
"Diam, kalian!!!!!. Anak ku tak pernah melakukan kejahatan. Bima hanya lah korban yang di fitnah oleh mantan istri nya yang kurang ajar dan kampungan itu!!!." teriak Bu Laras tak terima dengan ucapan tetangga nya.
"Tapi kalau memang dia tidak melakukan apa-apa, kenapa semua bukti kejahatan itu mengarah ke Bima?," celetuk perempuan yang tidak lain adalah tetangga sebelah rumahnya.
"Sudah!!, sudah!!!.. kalian sekarang bubar!!! Kenapa kalian selalu ikut campur dengan masalah orang lain?!!," ucap Ambar membela ibu nya. Dia berbicara dengan berkacak pinggang mengahadapi beberapa tetangganya yang masih berdiri menonton kejadian penangkapan Bima.
"Ha ha ha, akhirnya Bu Laras kena karma nya." celetuk tetangga satu nya sambil berjalan meninggalkan rumah Bu Laras.
Bu Laras, memang terkenal dengan perempuan paruh baya yang sangat kejam, angkuh, sombong dan suka menghina pada orang lain.
Keluarga Bu Laras sebenarnya tak banyak di sukai oleh para tetangga sekitar rumah nya. Karena kesombongan dan hinaan yang di lakukan oleh Bu Laras membuat tetangga malas dan tidak suka padanya.
Akhirnya kumpulan para tetangga yang menonton pun akhirnya bubar dengan sendirinya.
Sedangkan Ambar segera menelpon Awan untuk menemani nya dan ibu Laras ke kantor polisi.
Tak harus menunggu lama, berselang beberapa menit setelah panggilan telepon di tutup. Awan dan Veni pun datang dengan mobil milik mereka.
Tanpa turun dan banyak pertanyaan, Awan segera menyuruh Ambar dan ibunya untuk segera masuk kedalam mobil.
"Ini semua gara-gara wanita sial*n itu." geram Laras dengan mengepalkan tangannya penuh dendam.
"Awan, Ambar kita harus membalas dendam pada perempuan kampungan itu. Kejadian ini membuat nama baik keluarga kita tercoreng. Jadi aku mau, kalian harus membalaskan dendam ini pada perempuan yang tak tau diri itu." Laras semakin geram pada Sarah.
__ADS_1
"Tapi, Bu!!. Kita harus melihat duduk perkaranya terlebih dahulu. kalau memang Bima benar melakukan kejahatan yang seperti pelapor yang di lakukan Sarah. Kita bisa apa?," ucap Awan dengan kedua tangannya masih memegang kendali mobilnya.
"Kenapa kamu selalu bela perempuan murah*n itu sih, mas?!, jelas dia sudah bersalah karena melaporkan Bima ke polisi. Masih saja di bela, apa kamu lupa kalau Bima itu adik kandung mu?!!," Veni sangat kesal dengan apa yang di lakukan oleh awan, yang selalu membela Sarah.
"Kamu itu jangan menutup mata, kamu harus bisa membedakan mana yang harus di bela dan mana yang tidak. Jangan karena kamu ada hati pada perempuan kampungan itu, lalu kamu lupa kalau kamu punya adik kandung yang saat ini menjadi korban perempuan yang selalu kamu bela?," ucap Veni dengan sinis, dengan kedua matanya melirik kearah Awan.
"Kamu ini apa-apaan, sih?! Kenapa kamu selalu menuduh ku yang tidak-tidak?!," Awan sangat kesal dengan ucapan perempuan yang berstatus menjadi istri nya saat ini.
"Aku bukan menuduh mu, mas. Tapi itu memang kenyataannya seperti." jawab Veni mencebik dan memanyunkan bibirnya.
"Kalian ini kok masih bisa ya bertengkar, di kondisi yang kalut seperti ini?!. Kasihanilah Bima, pasti dia sekarang ketakutan dengan pertanyaan-pertanyaan dari pihak kepolisian." ucap Laras dengan wajah sedih.
"Kalau Bima memang tidak bersalah, kenapa harus takut, Bu!." celetuk Awan.
