DERITA SEATAP DENGAN MERTUA

DERITA SEATAP DENGAN MERTUA
Tujuan Laras


__ADS_3

"Sarah... menaruh ibu yang baik. Bagaimana kabar mu nak?," tanya Laras yang langsung berdiri dan memeluk Sarah.


Sarah pun terbengong, saat tubuhnya di rangkul oleh Laras. Tak ada dekapan balasan dari tangan Sarah. Karena dirinya memang benar-benar kaget dengan tingkah laku mantan mertua nya itu.


"Sarah!!, ayo ikut ibu sebentar." ucap ibunya Sarah, yang sudah berdiri dari duduknya. Dan buah-buahan pemberian Laras pun di taruh diatas meja oleh ibunya Sarah.


Dengan terpaksa, Laras pun melepaskan pelukan nya di tubuh Sarah. Saat ia mendengar suara ibunya Sarah memanggil Sarah.


"Baik, Bu." Sarah pun berjalan mengikuti ibu nya di belakang.


Tatapan sinis Laras tertuju pada Sarah, yang kini telah membelakangi nya.


"Dasar, sok alim dan Jual mahal. Padahal aku yakin kalau kamu masih cinta dan pasti ingin kembali menjadi istri Bima." gumam Laras dalam hati saat Sarah benar-benar menghilang dari pandangan nya.


Sedangkan di dapur, sambil membuat minuman untuk Laras dan Bima. Ibunya Sarah sangat mewanti-wanti Sarah, agar Sarah tak mau diajak rujuk lagi.


Ibunya Sarah sudah membaca gelagat Laras untuk mengajak Sarah menjadi menantunya lagi.


"Ya jelas Sarah akan menolaknya, Bu." jawab Sarah dengan keyakinan yang tinggi. Karena sudah tak ada cinta sedikit pun di hati Sarah untuk Bima.


"Iya, Sarah. Ibu harap kamu bisa mengambil keputusan yang tepat. Kamu harus bisa menjaga harga diri kamu dan keluarga kita. Karena beberapa kali, ibu nya Bima selalu merendahkan kita sekeluarga." ucap ibu nya Sarah dengan suara lirih. Tatapan mata nelangsa Dimata ibunya, membuat Sarah segera memeluk ibunya.


Sarah mengerti betapa tersiksanya hati orang tua nya, saat Laras dulu sering menghina kedua orang tua nya itu.


"Dan lagi, ibu sangat sakit hati dengan perselingkuhan yang dilakukan Bima dibelakang mu. Aku tak ingin kamu merasakan sakit hati lagi, kalau kamu memutuskan untuk rujuk dengan Bima." ucap ibu nya Sarah dengan tatapan nanar.


"Ibu tenang saja, tak mungkin Sarah akan masuk kedalam lubang kesalahan yang sama." Sarah memeluk tubuh ibu nya.


Sarah sedikit pun tak ada niatan untuk kembali rujuk dengan Bima, mengingat perlakuan dari Bima sendiri dan keluarga nya yang masih menggores luka di hati Sarah.


"Sekarang bawa ini keluar, dan ingat kebahagiaan ibu dan bapak ada di tangan mu Sarah. Jangan kamu mengambil keputusan yang salah."

__ADS_1


Ibu nya Sarah takut kalau Sarah akan mengambil keputusan yang salah dengan kembali rujuk dengan Bima.


"Ibu tak mau menemui nya, kamu saja yang keluar. Namun kalau bisa, buat mereka segera pergi dari sini. Karena ibu tak suka melihat mereka berlama-lama disini."


Ibu nya Sarah pun berjalan meninggalkan Sarah yang masih di dapur. Kali ini ia masuk kedalam kamar nya, untuk menghindari Laras dan Bima yang sedang berada di ruang tamu.


Sarah pun berjalan keluar dari dapur menuju ruang tamu dengan membawa nampan yang berisi dua cangkir teh hangat dan satu toples makanan ringan.


"Silahkan di minum Bu, mas." ucap Sarah setelah selesai menaruh dua cangkir dan satu toples makanan itu.


"Makasih Sarah." ucap Bima dengan suara yang lembut dan tatapan yang penuh makna pada Sarah.


Namun dengan segera, Sarah membuang pandangan nya saat ia dan Bima berhasil saling bertatapan.


"Ehem...," Laras berdehem saat ia melihat Bima dan Sarah berpandangan.


Dan suara daheman itu membuat mereka berdua salah tingkah.


"Sarah, kedatangan ibu kesini mempunyai niat baik." ucap Laras dengan tubuh nya, ia putar untuk menghadap Sarah.


"Aku tau, kalau kamu begitu mencintai Bima dan sangat membutuhkan Bima. Jadi kedatangan ku kesini untuk mengajak mu agar kamu rujuk dengan Bima." jawab Laras dengan percaya diri yang tinggi.


