakang dengan wajah yang cemberut.
"Hay juga aunty." jawab Kay dengan wajah cemberut nya.
"Kenapa si cantik nya aunty cemberut?," tanya Siska. Siska memang si paling bisa dan sangat jago merayu anak kecil.
"Kay, kesal sama mami." jawab Kay dengan alisnya yang masih bertaut.
"Kenapa kesal sama mami, sayang?," tanya Siska pada Kay. Sesekali aku melihat Kay dari kaca spion, wajah nya masih terlihat cemberut dengan bibir manyunnya.
"Gara-gara mami, Kay bakalan terlambat masuk kelas." jawabnya sambil melipat tangan diatas perut nya. Sungguh tingkah laku yang sangat menggemaskan.
"Tenang sayang, mami mu ini sudah jago membawa mobil dengan kecepatan tinggi. Jadi kamu nggak perlu khawatir terlambat masuk sekolah." ucapku dengan sangat percaya diri dengan terus fokus pandangan lurus ke depan.
"Tapi kalau dengan kecepatan tinggi, Kay takut." jawab Kay masih dengan alis yang bertaut.
"Please anak mami yang cantik, jangan cemberut gitu donk. Nanti wajah nya keriput dan cepat tua loh kayak nenek." candaku pada Kay.
"Ih... Kay nggak mau seperti nenek!!. Nenek udah tua!!," Kay paling tidak suka di sama-sama kan dengan neneknya yaitu ibu nya mas Awan.
Kay tidak suka dengan neneknya, karena kata Kay nenek nya itu lebih sayang pada Putri anak nya Bima dengan istri pertama nya. Maka dari itu, Kay tak pernah mau kalau diajak kerumah ibu mas Awan kalau ada acara apapun.
"Kalau begitu senyum donk, biar nggak mirip sama nenek." ucapku sambil melihat Kay dari kaca spion.
Dengan cepat wajah Kay pun langsung berubah menjadi ceria seperti biasanya.
"Nah gitu donk, kalau gini cantik mirip mami." ucapku sambil tersenyum pada Kay yang duduk di jok belakang.
Senyum Kay merekah saat aku bilang ia cantik seperti aku.
Kini aku sampai di depan sekolah Kay, dan alhamdulilah sampai dengan tepat waktu.
"Mami, antar Kay masuk." ucap Kay dengan manja.
"Oke!!, apa kamu ikut aku untuk masuk kedalam, Sis?," tanyaku.
"Biar aku menunggu di sini saja, Ven." jawab Siska sambil melepas kaca mata hitam nya.
Aku berjalan sambil menuntun Kay, masuk kedalam sekolah.
Dari jauh aku melihat Sarah yang sedang mengantar anak nya.
"Duh, mimpi apa aku semalam? kenapa sekarang ketemu dia lagi?!," gerutuku.
"Kenapa mami?," tanya Kay.
"Kay, kamu masih ingat kan pesan mami?," tanya ku pada Kay.
"Pesan yang mana mami?," Kay bertanya sambil menautkan alis nya.
__ADS_1