"Aku yakin Bima tidak bersalah, pasti perempuan gat*l itu yang memaksa Bima untuk rujuk lagi dengan nya." sahut Veni, tak terima dengan omongan Awan suaminya.
"Pasti Sarah telah menjebak Bima, karena Bima tidak mau diajak rujuk." jawab Veni dengan asumsinya sendiri.
Mobil pun berhenti di tempat parkir kantor polisi. Laras, Ambar dan Veni turun dari mobil, dan langsung berjalan cepat untuk mencari keberadaan Bima.
Dan ternyata Bima masih diruang penyidikan, jadi pihak keluarga Bima dilarang untuk menemui dan menemaninya di dalam.
"Perempuan itu sudah membuat keluarga kita malu, Ambar!!. Kita harus membalas nya yang lebih dari ini!!!," rasa benci Laras pada Sarah semakin besar dengan kejadian yang terjadi saat ini.
__ADS_1
"Iya, Bu. Aku setuju dengan apa yang ibu katakan itu. Kita harus merencanakan, agar wanita j*Lang itu merasakan penderitaan lebih dari yang tengah di rasakan Bima saat ini." sahut Veni dengan senyum kemenangan. Veni merasa berhasil menghasut mertua nya untuk lebih membenci Sarah, yang saat ini menjadi saingan nya untuk merebut hati Bima.
"Punya rasa dendam yang berlebihan itu tidak baik, Bu. Kita juga tidak tau yang sebenarnya terjadi. Dan aku juga yakin, kalau Sarah melakukan pelaporan Bima pada pihak yang berwajib. Itu memang kesalahan Bima sepenuhnya." ucap Awan yang sangat bijaksana.
"Kamu bisa bicara seperti itu, karena wanita jal*Ng itu adalah selingkuhan mu, mas!!!!." Veni sangat geram pada suami nya itu, karena dia lebih membela Sarah daripada adiknya yang masih ada ikatan darah itu.
"Apa maksud dari ucapan mu, Veni?!!," tanya Laras saat mendengar ucapan Veni. Yang menuduh Awan anaknya, punya hubungan khusus dengan perempuan yang pernah menjadi menantunya yaitu Sarah.
"Anak ibu ini selingkuh dengan Sarah, Bu!." tuduh Veni sambil menunjuk awan yang tengah berdiri di depan nya.
"Diam kamu!!, aku tak pernah selingkuh dengan Sarah!! Kamu jangan pernah memfitnah nya seperti itu, karena Sarah itu wanita baik-baik." Awan sangat murka, saat Veni terus menuduhnya selingkuh dengan Sarah.
"Lihat, anak ibu. Kalau memang dia benar tidak punya hubungan khusus dengan perempuan itu. Dia tidak akan membelanya sampai dia membentak ku seperti ini, Bu. Aku ini istri sah nya, tapi dia lebih membela perempuan lain." air mata Veni pun jatuh membasahi pipi nya.
"Kamu seharusnya tidak melakukan itu pada istrimu, Awan!!, jelas saja dia cemburu, karena suaminya selalu membela perempuan lain di depan nya." Ambar membela Veni.
"Kalian ini memang suka berpikir buruk pada Sarah!!," bentak Awan, lalu Awan meninggal kan tiga perempuan yang masih berdiri menunggu di depan Kantor polisi.
Tak berapa lama, ada seorang polisi yang keluar, "Keluarga bapak Bima?," tanya polisi itu.
"Aku ibu nya, pak. Dimana anak ku sekarang?," sahut Laras dengan sangat antusias. Laras sangat takut kalau Bima akan di penjara, karena penopang ekonomi di keluarga nya adalah Bima. Kalau Bima di penjara, Laras takut hidupnya akan susah dan serba kekurangan.
"Mari ikuti saya." polisi itu berjalan masuk kedalam.
__ADS_1
Veni sangat antusias ingin bertemu dengan bima, sehingga ia berjalan mendahului Laras dan Ambar.
Veni berjalan dengan cepat, sudah tidak sabar ingin segera menemui Bima.