"Namun sebelum rujuk, kmu harus menyetujui syarat-syarat yang akan aku ajukan. Ini mewakili pihak Bima," lanjut Laras.


"Maksud ibu menyuruh ku rujuk dengan mas Bima itu atas dasar apa?!," tanya Sarah pura-pura tidak mengerti dengan tujuan Laras dan Bima, kenapa mereka menyuruh nya untuk rujuk dengan Bima.


"Ini semua ibu lakukan, demi mengangkat derajat mu. Aku ingin mengangkat derajat mu, karena sebagai seorang janda kadang selalu di pandang sebelah mata oleh masyarakat." jawab Laras.


"Mulia sekali hati mu, Bu. Membuat ku terharu." ucap Sarah sambil tersenyum manis kearah Laras. Walau sebenarnya di dalam hati Sarah, ingin sekali memakai perempuan yang pernah menjadi mertua nya itu.


"Syukurlah kalau kamu sudah mengerti dengan maksud kedatangan ku. Lalu apa kamu mau rujuk dengan Bima dengan persyaratan yang akan aku tujukan padamu?," tanya Laras dengan hati yang berbahagia. Ia bangga dengan dirinya sendiri. Karena ia sangat yakin,, setelah ini Sarah pasti mau menerima Bima dengan persyaratan yang akan diajukan oleh pihak keluarga Bima yang tak lain adalah Laras sendiri.

__ADS_1


"Apa syarat nya itu Bu?," tanya Sarah, yang ingin tau rencana apa yang tengah mereka susun saat ini.


Karena Sarah tau pasti tentang tabiat mantan mertua nya itu. Pasti ada sesuatu yang membuat sikap nya berubah baik seratus delapan puluh derajat itu.


"Syaratnya mudah saja, Sarah." ucap Laras dengan sedikit tersenyum manis kepada Sarah.


"Apa itu?!, cepat katakan!!," suara sarah sedikit meninggi, karena ia sudah tidak sabar mendengar ocehan nya.


"Kamu hanya cukup menandatangani ini." jawab Laras sambil menyodorkan dua lembar kertas putih yang bertuliskan dengan tinta yang warna hitam.


"Apa ini, Bu?," tanya Sarah, dengan tangannya mengambil kertas yang sudah di sodorkan oleh Laras.


"Itu hanya surat pra nikah saja." jawab Laras dengan bohong. Karena ia yakin, kalau ia mengatakan yang sebenarnya. Sarah akan marah pada nya dan Bima.


"Hah?, surat pra nikah?, emang ada surat seperti itu?!," tanya Sarah, berlagak seperti orang bodoh. Karena dengan jelas disitu ada tulisan mengenai hak rumah yang berada di kawasan perumahan yang pernah di tinggali Sarah dan Bima saat menjadi suami istri.


"Ada Sarah, mungkin kamu kurang paham itu. Lebih baik kamu tanda tangani rumah itu, dan setelah selesai tanda tangan, biar nanti ibu jelaskan tentang surat itu." jawab Laras dengan berbicara yang sangat lancar. Bicara Laras sudah seperti jalan tol bebas hambatan.


"Maaf, Bu. Sarah tak bisa menanda tangani surat ini!!," ucap Sarah sambil menyerahkan kertas dan pulpen pada Laras.


"Kenapa, Sarah?!!," kali ini suara Laras terdengar meninggi. Karena Laras jengkel dengan sikap Sarah, yang seperti sengaja mempermainkan nya.


"Karena aku tak perlu menanda tangani nya." ucap Sarah dengan santai, walau ia tau kalau Laras saat ini sangat benci padanya. Karena kebencian itu terlihat jelas di tatapan mata Laras.


"Kamu harus menandatangani ini, Sarah!!!, Agar aku menyetujui kamu dan Bima kembali rujuk!!!," ucap Laras, kali ini suara pelan namun penuh dengan penekanan.


Sedangkan Bima, sudah seperti setengah lelaki saja. Karena dari awal mereka datang, Bima hanya diam saja.


Sepertinya Laras lah yang dijadikan juru bicara oleh Bima.


"Dan sekali lagi maaf, Bu. Aku juga tak butuh restu mu." jawab Sarah dengan tersenyum kecut.

__ADS_1


"Maksudmu?!," tanya Laras dengan tatapan nyalang pada Sarah. Terlihat sekali kali Laras sangat marah pada Sarah, tapi Laras mencoba meredam nya. Karena Laras harus mendapatkan tanda tangan Sarah secepatnya.


"Sarah, kalau kamu mau rujuk dengan Bima. Otomatis kalian akan meminta restu padaku. Jadi aku akan merestui mu, asal kamu menanda tangani ini." kali ini Laras benar-benar mengondisikan emosinya. Ia tak mau kehilangan kesempatan ini, kalau ia marah pada Sarah.


__ADS_2